
Andi menatap lekat piagam yang masih melingkar di Lehernya. aku dan mas Sandy berulang kali melirik ke arah kaca spion depan.
"Sepertinya dia sangat senang" gumam mas Sandy.
"Hm, ini pertama kalinya Andi dapat penghargaan diluar materi pelajaran" jelasku.
"Andi mau hadiah apa dari papa?" tanya mas Sandy menoleh kebelakang.
"Hadiah?!" andi mendongak pelan.
"Iya. karena Andi sudah juara. papa mau kasih Andi hadiah"
Andi nampak termangu, mungkin dia tengah memikirkan hadiah apa yang di inginkannya.
"Andi Gak mau apa-apa,mainan Andi udah banyak kok pah," tukasnya kemudian.
Aku hanya mengulum senyum mendengar jawabannya yang polos itu. bagi Andi semua itu lebih dari cukup baginya. dia bukan anak yang menuntut segalanya, juga bukan anak yang bisa puas hanya karena sebuah hadiah.
"Benarkah? kalo papa sama mama kasih hadiah adik baru Gimana?" goda mas Sandy.
Aku menoleh kaget padanya. Begitupun Andi yang tampaknya kebingungan.
"Adik?" pekiknya pelan.
"Iya, kalau seandainya Andi di kasih adik seneng Gak?!' sepertinya mas Sandy masih penasaran dengan reaksi Andi.
Andi melemparkan pandangannya padaku, dan aku hanya Membalasnya dengan senyuman.
"Kenapa Andi diem aja? Andi Gak mau adik baru?" tanyaku
"Andi Gak tau..!" timpalnya gamang.
Kami berdua terkekeh pelan melihat ekspresi kebingungannya.
Setelah perjalanan jauh,akhirnya kami tiba di depan rumah. lumayan melelahkan juga ternyata. Untunglah jalanan tak begitu macet hingga kami bisa pulang lebih cepat.
"Eh, den Andi udah pulang? Gimana pikniknya? pasti seru kan?" tanya bi Atun antusias.
"Bukan piknik bi, tapi Studytour!" ralat Andi segera.
Aku dan mas Sandy bergegas turun,
"Sini non, biar saya bawain tasnya!"
"Gak usah bi, bibi ambilin tas ransel punya Andi aja!"
"Dimana pak Muh?" tanya mas Sandy saat melihat ke garasi mobilnya tak ada.
"Pergi ke kantor sama ibu. pak," jelasnya.
__ADS_1
"Oh, ya sudah!" mas Sandy melenggang masuk tanpa bicara lagi.
Aku terpaku cukup lama, apa mungkin mas Sandy sudah tahu soal Vina ya? atau dia hanya penasaran karena mobilnya tak ada di garasi?
"Sayang, aku ke kamar duluan ya! mau mandi!" tukas mas Sandy dari dalam.
Aku mengangguk pelan.
Aku dan Andi berjalan bersama dan duduk di ruang tengah untuk melepas lelah sejenak.
"Barangnya simpan di kamar Andi aja bi," pintaku seraya merebahkan tubuh di atas Sofa. rasanya duduk seharian di dalam mobil cukup melelahkan.
•••
Semalam aku tak sempat bicara banyak pada mas Sandy apalagi soal Vina. karena mas Sandy sudah terlelap lebih dulu. dan sepertinya dia sangat kelelahan aku pun tak berani mengganggunya. meski Sejujurnya aku sangat penasaran.
Niat hati ingin bertanya pada Rahma tentang apa yang terjadi di kantor. Aku juga malah ikut tertidur di samping mas Sandy.
Keesokan harinya aku dan mas Sandy sudah bersiap untuk berangkat menuju kantor.
"Maaf teh, semalam saya ketiduran. jadi gak ikut makan malam" tukasnya seraya fokus dibalik kemudi.
"Gak apa-apa mas. lagian Andi juga semalem cuma makan sedikit karena mengantuk. saya juga langsung tidur kok. saya tahu mas Sandy pasti capek. jadi saya sengaja gak bangunkan!" jelasku.
"Syukurlah! saya pikir kamu akan marah," mas Sandy tersenyum tipis.
"Kenapa saya harus marah mas? saya bukan tipe istri manja yang tak bisa makan malam tanpa suami sendiri." cibirku.
"Memangnya mas Sandy mau kemana?!" aku terkekeh dengan kalimat anehnya.
"Tumben andi tak ikut? bukankah dia libur sekolah?"
"Andi masih tidur mah, kayanya dia capek banget. makanya milih untuk tidur lagi." jelasku singkat.
"Seandainya hari ini tak ada rapat penting. saya juga ingin tidur lebih lama sambil meluk kamu." godanya.
"Tiap hari selalu penuh dengan rapat penting. saya udah mulai terbiasa kok." aku menghela nafas pelan. seolah tak merasa terganggu dengan kegiatan kantornya itu.
"Jangan bilang kalo kamu cemburu saya rapat terus?" selidik mas Sandy.
"Bukan cemburu mas, hanya saja.. sedikit kesal."bisikku pelan.
Mas Sandy terkekeh seraya mengusap kepalaku dengan lembut.
Obrolan yang hangat di dalam mobil, sudah cukup membuat suasana hati kami menjadi kembali bersemangat untuk bekerja.
Setibanya di kantor,kami segera turun dari mobil. dan tentu saja Suasana di kantor yang sangat sibuk dan juga ramai menuntut kami untuk bergegas juga.
"SELAMAT PAGI!!!" sapa para karyawan pada kami berdua. meski pada awalnya terasa canggung. lama kelamaan aku terbiasa juga dengan sapaan itu.
__ADS_1
Mas Sandy segera masuk ke dalam Ruangannya di susul oleh Nita. dia pun terlihat sibuk menyiapkan materi rapat pagi ini untuk mas Sandy.
Sementara Rahma Seketika menarik ku ke depan meja kerjanya.
"Kamu tahu gak sih, kalo bu Ayu mengajukan kontrak kerja sama dengan pihak Vina untuk jadi model produk kita?" bisiknya serius.
Ku tatap tak percaya wajahnya.
Jadi model? tentu saja, Vina adalah model yang sangat berbakat juga sedang naik daun. bukan mustahil jika bu Ayu tertarik untuk bekerja sama dengannya. tapi apa memang cuma itu tujuannya atau ada hal lain.
"Kayanya bu Ayu masih penasaran sama hubungan masa lalu pak bos sama Vina deh. bukan soal bisnis doang!" dengusnya ketus.
"Apa mas Sandy sudah tahu?" tanyaku ragu.
"Kayanya pak Sandy belum ketemu sama bu Ayu deh. mungkin di rapat pagi ini akan di bahas soal hal itu. sebisa mungkin kamu harus gagalkan kerjasama ini, kalo gak mau pak bos kepincut lagi sama mantan pacarnya." perintah Rahma tegas.
Lagi-lagi Aku termangu,bisakah aku melakukannya? haruskah ku lakukan itu? bukankah kita harus selalu profesional dalam urusan bisnis? bahkan mas Sandy selalu menekankan hal itu padaku. dia memintaku untuk percaya padanya, dan aku tak mungkin juga mengkhianati kepercayaannya.
"Lis!!! malah ngelamun!" dengus Rahma.
"Ah! soal itu. kita liat aja nanti ya!" sahutku cepat.
"Bu, ada dokumen penting yang saya simpan di meja ibu!" Sinta tiba-tiba datang mendekat.
"Gak enak banget denger kamu manggil saya 'IBU'?" Aku menyeringai malu.
"Kalo aku panggil nama. besok pasti aku kena pecat!" bisik Sinta seakan menyindir posisiku yang sangat dilindungi mas Sandy. aku jadi merasa tak enak padanya.
"Mending kamu ke dalam dulu deh, bentar lagi rapat di mulai!" tukas Sinta cepat.
Rahma menatapku sendu. mungkin dia terlalu mengkhawatirkan diriku sekarang.
Aku masuk ke dalam ruangan kerjaku. ku lihat Nita dan mas Sandy sedang berdiskusi serius.
"Sayang, tolong kamu cek dokumen yang di bawa Sinta. setelah kamu tanda tangan tolong bawa kesini!" pinta mas Sandy cepat.
Tanpa banyak bicara aku segera duduk di kursiku. kulihat sebuah map biru bertuliskan tinta emas yang sangat cantik.
Dokumen apa ini? haruskah bentuknya selucu ini?! batinku tersenyum geli.
Namun sepertinya Tuhan tak mengijinkan aku untuk berlama-lama tersenyum. apalagi saat ku lihat isi dokumen di hadapanku itu.
"Kontrak kerjasama PT. ASTRA H.W. dengan MEGA.Models" gumamku pelan.
Apa ini surat kontrak kerja mas Sandy dengan Perusahaan yang menaungi Vina? kenapa dokumen ini datang padaku? apa aku yang harus memeriksanya?!!
Ku lirik lebih dalam serta ku baca secara detail apa saja isi dari kontrak kerja tersebut.
Mas Sandy memintaku menandatangani kontrak kerja sama ini? apa dia tak tahu dengan siapa dia akan bekerja sama?! Aku melirik pelan pada mas Sandy. keinginanku untuk bertanya ku urungkan begitu saja saat ku lihat mas Sandy tampak begitu serius bekerja.
__ADS_1
Kali ini Tanganku memegang kendali penuh atas jalan hidupku kedepannya! Apakah aku bisa melakukannya???
• • • • • •