
Melindungi orang yang kita cintai ternyata tidak mudah. menjaganya agar tetap aman ternyata sangat sulit.
Terkadang masalah itu justru mengintai dari dalam hubungan itu sendiri.
Beberapa hari ini aku sibuk bekerja, meninggalkan sejenak hubunganku dengan Alis. Dia pasti bertanya-tanya kemana aku pergi, kenapa aku tak menghubunginya, karena Sejujurnya aku melakukan semua ini demi untuk menikahinya. aku ingin mempersiapkan diriku sebaik mungkin, agar disaat kami bersama, takkan ada lagi halangan yang mengganggu kami. begitu pikirku.
Hingga di suatu pagi, aku sengaja menjemput Alis untuk mengantarnya bekerja. pada awalnya aku tak menaruh curiga sampai aku melihat ada sedikit kejanggalan. Alis bilang dia sakit mata hingga harus memakai kacamata karena matanya bengkak. namun ku rasa dia menyimpan hal lain yang memang dia coba sembunyikan dariku.
Aku tak bisa memaksanya untuk jujur, karena itu hak nya untuk tak bercerita. meski sungguh aku sangat khawatir dengan kondisinya.
Setibanya di kedai, aku dikejutkan dengan kehadiran Ivan yang juga baru tiba disana.
Dan, saat itulah aku mulai merasa aneh.
Beberapa hari lalu, Ku dengar dari para staf kantor Ivan memang sedang menjalankan bisnis Di luar kantor.
Apa mungkin kedai ini miliknya?
Pada akhirnya aku tahu juga, jika Alis bekerja di kedai milik Ivan.
Marah tentu saja, kenapa dia tak berusaha jujur padaku tentang Ivan?
Aku tahu Ivan, aku paham bagaimana sifatnya. dia selalu ingin mengganggu apa yang ku miliki dan apa yang ada disisiku. cukup sudah hubunganku berakhir begitu saja dengan Vina. aku tak ingin Ivan juga mendekati Alis.
Apalagi jika mengingat apa yang bi Marni bilang beberapa hari lalu.
Ivan begitu memperhatikan Alis,bahkan dia tak melepaskan pandangannya pada wanita itu. apa mungkin Ivan juga menyukai Alis? yang benar saja!
aku menghela nafas berat.
Emosiku benar-benar tak bisa ku tahan, ku seret Alis masuk ke dalam apartemen. hingga terjadi perdebatan antara kami, aku benar-benar cemburu saat tahu Alis tak berani jujur padaku soal Ivan. apa dia akan bersikap sama seperti Vina? menyembunyikan hubungan dekat mereka di belakangku?
Kalap! Ku ucapkan kata-kata yang mungkin menyinggung perasaannya. hingga Alis marah dan pergi meninggalkan apartemenku.
Aku terdiam pada akhirnya.
Sisa amarah masih memburu didadaku, persetan dengan kemarahannya! bukankah seharusnya aku yang marah? dia yang merahasiakan semua itu dariku?
Aku terdiam cukup lama, setelah beberapa menit rasa marahku berubah menjadi khawatir.
Ku alihkan pandanganku pada pintu apartemen yang masih terbuka. bagaimana jika terjadi sesuatu pada Alis? dia tak mengenal tempat ini, bagaimana jika dia tersesat.
"Sial!" aku mendengus lalu bangkit keluar dari dalam apartemen dan segera mencari keberadaannya.
Aku menyesal, aku tak ingin Alis menganggapku temperamen seperti mantan suaminya, meski pada kenyataannya aku memang tak dapat mengontrol emosi tadi.
Aku berlari keluar dari halaman parkir.
"Bapak pasti nyari wanita cantik berbaju coklat ya pak?" suara satpam membuatku menoleh penuh tanya padanya.
"Dia baru aja jalan ke arah sana!" jelasnya.
__ADS_1
Aku segera berlari, berharap Alis masih ada di halte atau di jalan.
Ku edarkan pandanganku pada sekeliling tempat yang memang di dominasi pertokoan itu. tak ada sosok yang ku cari, kemana perginya Alis? tak mungkin dia naik Bus. disini bus sangat jarang. atau mungkin dia naik taksi? batinku bertanya-tanya dengan langkah yang melambat karena kakiku mulai terasa sakit.
Ku hentikan langkahku, seorang wanita tengah tertunduk lesu di salah satu halte yang memang sangat sepi kendaraan itu. Ada perasaan lega dan juga menyesal. tanpa ku sadari aku telah menyakitinya hingga seperti ini.
"Kenapa masih disini? Gak bisa pulang?" Ku beranikan diri bertanya dengan nada mengejek. jelas aku gengsi jika dia tahu aku begitu mencemaskannya barusan.
Alis menengadah, raut wajah polosnya membuatku benar-benar semakin merasa bersalah.
"Saya lupa bawa dompet," lirihnya tampak merasa bodoh.
Tanpa banyak bicara, ku dekap erat tubuhnya. ku maki diriku yang dengan lancang telah menyakitinya.
Maafkan saya,.. !
•••
Dua bulan sudah aku menderita dengan kondisi kakiku yang sakit ini. Namun aku bersyukur, berkat Alis sakitku Berangsur-angsur mulai membaik, beberapa bekas luka di tubuhku pun sudah hampir menghilang berkat rutin melakukan perawatan kulit.
Sepertinya waktuku yang terbuang kemarin, harus segera aku ganti dengan kegiatan yang lebih produktif.
Pasar saham sedang meningkat akhir-akhir ini, bahkan beberapa sahamku turut melejit naik. begitulah kabar yang ku dengar dari Nita tadi pagi.
Sudah saatnya kembali menjalin relasi dengan rekan-rekan bisnis diluar sana. Membangun kerjasama bisnis untuk kembali menempatkan perusahaanku di kasta tertinggi. persis seperti yang pernah papa lakukan.
Jika dia bisa, akupun harus Bisa.
"Nita, tolong hubungkan saya dengan Mr. Samuel!" perintahku.
Sembari menunggu kedatangan dokter Hasan, ku sibukkan diriku untuk melakukan telekonfrens dengan beberapa klien dari luar negeri.
•••
TOKK..
TOKK....
"Masuk!"
"Tumben sekali, kamu meminta saya diluar jadwal kunjungan? apa sesuatu terjadi?!" Dokter Hasan masuk dan berjalan ke arahku.
"Sepertinya ada sedikit masalah dengan kaki saya dok," tukasku kemudian bangkit dan duduk di Sofa.
Dokter Hasan kemudian duduk, sembari memperhatikan kedua kakiku.
"Coba lepaskan!" perintahnya memintaku untuk menanggalkan celana kerja yang berbahan Drill tersebut.
Tangannya menekan-nekan area lututku yang memang masih terasa sakit.
"Iya itu. tepat disitu sakit sekali!" rintihku
__ADS_1
"Kalau belum benar-benar kuat, jangan terlalu memaksakan diri!" gumamnya dengan tatapan tetap fokus pada kakiku.
"Saya ingin menikah dok,makanya saya harus bekerja keras" sahutku santai
Dokter Hasan tertegun sesaat, lalu mendongak menatapku sedikit kaget.
"Benarkah? apa wanita yang tak beruntung itu Alis?" godanya dengan nada tak percaya.
"Saya memaksanya untuk mau menikah dengan saya. kalau bukan Alis, mana ada wanita yang mau menikahi pria cacat seperti saya" aku menghela nafas dalam.
"Kamu harus menjaganya dengan baik. selama ini dia sudah sangat menderita dengan kehidupannya." tukas dokter Hasan seolah tahu akan sesuatu.
"Dokter sepertinya mengenal Alis dengan baik?" selidikku.
"Dia hanya pernah beberapa kali datang ke rumah sakit, tapi memintaku untuk merahasiakannya darimu. dia wanita yang sangat baik." dokter Hasan mengeluarkan beberapa alat kesehatan untuk memastikan kondisi kakiku baik-baik saja.
"Dia ke rumah sakit? kenapa? apa dia Sempat sakit tanpa sepengetahuan saya?" selorohku cemas.
Tentu saja aku cemas, selama ini Alis banyak menyembunyikan hal penting dariku. bahkan sikap tante Ayu yang terang-terangan memintanya untuk menjauhiku saja dia rahasiakan dariku. bisa saja dia juga sakit atau semacamnya. ku tatap tajam dokter Hasan.
"Tidak. dia tidak sakit,hanya ketika Andi demam saja dia pernah datang padaku. dan memintaku merahasiakannya darimu. dia tak ingin membuat kamu khawatir san." jelasnya.
Aku menatap gamang kedua kakiku. dia melakukan itu pasti saat aku masih terbaring sakit,dia tak ingin membuatku cemas. makanya dia selalu menyembunyikan apapun yang terjadi padanya dariku.
"Dia juga melakukan hal yang sama, saat tante Ayu mengancamnya." gumamku
"Ayu mengancamnya? kenapa?"
Ku alihkan pandanganku pada jendela yang terbuka di sisi kiri. jujur aku cemas dengan apa yang tante Ayu lakukan pada Alis. aku takut ucapannya mempengaruhi Alis dan membuat wanita itu terluka.
"Tante Ayu selalu menganggap bahwa Alis tak sepadan dengan keluarga Hadiwijaya." jawabku
Dokter Hasan bangkit dan menyimpan peralatannya.
"Dia selalu saja seperti itu, tak pernah berubah. bahkan saat dulu ayahmu pacaran dengan ibumu. dia selalu saja mencari cara untuk memutuskan hubungan mereka." tatapan dokter Hasan seakan menerawang jauh ke masalalu.
"Semoga saja dia tak melakukan hal yang membahayakan Alis." sambungnya lagi seraya menatapku yakin,seakan memperingatkan bahwa apa yang dia Takutkan bisa saja terjadi.
"Semoga saja," jawabku gamang.
"Sepertinya otot-otot kakimu masih sangat kaku, jika di paksakan berjalan atau berdiri terlalu lama memang akan sangat terasa sakit dan mengganggu. saya sarankan kamu bekerja di rumah saja, tak perlu pergi ke kantor terlalu sering. itupun jika kamu masih ingin menikahi Alis." sindirnya.
"Dokter jangan menakuti saya!" desisku ketus.
"Permisi mas, makan siangnya sudah siap!" suara bi Marni membuat kami menoleh bersamaan ke arah pintu.
"Lebih baik kita makan siang dulu. setelah itu, dokter boleh memaki saya lagi" tukasku melenggang keluar meninggalkan kamar di ikuti oleh dokter Hasan yang mengurai tawa nyaringnya.
Pertemuan kami berakhir dengan makan siang dan mengobrol santai soal pekerjaan. tak ada hal yang lebih menyenangkan selain bercerita tentang apa yang selama ini kita lewati pada orang yang kita percaya. seakan beban di pundak berkurang meski hanya sedikit.
• • • • • •
__ADS_1