PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•33


__ADS_3

Semakin Hari, Aku melihat kemajuan yang semakin baik dari fisioterapi yang dijalani Mas Sandy. Bahkan setelah pertemuan 3 kali dalam satu bulan ini dengan Dokter ahli Ortopedi,mereka menyatakan bahkan hasil yang cukup signifikan ditunjukan oleh mas sandy.


Bahkan disela-sela pertemuan kami bersama dokter ahli. dokter Hasan selalu saja menyebut namaku sebagai salah satu pemicu cepatnya proses pemulihan mas Sandy ini.


"Wah! berarti Pak Sandy tidak salah pilih yah! kalau bu Alis ini sangat telaten dan juga sabar!" puji salah seorang dokter cantik bernama Siska yang ku taksir berusia 45 tahunan itu.


"Kalau begitu, saya bisa dong merekomendasikan Bu Alis ini untuk pasien langganan saya! kebetulan beliau menderita stroke ringan. Padahal usianya masih sangat muda!" sela Dokter Fatir setengah bercanda.


"Maaf dok! Alis hanya bekerja untuk saya!" celetuk Mas Sandy serius. dan sontak membuat beberapa dokter yang tengah berdiri itu menoleh ke arah nya.


Aku yang duduk di samping Mas Sandy hanya bisa mencubit kecil lengannya.


"Mas Sandy!" Desisku tak enak hati.


"Bercanda kamu lucu sekali san!" seloroh dokter Hasan mencoba mencairkan suasana.


"Saya gak bercanda kok!" sahutnya angkuh.


Aku melirik kecut padanya.


HUH! Seandainya kami hanya berdua, sudah ku pelintir telinganya.


dasar egois,gak bisa liat situasi kalo ngomong. gerutuku dalam hati.


"Tak salah jika pak Sandy bicara begitu. Sepertinya Pak Sandy tak ingin kehilangan perawat yang baik hati seperti bu Alis ini ya dok." Dokter Siska menengahi obrolan kami mulai kaku itu.


"Iya betul, Apalagi jaman sekarang rasanya sangat sulit mencari orang yang tulus dan sabar seperti bu Alis!" sambung dokter Fatir.


"Wah! dokter ini terlalu berlebihan. saya cuma menjalankan pekerjaan saya saja dok! lagipula saya tidak punya dasar ataupun pendidikan sebagai perawat. saya hanya merawat biasa saja!" Sahutku menjawab kekaguman yang mereka utarakan, yang menurutku berlebihan itu.


Mas Sandy menatapku dengan seksama. dan itu membuatku tak nyaman. apalagi beberapa orang tengah memperhatikan kami berdua.


"Permisi dok! ini teh nya silahkan!" suara Bi Marni mampu mengalihkan pandangan kami.


"Wah! camilan kita sudah datang! hari ini lupakan dietnya Dokter Siska!" goda dokter Hasan padanya.


"Saya memang harus mengalah sama camilan kayanya pak!" tukas Dr. Siska.


"Bi, apa tante udah datang?" tanya mas Sandy kemudian.

__ADS_1


"Ibu baru aja datang mas! mungkin sedang siap-siap!" tukas bi Marni.


Dokter Siska dan dokter Fatir saling melirik. mereka mungkin bertanya-tanya mengapa Bu Ayu jarang sekali menemani Mas Sandy saat fisioterapi ataupun saat bertemu dengan para dokter.


"Kalian silahkan minum dulu, sambil kita ngobrol-ngobrol santai!" ajak dokter Hasan pada kedua rekan nya itu.


Aku menatap mas Sandy lirih. dia pasti sangat kecewa dengan sikap tantenya ini. Bu Ayu tak pernah lagi menunjukkan perhatian nya semenjak pertengkaran dimeja makan beberapa minggu lalu itu. mungkin juga mereka tak salimg bicara. karna ku dengar dari bi Marni semenjak saat itu Bu Ayu jarang pulang ke rumah. paling hanya sesekali saat sore hari.


Aku mengelus pundaknya lembut.


Mas Sandy menoleh ke arah ku,dengan tatapan seolah memendam kekecewaan.


•••


"Permisi! maaf semuanya, saya sedikit terlambat!" Suara Bu Ayu memecah keheningan ruangan setelah 20 menit berlalu.


Aku dan Mas Sandy menoleh ke arah pintu bersamaan.


"Halo, Bu Ayu apa kabar!" Dokter Fatir lebih dulu menyapa nya.


"Halo dokter apa kabar? dokter Siska semakin cantik ya!" Pujinya menyalami dokter Siska.


"Dokter Hasan? Gimana kondisi keponakan saya dok!" tanyanya pada dokter Hasan. sedetik bu Ayu sempat menoleh pada Mas Sandy. namun itu tak berlangsung lama. sepertinya mereka memang menghindari kontak mata.


"Kondisi nya semakin baik! Ibu tak perlu khawatir!" tandas dokter Hasan yakin.


"Oh ya? cepat sekali ya? hebat!" sahut Bu Ayu seakan tak percaya.


Aku termangu sesaat mendengar tanggapan nya. benar-benar diluar bayanganku. ku pikir Bu Ayu adalah sosok pengganti ibu bagi Mas Sandy nyatanya jauh berbeda.


"Lalu bagaimana dengan terapi lanjutan nya? Apa masih berlanjut?" tanya Bu Ayu.


"Mungkin Minggu ini, Sandy sudah bisa kembali ke kantor bu! para karyawan pasti sudah sangat rindu dengan bos mereka." seloroh dokter Hasan.


Aku menoleh pelan menatap bu Ayu lagi. ku lihat ada senyum khawatir yang sulit di artikan dari wajahnya.


"Baguslah.. Setidaknya pekerjaan saya menjadi lebih ringan sekarang!" Tukasnya dengan senyum meyakinkan.


"Bu Ayu sepertinya sangat sibuk sekali ya! saya jarang melihat ibu di setiap pertemuan!'' tanya Dokter Siska.

__ADS_1


"Begitulah dok,mengurusi perusahaan tak semudah menyuntikkan jarum suntik pada pasien!"


"Kami percaya Bu Ayu pasti sangat sibuk! buktinya perusahaan manufaktur kalian bisa menjadi salah satu perusahaan terbesar di negeri ini hingga sekarang." puji Dokter Fatir.


"Iya betul, bahkan yang saya tahu beberapa pabrik di kota ini adalah milik PT. Astra H.W." imbuh dokter Siska.


Aku tertegun mendengar Nama perusahaan yang disebutkan oleh dokter Siska. PT. Astra H.W.? Itukan nama pabrik tempat aku bekerja dulu. kenapa aku baru sadar, selama ini aku tak pernah tahu perusahaan apa yang mereka miliki. Aku menatap mas Sandy dalam.


"Mas, kalau boleh tahu H.W. itu singkatan dari apa?" bisikku padanya.


Mas Sandy menatap aneh padaku.


"Nama keluarga!" Tukasnya dingin.


"Hadiwijaya?" Gumamku menerka sendiri.


Jadi,selama ini Aku tak tahu jika pabrik tempat Ku bekerja adalah PT. Astra Hadiwijaya milik mas Sandy? batinku tak percaya.


"Kenapa?" bisik Mas Sandy.


"Enggak! saya baru tahu mas!" tukasku pelan.


•••


Para dokter sudah meninggalkan rumah. Aku membantu Mas Sandy naik kembali ke kamarnya.


"Mas Sandy perlu sesuatu?" tanyaku lagi.


"Gak teh! saya mau istirahat aja! saya capek!" Tukasnya duduk di sisi ranjang.


"Ya sudah! saya harus merapikan dulu semua barangnya? kasihan bi Marni kalo dia beresin semua ini sendirian lagi." tukasku bergegas merapikan semua perlengkapan sisa kami latihan.


Sembari merapikan semua barang, sebenarnya isi kepalaku dipenuhi dengan nama perusahaan itu. Bisa-bisanya aku baru tahu jika perusahaan tempat ku bekerja adalah perusahaan milik mas Sandy.


Apa jangan-jangan kami pernah bertemu sebelumnya? Tapi aku sama sekali tak ingat, Jikapun aku bertemu dengan mas Sandy. sudah pasti aku hafal betul wajahnya. padahal orang kantor sering melakukan kunjungan ke pabrik setiap dua bulan sekali? Bisa-bisanya aku tak tahu! batinku.


Aku menatap Mas Sandy. membayangkan jika dia berjalan dengan pakaian ala-ala bos besar perusahaan. pasti akan sangat tampan dan gagah.


AH! Sialan. Rutukku dalam hati.

__ADS_1


Aku jadi kembali teringat akan obrolan ku dengan Rahma beberapa minggu kebelakang. dia bilang bos mereka sedang kecelakaan! apa yang di maksudnya itu adalah Mas Sandy???


• • • • • •


__ADS_2