
Hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ku lihat bi Atun tampak sibuk merapikan beberapa pakaianku dan juga barang-barang kami selama di rumah sakit.
"Bi, gimana kondisi rumah? apa bu Ayu bicara sesuatu?" tanyaku pelan.
"Gak ada non. Bu Ayu cuma tanya apa non sama bapak udah pulang atau belum. itu aja. selebihnya gak pernah tanya lagi" jelasnya.
"Oh gitu ya,.."gumamku dingin.
Rasanya sungguh tak nyaman jika dalam kondisi seperti ini kami masih belum berbaikan. tapi sebenarnya aku juga bingung. harus bagaimana aku bersikap pada bu Ayu? apalagi sekarang,mas Sandy memintaku untuk menjauhinya. Tentu itu akan membuat hubungan kami semakin jauh.
"Emang kenapa non? bukannya kita mau ke apartemennya bapak ya? kok malah tanya soal ibu?"
"Enggak bi. saya cuma penasaran aja" aku tersenyum simpul.
Tak berapa lama, mas Sandy masuk ke ruanganku bersama dokter Hasan dan dokter Feny sebagai dokter spesialis kandungan juga seorang suster.
"Selamat pagi bu Alis, gimana istirahatnya?"
"Baik dok," sahutku antusias karena hari ini adalah hari terakhir pemeriksaanku.
"Kita cek sebentar ya," Suster tersebut segera melakukan pengecekan umum padaku.
"Saya sangat takjub sama kamu, bahkan kejadian kemarin itu nyaris saja mengganggu kehamilan kamu Alis. tapi, beruntunglah bayi kamu baik-baik saja. dan setelah ini kamu harus tetap menjaga kondisi kamu ya! jangan melakukan kegiatan berat yang tak perlu" jelas dokter Hasan.
"Baik dok, terima kasih."
"Kamu juga San, jangan mentang-mentang kamu sudah menyiapkan segalanya, lalu kamu abai terhadap psikis istri kamu itu. justru di masa-masa begini,dia sangat membutuhkan dukungan kamu sebagai suaminya." nasihat dokter Hasan.
"Dokter bahkan sudah mengatakannya berkali-kali. Saya sudah sangat paham dok." sahutnya cepat.
"Dokter Hasan benar. di trimester pertama kehamilan,ibu hamil tak boleh stres ataupun kelelahan. bapak harus senantiasa mendampingi kegiatan bu Alis di rumah." timpal dokter Feny.
"Baik dok. saya akan berusaha yang terbaik." jelasnya.
"Kalian sepertinya sudah bersiap untuk pulang?" dokter Hasan melirik bi Atun yang tengah merapikan pakaianku.
"Begitulah. Alis ingin cepat-cepat pulang" mas Sandy menatapku lekat.
"Saya bosan disini dok" aku menyeringai malu-malu.
"Memang benar, suasana rumah sakit sangat tidak disukai ibu hamil. lain kali jangan terlalu sering ke rumah sakit dalam kondisi begini ya. kalian boleh kembali hanya untuk periksa kehamilan saja." sindir dokter Hasan pada suamiku
"Sepertinya sekarang dokter mulai berani menyindir saya didepan banyak orang" tukasnya sinis.
"Kamu sudah akan menjadi seorang ayah! tentu tak boleh ceroboh lagi membiarkan istrimu terluka." nasihatnya.
__ADS_1
"Oke, baik. Saya akan patuhi nasihat dokter" mas Sandy membungkuk seakan mengakui kekalahannya.
Aku dan orang-orang yang ada di ruangan itu hanya mampu terkekeh kecil melihat perdebatan keduanya.
"Tekanan darahnya normal. semuanya juga bagus. jaga kesehatan setelah ini ya!" perintah dokter Feny.
"Terima kasih banyak dok,"
"Ya sudah. kami tak akan mengganggu kalian lagi. lagipula pekerjaan kami diluar sana masih banyak." dokter Hasan menepuk keras pundak mas Sandy.
"Pergilah. lebih cepat lebih baik.." usir mas Sandy padanya.
"Mas,..!" aku menatapnya tak suka saat mereka selalu saja bercanda Disaat seperti ini.
Mas Sandy duduk disampingku dan mengusap lembut perutku.
"Bagaimana tadi? apa Andi masih Ngambek?" selidikku.
"Tentu saja tidak. dia anak yang pintar. saya sudah menjelaskan jika sekolah lebih penting. karena untuk jadi kakak yang baik, dia harus sekolah dengan baik juga." jelasnya.
"Syukurlah." tandasku lega. Aku ingat betul bagaimana tadi Andi merengek tak ingin sekolah dan ingin ikut menemaniku di rumah sakit, karena ini hari terakhir kami menginap ditempat ini.
Beruntunglah mas Sandy mampu menenangkannya. melihat itu, aku jadi semakin yakin jika dia memang sudah siap menjadi seorang ayah dari kedua putraku kelak.
•••
"Biar saya aja yang dorong suster!" tulas bi Atun.
"Gak usah bi, bentar lagi mas Sandy keluar kok. bibi kan bawa barangnya banyak banget!" Larangku.
TOK..
TOKK..
"Permisi," suara seorang pria membuat kami seketika menoleh ke arah pintu.
"Syukurlah saya belum terlambat!" pak Ivan menurunkan buket bunga yang sebelumnya dia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya.
"Pak Ivan,.." gumamku kaget.
Ku pikir pria ini tak akan berani datang. setelah dia tahu mas Sandy marah padaku karena aku datang ke kedainya.
"Sepertinya kamu sudah mau pulang ya? gimana kondisi kamu sekarang? bagian mana yang terluka?!" selidiknya khawatir.
"Gak perlu berlebihan. kekhawatiran kamu sama sekali gak berguna" seloroh mas Sandy yang baru saja keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Aku memijat dahiku kalut. kedua orang ini pasti akan berdebat tentang hal yang sama sekali tak penting lagi.
"Kamu ini keterlaluan San, kenapa kamu biarkan orang lain menyekap istrimu? aku sudah memperingatkan soal pria tua itu. tapi kamu bilang, aku cuma mengada-ngada! dan sekarang lihat apa yang terjadi?!" sindirnya kesal.
"Kalian berdua tunggulah diluar!" ku perintahkan bi Atun dan suster tersebut keluar lebih dulu.
Malu rasanya jika mereka harus melihat pertunjukan konyol ini. dan lagi, kenapa mas Sandy dan pak Ivan selalu tak bisa mengendalikan diri. mereka berdebat dimana pun mereka mau. bahkan tak peduli jika itu adalah tempat umum.
"Lainkali menjauhlah dari Alis, dia sedang mengandung. kelakuanmu itu hanya akan membuat istriku mual dan stres," celetuk mas Sandy.
Aku menatap mas Sandy aneh. apa suamiku ini sedang cemburu. apalagi ku lihat tatapan matanya begitu sinis melihat buket bunga yang di pegangnya Sejak tadi.
"Justru kamu yang harus berhati-hati agar tak Membuat istrimu itu sakit lagi. apalagi dia harus sering bertemu dengan tante kamu itu, belum lagi Vina. Ah! Aku rasa kamu akan kesulitan san," timpalnya enteng.
"Ekehm... kalian kalau mau berdebat lanjutkan saja! saya mau pulang!" ku dorong kursi rodaku perlahan.
"Alis tunggu! setidaknya biarkan bunga ini sampai pada pemiliknya" pak Ivan menyimpan bunga itu tepat dipangkuanku.
Aku menatap bunganya cukup lama, lalu menoleh pada mas Sandy.
"Buanglah, saya akan belikan bunga yang lebih bagus!" mas Sandy mengambil bunga itu dari pangkuanku.
Tapi sedetik kemudian, tangan pak Ivan menahannya.
"Jangan berlebihan. ini hanya bunga untuk seorang teman." tukasnya lagi.
"Udahlah mas,.." Aku menatap lama suamiku. barulah setelah itu mas Sandy menyimpan kembali bunga itu dipangkuanku.
"Ini yang terakhir!" Desisnya menatap sengit pada pak Ivan.
"Baguslah kalo kamu baik-baik saja. saya lega. dan sepertinya kalian juga sudah harus pulang!" Pak Ivan mempersilahkan kami terlebih dahulu untuk keluar ruangan.
Dengan sigap mas Sandy mendorong kursi rodaku.
"Oh iya satu lagi, jika suatu hari Sandy bersikap tak baik sama kamu. kamu bisa datang ke tempat saya kapan saja Alis." celetuknya dengan senyuman manis. sembari melenggang keluar dari dakam ruangan. dan berjalan berlainan arah dengan kami.
Sikapnya benar-benar sangat membuatku Takut. sepertinya pak Ivan memang sangat senang mengganggu suamiku. dan ku pikir, dia datang bukan sekedar untuk menjengukku saja. tapi juga dia ingin memastikan kondisi suamiku. Seorang teman tentulah akan sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada keluarga sahabatnya. begitulah yang ku rasakan dari tatapan matanya.
Sama sekali tak ada rasa benci atau marah pada matanya. justru dari sikap menyebalkannya pak Ivan terlihat paling perhatian di antara rekan mas Sandy lainnya yang ku kenal.
Meninggalkan sekelumit kisah dua sahabat pria yang aneh itu. akhirnya aku pun tiba di apartemen kami.
Sejujurnya aku masih belum yakin untuk tinggal disini. Tapi apa boleh buat, semuanya demi kebaikanku dan juga janin di dalam perutku. maka aku harus terbiasa.
Selamat datang di rumah baru sayang,..
__ADS_1
Ku Usap lembut perutku.
• • • • • •