PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•201


__ADS_3

Rasa khawatir kehilangan kepercayaan tentu akan membuat siapapun tak tenang. apalagi kehilangan kepercayaan dari pasangan kita,meski sekuat apapun mencoba tenang, tetap saja aku tak bisa.


"Maas..." ku guncang pelan lengannya.


Mas Sandy masih menatapku gamang. tak ada jawaban dimatanya atas kekhawatiranku.


"Mereka melakukannya..."gumam mas Sandy lirih


Ku dekap erat tubuhnya, membuat dia limpung dan tertunduk lalu terisak. aku bersyukur karena mas Sandy akhirnya tahu jika aku tak menyembunyikan kejahatan yang dituduhkan padaku. tapi disatu sisi aku juga sedih karena ternyata, mas Rizal memang terlibat dalam kejahatan itu. beberapa ingatan lama bermunculan.


Dulu aku pernah melihat mas Rizal membawa uang yang sangat banyak. dan saat ku Tanyakan tentang asal usul uang itu aku malah mendapat bentakan. mungkinkah uang itu-...???


Aku menggeleng lemah, rasanya aku masih sulit untuk percaya. begitupun dengan Mas Sandy yang harus Menerima kenyataan bahwa tantenya sendiri Lah yang telah menghancurkan kehidupannya,juga menghancurkan keluarganya.


"Kenapa mereka sangat kejam" geramnya.


Aku tak bisa bicara banyak. melihat suamiku menangis tentu membuatku lemah. dan akupun ikut menangis.


Ku usap lembut pundaknya, mencoba memberi dukungan yang mungkin satu-satunya hal yang dia butuhkan saat ini.


20 menit sudah mas Sandy meluapkan kemarahan dan kesedihannya. dia menengadah seraya menyeka airmatanya. tampak jelas gurat kemarahan diwajahnya.


"Tante harus membayar semuanya." desisnya geram.


Ku usap lembut tangannya. menyadarkan dirinya bahwa ada aku yang akan selalu mendukungnya.


"Saya disini bersama Kamu mas" tandasku.


Mas Sandy menarik tubuhku dan mengecup keningku cukup lama.


"Maafkan saya yang sudah curiga sama kamu. yang sudah melampiaskan kemarahan saya sama kamu" sesalnya.


Ku dekap lagi tubuh kekarnya itu. Tubuh yang kini tengah membalut hati yang terluka.


•••


Mas Sandy duduk di atas kemudinya. ku tatap cukup lama,


"Kemana sekarang kita?" tanyaku hati-hati.


Mas Sandy terlihat menghela nafas dalam. tangannya meremas kuat stir mobil yang tampak berkerut bekas cengkramannya.


"Saya tak tahu.." gumamnya


Kecewa terhadap anggota keluarga sendiri bukanlah hal yang mudah,juga menerima kenyataan bahwa ternyata selama ini tantenya lah yang sudah mengkhianatinya.


Mas Sandy mungkin tahu atau mungkin juga sudah mengira akan hal itu tapi tetap saja,rasa kecewanya sudah sangat dalam. tapi untuk sekarang, rasanya mas Sandy tak boleh bertemu dulu dengan Bu Ayu. kondisi tantenya masih lemah. aku juga tak ingin sesuatu terjadi padanya. jadi, sebisa mungkin aku harus mengalihkan niatnya untuk kembali ke rumah sakit.


"Apa mas Sandy tak berniat menemui pak Broto?"

__ADS_1


Mas Sandy menoleh padaku gamang.


"Saya dengar-dengar Sebelum sakit, Bu Ayu menemuinya. mungkin kita bisa mendapatkan Rahasia mereka yang lainnya." saranku.


Cukup lama sebelum akhirnya mas Sandy menyetujui saranku itu. dan kami berdua pun segera menuju salah satu tempat yang Sejujurnya belum pernah ku kunjungi seumur hidupku.


Semenjak kejadian penyekapan itu, kami berdua tak pernah sekalipun menemui pak Broto. rasanya aku masih takut. tapi ku abaikan rasa sakitku demi mengungkap sebuah kebenaran yang mungkin sangat mas Sandy butuhkan.


Setibanya di kantor Lapas, mas Sandy mencoba menghubungi seseorang.


"Cepat kemari!" panggilnya singkat.


Ku edarkan pandanganku pada sekeliling tempat itu. saat ini kami kebetulan tengah berada di halaman parkir. banyak orang lalu lalang keluar masuk tempat ini. mungkin mereka menjenguk keluarga mereka yang ada didalam sana.


"Kenapa?" tanya mas Sandy padaku.


"Saya takut mas," gumamku jujur.


"Tenanglah, kamu aman." mas Sandy mendekapku erat.


"Halo San, maaf saya terlambat!" sapa Pak Munir yang baru saja tiba.


Pak Munir Adalah pengacara keluarga Hadiwijaya. dia sudah bekerja hampir 12 tahun bersama mas Sandy. salah satu orang yang mas Sandy percaya selain dokter Hasan.


"Ada apa ini? kenapa kamu tiba-tiba datang kemari. sidangnya masih beberapa hari lagi?" tanyanya heran.


Mas Sandy lalu mengeluarkan Berkas-berkas yang menjadi barang bukti kejahatan tantenya dan pak Broto.


Pak Munir tampak sangat penasaran, lalu membaca isi dari berkas itu.


"Mereka berdua ternyata sudah lama melakukannya!" gumam Pak Munir yang sepertinya juga sangat terkejut.


"Lalu apa ini? Rizal? Bukankah Rizal adalah orang yang meninggal karena kecelakaan itu?" selorohnya tiba-tiba.


Aku menatap kaget pak Munir. bagaimana dia bisa tahu jika mendiang suamiku meninggal karena kecelakaan.


"Rizal adalah mendiang suami Alis. Ternyata tante Ayu yang memintanya untuk mencelakai papa dan mama." jelas mas Sandy.


Kini pak Munir yang tampak kaget. dia menatapku tak percaya.


"Bagaimana bapak bisa tahu jika suami saya meninggal karena kecelakaan?!" tanyaku


"Soal itu, saya yang nanti akan menjelaskan! lebih baik sekarang kita masuk!" timpal mas Sandy.


Kami berdua segera masuk menuju salah satu ruangan,tempat dimana pak Broto berada.


Penjara ternyata sangat mengerikan. setidaknya itu yang dapat ku lihat saat pertama kali menginjakkan kaki di dalamnya. ruangan yang berlorong-lorong. sedikit lembab karena minimnya cahaya. juga sangat berisik.


"Silahkan pak!" tukas salah seorang sipir.

__ADS_1


Aku dan Mas Sandy duduk di temani Pak Munir. Salah seorang sipir lalu membawa pak Broto yang tampak menggunakan pakaian tahanan dan juga tangan yang di borgol. wajahnya kusut dan pucat.


Aku meremas kuat lengan Mas Sandy karena takut. Mas Sandy segera mendekap pundakku.


"Silahkan!" salah seorang sipir lalu berdiri menjauh. Pak Broto menatap kami cukup lama. mungkin dia takut atau mungkin dia marah.


"Untuk apa kalian kemari? bukankah sudah jelas jika persidangan akan di mulai seminggu lagi?" sinis pak Broto.


Aku memalingkan wajahku dan memilih bersembunyi di balik pundak mas Sandy.


"Saya hanya ingin memberitahu anda suatu hal yang penting!" Pak Munir menunjukkan berkas yang menjadi barang bukti kejahatannya.


"Saya rasa, kamu akan mendekam lebih lama di dalam jeruji besi itu." jelas pak Munir.


Tampak jelas wajah Pak Broto kaget. dia cukup lama menatap berkas itu kelu.


"Sial. padahal aku sudah menyuruhnya untuk membakar berkas ini." desisnya


"Jawab dengan jujur! berita apa yang kalian maksud? kenapa kalian mencoba menyembunyikannya?" desak mas Sandy.


Pak Broto menengadah dan tersenyum simpul. sesekali ku intip wajahnya yang menakutkan itu.


"Apa kalian yakin ingin tahu apa yang coba kami sembunyikan?" kekehnya pelan.


"CEPAT KATAKAN!" Bentak Mas Sandy


Aku terhenyak sesaat,


"Apa istrimu sudah siap mendengarnya? aku rasa tak baik jika dia juga mendengar semuanya." tukasnya lagi dengan tatapan mengerikan.


"KURANG AJAR!!!" Mas Sandy menarik kerah bajunya cukup kuat.


"Hentikan san! jangan bertindak bodoh!" cegah Pak Munir. Aku juga mencoba menahan lengan mas Sandy.


"Mas udah!" bisikku.


Mas Sandy mendorong kasar tubuh laki-laki tambun itu. membiarkannya kembali duduk Seperti semula.


"Bicaralah! jangan membuat kami kesal" pinta Pak Munir.


Pak Broto kembali menatapku.


"Waktu itu ada sebuah kecelakaan besar yang melibatkan salah satu mobil pengangkut barang dan juga sebuah motor di simpang jalan yang cukup ramai. kecelakaannya cukup dahsyat hingga membuat si pengendara motor meninggal di tempat. saat itu hujan turun cukup lebat. membuat suasana di lokasi kejadian cukup gelap dan mencekam-"


"Gak mungkin..." gumamku saat menyadari jika apa yang coba di ceritakan pak Broto adalah saat dimana peristiwa kelam itu terjadi.


"Seorang wanita datang dan menangis di depan jasad yang bersimbah darah itu. bahkan foto yang saya ambilkan dengan sudut yang sangat bagus itu, menjadi salah satu foto realistis terbaik." pak Broto kembali tersenyum menatapku.


"Apa maksudnya!" gumam mas Sandy yang tampak sangat marah.

__ADS_1


Pak Broto hanya tersenyum tanpa berniat melanjutkan kembali ceritanya.


• • • • •


__ADS_2