
Kami berhenti di tepi jalan yang cukup sepi. Sebelum turun aku mencari keberadaan Rahma.
"Benar kan ini taman anggrek?" tanya mas Sandy tak yakin.
"Iya betul mas. kami biasa bertemu disini. tapi,kok Gak keliatan Yah?" aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling tempat itu.
"Apa wanita itu yang kamu maksud teh?" mas Sandy menunjuk ke salah satu sudut taman. terlihat seorang wanita berbaju biru tengah duduk dibangku taman.
"Mas Sandy benar. dia teman saya. Tapi mas, bisa gak kalau mas Sandy tunggu di mobil saja?!" aku mengatupkan kedua tanganku seraya memohon.
Mas Sandy menatapku tak suka.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Saya belum bercerita apapun tentang hubungan kita. saya gak mau kalau Rahma nantinya malah bertanya yang macam-macam!" pintaku.
"Gak bisa. saya mau turun!" protesnya.
"Mas!" aku memegang tangannya cepat sebelum mas Sandy benar-benar turun dari mobil.
"Saya mohon.. Saya janji, jika saya sudah selesai. saya akan segera menemui mas Sandy." Aku menatapnya penuh harap.
Mas Sandy menghela nafas dalam. dia menatapku cemas. lalu beralih menatap sahabatku di luar sana.
"Oke. tapi kalau dia macam-macam atau maksa kamu. kamu harus kasih tahu saya teh!" desisnya khawatir.
"Mas Sandy tenang aja. dia orang baik kok!" aku tersenyum manis untuk meyakinkannya.
Setelah melakukan 'perjanjian' dengannya. aku pun keluar dari mobil. beruntunglah Rahma tak melihat dimana mobil mas Sandy diparkirkan. sehingga aku bisa dengan leluasa mendekatinya.
Aku tak begitu yakin apa yang terjadi dengan Rahma,tapi yang kulihat sepertinya dia sedang menangis. beberapa kali aku melihat dia menyeka air matanya.
"Rahma," sapaku pelan.
Aku terperanjat kaget saat melihat sebelah wajahnya terdapat luka memar.
"Aliiiisss!" dia menghambur kedalaman pelukanku seraya menangis kencang.
Aku mencoba menenangkannya,
"Tenang yah! kamu aman kok!" aku mengusap lembut pundaknya. meskipun aku tak tahu pasti apa yang terjadi.
Setelah cukup lama akhirnya Rahma mulai tenang. kami lalu duduk bersebelahan,ku biarkan dia mengatur nafas terlebih dahulu.
"Apa kamu udah lebih baik?" Aku menatapnya penasaran.
__ADS_1
"Coba ceritakan apa yang terjadi? kenapa kamu ada disini? kamu Gak kerja?"
"Lis, kamu tahu kan papa Tiri aku? kemarin dia datang ke kontrakan tanpa seizin ku. terus dia ambil semua perhiasan sama uang tabunganku. seharusnya pagi ini aku membayar tagihan rumah. Tapi semua uangnya hilang!" Rahma kembali terisak.
"Ya ampun. tega banget sih! terus gimana? kamu udah ketemu sama papa kamu? mama kamu udah tahu soal ini?" tanyaku
"Aku gak tahu dia lari kemana. Aku telepon mama, dia bilang papa udah 3 hari Gak pulang. Aku gak berani bilang Lis. aku Kasian sama mama, kalau sampai dia tahu yang sebenarnya!"
Aku menatap Rahma bingung. sebetulnya Rahma sudah sering kali bercerita tentang kelakuan ayah tirinya yang sering meminta uang bahkan tak segan memaksanya. tapi Selama ini Rahma juga tak bisa berbuat banyak. ibunya terlalu mencintai ayah tirinya. sehingga dia takut jika harus melaporkan ayah tirinya ke polisi.
"Ya udah. kamu sabar Yah! soal uang kontrakan kamu Gak usah pikirin. kamu bisa pakai uang tabunganku." Aku mengelus kedua tangannya.
"Enggak lis, aku udah sering ngerepotin kamu. aku gak mau!" tolaknya.
"Rahma,kamu itu satu-satunya sahabat aku. kamu juga sering Bantuin aku dulu. yang penting jangan sampai kamu di usir dari kontrakan."
"Tapi aku takut. Gimana kalau papa aku balik lagi dan ngancam aku lagi kaya dulu. Aku udah gak pegang uang sama sekali" desahnya kalut.
"Apa kamu udah makan?" aku menatapnya tak tega.
Rahma menggeleng pelan. Aku menghela nafas dalam.
"Boro-boro inget makan. Aku mikirin uang ku aja udah pusing Lis. dan jumlah uangku gak sedikit." keluhnya.
Aku merogoh tas ku dan mengeluarkan dompetku dengan segera. Ku ambil 2 lembar uang seratus ribuan.
Rahma menatapku penuh rasa haru. dia kembali memelukku erat.
"Terima kasih banyak ya Lis. aku benar-benar bersyukur punya teman kaya kamu."
"Iya, kamu tenang aja. yang penting sekarang kamu nyari makan dulu." perintahku.
Rahma mengusap air matanya.
"Kamu kesini sendirian? bukannya kamu lagi kerja? maaf yah,aku ganggu waktu kerja kamu!"
"Iya aku sendirian. Gak usah mikirin itu. kamu tenang aja." sela ku mencoba tenang.
"Papa!" Rahma memekik kaget saat melihat sosok ayahnya yang tampaknya berdiri dibelakangku.
Aku menoleh pelan.
"Pa, balikin uang Rahma pa!" Rahma bangkit dan mendekat.
"Mana uang kamu! kamu pasti masih punya simpanan kan? mana???" Selorohnya kasar.
__ADS_1
"Om! jangan kasar! biar bagaimana pun dia ini anak om. seharusnya om malu sudah mencuri uang anak sendiri!" bentakku coba menarik tubuh Rahma.
"Siapa dia? teman kamu? dia pasti punya banyak uang! mana? pinjamkan pada ayah!" pria tua yang terlihat berantakan itu seketika menarik tas selempangku.
Kami berdua yang kaget berusaha menghentikan tindakannya.
"Lepas! pah! jangan!!!" teriak Rahma.
Aku mencoba mempertahankan tas ku. tapi sepertinya pria tua itu benar-benar kuat. hingga kami berdua tak bisa menahannya.
BRUGGHH!
Aku tersungkur dan membentur sisi bangku taman yang terbuat dari besi.
"Alisss...!" teriak Rahma penuh emosi sembari mendorong ayahnya.
"Hei,.. Kurang ajar!!!" Ku lihat mas Sandy datang sembari menarik kuat pria tua itu
"Lepaskan!" Mas Sandy merebut paksa tasku dari tangannya.
BUGKH!
Sebuah tinju cukup keras mendarat di wajahnya. membuat pria itu terhuyung dan ambruk ditanah. darah segara terlihat keluar dari pelipis kirinya.
"Ayo bangun!" Mas Sandy kembali menarik kuat kerah bajunya.
BUGKHHH!
"Mas udah mas!" aku menarik tangan mas Sandy untuk menahannya agar tak memukul lagi.
Rahma hanya mematung melihat ayah tirinya dipukuli secara tiba-tiba itu.
Tanpa banyak bicara pria tua itu pun bangkit dengan susah payah dan kabur begitu saja.
"Sayang! kamu Gak apa-apa? kita ke rumah sakit?" mas Sandy menatapku cemas. kedua tangannya bahkan menangkup wajahku.
"Saya gak apa-apa kok mas!"
"Dia? bukannya pak, San-dy?!" Gumam Rahma terbata-bata.
Aku dan mas Sandy menoleh padanya secara bersamaan.
Tatapannya seolah-olah tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.
Aku tak sadar jika aku meminta mas Sandy untuk bersembunyi dari Rahma. dan sekarang dia malah sudah melihat semuanya.
__ADS_1
• • • • • • •