PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•62


__ADS_3

Terdengar suara Adzan subuh berkumandang dengan merdu. Cuaca terasa cukup dingin hingga membuatku terbangun. Aku memicingkan mata menahan kantuk. ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 04.15. Aku menelisik sekeliling,sejak kapan aku tidur di kamar? apa mas Sandy yang memindahkanku. Lalu dimana dia sekarang? batinku.


Aku bangkit dengan segera dan menuju ruang tamu. namun dia tak ada disana. lalu kakiku melangkah menuju kamar Andi. mungkinkah dia tidur bersama Andi? Tapi ternyata Andi masih terlelap sendirian.


Aku terdiam sesaat, bodohnya aku yang malah tertidur saat dia menemaniku semalam. aku berdecak kesal pada diriku sendiri.


"Pasti mas Sandy marah,semalam." gumamku seraya berjalan kembali ke kamar untuk mengambil handuk.


Tapi tiba-tiba mataku dibuat heran dengan selembar kertas Yang tergeletak diatas meja rias. Ada sebuah tulisan disana.


~Semalam kamu sangat lelap teh. bahkan saya tak tega untuk membangunkan kamu. Jadi saya memindahkan teh Alis ke tempat tidur. tidur dengan posisi bersandar akan merusak tulang belakang. saya gak mau teh Alis sakit.


Oh iya satu lagi, saya sangat suka melihat teh Alis tertidur. wajah kamu sangat polos, bahkan teh Alis sangat cantik meski tanpa riasan.


Sejujurnya saya sangat ingin menginap, saya benar-benar ingin selalu bersama kamu teh.


Tapi pekerjaan saya banyak. jadi saya pulang semalam. maafkan saya yang tak pamit pada kalian berdua. semoga kamu mimpi indah~


Aku tersenyum sepanjang membaca 'surat cinta' darinya itu. Dia bahkan terlihat sangat manis dan sopan.


KRING! KRING!


Aku melirik ponselku yang tertutup bantal. Segera ku dekati benda berisik itu.


"Mas Sandy," gumamku antusias saat tahu siapa yang menelepon.


"Halo,mas." sahutku.


"Maaf menelepon sepagi ini. apa teh Alis masih tidur?" tanyanya dari seberang sana.


"Saya sudah bangun sejak tadi. Saya minta maaf mas. semalam saya pasti sangat merepotkan!" desisku penuh sesal.


"Saya senang jika kamu selalu merepotkan saya." jawabnya.


Aku menggigit bibirku gugup.


"Oh iya, ada apa Mas Sandy menelepon sepagi ini? apa ada yang ketinggalan?!" tanyaku cemas.


"Gak ada yang ketinggalan. saya cuma Gak bisa tidur. saya kangen sama kamu teh!" tuturnya lembut.


"Mas Sandy! saya serius?!!" gertakku.


"Hm," Gumamnya ambigu.


Aku menatap layar ponselku heran.

__ADS_1


"Kalo Gak ada hal penting. saya matiin ya mas! saya harus siap-siap!" pamitku


"Ya sudah. jam 7 nanti saya jemput!" jelasnya.


"Jam 7? saya bisa kesiangan mas!" protesku.


"Jadi, kamu mau dijemput jam berapa sayang?" godanya nakal.


"Saya gak mau merepotkan mas Sandy!" sela ku tak enak. Aku tahu,mas Sandy pasti kurang istirahat dan harus kembali bekerja sepagi itu. tak tega rasanya membayangkan betapa kelelahannya dia.


"Saya bisa mati, jika besok tak melihat kamu teh," bisiknya lesu.


Aku mengulum senyum,


"Ya sudah pukul 06.30 saja" sahutku bergegas mematikan sambungan teleponnya.


Aku bisa mati berdiri jika terus-terusan mendapatkan 'Serangan Cinta' nya itu.


Ku tatap kertas di atas meja rias tadi. ku ambil kembali, ku hirup dalam-dalam wanginya. bahkan kini kertas itu terasa sangat wangi melebihi parfum termahal yang pernah ada.


Aku berlari kecil menuju kamar mandi, bersenandung tanpa mengerti lagu apa yang ku dendangkan.


•••


"Ma, semalam om Sandy pulang jam berapa?" tanya Andi sembari fokus menjejalkan makanan ke mulutnya.


"Kira-kira om Sandy kesini lagi kapan ya ma?" matanya menatapku penuh tanya.


"Mama kurang tahu sayang!" jawabku ragu. Aku tak bisa memberitahu Andi jika hari ini mas Sandy akan menjemput. Aku ingin ini jadi kejutan untuknya.


Aku dan Andi menyelesaikan makan kami dengan cepat. Aku merapikan piring dan gelas yang baru saja ku cuci bersih.


"Andii...,ayo berangkat!" teriak Reyhan dari arah halaman rumah.


"Iya. tunggu sebentar!" sahutnya sambil berlari ke arahku untuk berpamitan.


"Ma, Andi berangkat duluan ya! Andi ada janji dengan Reyhan." selorohnya bergegas menarik botol mineral yang sudah kusiapkan di atas meja makan.


"Eh, Andi!" Sergahku kemudian.


Namun Andi sudah lebih dulu berlari keluar rumah dan menghampiri Reyhan. Sepertinya Reyhan membawa mainan baru di tangannya. dan ku yakin itu yang membuat Andi sangat antusias untuk pergi sekolah.


Aku menghela nafas dalam.


Tadinya aku ingin memberi kejutan dengan mengajaknya pergi ke sekolah bersama mas Sandy. Tapi apa boleh buat,lagipula terlalu siang jika kami harus menunggu mas Sandy datang.

__ADS_1


Aku bersiap mengambil tas dan ponselku. ku pikir seharusnya dia sudah memberi kabar jika akan menjemputku sebentar lagi. tapi kenapa hingga sekarang ponselku tak menerima pesan darinya. Aku berjalan keluar pintu lalu menguncinya dengan segera.


"Alis,mau berangkat?" seloroh bu Dewi.


Aku menoleh pelan.


"Iya bu. ibu habis belanja ya?" tanyaku sembari melirik barang belanjaan yang dibawanya.


"Iya, kebetulan bumbu dapur udah habis." tuturnya


"Oh iya,semalam kayanya ada suara mobil didepan rumah kamu? ibu kurang jelas dengernya Karna hujan. ada yang bertamu ya Lis? siapa?!" Bu Dewi memperhatikan tanah disekitar halaman rumahku. jelas sekali ada bekas jejak roda mobil tercetak disana. dan aku tak bisa berbohong soal itu.


"Oh, semalam mas Sandy ke rumah sebentar bu. dia bawaan mainan buat Andi." jelasku singkat.


"Oh." wajah bu Dewi terlihat menyimpan banyak pertanyaan. namun sepertinya dia lebih memilih untuk tak bertanya lagi.


Ada sedikit kekhawatiran dalam hatiku, bagaimana jika bu Dewi tahu soal hubunganku dengan mas Sandy. apa dia masih bisa bersikap seperti biasanya? sedangkan aku tahu jika bu Dewi mencoba membuat jembatan penghubung antara aku dan mas Erwin.


"Saya permisi duluan bu!" Akhirnya aku memberanikan diri untuk pamit lebih dulu.


Ku lihat bu Dewi hanya mengangguk saja dengan raut wajah yang dia buat setenang mungkin. Tak enak rasanya melihat sikap bu Dewi yang tiba-tiba berubah seperti itu karna ulahku.


Aku menunggu di depan gang menuju jalan utama. waktu sudah menunjukkan pukul 06.35 bukankah seharusnya mas Sandy ada disini?


Aku menoleh ke arah kiri dimana biasanya mobil akan datang. tapi tak ada satupun kendaraan ku lihat disana.


"Jangan bilang kalau mas Sandy ketiduran" gumamku mulai tak tenang.


Akhirnya Ku beranikan diri untuk menelepon mas Sandy. Cukup lama ku tunggu namun mas Sandy tak juga mengangkat teleponnya. hal itu membuatku semakin cemas tak karuan.


Bisa-bisanya di hari pertama dia mengajakku berangkat bersama. tapi malah dia yang terlambat. bahkan tak mengangkat telepon dariku.


Ku ulangi lagi menghubungi nomor yang sama,berharap akan ada jawaban sekarang.


"Halo, mas? mas Sandy dimana?" tanyaku akhirnya setelah mas Sandy mengangkat panggilanku.


"Teh! tolong saya...!" Erangnya seakan menahan rasa sakit.


Mataku terbelalak kaget. kenapa suaranya terdengar parau? bahkan sangat lemah? apa sesuatu terjadi padanya? pikiranku mulai menerka-nerka hal yang menakutkan.


"Mas Sandy dimana,mas?!!" desakku panik.


"Sa-yaa.. di rumah!" Desisnya terdengar mengaduh pelan.


Tanpa pikir panjang aku segera menutup telepon dan berjalan cepat menuju pangkalan Ojek terdekat.

__ADS_1


"Mang, Ke kompleks Diamond hills ya!" pintaku panik.


• • • • • • •


__ADS_2