PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•90


__ADS_3

Banyak orang bilang, menghabiskan sisa hidup dengan bersenang-senang akan membuat umur kita panjang.


Tapi, sepertinya tidak semua orang bisa menikmatinya. Aku yang setiap hari bisa bersenang-senang,malah berharap bisa mengakhiri hidupku saja. muak dengan orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan kehadiranku sebagai jaminan untuk kebahagiaan mereka.


Banyak dari Teman-teman di kampus yang berniat menjadi sahabatku,hanya agar bisa menikmati fasilitas yang ku miliki. Hotel, hiburan, pesta dan juga uang.


Mereka bilang aku kaya raya sejak kecil. jadi tak perlu memikirkan soal uang dan lainnya.


Tentu saja, Aku pun sadar akan hal itu. tetapi semakin dewasa, justru banyak pemikiran yang muncul soal tanggung jawab yang tak ku sadari sudah begitu menumpuk.


Siang ini aku kembali ke kantor. beberapa Relasi ingin mengadakan meeting dengan para pemegang saham untuk membuka cabang pabrik baru di kota-kota terpencil.


"Seharusnya saya punya manager yang bisa saya percaya," Aku bergumam menatap Nita yang tengah menyiapkan berkas kerjaku.


"Kenapa bapak Gak rekrut Manager baru aja pak. siapa tahu bapak punya kenalan yang bisa dipercaya." tukasnya memberi saran.


Manager kami memang sudah Resign karena beberapa alasan. sehingga pekerjaanku tak ada yang mewakilkan jika aku sedang malas seperti sekarang.


"Apa kata bu Ayu soal pengangkatan manager baru? dia punya calon?" selidik ku pada Nita.


"Belum pak. Lagi pula,Bu Ayu sedang mengurus pembangunan cabang pabrik kita yang baru." sahutnya.


Aku terdiam cukup lama, lalu ingatanku bermuara pada Ivan. Yah, dia lulusan Bisnis luar negeri. pastilah paham soal pekerjaan kantor. Dan akhirnya tanpa basa-basi ku kirim E-mail padanya untuk melakukan pertemuan.


"Ini pak! berkasnya sudah siap. hari ini, pertemuan dengan Bapak Edwin selaku CEO Tecno Motors grup. Kabarnya beliau tertarik untuk membeli saham kita."


"Edwin. nama yang bagus" aku menggaruk keningku lesu. di usia muda aku diharuskan bertemu dengan orang-orang penting yang sering sekali ku lupakan namanya. Karena aku terbiasa mengingat nama-nama perempuan dibandingkan dengan para lelaki tua.


Pertemuan kami diselenggarakan di kantorku. dengan beberapa staf kantor.


•••


"Jadi manager? Gimana ya? bukannya gue nolak. tapi untuk sekarang. gue masih belum minat terikat pekerjaan dengan siapapun." tukasnya yang jelas-jelas menolakku secara terang-terangan.


Aku menatapnya sedikit kecewa. memang sulit menaruh harapan pada pemuda seperti Ivan. dia terlalu bebas dengan dunianya.


"Oke. tapi kapanpun lo butuh kerjaan ini. kasih tahu gue!" jawabku enteng.


"Baiklah. tunggu aja sampe gue niat buat kerja." Ivan terkekeh.


Aku berdecak malas.


"Cepat nyari kerjaan. sebelum cewek-cewek itu datang terus ngaku hamil dan minta pertanggung jawaban dari lo." sindirku mengulum senyum.


"Kita liat aja siapa yang duluan di datengin cewek." celetuknya terbahak-bahak.

__ADS_1


Tengah Asik mengobrol, kami berdua di kagetkan dengan tingkah seorang pemuda yang tampak mengganggu seorang gadis cantik yang tengah duduk dan menikmati makan siangnya.


"Ngapain sih kamu kesini!" wanita itu tampak tak nyaman.


Aku menatapnya cukup lama. rasanya aku kenal gadis itu. kalau tak salah dia bernama Vina. gadis populer di kampusku. aku sempat beberapa kali bertemu dengannya di acara kompetisi kampus. karena dia selalu menjadi panitia pelaksana acara.


"Itu Vina bukan sih?" bisikku pada Ivan.


"Vina mana? cewek yang tidur sama gue kemarin namanya Lina," gumam Ivan.


Aku menatap Ivan ketus.


Vina terus saja di ganggu oleh Pria tadi membuat kami berdua kesal dan berniat membantunya.


"Lo maju duluan." perintahku pada Ivan yang memang jago membuat ribut.


Ivan bangkit dan mendekati Vina.


"Sayang, kamu di gangguin sama dia?" Ivan duduk dan merangkul Vina dengan santai.


Aku tersenyum remeh. pintar sekali dia membuat drama sabun mandi di siang bolong begini. bahkan dengan gadis yang baru dia kenal.


"Kamu dari mana sih sayang! lama banget" sahut Vina seakan mengikuti permainan Ivan.


Si pria tadi sepertinya merasa terganggu dengan kehadiran Ivan. dia pasti mengira Ivan adalah kekasih barunya.


"Good job!" Ivan mengangkat tangannya untuk tos. Vina tersenyum malu-malu.


"Vina." gadis itu mengenalkan diri.


"Ivan." sahutnya manis.


"San. come Here! gabung sini!" Aku bangkit dan mendekat dan mencoba mengenalkan diriku padanya


"Kamu pasti Sandy ya?" tebaknya.


"Kamu tahu?" tukasku sedikit kaget


"Siapa yang tak kenal kalian berdua, apalagi Kamu." Vina menunjuk padaku.


Aku tersenyum malu. seterkenal itukah aku di kampus. Ivan menatap datar padaku. mungkin saja dia iri karena Vina lebih mengenalku daripada dirinya.


Begitulah pertemuan sederhana kami yang membuat kami bertiga akhirnya sangat dekat dan akrab. dan tak pernah aku sangka kedekatan kami itu akan menjadi Bom waktu yang bisa menghancurkan persahabatanku dan Ivan.


Kami sering pergi bersama, berpesta, mengunjungi tempat-tempat hiburan. hingga seluruh anak seantero kampus mengetahui persahabatan kami bertiga.

__ADS_1


Aku menemukan hal lain saat bersama Vina. menjadi lebih ceria dan terbuka.


Aku tak memiliki rahasia apapun dengan Vina, kami selalu saling berbagi kisah. saling menyapa intens, terkadang ada rasa rindu yang menyeruak saat aku tak menghubunginya sehari saja.


Dan akhirnya di suatu sore, setelah kami menyelesaikan tugas kampus bersama. Aku mengantarkan Vina pulang ke rumahnya.


"Jadi gimana?" tanyaku lagi.


Vina menatapku penuh tanya. aku tak yakin dia sepolos itu,jelas dia tahu apa yang ku tanyakan. hanya saja perempuan memang selalu seperti itu. jika bisa mengulur waktu, maka mereka akan melakukannya. terkesan seperti jual mahal, tapi justru hal itu yang membuatku semakin tertantang untuk mendapatkannya.


"Apanya?" Vina terlihat menoleh padaku sekilas.


"Aku serius. aku ingin kita pacaran!" jelasku.


Vina terkekeh gemas.


"Kenapa? apa aku keliatan Gak serius? Ayolah Vina jangan bikin aku gak bisa tidur nanti malam." godaku menatapnya cukup lama.


"Gimana ya..." gumamnya seperti tengah menimbang-nimbang.


"Aku yakin diluar sana, tak akan ada laki-laki yang setara denganku yang mengejarmu seperti ini." Jawabku percaya diri.


"Kamu terlalu percaya diri," sindir Vina mengulum senyum.


Aku menghentikan Mobilku tepat didepan rumahnya. Vina membuka safetybelt-nya pelan. ku bantu dia dengan sedikit menghirup aroma wangi tubuhnya. membuat gadis itu terhenyak tentu saja.


"Kamu wangi," bisikku dengan suara sedikit berat.


Vina menatap lekat padaku. Aku mendekat sembari mengincar bibir mungilnya.


CUP!


Satu kecupan singkat berhasil kudapatkan.


"Kamu diam. artinya kamu setuju buat jadi pacarku?" godaku dengan nafas memburu. wangi tubuhnya mampu membangkitkan gairahku seketika.


Vina tertunduk malu, wajahnya bersemu merah. Ku angkat dagunya untuk mengulangi lagi apa yang sudah ku tahan sejak tadi.


Vina tiba-tiba mengalungkan tangannya di leherku. membuatku semakin tak bisa menahan lagi.


Ciuman yang berlangsung sekitar 5 menit itu membuat Vina meronta dan mendorongku.


"Aku harus segera masuk ke rumah!" pamitnya malu-malu.


Aku tersenyum melihat sikapnya yang menggemaskan. sekilas ku kecup keningnya. mengakhiri sore ini dengan perasaan penuh gairah dan kebahagiaan.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2