PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•24


__ADS_3

Aku duduk di sudut ruangan, sore ini ku lihat Andi tengah bermain bersama Reyhan didepan halaman rumah.


Ku ambil teh hangat yang baru saja ku seduh. ku hirup dalam-dalam aroma teh melatinya,wanginya yang semerbak mampu melemaskan otot-otot di kepalaku yang masih menegang.


Seharusnya tadi ku tolak saja permintaan Bu Ayu dan Mas Sandy untuk menandatangani kontrak kerja baru itu.


Tapi tidak bisa,Jumlah gaji itu membuatku menimbang ulang keputusanku. jaman sekarang mencari uang bukan perkara mudah, apalagi tak memiliki kemampuan khusus dalam bekerja. sudah pasti akan sangat kesulitan.


Aku menoleh secarik kertas di atas meja. kertas yang berisi surat undangan dari pihak sekolah Andi yang kudapat kemarin siang. surat yang berisikan tentang pemberitahuan study tour sekolah yang akan segera dilaksanakan beberapa bulan lagi. dan yang membuatku gusar adalah jumlah uang yang harus ku keluarkan untuk keperluan acara tersebut.


"3 juta,.." Aku menghela nafas berat.


Acara study tour seperti apa yang menghabiskan begitu banyak uang. sekolah Andi memang termasuk salah satu sekolah bergengsi.


Andi bisa bersekolah disana Semua berkat Uang santunan yang diberikan pihak jasamarga kepada putraku atas kecelakaan suamiku dulu.


Dan mau tak mau, akhirnya aku pun menyekolahkannya di sekolah tersebut.


Drrrtttt... Drrrttt..


Aku terkesiap saat mendengar ponselku bergetar. ku letakkan teh yang belum sempat ku minum itu di atas meja. lalu ku sabet ponselku yang terus menerus berteriak itu.


"Mas Sandy," Gumamku menatap lama sebelum mengangkat teleponnya.


"Halo mas,ada apa?" sapa ku ragu.


"Besok ke rumah! Ada yang harus kita bicarakan!" Tukasnya singkat lalu menutup sambungan teleponnya begitu saja. Aku mengernyit heran menatap ponselku sendiri.


"Apa-apaan sih? kelakuannya makin hari, makin nyebelin!" gerutuku meletakan kasar ponselku di atas meja.


Aku mengingat kembali saat tadi siang saat bu Ayu dan Mas Sandy berdebat. seburuk itukah hubungan mereka sebagai satu keluarga?


Dan kenapa mas Sandy begitu tak menyukai Bu Ayu? Apa yang terjadi dengan hubungan mereka???


Kepalaku yang tadinya sudah mulai Relax kini kembali berdenyut ketika ku ingat lagi masalah ini.


•••


Pukul 9 pagi Aku sudah tiba di depan rumah Mas Sandy. padahal baru kemarin aku berniat pergi dan takkan menginjakkan kakiku di rumah ini lagi mengingat bagaimana menyebalkannya si Empunya rumah dan sekarang,...


Aku menghela nafas dalam untuk mengumpulkan keberanianku sebelum masuk ke dalam rumah. kali ini aku masuk lewat pintu depan. Rasanya aneh jika aku datang dari arah depan rumah ini. ku tekan dua kali bell rumah, dan tal berapa lama Bi Marni membukakan pintu.


"Eh neng Alis udah datang. masuk neng! udah di tunggu mas Sandy di ruang kerjanya!" Aku menatap bi Marni aneh. sikapnya begitu manis layaknya menyambut tamu kehormatan. dan aku tak biasa dengan perlakuannya ini.

__ADS_1


"Bi,Gimana Mas Sandy? dia mau minum obatnya? Mas Sandy gak ngerepotin bibi kan?" bisik ku.


"Kalo soal itu,dari kemaren sore Mas Sandy gak makan malam neng!" jelasnya pelan.


"Neng Alis silahkan masuk! bibi tinggal ke dapur Sebentar!" Pamitnya.


Ku tatap kepergian Bi Marni. Rasanya Baru kemarin aku akrab dengannya sebagai sesama pekerja. tapi kenapa sekarang aku merasa menjadi orang baru di rumah ini.


Aku mengetuk pintu lalu kemudian masuk dengan tatapan fokus ke lantai karna tak berani beradu pandang langsung dengan mas Sandy.


"Permisi mas!"


Namun tak ku dengar jawaban darinya. Aku segera menengadah menatap ke arah meja kerja mas Sandy.


Aku terpaku cukup lama,ku lihat mas Sandy tengah tertidur dengan posisi duduk bersandar dikursinya.


Seperti Biasa,beberapa buku tergeletak di atas meja dengan posisi sudah terbuka. Ku lirik obat dan air minum disamping mejanya yang masih utuh.


Aku memberanikan diri mendekat,lalu merapikan buku-buku itu ke dalam rak. Sebelah tangan mas Sandy memegang Ballpoint,sementara di atas meja ada secarik kertas putih yang bertuliskan kata "MAAF".


Tak ada kata atau kalimat lainnya, hanya satu kata itu yang kemudian menimbulkan pertanyaan dibenakku.


Untuk siapa kata, 'Maaf' itu ditujukan? dan kenapa dia meminta 'Maaf'?


"Ck!" Aku berdecak kesal dengan isi kepalaku sendiri. kenapa juga aku harus memikirkan hal yang tak penting begini.


Aku berdiri dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. ku lihat ada sebuah mantel hangat yang tersimpan rapi di atas sofa. Aku bergegas untuk mengambilnya.


"Kalo mas Sandy sampe masuk angin, Nanti aku juga yang repot!" Gumamku mengambil mantel itu lalu membawanya mendekati mas Sandy.


Ku selimuti tubuhnya dengan perlahan dan Hati-hati agar tak membangunkannya.


KLEK!'


"San,kamu sudah bangun!" Suara dokter Hasan tiba-tiba mengagetkanku.


Begitupun dengan dokter Hasan yang nampak kaget saat melihatku tengah menyelimuti mas Sandy dengan posisi yang cukup dekat.


AH! bodohnya aku.


"Dokter!" Gumamku masih mematung.


Aku menoleh pelan kearah mas Sandy, dan kulihat mata sayunya menatap lembut padaku.

__ADS_1


"Mas Sandy udah bangun!" aku menyeringai menjauhinya.


Sesaat Suasana menjadi sangat canggung untuk kami bertiga.


"Maaf! saya fikir kamu belum datang Lis! Tapi baguslah kamu sudah disini, jadi kita bisa ngobrol langsung." Tukasnya coba mencairkan suasana.


Aku melirik mas Sandy yang masih nampak menyadarkan diri dari tidur lelapnya.


"Duduklah!" perintah mas Sandy padaku.


Aku duduk di sofa bersebelahan dengan dokter hasan.


"Ada apa ini dok? kenapa ada Dokter Hasan juga disini? apa hari ini waktunya Check up?" tanyaku penasaran.


Karna Seingatku,mas Sandy tak menyebutkan soal kehadiran dokter Hasan dipertemuan kami hari ini.


"Kamu belum kasih tau san?" tanya sang dokter menoleh ke arah mas Sandy.


"Dokter aja yang kasih tahu!" sahut Mas Sandy.


"Begini Lis,berhubung kontrak kerja kamu yang kemarin sudah berakhir. Jadi Sandy meminta saya untuk menyiapkan dan memberitahu prosedur perawatan dan terapi terbaru sama kamu. agar memudahkan kamu untuk merawat Sandy." jelas dokter Hasan sembari menunjukkan berkas-berkas yang sejak tadi dipegang nya itu.


Aku menatap kertas-kertas putih itu tak paham.


"Kenapa kayanya susah banget yah dok? padahal tugas saya cuma menemani mas Sandy selama terapi aja kan dok?!" tanyaku.


Dan memang benar,dalam surat kontrak pun aku hanya bertugas menemani dan membantu mas Sandy selama terapi saja. dan menurutku itu tak akan menghabiskan waktu seharian. mungkin hanya beberapa jam saja.


"Ya, untuk terapi nya memang kamu hanya menemani saja. tapi,-" dokter Hasan melirik sesaat pada mas Sandy. lirikan yang membuatku mencurigai keduanya.


"Setelah saya melakukan pengecekan semalam, juga setelah berdiskusi dengan Sandy yang tak mau bolak balik ke rumah sakit. jadi dia memutuskan melakukan terapi di rumah saja." lanjutnya lagi.


"Loh,kenapa mas? Bukannya kalo di rumah sakit peralatannya lebih lengkap ya?" Aku mengernyit bingung.


"Soal peralatan dan semuanya sudah kami siapkan. besok akan datang orang dari pihak rumah sakit." jelas dokter Hasan.


"Lalu, fungsi kertas-kertas ini apa?" Aku menatap keduanya bergantian.


"Hufth!" Mas Sandy terlihat menghela nafas berat.


"Intinya,saya minta kamu untuk tinggal dirumah ini sementara waktu selama saya di terapi!" Selorohnya singkat.


Aku tersentak mendengar jawabannya.

__ADS_1


Tinggal dirumah ini? bersama mas Sandy? yang benar saja! batinku tak terima.


• • • • • •


__ADS_2