
Sepanjang jalan aku sudah bertanya, mengapa mas Sandy ingin pulang ke rumah. tapi dia sama sekali tak menggubris pertanyaanku, dan hanya asyik bercanda bersama Andi.
Dan yang membuatku semakin penasaran adalah jalan yang kami lewati, ternyata bukan jalan menuju rumahnya ataupun menuju rumahku. jalan utama ini menuju ke pusat kota.
Mobil kami melewati Banyak gedung perkantoran disisi kiri dan kanan nya. Bahkan pusat perbelanjaan hingga toko-toko mewah saling berdempetan.
Aku memandang semuanya dengan takjub.
Beginikah rupanya wajah kota metropolitan? begitu ramai dan penuh sesak dengan lautan manusia yang sangat asing.
Lalu kenapa Mas Sandy malah datang kemari? apakah dia memiliki rumah disini? pikirku.
Tak berapa lama,mobil yang kami tumpangi masuk ke salah satu halaman parkir apartemen yang cukup luas. Ku lihat ada beberapa orang asing yang berlalu lalang masuk ke dalam apartemen itu. jelas terlihat jika ini adalah hunian elit.
"Kita sudah sampai!" tukas mas Sandy kemudian.
Aku menatapnya bingung,
"Kita dimana?" tanyaku penasaran.
"Rumahku." jawabnya singkat.
"Silahkan neng!" Pak wahyu tiba-tiba membukakan pintu untukku.
Aku keluar sembari menggandeng putraku.
"Wahh.. Rumah om mirip hotel ya ma!" Andi berdecak kagum
"Ini apartemen sayang" sahutku
"Ayo Andi, om mau tunjukan sesuatu!" Ajaknya penuh semangat.
"Oh iya, pak wahyu pulang saja. kebetulan mobil saya sudah selesai diperbaiki." perintahnya.
"Iya baik pak! saya permisi!" pak wahyu pamit meninggalkan kami bertiga.
Aku melangkah ragu mengikuti mas Sandy dan Andi yang sudah lebih dulu berjalan menuju ke dalam apartemen.
Setibanya didalam,kami disambut oleh seorang wanita cantik bertubuh tinggi yang memakai seragam Pekerja. wanita itu terlihat menatap aneh ke arahku. mungkin baginya Aku sangat asing. karna memang aku tak pernah datang ke tempat ini sebelumnya.
"Selamat siang pak! apa kabar! lama sekali baru kembali?" tanyanya seperti sudah mengenal baik mas Sandy.
"Iya han, saya sudah 2 bulan meninggalkan rumah. apa kamu membersihkan semua barang-barang saya?" tanya mas Sandy setengah bergurau.
"Tentu saja pak! semua sudah sesuai dengan yang bapak perintahkan! saya permisi pak. mau lanjut ke lantai atas!"
__ADS_1
Pamitnya.
"Yah sudah,kalau begitu kita pergi sama-sama!" ajak mas Sandy.
"Kenalkan, ini Alis" mas Sandy mengenalkan ku padanya.
"Saya hana. saya bekerja disini sebagai pelayan rumah. tapi saya tidak bekerja disatu rumah. saya berkeliling ke setiap rumah. saya juga menerima jasa penitipan rumah. seperti yang pak Sandy lakukan!" jelasnya penuh semangat.
"Halo," sapaku singkat.
"Dan siapa Cute boy disamping bapak ini? apakah ini putra bapak yang bapak sembunyikan?" Godanya setengah berbisik.
"Ngaco kamu. sejak kapan saya melakukan hal seperti itu." selorohnya kecut.
Aku mengulum senyum mendengar celetukan hana. sepertinya dia wanita yang menyenangkan dan juga periang.
"Baiklah, saya akan antar kalian. anggap ini sebagai ucapan selamat datang!" Tukasnya memandu kami menuju 'rumah' mas Sandy.
Setibanya didepan lift. Hana menekan angka 5,yang menujukkan jika Rumah mas Sandy ini pastilah terletak dilantai lima. Kami masuk ke dalam lift,suasana tiba-tiba menjadi hening dan kaku.
"Oh iya pak, beberapa minggu lalu Nona Vina datang kemari" selorohnya polos.
Mas Sandy Menatapnya Kaget,mungkin dia tak menyangka jika hana akan mengatakan soal itu didepanku.
"Oh, maaf!" sontak Hana segera menutup mulutnya setelah melihat ekspresi tak suka dari mas Sandy. dan aku hanya mampu memalingkan wajahku, berpura-pura bahwa aku sama sekali tak mendengarnya.
"Mari saya antar!" Hana mendahului langkah kami. Aku dan mas Sandy berjalan pelan dibelakangnya. dan benar saja dugaanku,kami berjalan menuju rumah yang paling besar di antara ketiganya.
"Silahkan pak! anda tidak lupa dengan passwordnya kan?" tanyanya seraya menggoda.
"Doakan saja saya masih mengingatnya!" sahutnya menatap lama pintunya. Mas Sandy seakan sedikit kesulitan saat hendak menekan beberapa digit angka dihadapannya.
"Perlu saya bantu?" tanya hana cemas.
"Saya hanya sedikit lupa!" jawab mas Sandy lalu Kemudian segera menekan angka-angka rahasia itu dengan cepat.
"Silahkan,selamat beristirahat. saya pamit dulu. masih banyak yang menunggu saya di lantai atas!" bisiknya sembari berlalu. Mas Sandy melambaikan tangan padanya,
"Selamat datang!" Tukasnya sembari membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk.
"Waaahhh!" Andi berseru takjub. Begitupun denganku,saat melihat seisi rumah itu dipenuhi balon berwarna emas dan putih. ada sebuah tulisan 'Selamat Datang kembali' yang cukup besar disana.
"Ternyata mereka mengerjai saya!" gumam mas Sandy yang sepertinya juga kaget dan tak mengetahui tentang kejutan ini.
"Ini pasti ulah hana dan juga mereka!' Tukasnya coba menyingkirkan beberapa balon yang menghalangi langkah kami. ku lihat ada beberapa buket bunga yang tertata rapi dimeja. namun sayangnya tak ada kartu ucapan didalamnya.
__ADS_1
Aku sama sekali tak mampu berucap dan hanya melihat Aneh semua hal yang ku temui hari ini.
"Silahkan duduk!" Tukasnya
"Om, mainan Andi mana?!" tanyanya menagih janji.
"Tunggu sebentar ya! Om harus memastikan jika semua mainan itu masih ada." jelasnya berjalan menuju salah satu kamar.
Aku mengedarkan pandangan ku ke semua penjuru apartemen yang sangat besar. bahkan luasnya hampir separuh rumah mas Sandy yang ada di Diamond hiil. Beberapa alat olahraga berjejer rapi menghadap ke jendela. Ada sebuah balkon yang cukup luas dan hijau dengan ditumbuhi berbagai tanaman hias. Aku tak berani berkeliling dan hanya mengitari ruangan semampu jangkauan mataku.
"Teh Alis mau minum sesuatu?" tanyanya setelah keluar dari kamar.
"Enggak mas. terima kasih!"
"Gak usah gugup teh. anggap saja ini sama dengan rumah saya dikompleks." Selorohnya seakan tahu jika aku belum nyaman berada disini.
"Andi, sini sayang!" Ajaknya. Andi segera berlari mendekat dan mengikuti mas Sandy. Aku tak berniat mengikutinya dan hanya fokus dengan ruangan itu.
Apakah wanita yang bernama Vina itu juga sering datang kemari? pikirku.
Apakah ini tempat pribadi Mas Sandy bersama pacarnya? lalu kenapa dia malah membawaku kemari? batinku menerka-nerka.
"Ma! mama, lihat kesini ma! andi punya mainan banyak!" teriak Andi dari dalam kamar. Karna penasaran akupun berjalan pelan menuju kamar tersebut. Aku berdiri di ambang pintu, kulihat Andi tengah dikelilingi beberapa Kotak yang semuanya berisi mainan.
"Sepertinya Andi sangat senang!" gumamnya menatap Andi yang langsung Asyik dengan dunianya.
"Mas, kenapa mas Sandy melakukan ini semua? terlebih kepada Andi?" tanyaku
Mas Sandy yang berdiri disamping pintu lalu mendekat padaku.
"Ini adalah bentuk ungkapan kasih sayang saya kepada Andi. saya harap teh Alis bisa melihat ketulusan hati saya!" tandasnya yakin.
Aku menoleh padanya ragu. Apakah semua ucapannya ini sungguh-sungguh? ataukah hanya perasaan semu yang pada akhirnya akan berakhir menyakitkan? batinku lagi-lagi berontak.
"Ini semua adalah mainan saya sewaktu saya ulang tahun dulu. saya tak pernah menyentuhnya. karna saya selalu sibuk belajar dan berlatih di akhir pekan. tapi sepertinya Almarhum mama menyimpannya dengan sangat baik. dia bilang, kelak jika saya memiliki anak. maka saya bisa mewariskan semua mainan ini padanya." gumam mas Sandy seakan mengingat kembali kenangan lamanya.
"Orangtua mas Sandy pasti sangat menyayangi mas Sandy, makanya mereka membelikan mas Sandy mainan begitu banyak!" tukasku.
Mas Sandy mengulum senyum.
"Yah mungkin. tapi, mungkin juga karna mereka tak memiliki banyak waktu dengan saya,dan akhirnya mereka memilih memberikan saya semua mainan mahal ini. berharap waktu mereka yang terbuang dengan saya, bisa tergantikan oleh semua benda mati ini" jawabnya lirih.
Aku termangu.
Terdengar jelas jika mas Sandy juga sangat merindukan sosok orang tuanya. meskipun aku tak tahu banyak tentang dirinya. tapi aku juga merasakan, bahwa sebenarnya mas Sandy amat sangat kesepian.
__ADS_1
• • • • • •