PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•139


__ADS_3

Meski terkadang mimpi kita malam ini begitu indah,tapi tetap saja kita harus bangun! mengawali pagi dengan satu harapan yang baik.


Aku menggeliat Merentangkan kedua tanganku dengan bebas. menghirup udara pukul 6 pagi dengan lahap. Selagi udara ini masih gratis, nikmatilah alis! batinku.


"Ah!.. seger banget udaranya" seloroh mas Sandy tiba-tiba memelukku dengan manja.


"Mas Sandy udah mandinya?" selorohku menoleh sejenak.


"Kamu cium dong, udah wangi apa belum?" sahutnya cepat


"Hmmm.. wangi surga," bisikku nyengir.


"Hmmmm.. dan ini juga wangi bidadari surga," godanya tak mau kalah, saat mencium aroma tengkukku.


Kami berdua terkekeh kecil.


Mungkin dulu aku terlalu sering menghadapi masalah yang teramat berat sendirian. dan sekarang rasanya, setiap masalah yang datang begitu ringan karena kehadirannya.


Mas Sandy memang sosok ajaib bagiku. kehadirannya mampu memberi kekuatan untukku. sebagai wanita tentu kita selalu mengharapkan seorang pria tangguh yang melindungi kita, membimbing kita, menyayangi kita. dan aku rasa, mas Sandy memiliki semua hal itu.


Bahkan Aku masih tak percaya, jika aku bisa menjadi istrinya sekarang.


"Hari ini kita sarapan apa?" bisiknya.


"Mas Sandy mau makan apa? biar saya buatkan?" aku balik bertanya.


"Hm, Bisakah saya makan kamu aja sekarang? saya lapar!!!" godanya.


Aku melepaskan pelukannya cepat.


"Ini sudah siang mas, jangan nyari masalah!" tukasku sinis.


"Ini masih pagi, mungkin Andi juga belum bangun" tuturnya beralasan.


"Ini udah hampir jam 6 lewat. udah ah! saya mau ke dapur" aku mencoba kabur dari jebakannya. Namun dengan sigap mas Sandy menarik tanganku.


"Eh,.." pekikku kaget.


"Apa hari ini saya gak dapet ciuman?" Mas Sandy menunjuk pipi sebelah kanannya.


Ah! tentu saja aku lupa. biasanya setiap pagi, dia selalu memintaku untuk mencium kedua pipinya. dasar manja! batinku.


Aku menghela nafas dalam, ku dekati mas Sandy dan segera mencium lembut pipinya. dengan cekatan mas Sandy menarik pingganggku dan mencium bibirku dengan cepat namun singkat.


CUP!


"Saya juga mau yang ini!" selorohnya


Aku menajamkan tatapanny kaget. ya tentu saja, sikapnya selalu spontan seperti itu disaat aku lengah.


"Nakal,.." desisku malu-malu seraya menutup mulutku dengan tangan.


Mas Sandy hanya terkekeh geli.


"Kamu kaget? kalau begitu saya ulangi lagi?!" sarannya.


"Mas!!!" desakku meronta.


"Hahahha... kamu gak usah malu teh, kita bahkan sudah sering melakukan! ya Tuhan!" celotehnya gemas.


"Oke,cukup! saya mau ke dapur!" aku segera kabur untuk menyembunyikan wajahku yang memerah karenanya.

__ADS_1


Mas Sandy mungkin bukan pria pertama dalam hidupku. tapi setelah bapak. dia adalah cinta pertamaku. bagiku dia satu-satunya pria yang bisa membuatku tersipu bahkan untuk kesekian kalinya.


•••


Sebelum menuju dapur, aku terlebih dulu memeriksa kondisi Andi. ku buka pintu pelan, ku lihat Andi masih terlelap. ku dekati dia perlahan,ku pegang dahinya.


Aku menghela nafas lega, setidaknya demamnya sudah reda. aku bisa sedikit tenang sekarang.


"Ma,.." gumamnya terbangun.


"Selamat pagi," aku tersenyum manis menyapanya.


"Mana om papa?" tanyanya kemudian.


Bahkan sekarang yang dicarinya adalah mas Sandy. begitu sayangnya anakku pada mas Sandy. ku usap lembut pipinya.


"Om papa, lagi ganti baju di kamar!" jelasku.


"Andi mau ke kamar om papa ma?!" pintanya.


"Hm, ya udah. sini mama gendong?"


"Andi bisa jalan kok, ma!" Andi bangun perlahan dan menyibak selimutnya.


"Andi yakin bisa jalan?" tanyaku cemas.


"Iya. bisa!" sahutnya cepat. dia bangkit lalu ku pegang erat tangannya dan menuntunnya keluar kamar untuk menemui mas Sandy.


"Mas,...!" panggilku cepat seraya membuka pintu kamar.


"Iya, kenapa sayang?" sahutnya dari arah balkon.


"Andi? kamu udah bangun?" tukas mas Sandy lalu mendekat.


"Andi baru bangun, udah nanyain mas Sandy!" sahutku.


Mas Sandy tersenyum lalu mendekapnya


"Sini sayang!" Tuturnya lembut seraya memeriksa kondisinya.


"Wah, jagoan om papa udah sembuh!" pujinya antusias.


"Andi mau sama om papa!" pintanya.


"Andi sayang, om papa kan mau kerja!" jelasku tak enak pada mas Sandy.


"Gak apa-apa teh, biarkan Andi istirahat disini? saya juga bisa berangkat kerja nanti siang!"


Andi terlihat mendekap erat mas Sandy seolah tak ingin jauh darinya. ku tatap bingung keduanya.


"Lebih baik, kamu buatkan sarapan buat Andi. biar dia bisa segera meminum obatnya!" pinta mas Sandy.


"Ya sudah, saya tinggal sebentar" pamitku segera.


"Ayo duduk disana!" Ajak mas Sandy pada Andi.


Sedikit lega melihat mereka berdua bisa sehangat itu. Andi terlihat begitu manja pada mas Sandy. jujur aku terharu dengan kedekatan keduanya. Tuhan begitu baik padaku, dia mengirimkan sosok ayah pengganti yang begitu baik. sosok ayah yang sangat Andi rindukan tentunya, dan aku harap sikap mas Sandy bisa menjadi teladan Andi dimasa depan agar dia bisa bersikap hangat dan mencintai keluarga.


•••


"Bibi masak apa?" tanyaku saat tiba di dapur. mataku sebenarnya sejak tadi memperhatikan seisi ruangan. terutama pintu kamar bu Ayu masih tertutup rapat.

__ADS_1


"Bi, apa bibi udah bawain bu Ayu teh atau kopi?" tanyaku.


"Belum non, dari tadi bibi disini. bibi belum liat Bu Ayu keluar kamar. apa perlu saya buatkan sekarang?" tanyanya


"Hm, nanti aja bi. bibi siapkan saja sarapan untuk ibu di meja makan. untuk sarapan mas Sandy. saya buatkan terpisah!" jelasku.


"Iya non," sahutnya segera melaksanakan perintahku.


Aku beralih menuju lemari es dan mencari daging sapi segar pesananku kemarin.


"Non Alis gak apa-apa?" seloroh bi Atun terdengar hati-hati.


"Memangnya kenapa bi?" tanyaku sembari sibuk memotong daging sapi segar yang akan ku masak.


"Soal ibu kemaren. saya sampe kepikiran non!" lirihnya.


Aku terpaku.


"Saya gak apa-apa kok bi. terkadang, orang lain juga perlu waktu untuk menerima orang baru. saya bisa memahami perasaan Bu Ayu." terangku dengan senyum penuh keyakinan. bagiku, jika kita berusaha dengan baik dan hati yang tulus, tak ada yang tak mungkin didunia ini.


"Mas Sandy juga dulu begitu bi," selorohku tersenyum tipis.


"Ah yang bener non? Jadi ceritanya, non Alis yang meluluhkan hati Bapak?" sahutnya penasaran.


"Mas Sandy tipe orang yang keras bi. dia juga galak banget." aku terkekeh. sejenak ingatanku menerawang jauh ke masa dimana aku pertama kali mengenalnya.


"Rasanya baru kemarin saya ada di rumah ini sebagai perawat mas Sandy." gumamku masih tak percaya, bahwa hidupku berubah secepat ini.


"Takdir orang tak ada yang tahu ya non," sahut bi Atun.


"Iya bi. dan saya harap semua itu berlaku untuk hubungan saya dengan Bu Ayu." Aku menatap bi Atun penuh pengharapan.


"Amiin. semoga saja ya non." bi Atun tersenyum yakin.


Ku lanjutkan lagi aktivitas memasakku. hari ini aku ingin membuatkan suamiku sup iga kesukaannya. cuaca mendung begini memang lebih enak menyantap makanan berkuah dengan aroma rempah yang kuat.


Hampir 20 menit sudah aku memasak sarapan untuk mas Sandy dan juga Andi. bagiku hal seperti ini sangat menyenangkan,menghabiskan waktuku didapur tentu saja.


"Aduh.. wangi banget sup nya." Sahut bi Atun.


"Benarkah? semoga rasanya juga enak ya bi!" aku mengernyit ragu.


"Wah kalo soal rasa, pasti enak. kemarin saja, nasi goreng buatan non Alis habis loh. enak banget non." sanjungnya.


Aku tersenyum seraya menuangkan sup panas itu ke dalam mangkuk sedikit demi sedikit.


"Baguslah kalau kalian suka. saya juga masak sup nya banyak. nanti bibi bagikan sama semuanya ya!" perintahku.


"Siap non,. Ngomong-ngomong bibi, mau siapkan dulu sarapan buat ibu." pamitnya.


"Eh bi, bawa juga sup nya buat ibu!" ku berikan semangkuk penuh sup yang masih terlihat mengepul itu.


Bi Atun segera membawa makanan itu menuju meja makan untuk dihidangkan.


Sementara aku Asik menyiapkan menu sarapan untuk mas Sandy dan anakku.


PRANKK!


Suara piring pecah membuatku tersentak kaget. jelas suara itu berasal dari ruang makan. apa mungkin bi Atun menumpahkan makanannya? pikirku. Aku segera berlari kecil untuk melihat apa yang terjadi.


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2