
Sepulang dari sekolah, mas Sandy tak langsung mengajakku kembali ke rumah.
"Kita mau kemana?"
"Ke apartemen, ada barang yang harus saya ambil." jelasnya.
"Oh,." jawabku singkat seraya menatap sepanjang jalan.
Perjalanan menuju apartemennya lumayan memakan waktu sekitar 25 menit. bisa bertambah jika jalanan macet.
"Kita sudah sampai!" mas Sandy memarkirkan mobilnya di basement. padahal biasanya dia hanya memarkir mobilnya di halaman depan apartemen saja.
"Tumben di parkir di dalam?"
"Biar lebih tenang aja," sahutnya seraya membukakan pintu untukku.
Kami berjalan menuju Lift bisa lebih cepat tiba di lantai atas.
Anehnya setiap aku kemari, suasana di sini sangatlah sepi. seperti apartemen berganti saja.
"Tiap kesini, selalu sepi ya mas" gumamku heran.
"Karena semua yang tinggal disini, kebanyakan pekerja kantoran. paling mereka sudah berangkat atau mungkin masih tertidur lelap." jelasnya.
"Benar juga" sahutku paham.
Saat Lift terbuka,tiba-tiba ada Seorang laki-laki bertubuh tinggi dan juga tampan berpakaian rapi hendak masuk ke dalam Lift. Aku sampai dibuat terpana oleh penampilannya.
"Permisi," tukasnya lembut.
Aku masih menatapnya lekat, apalagi dia sempat mencuri pandang pada mas Sandy. sangat aneh.
"Ekhem!" mas Sandy berdehem keras.
"Ada apa mas?" sontak aku menoleh padanya.
Mas Sandy menarik ku cepat agar menjauh dari pintu Lift.
"Cowoknya udah pergi, masih aja di liatin!" dengusnya ketus seraya berjalan mendahuluiku.
"Hah?!" aku memekik pelan,lalu berlari kecil untuk mengejarnya
"Mas Sandy kenapa sih?" desis ku heran
Mas Sandy malah tak menggubris ku dan hanya melenggang masuk menuju ke dalam apartemen. lalu duduk di Sofa dan melipat kedua tangannya di dada. tak lupa dengan raut wajah ketus yang di buat-buat.
Baru kali ini aku melihat mas Sandy bersikap seperti anak kecil. bahkan Andi saja tak pernah merajuk seperti itu.
"Mas Sandy cemburu ya?" godaku menahan tawa.
"Kalo saya tak cemburu, saya gak normal. lagian ngapain kamu ngeliatin laki-laki sampe gak ngedip begitu?" protesnya.
"Emang mas Sandy gak liat yang aneh?" selidikku tak percaya bahwa dia juga tak curiga pada laki-laki tadi.
"Saya gak perduli!" dengusnya cuek.
"Ckk,.." aku berdecak seraya mendekap erat tubuhnya.
"Saya itu cuma suka sama pria maskulin dan gagah seperti kamu mas, bukan yang setengah pria seperti tadi." bisikku lembut.
Mas Sandy melirik sinis seakan tak percaya.
"Lagian dari gelagatnya, seharusnya saya yang cemburu. karena pria tadi lebih memperhatikan mas Sandy dibanding saya. udah gitu, wangi parfum nya sama persis dengan yang Rahma sering pakai. emangnya mas Sandy gak curiga?" jelasku panjang lebar.
"Maksud kamu?" mas Sandy mengernyit tak paham.
"Sebenarnya dulu waktu saya kesini, saya pernah liat dia di Lobby saat sedang ngobrol. dari gaya bicaranya saja, saya sudah tahu dia seperti apa."
__ADS_1
"Kamu gak bohong kan?" selidiknya
"Makanya jangan sembarangan cemburu!" cibirku mengejeknya.
"Saya gak mau tahu. mau dia setengah siluman pun, saya gak izinkan kamu untuk menatap pria lain seperti tadi!!!" perintahnya tegas.
"Ishh..." aku melirik sinis.
"Saya kan Gak buta," gumamku memalingkan wajah.
Tiba-tiba mas Sandy berbalik memelukku erat, sedetik kemudian menghujaniku dengan ciuman lembut di pucuk kepalaku.
"Saya gak mau ada orang lain yang salah paham dengan tatapan kamu itu. apalagi dia tampan." gumamnya khawatir.
Aku mengulum senyum.
"Baiklah. mulai sekarang, saya bakalan tutup mata kalo ketemu pria. apa dokter Hasan juga termasuk?" godaku.
Mas Sandy terkekeh.
"Hmm..,sampai kapan kita mau pelukan terus mas?" tanyaku lagi.
"Sampe saya tidur." gumamnya lesu.
"Mas Sandy!!!" Geramku.
Dan dia hanya terkekeh geli melihat kekesalanku.
"Oh iya mas, saya hampir lupa! kemarin pak Ivan ke rumah. dia menitipkan dokumen buat mas Sandy. saya lupa bilang, karena mas Sandy pulang malam" jelasku
Mas Sandy mengernyitkan dahi.
"Jangan bilang, kalo mas Sandy cemburu juga?" aku menyipitkan tatapanku.
"Mungkin saja,.. Ivan juga lumayan tampan." gumamnya seakan tak percaya padaku
"Maaaass...!" ku cubit pinggangnya hingga mas Sandy mengaduh.
"Lagian kita cuma ketemu di teras kok. saya gak izinkan dia masuk." jelasku
"Benarkah?!" sindirnya
"Memangnya pak Ivan Gak kasih tahu mas Sandy, kalo dia kirim dokumennya ke rumah?"
Mas Sandy menggeleng pelan.
"Mungkin itu cuma alasan saja, agar dia bisa melihat kondisi kamu." tukasnya tampak dingin.
Padahal aku hanya bilang seperti itu, tapi tanggapan mas Sandy begitu serius. bagaimana kalau sampai dia tahu jika pak Ivan mengundangku untuk datang ke kedainya.
"Mas Sandy jangan terlalu serius. bahkan saya tak begitu menanggapi pak Ivan. lagipula saya sudah punya suami yang sangat luar biasa dan sangat langka di dunia. mana bisa saya melepasnya begitu saja." godaku
"Bagus kalau kamu sudah tahu." tukasnya percaya diri.
Aku berdecih geli. sikap angkuhnya seperti anak kecil saja.
"Katanya tadi mau ambil barang, dimana? biar saya bantu ambilkan?" tanyaku mencoba mengalihkan obrolan
"Ada di lemari besar di kamar."
"Ayo... bangun!" Aku bangkit seraya menarik kedua tangannya.
Kami berjalan menuju kamar dan menghampiri lemari besar yang sebenarnya tak pernah ku tahu apa isi didalamnya.
Mas Sandy membukanya perlahan, takut jika kemaraunya berdebu.
"Wah, banyak banget mas." ku lihat ada beberapa barang dan ornamen-ornamen khusus yang biasa ada di kantor.
__ADS_1
"Memangnya mas Sandy mau bikin ruangan baru?" tanyaku penasaran.
"Iya." jawabnya enteng.
"Untuk siapa? mas Sandy mau pindah ruangan?" selidikku.
"Untuk istri saya, saya ingin dia mengetahui banyak hal. saya takut dia bosen terus-terusan di rumah." jelasnya santai.
Aku menatapnya haru. sikap dinginnya malah membuatnya terlihat sangat tulus. bahkan aku gemas dengan sikap acuhnya.
"Untuk saya?" Aku mengulang kembali jawabannya.
Mas Sandy menoleh ke arahku dengan tatapan tajam.
"Memangnya ada yang lain?"
Aku tersenyum seraya menyeruak ke dalam pelukannya.
"Kenapa mas Sandy melakukan semua ini?" tanyaku lagi.
"Saya dengar dari Rahma, dulu kamu sangat pintar saat bekerja di pabrik. dan saya pikir tidak menutup kemungkinan jika kamu juga ahli dalam berbisnis" ujarnya nampak serius.
"Benarkah begitu? Tapi, Saya lebih percaya diri jika saya hanya ahli dalam menaklukkan hati seorang pebisnis." godaku seraya menghirup wangi tubuhnya.
"Itu juga boleh. kamu tak perlu bekerja terlalu berat. hanya melihat saja dan memperhatikan bagaimana suasana di kantor. ingat! tugas utama kamu hanya mendampingi saya." jelasnya.
"Apa saya akan dapat gaji?" bisikku
"Gaji kamu, adalah seumur hidup bersama saya. apa itu masih kurang?!" jawabnya sembari mencium gemas pipiku.
"Sepertinya pekerjaan kita akan sangat lama!" sindirku saat mas Sandy mulai intens mencium tengkuk ku.
"Kita tunda saja pekerjaannya," bisikknya seraya menyeret tubuhku mendekati tempat tidur.
"Sekarang saya tahu,kenapa mas Sandy memarkir mobil di basement." aku tersenyum geli.
"Kita ini suami istri, apa salahnya." desisnya kemudian menarikku untuk duduk di pangkuannya.
"Mas Sandy!" aku terduduk kaget.
"Karena tadi kamu sudah membuat saya cemburu! kamu harus saya beri pelajaran." ancamnya terdengar penuh siasat.
"Bahkan mas Sandy belum menggaji saya!" ledekku.
"Setelah ini, kita pergi belanja. kamu bisa membeli apapun yang kamu mau!" bujuknya.
Aku tertawa kecil.
Ku kalungkan kedua tanganku dilehernya.
"Jangan menyesal ya." godaku.
Sedetik kemudian tangan kirinya menarik tengkukku dan menghujaniku dengan ciuman panas.
Tanpa ku sadari tubuhku sudah berada di atasnya. aku bahkan tak dapat mengatur nafasku dengan benar.
TINGTONG!
TINGTONG!
Aku mendorong pelan mas Sandy.
"Aargh! yang benar saja!" dengusnya mengacak rambut kesal.
"Bukalah, siapa tahu itu penting." saranku.
Mas Sandy bangkit dengan wajah ketus tentu saja.
__ADS_1
Sebenarnya siapa yang tiba-tiba datang ke apartemen mas Sandy Sepagi ini. bahkan tak ada seorang pun yang tahu tentang tempat ini. apa mungkin itu Hana? pikirku.
• • • • • •