
Bahkan hanya dalam hitungan detik, semua hal bisa berubah secara drastis dan tak terduga.
Dalam satu detik bisa ada ribuan kejadian mengerikan yang tak terlintas sedikit pun dibenak kita. termasuk di benakku. ini bukanlah pertengkaran hebat, ini juga bukan masalah yang sangat fatal. hanya saja mungkin karena kami memulainya terlalu cepat, hingga membuat perasaan kami tak siap satu sama lain.
Aku berdiri di ambang pintu keluar apartemen. ini masih pagi,dan bahkan untuk kembali ke rumah dari sini, lumayan jauh.
Dengan pikiran kacau aku melangkah gamang menuruni anak tangga. dan berjalan keluar dari tempat itu.
"Loh, kamu bukannya pacarnya pak Sandy yah? yang waktu itu kemari?" suara Hana mengagetkanku,sampai aku tak sempat mengusap air mata yang sudah terlanjur jatuh membasahi pipi.
Aku menoleh padanya. Hana terlihat kaget saat melihat ku berantakan dan menangis.
"OMG! what happen?" selorohnya mendekatiku.
Aku menggeleng pelan. ingin menangis tapi aku juga tahu diri jika dia adalah orang lain. Jujur saat ini aku benar-benar kalut dan rasanya ingin ambruk seketika.
"Kalian bertengkar? dimana pak Sandy?" tanyanya lagi.
"Saya mau pulang!" aku menukas sembari mengusap air mataku.
"No! kamu Gak bisa pulang dalam keadaan menangis begini? lebih baik kita duduk disana!" Hana menunjuk pos security.
Karena aku tak tahu harus bagaimana. Akupun setuju dan mengikuti sarannya untuk istirahat sejenak di sana.
"Duduklah!" perintahnya lembut sembari menuangkan aku segelas air.
Seorang security yang tengah memarkir mobil datang dan melihat kami berdua.
"Ada apa?" tanyanya melempar pandangan padaku lalu beralih pada Hana.
"Ini urusan perempuan! sana pergi!" usir Hana yang nampaknya ingin menjagaku dari gosip.
Aku meneguk air tawar itu dengan perlahan. bahkan untuk menelannya pun aku kesulitan. rasanya ada benda aneh yang menghalangi tenggorokanku.
"It's okay, kalau Kamu gak mau cerita? tapi setidaknya, kamu tenangkan dulu pikiran kamu disini. setelah itu, kamu bisa pergi!" Hana menatapku iba.
Beruntunglah aku masih menemukan orang baik di tempat seperti ini. Orang yang sungguh peduli dengan kondisi orang lain.
"Jam berapa Bus biasanya lewat?" tanyaku akhirnya setelah merasa lebih baik.
__ADS_1
"Disini jarang ada kendaraan umum lewat. jika mau kamu bisa jalan menuju halte pertama. dan itu cukup jauh ke arah timur. apa perlu saya pesankan taksi." Hana merogoh ponselnya.
"Tak usah! saya naik bus saja. terima kasih untuk minumnya!" aku bangkit dan berjalan cepat menuju timur. Aku melambai pada Hana yang masih tampak mencemaskanku.
Aku berjalan sendirian, sisi kiri dan kanan ku adalah apartemen dan toko-toko mewah. masih terlihat cukup sepi karena mungkin masih pagi. orang-orang sibuk biasanya akan ada di tempat ini sore hari menjelang malam.
Aku mungkin bukan satu-satunya orang asing disini. tapi entah kenapa aku merasa sendirian. bahkan beberapa orang terlihat di dalam toko melemparkan pandangan heran padaku.
Aku menoleh ke belakang. benar-benar tak ada Bus yang lewat. bahkan taksi pun masih terlihat jarang. lebih banyak kendaraan pribadi yang melintas sejak tadi. dalam kondisi kalut begini, bahkan terkadang keadaan pun seakan menertawakan kita.
"Taxi..? " suara pria tambun dari dalam mobil taksi berseru padaku sembari menghentikan laju mobilnya.
Aku menggeleng pelan. melihat wajahnya yang berjanggut saja membuatku bergidik ngeri. bahkan dia tidak terlihat ramah. Aku harus sebisa mungkin menghindar dari orang-orang aneh agar bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Beruntunglah kakiku ini sangat kuat, sehingga berjalan cukup jauh tak menjadi masalah bagiku. Dan akhirnya aku menemukan halte itu. tak ada satu orang pun yang terlihat menunggu bus disana. tapi tak apa, semoga aja aku bisa mendapatkan Bus hari ini. batinku.
Aku duduk disisi bangku yang terbuat dari besi itu. mengedarkan pandangan pada sekitarku yang terasa asing.
Aku tertunduk, teringat kembali kejadian di apartemen tadi. dan sekali lagi hal itu mampu membuatku ingin menangis.
Bukankah aku harus kuat? kenapa aku sangat cengeng? bahkan ini bukan masalah besar jika di bandingkan dengan pertengkaranku yang dulu biasa terjadi dengan mas Rizal.
Kenapa Alis??? aku mempertanyakan sikap lemahku.
Bisakah aku melewati hari-hari ku tanpa dirinya kelak? mungkin aku bisa meski aku tak yakin.
Lalu bagaimana dengan Andi? bagaimana jika dia bertanya tentangnya? apa yang harus ku jawab?
Aku menghela nafas lirih.
Memang seharusnya aku tak memberanikan diri untuk mencintainya.
Biar bagaimana pun hubungan kami pasti akan sangat sulit untuk dijalin. bahkan Bu Ayu pun terang-terangan memintaku untuk menjauhinya.
Lalu apalagi Lis? tidakkah kamu sadar? sebebal itukah kamu karena cinta? hingga mengesampingkan logikamu? aku merutuki kebodohanku.
SKIITTT...
sebuah mobil Bus tiba-tiba berhenti dihadapanku. menurunkan seorang penumpang lansia beserta anak kecil yang kupikir adalah cucunya.
__ADS_1
Aku merogoh tasku untuk mengambil dompet,dan tahu apa yang terjadi? dompetku tak ada disana? bagaimana bisa? aku mengacak isi tasku yang memang kecil itu.
"Gimana ini?" desahku mulai panik.
Kenapa bisa aku melupakan dompetku? bahkan biasanya aku tak seceroboh ini! aku mendengus kesal.
"Naik tidak?" tanya seseorang yang ku pikir adalah kernet.
"Maaf pak, saya gak jadi naik?" aku menatapnya pasrah.
"Yakin? bus yang kedua datangnya siang loh mbak!" teriak si supir.
Aku menatap gamang. tapi harus bagaimana, aku meraba saku celanaku juga saku bajuku. tak ada uang disana. tak mungkin membayar Bus dengan ponselku? atau jam tanganku? terlihat sangat bodoh.
"Enggak pak. saya masih nunggu teman!" selorohku beralasan untuk menutupi malu.
Sang supir segera melajukan mobilnya meninggalkan satu-satunya halte ditempat itu.
Aku mundur perlahan, lalu berjongkok dan kembali menangis. kesal dan marah pada kecerobohanku sendiri.
Tuhan benar-benar sedang mempertontonkan kebodohan ku.
Cukup lama aku tertunduk, sebelum akhirnya sebuah suara sayup-sayup terdengar berjalan menghampiriku. Beberapa detik aku terdiam. malu rasanya jika ada orang yang lewat dan melihatku seperti ini.
Aku membuka mataku pelan. dan yang membuatku terkejut, aku mengenal pemilik sepatu itu. pemilik sepatu yang sedang berdiri tepat dihadapanku.
"Kenapa masih disini? Gak bisa pulang?" tanyanya sinis.
Aku menengadah pelan.
Ku tatap sendu wajahnya yang tampak memerah dan juga begitu khawatir itu. aku berdiri dengan tubuh yang terasa lemas.
"Saya lupa bawa dompet!" lirihku menatapnya penuh sesal.
Mas Sandy terlihat menghela nafas kasar. dia menarik tubuhku ke dalam. pelukannya.
"Bodoh!" umpatnya sembari memeluk erat diriku.
"Ternyata,kamu memang tak bisa apa-apa tanpa saya!" lirihnya setengah mengejek namun juga cemas.
__ADS_1
Aku bisa merasakannya saat pelukannya semakin erat mendekapku
• • • • • • •