
Semenjak ku temukan foto mas Rizal bersama bu Ayu. setiap saat pikiranku didera berbagai pertanyaan yang entah datang darimana. aku jadi tak fokus dan sering melamun hal-hal yang menakutkan.
Sudah dua hari sejak kejadian itu, tapi aku tak berani bertanya apapun pada mas Sandy. apalagi bu Ayu. ku biarkan rahasia ini tersimpan dengan rapi. apalagi sikap mas Sandy masih saja cuek padaku.
Hingga suatu hari, saat aku tengah duduk di balkon bersama Andi yang tengah belajar. mas Sandy masuk ke kamar tanpa sepengetahuanku.
"Loh, kamu udah pulang mas?" selorohku kaget
"Saya pulang untuk mengambil dokumen. Dan satu lagi,nanti sore ada Gala dinner" terangnya seraya memberiku kartu undangan yang dipegangnya.
Ku lirik kertas putih berpita emas itu,
"Carilah pakaian yang bagus. jam 7 nanti saya jemput" tukasnya sembari melangkah meninggalkanku menuju rak buku yang ada di kamar.
"Mas Sandy mau ke kantor lagi? apa 'gak sekalian makan siang di rumah mas,?" tanyaku
"Gak usah. saya sudah makan." sahutnya enteng.
Aku terpaku cukup lama. sikapnya itu semakin lama membuatku semakin tak nyaman. sudah hampir 5 hari mas Sandy bersikap dingin begitu padaku.
"Mama mau makan malam sama papa ya? Andi boleh ikut Gak?" seloroh Andi.
"Ini acara khusus orang dewasa sayang. anak-anak mana boleh ikut." jelasku
Andi merengut seketika,sembari mendesah kecewa.
"Yah..."
"Kapan-kapan kita makan diluar bertiga ya. nanti mama bicara sama papa!" bujukku mencoba memberinya pengertian.
•••
Pukul 7 lewat 15 menit. Aku turun dengan mengenakan gaun merah marun yang Rahma pilihkan untukku.
Berulang kali aku meraba area pinggangku yang memang sangat melekat di tubuhku.
"Kenapa Rahma pilih baju kaya gini sih," desisku ragu-ragu.
"Aduh non, saya kira tadi siapa. kaya foto model loh." seloroh Susi.
Aku menyeringai malu, seharusnya aku senang atas pujiannya? tapi hatiku malah merasa tak nyaman.
"Gitu ya. tapi kok saya ngerasa bajunya kesempitan ya bi."
"Enggak ah non, bagus kok. Pas di badan. cantik banget. kalo orang lain lihat, pasti ngiranya si non belum ada buntut" pujinya diakhiri kekehan.
"Bibi bisa aja,oh iya. bilang sama bi Atun. nitip Andi ya. takutnya saya pulang agak malem. dan lagi,tolong matikan TV yang ada di kamar Andi ya." pintaku.
"Siap non, nanti saya bilangin." bi susi berlalu dari hadapanku.
Aku melangkah menuju ruang tengah. sepertinya mobil mas Sandy belum datang.
__ADS_1
"Bu Ayu," aku terhenyak kaget. saat ku lihat dia tengah duduk santai di Sofa. ku pikir tadi sore bu Ayu sudah pergi.
"Ternyata kamu pergi ke Acara malam ini juga," tukasnya sinis.
"Iya bu, mas Sandy meminta saya menemaninya." jawabku sopan.
"Tolong jangan bersikap kampungan nanti. Acara Gala dinner dihadiri oleh orang-orang penting yang semuanya merupakan petinggi Perusahaan besar dari seluruh kota. jadi kamu harus bisa menjaga sikap dan ucapan kamu." jelasnya.
Aku mengangguk patuh.
Seburuk itukah aku dimatanya, hingga setiap ada kesempatan seperti ini dia begitu mewanti-wanti diriku.
"Seharusnya Sandy pergi sendiri saja." desisnya pelan.
Terlihat jelas jika bu Ayu memang masih belum menerimaku sebagai bagian dari keluarga ini. dan lagi,....
Aku Sejujurnya ingin bertanya mengenai foto yang ku temukan waktu itu padanya. tapi, apa bu Ayu akan memberi tahu? atau apakah yakin jika dia tak akan berbohong padaku?
"Bu, bolehkah saya bertanya satu hal?" gumamku sedikit ragu.
Bu ayu menoleh cepat dengan tatapan mata curiga.
BIMMP!
BIMMPP!
Kami berdua menatap ke arah luar bersamaan.
Mas Sandy yang baru keluar dari dalam mobil, tampak terdiam sesaat ketika melihatku berdiri di depan pintu.
"Kenapa mas? apa ada yang salah?" tanyaku heran.
"Enggak." tukasnya,sembari membuka pintu untukku.
Aku duduk dengan hati-hati,ku lihat mas Sandy juga sudah berganti pakaian. dia pasti mampir ke butik sebelumnya.
"Mas Sandy mampir ke butik? Gimana kabar Ema? apa dia baik-baik saja?"
"Ema sehat. kamu tak perlu khawatir." sahutnya.
Aku mengangguk pelan, beberapa hari kemarin aku mendapat kabar jika Ema sempat di rawat di rumah sakit karena pingsan. sayangnya aku belum sempat menjenguknya waktu itu.
"Kamu beli baju sendiri?" tanya mas Sandy dingin.
"Enggak mas, baju ini Rahma yang pilihan. memangnya kenapa? dari tadi mas Sandy sepertinya ngeliatin baju saya terus? bajunya jelek ya mas?!" selorohku panik. Namun mas Sandy masih terlihat fokus menyetir.
"Bajunya cantik," gumamnya seraya membuang muka ke arah jendela mobil.
Aku mengulum senyum. apa-apaan itu, jika niat memuji kenapa tak bicara saja langsung. kenapa harus berputar-putar seperti kipas angin. Apa karena dia masih gengsi? padahal jelas-jelas aku ini istrinya.
Dasar Mas Sandy aneh! batinku.
"Mas,apa Nita juga ikut?!" tanyaku kemudian.
__ADS_1
"Nita sibuk. lagipula,acara ini hanya di hadiri oleh orang-orang penting. kebanyakan dari mereka adalah pemilik perusahaan, serta pemilik saham. tamu undangannya hanya 50 orang saja." jelasnya.
"Oh gitu ya,..." sahutku paham.
"Jika sudah disana, kamu jangan jauh-jauh dari saya!" perintahnya tegas.
"Iya mas," angguk ku.
Mobil kamu sedikit tersendat karena jalanan lumayan penuh sesak dengan kendaraan lain yang sepertinya baru keluar dari kantor. kami bahkan membutuhkan waktu 20 menit untuk tiba di salah satu hotel ternama.
•••
Menjadi bagian dari keluarga kaya raya, bukanlah hal yang mudah. kita di tuntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan dan orang-orang sekitar.
Aku yang memang masih sangat awam dengan orang dan kondisi di sekitar mas Sandy,bahkan harus belajar cepat. tak boleh terlihat salah apalagi tak tahu.
Bahkan tadi siang, aku menyempatkan diri untuk mempelajari etika makan, bicara dan juga bersikap. Padahal beberapa waktu lalu, aku juga pernah ikut mas Sandy makan malam. tapi tetap saja, aku gugup dan cemas.
Perasaan takut mengecewakan pasangan, adalah perasaan yang sangat sulit untuk dihadapi. ragu dan tidak percaya diri, apalagi sikap mas Sandy saat ini kurasa tak akan banyak membantu.
Aku menghela nafas panjang, saat melangkahkan kaki ke dalam gedung. mengumpulkan keberanian untuk berharap muka dengan mereka-mereka yang jelas tak begitu akrab denganku.
Mas Sandy membuka lengannya, mengisyaratkan padaku agar aku tak jauh-jauh Darinya.
"Tenanglah," bisik mas Sandy seolah tahu jika aku tengah dilanda rasa gugup.
Ad perasaan lega saat dia bicara begitu padaku, setidaknya dia masih peduli dan menyadari keberadaanku.
Dua orang pelayan tampak mempersilahkan kami berdua. dan setibanya di ruangan itu, beberapa orang terlihat sudah memenuhi meja mereka. ada yang Asik mengobrol ada juga yang sibuk menikmati appetizers Yang Sudah terhidang di atas meja.
Aku mengedarkan pandanganku cukup jauh, namun tentu saja aku tak akan menemukan satu orang pun yang ku kenal.
"Eh! dokter Hasan. dia disini juga mas?" pekikku kaget.
Mas Sandy mengikuti arah pandanganku.
"Tentu saja dia disini, dokter Hasan merupakan Founder dari salah satu yayasan Kanker terbesar di kota ini. apa kamu gak tahu soal itu?"
"Oh, begitu ya. saya baru tahu." Aku tersenyum sembari melambaikan tanganku rendah.
"Jangan bersikap aneh. semua orang memperhatikan kita!" timpalnya lagi.
Ku turunkan tanganku dengan cepat, seraya menatap panik sekeliling.
"Maaf," desahku
Kami berjalan menuju salah satu meja bernomor 19. terlihat ada 4 buah kursi disana.
Pastilah aku akan duduk bersama dengan orang asing nantinya. Aku menghela nafas lesu.
Berjuanglah Alis! batinku berteriak.
• • • • • •
__ADS_1