
Aku kembali melanjutkan aktivitas berkebunku. Urusan meminta izin,biar ku pikirkan nanti saja. batinku.
Ternyata butuh waktu satu jam untuk memindahkan semua tanaman hias ini. dan tubuhku mulai terasa pegal. ku putar leherku beberapa kali.
"Non Alis pasti capek! ya sudah non, biar sisanya saya saja yang bereskan!" tukas susi
"Makasih ya sus" ku tinggalkan peralatan ditanganku, lalu beranjak menuju kamar. sepertinya aku harus mandi lagi.
Aku masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. dan betapa kagetnya aku saat melihat apa yang terjadi.
DORRR!
"Ku tembak kamu bajak laut jahat!!!" teriak Andi seraya mengacungkan senjata mainan ditangannya.
Aku menelan ludah getir. Apa-apaan ini, kamarku seperti kapal pecah?
"Hohooo! coba saja kalau bisa?!" sahut mas Sandy yang tampak bersembunyi di balik Sofa.
"Kalian lagi ngapain sih?" tanyaku tak habis pikir.
"Sini!" Mas Sandy tiba-tiba menarik tanganku cepat dan mengacungkan senjata dileherku layaknya aku adalah seorang tawanan.
HUH!
"Tembak kalau berani?" tantang mas Sandy.
Andi menatapku bingung. AH! mereka berakting seolah mereka itu aktor sungguhan. dan aku malah terjebak bersama mereka.
"Mas, saya mau mandi!" bisikku ketus.
"Lepaskan dia!" Teriak Andi.
"Tidak! Akan ku buang wanita ini ke laut agar hiu-hiu lapar itu memakannya!" ancam mas Sandy.
"Andi! kamu jangan dengerin om papa ya, mama ga ikutan!" teriakku.
"Diam sebentar!" bujuk mas Sandy setengah memaksa.
"Baiklah.. Akan ku berikan peti harta karun ini padamu! asal kamu melepaskannya!" pinta Andi.
Aku terkekeh geli melihat tingkah konyol putraku sendiri. bahkan dia bisa berimajinasi sehebat itu. tahu darimana dia cerita-cerita seperti itu.
•••
"Baiklah! mama Gak mau tahu, kamu sama om papa harus bereskan semua barang-barang yang berantakan ini!" perintahku menatap Andi dan mas Sandy bergantian.
"Om papa, Gimana nih?" Andi tampak berbisik.
"Tenang saja, kan ada bi atun" tandas mas Sandy enteng.
"Eh, Gak bisa. kalian berdua yang harus membereskannya. mama mau mandi. dan setelah mama mandi,semuanya harus sudah beres! OKE!!!" tegasku.
Mereka berdua tampak menghela nafas malas. ku tinggalkan keduanya dengan tawa penuh kepuasan.
Lucu rasanya dengan kehidupanku yang sekarang ini, terasa aneh tapi aku menikmatinya. mau itu hal menyakitkan ataupun hal yang membahagiakan semuanya ku jalani dengan penuh keberanian. apa mungkin ini adalah kekuatan dari cinta? dan cinta itu sendiri yang membuatku mampu melewati semuanya tanpa rasa takut.
__ADS_1
20 menit sudah aku berjibaku di kamar mandi. meski hanya mandi sebentar karena sekedar melepas kotoran yang menempel di kaki dan tanganku saja.
Aku merapikan rambut dan bajuku seraya menatap pantulan wajahku dicermin. Aku jadi mengingat kembali soal perkelahian mas Sandy dan pak Broto. juga soal sikap bu Ayu yang kurang mengenakan tadi pagi.
Hufht!
Apa yang harus ku perbuat dengan semua masalah itu, apakah aku harus diam saja? dan membiarkan mas Sandy yang membereskan semuanya? tapi, itu sangat tak adil,bahkan semua ini terjadi karena diriku. lalu apakah aku bisa membantu mas Sandy menghadapi masalahnya??? Tapi dengan cara apa? batinku berkecamuk.
Aku keluar dari kamar mandi. ku lihat Andi dan mas Sandy tengah berbaring di sofa dengan kondisi kamar yang sudah rapi kembali.
"Kamu mandi lagi sayang?!" tanya mas Sandy heran.
"Iya mas, saya abis dari halaman belakang tadi. badan saya lengket." sahutku seraya berjalan mendekati mas Sandy lalu duduk di sampingnya.
"Apa kalian Gak bosen di rumah terus?" tanyaku pada mereka berdua.
"Enggak. Andi seneng di rumah,main sama om papa" sahutnya.
Mas Sandy menatapku heran.
"Kenapa? kamu bosen? atau mau jalan-jalan keluar?" tanyanya
"Soal itu,.." Aku terpaku cukup lama.
"Mama mau pergi?" seloroh Andi.
Aku menatap keduanya bingung.
"Sebenarnya saya, ada janji makan siang dengan Rahma. tapi kalo mas Sandy gak izinkan, saya gakkan pergi kok!" tukasku ragu.
Aku menatap mas Sandy tak percaya. sebaik itukah dia? bahkan dia memberiku kebebasan? awalnya ku pikir mas Sandy orang yang Posesif dan tak menginginkan istrinya keluar rumah.
"Mas Sandy serius?" selidikku.
Mas Sandy tersenyum.
"Saya tahu kamu wanita yang mandiri, pasti kamu akan kesulitan jika saya terlalu mengekang atau mengatur kamu. lagipula kamu cuma pergi untuk makan siang dengan Rahma kan? bukan untuk yang lainnya? hanya saja, saya mau kamu di temani pak Muh." sahutnya yakin, meski kalimat terakhirnya terdengar khawatir.
"Lalu Andi?" aku menatap putraku cukup lama.
"Andi masih sakit, biar saya yang menjaganya di rumah. tapi ingat, kamu tak boleh pergi terlalu lama" tatapan matanya tampak begitu percaya padaku. dan aku tak akan menyia-nyiakan kepercayaannya itu.
"Kenapa kita gak ikut makan siang sama mama aja,om papa?" rengek Andi.
Mas Sandy mendekapnya erat.
"Andi kan masih sakit sayang,nanti kalo sampe sakit lagi, malah tambah repot. Lebih baik Andi tunggu di rumah aja sama om papa. Oke?" Bujuknya.
"Iya deh," sahutnya menurut.
Aku benar-benar sangat beruntung bisa memiliki kedua orang ini kehidupanku.
"Seharusnya kamu bersiap teh,ini sudah jam 11 lewat," saran mas Sandy.
"Tenang saja mas, tempat ketemu nya juga dekat kok. dan lagi, saya mau membuatkan makan siang dulu untuk kalian!"
__ADS_1
"Gak usah sayang. lagipula kamu pasti capek kan? untuk makan siang, biar bi Atun saja yang masak." perintahnya
PING!
Ku tatap segera ponsel di tanganku.
"Itu pasti Rahma kan? bilang padanya kalau kamu akan segera datang." tukas mas Sandy yakin.
"Terima kasih banyak mas," Aku menatapnya penuh haru.
"Iya sayang, sama-sama. kamu bersiaplah. saya akan ajak Andi untuk bermain di halaman." Mas Sandy bangkit lalu menggendong Andi.
"Ayo naik!" selorohnya.
Andi terkekeh antusias lalu segera naik ke punggungnya. Ku tatap kepergian keduanya dari dalam kamar. sesaat kemudian ku balas pesan dari Rahma,
"Kamu tunggu ya, aku harus ganti baju dulu!" tulisku singkat.
•••
Pukul 12 lewat aku baru selesai bersiap. memakai baju sederhana adalah kesukaanku. jujur meskipun aku berada di rumah yang mewah, itu tak bisa mengubah kebiasaan ku sehari-hari.
Kaos polos,celana bahan dan juga tak lupa Sweater warna coklat kesayanganku. ditambah tas selempang kecil untuk menyimpan ponsel.
Aku segera turun menuju halaman untuk berpamitan.
"Mas, saya Titip Andi Yah!" selorohku.
Mas Sandy yang tengah bermain bola dengan Andi menoleh padaku dengan tatapannya yang sedikit agak heran.
"Kamu mau pergi sekarang?" tanyanya
"Iya, memangnya kenapa?" aku balik bertanya.
Mas Sandy menatapku dari atas hingga ke bawah. mungkin penampilanku terkesan biasa saja untuk istri seorang Sandy Hadiwijaya.
"Bukankah, saya sudah membelikan banyak pakaian untuk kamu teh," Mas mendekat.
"Memangnya baju ini salah ya?" aku menatap bajuku dan tak menemukan cela sedikit pun menurutku.
"Sayang, kamu itu sudah menikah dengan saya. bahkan semua orang sudah tahu siapa kamu. saya cuma khawatir, jika ada orang yang bermulut jahat dan mengomentari penampilan kamu. meskipun bagi saya, kamu tetap cantik dan sopan dengan pakaian ini." gumamnya ragu.
Aku tersenyum untuk meyakinkan mas Sandy.
"Mas, saya hanya mau bertemu dengan Rahma dan Sinta saja. kalau saya berpakaian terlalu berlebihan justru akan membuat saya tak nyaman saat bersama mereka." sahutku beralasan.
Aku hanya tak ingin sahabatku berpikir bahwa aku berubah, bahwa aku bukan Alis yang dulu.
Aku ingin menjadi diriku sendiri saat bersama sahabatku. bukan sebagai istri dari seorang Sandy Hadiwijaya.
"Saya mengerti. kalau begitu,kamu hati-hati. dan jika terjadi sesuatu, kamu hubungi saya. oke!" perintahnya tegas.
Aku mengangguk patuh seraya berpamitan padanya juga pada Andi.
• • • • • • •
__ADS_1