PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•184


__ADS_3

Sehabis mandi aku berdiri di depan pintu kamar mandi. ku lihat mas Sandy sudah selesai berganti pakaian, dan tampak menyiapkan obat untukku.


Aku benar-benar takut sekarang. aku rasa, kali ini dia tak akan memaafkanku dengan mudah.


Mas Sandy mendongak dan menatapku cukup lama,


"Kemarilah,.." tukasnya pelan.


Apapun yang terjadi aku harus bicara jujur padanya. sebab jika aku berbohong, itu sama saja aku memberikan kesempatan pada Vina untuk lebih dulu menceritakan kebenarannya pada mas Sandy.


Aku duduk dihadapan suamiku dengan hati-hati.


Mas Sandy menyingkap lengan bajuku perlahan. sepertinya lukanya cukup dalam. karena aku bisa merasakan perih saat obatnya menyentuh kulitku.


"Aah!" Aku meringis menahan sakit.


"Tahan! luka goresnya cukup lebar" jelasnya serius.


Aku menggigit bibirku menahan sakit. sakit ini mungkin tak seberapa dengan sakit hati yang akan mas Sandy rasakan jika dia tahu kebenarannya. Aku sudah berbohong dan tak meminta izin terlebih dahulu. debar jantungku kali ini terasa begitu kencang berdetak.


"Sudah!" Mas Sandy menempelkan plester luka agar lukaku tak terkena debu dan semacamnya.


Aku menghela nafas dalam. sama sekali belum berani menatap wajahnya yang kini sepertinya tengah memperhatikanku dengan seksama.


"Jadi, kenapa kamu bisa luka begini?" pada akhirnya pertanyaan yang ku Takutkan itu menggema juga.


"Ja..jatuhh mas," jawabku sama seperti tadi.


Mas Sandy menarik lembut daguku agar menatapnya. aku mengerjapkan mataku takut.


"Saya menelepon Bi Atun. dia bilang kamu belum pulang. lalu saya menelepon kamu, dan kamu malah menutupnya. beruntunglah saya dapat jawaban dari pak Muh. dia bilang kamu ke kedai,dan minta di jemput disana. tapi sayangnya pak Muh sakit. sehingga meminta kamu naik taksi. begitu kan?" selorohnya panjang lebar.


Aku mengangguk pelan.


"Ngapain kamu ke kedai?" timpalnya lagi.


Aku terperanjat. ku pikir pertanyaannya tak kan sampai sejauh itu. Aku terdiam cukup lama, bagian mana yang harus ku jelaskan lebih dulu? jika aku bicara soal Vina yang tak sengaja mendorongku apa itu tak berlebihan? rasanya aku seperti seorang istri yang suka mengadu. atau...,


"Apa Ivan yang menjemput kamu?" tanyanya lagi.


Aku mendongak kaget,


"Mas, soal itu. tadinya saya sudah berniat mau pulang mas. bahkan saya menolak undangan dari Aisyah untuk datang ke kedai. tapi,... "


"Tapi?!"


"Tapi tiba-tiba Rahma memaksa saya untuk ikut sebentar, karena kebetulan pak Ivan lewat di depan kantor. jadi kami menumpang hingga ke kedai," jelasku

__ADS_1


"Jadi, semuanya salah Rahma ya.." gumamnya mengambil kesimpulan.


"Bukan mas,.. Rahma sama sekali gak salah. yang salah tetep saya kok. saya mau aja di ajak pergi. padahal waktu itu udah malem." desahku merasa bersalah.


"Jadi, kamu yang bersalah? lalu seperti apa hukuman yang kamu mau dari saya?" tanyanya serius.


Aku tersentak kaget. bahkan tatapan mas Sandy begitu dingin padaku.


"Apa harus saya jelaskan sekali lagi, jika kamu adalah istri saya, dan kamu juga sudah memiliki anak. Saya mengijinkan kamu bekerja,bukan berarti kamu boleh pergi kemanapun semau kamu. terlebih lagi pergi bersenang-senang bersama mereka hingga larut malam." jelasnya


"Saya minta maaf,mas.." Aku menunduk kalut.


"Mungkin sekarang, kamu lebih baik diam di rumah saja. tak usah pergi ke kantor lagi. dan rasanya memang lebih baik seperti itu." perintahnya.


Aku meremat kedua tanganku gugup. rasanya ingin sekali aku menangis,tapi entah kenapa aku tak bisa.


"Tidurlah, ini sudah malam. saya juga capek." mas Sandy bangkit dari duduknya.


Ku tarik tangannya cepat.


"Mas, mas Sandy benar-benar memaafkan saya kan?" tanyaku lirih.


Mas Sandy menatapku dingin.


"Kamu tidurlah,.. saya juga sudah mengantuk." mas Sandy melepaskan pegangan tanganku.


Aku menoleh ke arah samping. mas Sandy tampak berbaring membelakangiku. Bahkan tanpa mengucapkan 'selamat tidur' seperti biasanya.


Aku beringsut dan berbaring perlahan. ada rasa sesak yang tiba-tiba saja terasa menghimpit bilik jantungku.


"Selamat tidur mas," gumamku pelan.


Ku coba memejamkan mataku,meski Sejujurnya isi kepalaku ingin berteriak. Tapi percuma saja aku minta maaf, toh mas Sandy tak akan merubah pendiriannya.


•••


Aku membuka mataku perlahan. ku usap selimut yang menyelimuti tubuhku. Aku berbalik dan hendak membangunkan mas Sandy. tapi aku dibuat terkejut karena mas Sandy sudah tak ada di tempatnya.


Aku terperanjat dan segera bangkit.


Ku lirik jam di atas nakas. masih jam 6 pagi, kemana perginya mas Sandy?


Aku segera bangun,tapi tiba-tiba aku terkejut saat merasakan ada sesuatu yang aneh di kakiku.


Ternyata kedua pergelangan kakiku sudah di pakaikan plester luka. aku mengingat kembali kejadian semalam. rasanya, semalam mas Sandy hanya mengobati luka tanganku saja. apa dia juga mengobati kakiku saat aku tertidur. hingga aku tak menyadarinya? batinku


Aku melirik kamar mandi.

__ADS_1


"Mas, apa mas Sandy di dalam?" tukasku cukup kencang.


Namun sayangnya tak ada sahutan dari dalam. apa mungkin mas Sandy sudah pergi sarapan?


Dengan hati-hati aku keluar dari kamar dan segera menuju meja makan. Ku lihat bi Atun tengah merapikan bekas makanan.


"Bi, mas Sandy mana?" tanyaku cemas.


"Eh, non Alis udah bangun. Bapak sudah pergi ke kantor barusan." jelasnya sembari merapikan piring yang ku yakini bekas sarapan mas Sandy.


"Apa mas Sandy bilang sesuatu bi?" selidikku


"Enggak non. si bapak bilang cuma di suruh jagain si non. katanya kaki sama tangannya sakit. jadi harus istirahat. emang si non kenapa?" tukasnya balik bertanya.


Aku terdiam lesu. Mas Sandy pergi bahkan tanpa berpamitan padaku. Aku mengutuk perbuatanku sendiri. betapa cerobohnya kamu Alis. hingga suamimu sendiri mulai tak tahan dengan sikapmu ini. rutukku.


"Non Alis demam ya?" seloroh bi Atun.


"Enggak bi. cuma kaki aja lecet. tapi udah di obatin kok." sahutku cepat.


"Ya udah non, sini duduk! bibi buatkan sarapan. sekalian mau bangunin Den Andi."


Aku menarik kursi pelan dan duduk dengan perasaan tak karuan.


Nyatanya pertengkaran tak harus selalu dengan berteriak. suasana hening mencekam, justru lebih menakutkan.


Aku telah membuat mas Sandy marah besar padaku. hingga dia sekarang acuh. padahal ini belum genap satu hari. tapi rasanya aku sudah menyerah dan enggan menghadapi hari esok jika dia terus-terusan mendiamkanku.


Aku harus bagaimana?


Pada siapa aku harus meminta tolong? Bahkan sepertinya ini adalah hukuman dari Sang pencipta, karena aku tak meminta izin pada suamiku.


Tak terasa air mata tiba-tiba saja jatuh dipipiku. dengan tergesa aku menyekanya. karena ku dengar suara langkah kaki menuju ke arahku.


"Selamat pagi ma? semalam mama pulang jam berapa? Andi nungguin mama!" protesnya ketus.


Aku menoleh pelan pada Andi.


"Mama nangis? mama kenapa? mama sakit ya?" selorohnya cemas.


"Maafin mama ya nak. semalam mama pulang larut. kerjaan mama banyak." sahutku beralasan.


Aku tak mungkin menumpahkan kesedihanku pada Andi. dan seharusnya aku tak mengabaikanya. bukankah dulu aku mati-matian ingin membahagiakannya. tapi kenapa sekarang, aku justru abai terhadapnya.


Ternyata keadaan mampu membuat siapa saja berubah. termasuk diriku. bahkan ini belum apa-apa. tapi aku sudah nyaris kehilangan kedua kebahagian terbesar dalam hidupku.


Maafkan mama Andi...

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2