
"Alhamdulillah," Aku menggenggam tangannya erat.
Mas Sandy menatapku cukup lama, kemudian tersenyum. namun wajahnya berubah saat melihat dokter Hasan.
"Dokter disini?" tanyanya pelan.
"Saya yang minta dokter Hasan kesini mas. saya khawatir!" sela ku menatapnya cemas.
"Saya baik-baik saja." Tukasnya pelan.
Dokter Hasan mendekat.
"Kamu harus memperhatikan kesehatan Mu san. kalau masih ingin berumur panjang!" jelasnya setengah menyindir mas Sandy yang memang abai terhadap kondisi kesehatannya.
Aku yang baru menyadari jika dokter Hasan memperhatikan tanganku yang memegang erat tangan mas Sandy, seketika melepaskan tangannya. mas Sandy menatap heran sikapku yang tiba-tiba itu.
"Saya permisi ke dapur sebentar. bi Marni pasti sudah pulang dari pasar!" pamitku beralasan.
Aku segera keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. semoga saja bi Marni sudah kembali. kebetulan juga aku ingin membuatkan sarapan untuk mas Sandy. pastilah dia belum makan sesuatu.
"Loh, kamu disini Lis?"
"Bi, apa kabar!" aku mendekat sembari membantunya mengangkat barang belanjaannya.
"kata satpam mas Sandy pingsan?' tanyanya.
"Iya bi, kata dokter Hasan sih lambungnya kambuh lagi." tukasku merasa bersalah.
"Mas Sandy bandel sih kalo udah kerja." jelasnya.
"Oh iya bi, bu Ayu memangnya enggak pulang?" tanyaku menatapnya penuh tanya.
"Enggak Lis. memangnya kenapa?" bi Marni balik bertanya.
"Cuma nanya aja bi. kok Bu Ayu jarang pulang yah. padahalkan di rumah ini gak ada siapa-siapa. sayang banget rumah segede ini jadi sepi." selorohku
"Sebetulnya, dua hari lalu Mas Sandy sama ibu berantem lagi. tapi bibi kurang tahu berantemnya soal apa!" Tukasnya jujur.
Aku menatap bi Marni lekat. wanita paruh baya ini pastilah tahu apa yang terjadi. hanya saja, dia terlalu takut untuk bicara secara gamlang. Sejujurnya Akupun sudah menduga tentang hal itu.
"Oh iya. Gimana kamu bisa ada disini?"
"Tadi pagi mas Sandy telepon saya bi. Karna suaranya terdengar aneh, makanya saya putuskan untuk kesini. dan ternyata benar mas Sandy sakit." jelasku
Bi Marni menatapku penuh makna. lalu beralih kembali merapikan sayuran di hadapannya. dia tersenyum sesaat.
__ADS_1
"Apa kalian sudah resmi pacaran? ayo jawab jujur" selidiknya.
"Bibi belanja apa bi? saya mau masak!" aku membuka belanjaan di meja dan mengeluarkannya mencoba menyibukkan diri dan mengabaikan pertanyaannya.
"Kamu gak usah malu sama bibi. orang mas Sandy nya sendiri yang bilang kok." godanya.
Aku menoleh padanya kaget.
"Mas Sandy ngomong apa bi? ayo bilang?!" desakku tak percaya.
Bi Marni terkekeh sembari menutup mulutnya.
"Katanya mas Sandy, bibi gak perlu masak lagi. soalnya dia udah makan malam dirumah pacarnya. terus bibi tebak, pasti neng Alis. Eh,Mas Sandy gak jawab dan malah nguwel-nguwel badan bibi sambil senyum-senyum sendiri. dasar anak muda!" cerocosnya sembari mengingat.
Aku menyeringai malu. bisa-bisanya mas Sandy membocorkan rahasia sebesar ini dengan mudah.
"Tapi kan,pacarnya itu belum tentu saya!" elakku
"Halah, kalian anak muda. mana bisa menyembunyikan hal begini dari bibi. kalo kamu bukan pacarnya. terus dimana pacar mas Sandy? kenapa cuma kamu yang tahu kalo mas Sandy sakit?!" terkanya membuatku tak bisa mengelak lagi untuk berbohong.
"Bibi seneng loh,akhirnya mas Sandy punya pacar. bibi sayang sama si Mas, bibi selalu berdoa semoga mas Sandy dapat pacar yang baik,dan juga pengertian. dan bibi yakin kamu orang yang tepat. bibi harap kalian berjodoh!" bi Marni terdengar lirih menyampaikan kalimatnya.
Jujur aku merasa terharu atas perhatian bi Marni terhadap hubungan kami berdua. meskipun aku masih ragu, apakah bu Ayu akan bersikap sama seperti bi Marni.
"Tapi bi, saya juga sadar diri. saya tidak mau banyak berharap dengan semua ini." aku tersenyum menatapnya.
"Kenapa bibi ngomong begitu. saya rasa bukan hanya saya saja yang harus selalu ada disampingnya. bibi juga! bibi satu-satunya orang yang memahami mas Sandy. bahkan bibi sudah ada bersamanya sejak mas Sandy masih kecil." tukasku.
Kami berdua saling menatap dalam diam. kedua mata kami seolah bicara. bicara hal-hal yang tak dapat kami utarakan lewat kata. kami menyayangi orang yang sama. dan kami berharap satu sama lain bisa tetap ada disisinya. sampai kapanpun.
"Bibi sudah tua,bibi rasa kamu yang akan memiliki banyak waktu bersama mas Sandy nantinya." tutur bi Marni pada akhirnya.
Gurat kecemasan terlihat jelas di wajahnya.
"Bibi,.. Saya yakin, kita akan selalu bersama. mas Sandy juga pasti akan selalu membutuhkan bi Marni." ku usap lembut pundaknya.
"Ya sudah bi. kita lanjutkan nanti Yah! mas Sandy pasti sudah menunggu" pungkasku mengakhiri obrolan kami yang terasa sedikit melankolis itu.
•••
Ku buatkan semangkuk sarapan simpel namun bergizi untuk mas Sandy.
Setelah mengetuk pintu akupun masuk ke dalam kamar. ku lihat dokter Hasan tengah duduk sementara mas Sandy masih terbaring ditempat tidurnya.
"Permisi,"
__ADS_1
"Kebetulan kamu sudah datang! ini semua obat yang harus Sandy minum Lis. tolong kamu awasi dia! jangan sampai saya memaksanya untuk pergi ke rumah sakit!" Dokter Hasan melirik tak yakin pada mas Sandy.
"Obatnya sebanyak itu dok?" tanyaku memicingkan mata ngeri saat melihat betapa banyaknya obat-obatan yang disediakan.
"Dokter Hasan berlebihan. kamu Gak harus nurutin semua perintah dia teh!" sela mas Sandy lesu.
Mas Sandy pastilah sangat malas jika harus menelan pil-pil pahit itu setiap hari. bahkan selama dua bulan ini dia sudah melakukannya.
"Mas, jangan bilang begitu! semua ini demi kebaikan mas Sandy juga," selorohku membela dokter Hasan yang ku pikir ucapannya masuk akal.
"Teh alis pikir selama 2 bulan saya gak tersiksa minum obat terus dari rumah sakit? kita hanya membuat para dokter ini kaya teh." ledeknya ketus.
Dokter Hasan mengulum senyum, seolah ucapan mas Sandy menggelitiknya.
"Mari dok, saya antar keluar!" Ku persilahkan dokter Hasan berjalan keluar kamar.
"Tak perlu di antar Lis. San,saya harus kembali ke rumah sakit! saya ada operasi satu jam lagi." pamitnya bergegas.
Aku menatap mas Sandy sinis sembari mendekati meja nakas dan menyimpan nampan berisi sarapan itu.
"Mas Sandy kenapa ketus banget sama dokter Hasan sih?" desisku.
"Apanya yang ketus. dia keterlaluan teh, saya lagi sakit masa di suruh minum obat lagi." protesnya pelan.
"Udah bikin orang panik,sekarang malah ngedumel. dasar nyebelin!" gerutuku kemudian duduk disampingnya sembari memegang mangkuk berisi sup jamur kesukaannya.
"Maafkan saya Karna sudah membuat kamu panik!" tuturnya berubah lembut.
Mata itu menatapku lekat. meski dengan tubuh yang tak berdaya, tapi sorot matanya mampu membuatku tersipu dan gugup.
"Seharusnya mas Sandy jangan terlalu memaksakan diri kalau memang sedang sakit! saya gak perlu dijemput atau apapun itu. selagi saya masih bisa melakukannya sendiri, mas Sandy Gak perlu repot-repot mas!" tukasku khawatir.
"Tapi saya Gak merasa di repotkan! lagipula teh Alis gak perlu sungkan. kita berdua ini sudah resmi pacaran." desisnya mengingatkan.
"Mas Sandy! Gimana kalau ada yang denger!" Dengusku seraya menoleh ke arah pintu. siapa saja bisa mendengar obrolan kami barusan. apalagi pintu tidak terkunci.
"Kenapa? teh Alis gak perlu Takut. saya bahkan bisa umumkan pada semua orang jika Kamu milik saya sekarang!" Tegasnya dengan nada tinggi.
Karna takut mas Sandy bicara semakin keras. tanpa pikir panjang ku sumpal mulutnya segera dengan sesendok sup hangat di tanganku.
HAP!
"Sup-nya keburu dingin mas!" Celetukku beralasan.
Mas Sandy menelan Sup-nya dengan terpaksa. jika tidak begitu, tentu dia akan terus berceloteh soal hubungan kami berdua yang hanya baru berumur satu hari itu.
__ADS_1
• • • • •