
Aku menunduk tanpa berniat untuk menyapanya. Rasanya aku masih sedikit takut untuk berhadapan dengannya. apalagi jika ku ingat bagaimana sikapnya beberapa hari lalu padaku.
Pak Ivan kemudian melangkah maju mendekati kami berdua.
"Kayanya obrolan kalian asik sekali. sedang membahas apa?" tanyanya santai.
"Kami cuma ngobrol biasa aja kok pak!" seloroh Metta hati-hati.
Aku melirik pada Metta sesaat. lega rasanya saat dia tak menceritakan apa yang kami obrolkan barusan.
"Oh iya Alis, bagaimana kencannya? pasti sangat seru? kalian bermalam di hotel mana?" celetuknya menatapku dengan senyuman menjijikannya.
Aku mendelik tajam menatapnya. apa maksud dari ucapannya itu? dia pikir aku wanita murahan yang bisa pergi dengan sembarangan pria dan berakhir di tempat tidur? Mirisnya lagi, dia berani mengatakan hal itu didepan orang lain. apakah dia sengaja ingin mempermalukanku?
Aku mengepalkan tanganku erat, mencoba sebisa mungkin menahan emosiku.
Metta menoleh pelan padaku. diapun pasti tak menyangka jika bos nya akan bicara tak sopan begitu padaku selaku karyawannya.
"Maaf pak. Sepertinya bapak harus memperbaiki penglihatan pak Ivan. Karna tidak semua wanita itu murahan!" desisku sinis.
Pak Ivan tersenyum remeh. seakan mengolok-olok jawabanku.
"Kamu Gak usah munafik Alis. bahkan semua wanita yang dekat dengannya, akan berakhir sama. saya cuma mengingatkan kamu saja." Pak Ivan berjalan melewati kami berdua.
Ku tatap kepergiannya dengan amarah yang membara. ternyata seperti itu lah wujud aslinya. pantas saja mas Sandy tak pernah suka dengannya.
"Kak,.. Kak alis gak apa-apa?!" Metta memegang lenganku khawatir.
"Kenapa pak Ivan bicara begitu sama kak Alis ya?" gumamnya.
"Eh, ada apaan sih?" Aisyah datang dengan rasa penasarannya.
"Gak tahu tuh! pak Ivan aneh!" ujar Metta yang berusaha menyembunyikan hal yang terjadi antara Aku dan pak Ivan.
"Saya permisi ke toilet sebentar," pamitku Meninggalkan kedua gadis itu.
Aku berjalan lesu menuju toilet. ku tatap raut wajahku dicermin. Mengingat kembali apa yang baru saja di ucapkan pak Ivan padaku. Aku terdiam cukup lama,Rasanya memang ada yang janggal.
Pak Ivan selalu menatapku penuh kebencian, dan apa yang dia katakan padaku selalu saja berujung dengan menyudutkan mas Sandy. Apa semua ini ada hubungannya dengan pekerjaan? apa mereka memang sedang berselisih. lalu kenapa pak Ivan menyeretku atas masalahnya? apa karena dia tahu kami sedang dekat.
Meskipun ucapannya tadi itu sangat menyebalkan,tapi anehnya aku sama sekali tak merasa sakit hati atau bahkan dendam padanya. justru aku penasaran kenapa pak Ivan bersikap begitu padaku. Apa dia sangat mengenalku hingga membenciku seperti itu.
Atau mungkin juga karena aku tahu soal hubungannya dengan bu Ayu.
"Sabar Alis. sabar.." Aku menghela nafas dalam. Aku yakin aku mampu menghadapi semuanya dengan tenang. Bahkan dulu aku bisa menghadapi sikap mas Rizal yang jauh lebih menyakitkan.
Mungkin inilah hikmah dibalik setiap penderitaan yang aku jalani beberapa tahun ke belakang. Aku menjadi seperti rumput liar, yang meski di injak tak akan menjerit dan meminta ampun. Aku justru akan semakin tegak berdiri dengan kedua kakiku.
Aku membuka pintu toilet dengan hati-hati.
"Astagfirullah..!" aku memekik kaget saat melihat dua gadis itu berdiri didepan pintu.
__ADS_1
"Kalian ngapain sih?"
"Kak Alis baik-baik aja kan?" tanya Metta
"Mungkin pak Ivan lagi banyak masalah kak. makanya dia bicara melantur." timpal Aisyah yang sepertinya sudah tahu apa yang terjadi.
'Kalian tenang aja. Kakak baik-baik aja kok!" sahutku enteng.
Aisyah dan Metta menatapku iba. Pasti mereka berfikir,aku sangat terpukul oleh sikap pak Ivan tadi.
"Ayo kerja lagi!" Ajakku pada keduanya.
Kami kembali bekerja seperti biasa. bahkan sudah ada beberapa tamu yang mulai terlihat memenuhi kedai.
Aku mulai disibukkan dengan pesanan dari para pengunjung kedai.
Bersikap profesional dan bijak. mungkin ini yang sedang ku coba terapkan pada diriku. meski aku kesal pada si pemilik kedai, bukan berarti aku harus lalai dan tak bertanggung jawab pada pekerjaan yang sedang ku lakukan sekarang.
•••
Sejak kejadian tadi pagi, pak Ivan tak terlihat keluar dari dalam ruangan kerjanya. apa mungkin dia sedang tertidur. atau memang malas berpapasan denganku. Aku menoleh ke arah kiri dimana ruangan itu berada.
Tak ku lihat sosoknya duduk di depan meja. pastilah dia sedang tertidur di Sofa nya yang empuk itu.
"Dasar Bos arogan" umpatku pelan.
"Hai.. Alis!" Suara seseorang yang memanggilku dari arah pintu masuk, membuatku teralihkan dan langsung menoleh.
"Rahma. kamu udah datang!" sambutku sembari mempersilahkannya untuk duduk.
Aku menatap jam tanganku.
"Ya ampun. aku sampe gak sadar kalo ini udah tengah hari."
"Saking sibuknya ya!" goda Rahma sembari membuka menu makanannya.
"Ya sudah. kamu mau pesan apa?" tanyaku kemudian.
"Aku mau ini dong, pangsit kuah merah sama Ice lemon tea ya!" Pintanya sopan
"Baiklah nona, mohon tunggu sebentar!" godaku mencibirnya.
Rahma hanya terkekeh melihat tingkahku.
Aku menuju dapur dan memberikan pesanan itu pada koki kami yang bertugas.
Hanya butuh waktu 10 menit saja untuk menunggu pesanannya siap.
"Pangsit kuah merah dan 1 Ice Lemon tea!" teriaknya mengeluarkan nampan berisi pesanan itu.
Dengan segera ku antar menuju meja Rahma. Beberapa karyawan lain pun tampak sibuk melayani para pelanggan.
__ADS_1
"Silahkan nona, selamat makan siang!' godaku setengah meledek.
"Kapan lagi aku bisa nyuruh-nyuruh kamu Lis." selorohnya bangga.
"Jadi,kapan kita mulai bisa ngobrol?" tanya Rahma yang menyadari jika kedai sedang ramai pengunjung.
"Tunggu 15 menit lagi. kami harus bertukar jam istirahat sebentar!" bisikku.
"Baiklah. lagipula perutku harus terisi dulu,biar 'Ngga kaget mendengar cerita kamu nanti" gumamnya terkekeh.
"Aku tinggal sebentar ya," pamitku saat melihat ada pengunjung baru yang masuk.
"Silahkan duduk!" aku mempersilahkan mereka dengan sopan lalu menanyakan menu apa yang ingin mereka pesan.
•••
"Oh iya,katanya ini kedai pak Ivan ya? aku baru tahu setelah anak-anak di tempat kerja cerita soal kedai ini!" Tukas Rahma setelah melihatku duduk dengan nyaman di hadapannya.
"Iya.. begitulah." jawabku singkat.
"Terus pak Ivan nya mana? dia gak ke kantor Emangnya?" selidik Rahma dengan mata jelaga mencari sosok pria yang dibicarakannya itu.
"Dia disana. mungkin sedang tidur!" aku menatap Ruangannya.
"Ckck! terus dia tahu kalau kamu pacaran sama pak Sandy?"
"Ssssttt..!!!" Aku membentangkan jari telunjukku di atas bibirnya.
"Bisa pelan dikit 'gak suaranya?" aku mendesis menoleh cemas ke sekeliling.
"Aman. gak bakal ada yang denger kok!" sergahnya.
"Gimana? jawab dong! aku penasaran nih!!!" sambungnya tak sabar.
"Kayanya pak Ivan tahu soal hubunganku sama mas Sandy." Aku tertunduk lesu.
"Ya ampun. terus, pak Sandy tahu gak kalau kamu kerja disini?"
Aku menatap Rahma gamang. pertanyaan itu jugalah yang membuatku masih bingung hingga sekarang.
"Belum. aku belum berani bilang" Aku menukas ragu.
"Kenapa gak kasih tahu aja sih Lis? takutnya nanti,malah pak Sandy yang cemburu kalau dia tahu kamu kerja sama bawahannya di kantor!" celetuknya
"Heh! mana ada mas Sandy cemburu sama pak Ivan. lagipula,aku juga gak begitu kenal sama pak Ivan." jelasku tak yakin.
"Iya juga sih. tapi kan, biasanya yang namanya cowok tuh apalagi dalam satu lingkungan kerja. terus kenal satu cewek yang sama. Hm! sudah pasti bakal ada perselisihan." terkanya yakin.
"Kamu kurang-kurangin deh nonton dramanya." protesku.
"Aku serius Lis. kamu juga harus hati-hati sama pak Ivan. soalnya yang aku denger sih, dia agak 'Berbahaya'.." bisiknya.
__ADS_1
Aku menatap Rahma khawatir. ucapannya itu seakan menyadarkanku untuk tak terlibat masalah apapun dengannya.
• • • • • • •