PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•88 --


__ADS_3

Pernikahan,..


Siapa yang tak mendambakannya? Peristiwa sakral yang digadang-gadang di inginkan banyak orang hanya satu kali seumur hidup.


Pernikahan yang sejatinya Bisa mengikat seseorang dengan erat tanpa keterpaksaan.


Dulu sekali,Pernikahan impianku adalah mengikat janji dengan orang yang aku cintai. yang bisa melewati masa tua bersamanya dengan penuh kasih.


Tapi,...


Pernikahanku berawal dari sebuah Nafsu manusia yang tak bertanggung jawab. menginginkanku hanya sebagai pemuas hasratnya bukan istrinya.


Menyesal,kenapa aku tak melarikan diri.


Marah, kenapa aku tak melawan saja waktu itu..


Namun baru aku sadari sekarang.


Jika saja pernikahanku dulu tak terjadi. mungkin aku tak akan bertemu dengan dirinya.


Pria baik hati yang tiba-tiba menjanjikan Surga itu untukku.


•••


I'M YOUR BRIDE..


Aku sama sekali tak pernah menyangka pernikahan kami akan berjalan secepat ini. seminggu setelah kepergian Bi Marni. mas Sandy melamarku, disaksikan bu Dewi dan pak Yanto sebagai wali yang ku percaya.


Pernikahan kami digelar dirumahku dengan sederhana. hanya di hadiri Rahma saja sahabatku dan juga Dokter Hasan dari pihak mas Sandy.


Aku sempat ragu untuk menerima pinangannya. karena aku tahu, bu Ayu tak kan dengan mudah menerimaku di rumah besarnya. tapi mas Sandy bersikukuh ingin meminangku secepatnya. Dia tak ingin aku menjadi ragu dan semakin menjauh darinya.


Soal Bu Ayu, mungkin semuanya akan membaik dengan sendirinya. begitu kata -kata yang mas Sandy lontarkan saat aku mempertanyakan restu tantenya itu.


"Kamu cantik banget sumpah!" bisik Rahma saat membantu meriasku.


"Jangan bikin tambah deg-degan deh!" aku menepuk lengannya gugup.


Rahma terkekeh.


"Kenapa sih kamu Gak kasih tau Sinta juga? biar dia tercengang pas tahu mempelai prianya ternyata bos kita" goda Rahma.


"Enggak ah. jangan! aku masih Gak percaya diri kalau sekarang aku benar-benar akan menikah sama mas Sandy!" gumamku menatap cermin.


"Mama udah siap belum?" Andi menukas dibalik pintu sembari mengintip kami. Aku menoleh pelan.


"Wahhh.. Mama cantik banget ma!" Andi masuk dan mendekatiku.


"Terima kasih sayang" sahutku sembari mendekapnya erat.


"Andi seneng Gak mau punya papa baru?" Seloroh Rahma.


"Seneng dong. apalagi papanya ganteng dan baiiiiikkkk banget" celotehnya antusias.


Kami berdua tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan.


"Alis, apa kalian sudah siap? segeralah keluar!" ajak Bu Dewi.

__ADS_1


Setelah merapikan pakaian kebaya yang ku kenakan akhirnya kami pun keluar. Andi menuntunku untuk duduk disamping mas Sandy. pemuda itu menoleh pelan padaku. mungkin dia juga gugup hingga tak berani berucap dan hanya menatapku cukup dalam.


"Apakah tidak ada yang di tunggu?" tanya pak penghulu.


"Tidak pak!" Dokter Hasan menjawab dengan mantap.


"Ya sudah kita mulai saja Acaranya."


Setelah beberapa persyaratan yang dijelaskan oleh penghulu. barulah mas Sandy mencoba mengucapkan kalimat sakral yang baru pertama kali ini dia ucapkan dihadapanku,


"Saya terima nikah dan kawinnya Alis Anjani binti Darmawan dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan perhiasan Emas tersebut dibayar tunai!"


"SAH!"


Ucapan Hamdalah penuh rasa syukur menggema didalam rumahku. ada rasa haru bahagia meski pernikahan kami berjalan sangat sederhana.


Kami duduk berhadapan, mas Sandy mengecup keningku cukup lama. kali pertama dia meneteskan air matanya setelah Sah menjadi suamiku.


Tak banyak kata yang diucapkannya, hanya terus menerus tersenyum padaku dengan tatapan penuh cinta.


Pernikahan kami memang sengaja di gelar sore hari. Sehingga tidak banyak tetangga yang tahu, kecuali tetangga terdekat dari rumah kami. Bu Dewi dan Rahma membagikan puluhan bingkisan yang mas Sandy bawa untuk dibagikan kepada para tetangga.


Waktu berlalu begitu cepat. Sudah pukul 10 malam dan para tamu baru akan pulang.


"Rahma. makasih banyak ya! kamu udah mau bantu aku disini!" Ku peluk erat dirinya. jika tak ada Rahma aku tak tahu harus bicara dengan siapa mengenai masalah pernikahan kami.


"Iya sama-sama. ingat ya! sekarang kamu harus lebih bahagia, Gak boleh terulang lagi masa lalu kamu yang dulu" tukasnya tampak berkaca-kaca.


Aku mengangguk penuh haru, dan semakin erat mendekapnya.


"Ya udah. kamu istirahat. kalian berdua pasti capek banget. jangan lupa besok cerita-cerita ya!" bisiknya setengah menggoda.


"Daaahhh.. selamat menikmati malam pertama!" celetuknya sembari terkekeh.


Rahma pulang lebih dulu. Aku masuk ke dalam rumah. ku lihat bu Dewi masih tampak membereskan sesuatu di dapur. sementara pak Yanto dan mas Sandy Asik mengobrol di ruang tamu.


"Bu,udah Biarin aja! biar Alis yang bereskan sisanya. ibu pasti capek!" aku mendekat dan membantunya membereskan sisa-sisa perabotan.


Bu Dewi menoleh dan menatapku haru. Meskipun dia berniat menjodohkanku dengan keponakannya. tapi dia juga tak bisa memaksakan jodoh. dan Bu Dewi salah satu orang yang tak pernah menentang pilihanku.


Baginya, asal aku menjalani hidup dengan lebih baik. dia akan sangat bahagia.


Aku mendekapnya erat.


"Terima kasih bu. Ibu sudah ada selama ini buat Alis. Alis dan Andi sangat bersyukur memiliki keluarga seperti kalian." gumamku lirih.


"Iya sayang. Selamat atas pernikahan kalian. ibu doakan semoga ini menjadi yang terakhir. yang berlalu biarkan berlalu. Jangan menyimpan dendam. kalian harus bahagia." tukasnya.


"Iya terima kasih bu."


Kami berbincang cukup lama, hingga akhirnya Reyhan meminta untuk pulang karena sudah mengantuk.


"Terima kasih banyak, pak,bu.. Terima kasih untuk semuanya!" mas Sandy mengantarkan mereka hingga depan teras.


Aku duduk di salah satu kursi. ku lihat Andi yang nampak sibuk merapikan mainannya.


"Sini papa bantu!" mas Sandy berjongkok dan membantunya.

__ADS_1


Kalimat itu mungkin masih terdengar asing ditelinga Andi. tapi dia terlihat sangat senang dengan kenyataan bahwa mas Sandy kini menjadi sosok ayah yang pernah hilang darinya.


•••


Tubuhku benar-benar terasa sakit. Bahkan aku merasakan sesak karena seharian memakai baju yang Terlalu menempel ditubuhku.


"Bajunya ketat ya," seloroh mas Sandy yang baru saja selesai mandi. dengan kondisi rambut yang basah.


"Iya, lumayan sesak!" jawabku sembari mencoba membuka Resleting bagian belakangnya.


"Sini! biar saya bantu!" Mas Sandy mendekat dan mencoba membukakan pakaianku perlahan.


Sungguh! biarpun aku sering berdua dengannya. tapi malam ini terasa sangat lain. aku bahkan tak berani menatap wajahnya. ada perasaan tak tenang dalam hatiku.


"Kamu kenapa kelihatan gugup teh?" bisiknya


"Enggak mas." Sergahku cepat.


Mas Sandy mengulum senyum. dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentang diriku sekarang.


"Kenapa harus malu? Andi kan sudah tidur" bisiknya.


Aku menoleh pelan dan menjauhkan tubuhku darinya.


"Ya sudah kalau begitu. saya mau mandi!" Pamitku meninggalkannya di kamar sendirian.


Pukul 11 malam memang bukan waktu yang tepat untuk Mandi. meskipun aku menggunakan air hangat. nyatanya dinginnya tetap menusuk tulang rusukku. Aku kembali ke kamar dengan balutan pakaian tidur yang biasa ku gunakan. sengaja ku pilih yang berlengan panjang.


Mas Sandy tampak sedang mengotak-atik Ponselnya sembari duduk bersandar di kepala ranjang.


"Kamu udah selesai mandi? sini?" ajaknya menepuk sisi kosong disampingnya.


Aku menatapnya cukup lama. semoga saja ini bukan malam pertama kami. aku tak bisa membayangkan jika dia memintanya malam ini.


"Kenapa?" mas Sandy mendongak dan menatapku yang masih berdiri mematung.


"Mas Sandy belum mengantuk?" tanyaku sembari mendekatinya perlahan lalu duduk disampingnya.


"Lumayan. kamu sendiri?" tanyanya enteng.


"Saya capek banget mas. mata saya juga udah perih" aku menggeliat seraya menguap lemas.


Mas Sandy tersenyum manis.


"Ya sudah, sini! kamu tidur dan saya akan peluk kamu sepenjang malam. biar capek kamu hilang?" selorohnya lembut.


Aku menghela nafas lega.


Setidaknya dia tak membahas soal malam pertama kami sekarang. aku segera sembenamkan kepalaku didadanya yang bidang. memejamkan mataku dengan segera.


*Tangan kekar itu memelukku sangat erat. terasa hangat dan nyaman.


Sesekali ku rasakan kecupan manis di keningku.


Dia gumam seraya berbisik lembut,


"Selamat tidur, istriku*.."

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2