PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•16


__ADS_3

Mas Sandy menyimpan sendoknya kasar. sebelah tangannya terangkat seakan-akan hendak melempar nampan dihadapannya.


Aku segera bangkit dengan panik, "Jangan di lempar mas!!!" teriakku.


Mas Sandy menoleh kaget,


"Apanya?!" Selorohnya penuh tanya.


"Kirain Mas Sandy mau lempar makanannya ke lantai karna kesal!" Aku menyeringai malu.


"Tangan saya keram!" dengusnya mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Bersihkan semuanya teh! saya udah kenyang!" perintahnya lagi.


Aku mendekat dan segera merapikan nampan itu.


"Teh Alis punya Handphone?"


"Ada mas,kenapa? Mau pinjem?" tanyaku tanpa menaruh curiga.


Mas Sandy tersenyum remeh,mungkin ucapan ku terdengar seperti ledekan baginya. karna jelas ponselnya yang ada di atas nakas lebih mahal dari milikku.


"Ya udah,sini saya pinjem!" pintanya mengulurkan tangan.


"Saya gak bawa mas,HP saya di taro di dapur! kan kalo kerja gak boleh bawa HP!" jelaskku.


Mas Sandy terlihat menghela nafas kesal.


"Ya sudah, kalo ke dapur sekalian bawa Handphone-nya kesini! saya tunggu!" perintahnya lagi.


"Buat Apa sih Mas? kan HP mas Sandy lebih bagus dari HP saya!" Aku melirik Handphone yang tergeletak disebelah mas Sandy itu.


"Kamu mau Handphone itu teh? ambil aja! kita tukeran!" Celetuknya enteng.


Aku nyengir tak percaya.


"Kalo bisa mah, mending tukeran rumah aja Mas!" aku membalasnya dengan celetukan yang lebih aneh.


"Rumah teh Alis kenapa? teh Alis ngontrak atau tinggal sama orang tua?" tanyanya serius.


Aku menatap nanar padanya. memang benar, rasanya ada yang tak beres dengan pemuda ini.


"Mas Sandy kayanya kebanyakan minum obat mas! saya jadi takut!" Gumamku menatapnya tak yakin.


"Saya serius teh! Kamu ngontrak atau tinggal di rumah sendiri?"


"Rumah sendiri lah mas, lagian barusan saya becanda kok. mana mau mas Sandy tukeran rumah sama saya!" Aku beranjak merapikan nampan dan hendak pergi.


"Jangan lupa Handphone nya! saya tunggu sekarang!" titahnya sebelum aku pergi.

__ADS_1


•••


Aku berjalan perlahan menuruni anak tangga karna membawa beberapa pakaian kotor. Namun tanpa sengaja aku kehilangan keseimbangan dan hampir tergelincir.


"Aaargh!" Aku memekik kecil karna panik


"Awas!!!" Suara seseorang muncul dan menangkap tubuhku seketika.


Aku terkesiap kaget,hampir saja aku jatuh berguling tadi. pikirku yang nyaris mati berdiri.


"Kamu gak apa-apa?!" suara pemuda itu membuatku tersadar dari lamunan


"Eh! maaf!" aku bergegas menjauh darinya. terlihat pak Ivan tersenyum tipis.


"Lain kali hati-hati!" tukasnya mengingatkan.


"Terima kasih pak!" aku menunduk dan beranjak pergi


"Bisa gak sih, jangan Panggil bapak? kuping saya sakit?" pintanya.


"Maaf pak, gak bisa!" Sahutku segera dan hendak pergi.


"Hey, tunggu sebentar!" Pak Ivan menarik tanganku dan membuatku kaget Tentu saja. penampilan nya yang berkelas berbanding terbalik dengan sikapnya yang kurang sopan.


"Maaf pak, saya harus kerja!" aku menghempaskan pegangan tangan nya.


Aku melayangkan tatapan tajam kearahnya. ucapan macam apa itu? terdengar sangat merendahkan pekerjaan ku. dan ku pikir niat ucapannya memang bermaksud melecehkan.


Sebelum ku maki pak Ivan, Bu Ayu muncul dari kamarnya dan memergoki kami.


"Kalian lagi ngapain?" tanyanya heran.


Aku dan Pak Ivan menoleh kaget, kesempatan itu ku gunakan untuk kabur dari jerat pria hidung belang itu.


"Maaf bu, saya permisi!" pamitku


"Dia Barusn hampir jatuh! jadi aku ingetin biar hati-hati!" sahut Ivan memberi alasan.


Aku mengintip dari balik pintu dapur. ku dengar alasan itu,Pak Ivan gunakan untuk menutupi sikap Nakalnya didepan Bu Ayu. aku memperhatikan gerak gerik Bu Ayu yang nampak tak suka saat Ivan berhadapan denganku. Aku yakin betul itu tatapan kecemburuan. apa mungkin mereka menjalin hubungan? sebelum mereka memergoki ku, Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci pakaian ditanganku ini.


Berada di tengah-tengah keluarga yang aneh membuatku memikirkan banyak hal. tentang Bu Ayu,tentang mas Sandy dan tentang sikap keduanya yang saling acuh juga sering bertengkar jika bertemu. ada apa sebenarnya diantara tante dan keponakan nya itu?


Terkadang,ingin rasanya ku tanyakan langsung pada mas Sandy hanya saja aku tak berani. nyaliku terlalu kecil untuk bertanya hal semacam itu padanya. terlebih lagi mas Sandy tak suka jika ada orang bertanya soal urusan pribadinya.


Ku selesaikan tukasku dengan cepat, lalu beranjak menuju dapur. ku lihat bi Marni tengah membuat puding susu untuk mas Sandy.


"Wah,kayanya enak banget tuh bi?!" Aku mendekat untuk mencium aromanya.


"Kamu mau Lis? kebetulan bibi bikin banyak!"

__ADS_1


"Mau dong! puding buatan bi Marni selalu yang terenak. mana bisa aku nolak bi!" godaku.


"Bisa aja kamu. Nanti bibi simpen dilemari es yah,kamu ambil aja!"


"Siap bi.." Aku tersenyum girang.


"Oh iya bi, aku mau tanya deh pak Ivan itu pacarnya bu Ayu bukan sih?!" bisikku pada bi Marni yang langsung membuatnya menoleh kasar padaku.


"Husss! kamu jangan aneh-aneh Lis. gak mungkin mereka pacaran! Bu Ayu cinta banget sama alm. suaminya." jelas bi Marni yang memang sepertinya tak menyadari hal yang kucurigai.


Aku menyeringai mendengar jawabannya,tak perlu ku paksakan juga kecurigaan ku ini. toh pada akhirnya akupun akan segera pergi dari rumah ini.


"Daripada bahas yang enggak-enggak, mending kamu anterin nih puding nya buat mas Sandy!" titahnya


"Ya udah, aku ke atas dulu ya bi!" ku Ambil ponselku yang tergeletak diatas meja.


"Kamu bawa HP Lis?!" tanyanya seakan memastikan.


"Iya bi, katanya mas Sandy mau pinjem!" Sahutku meninggalkan dapur.


Aku berjalan dengan Hati-Hati, takut jika pak Ivan muncul dengan tiba-tiba lagi dihadapanku. saat ku yakini semuanya aman segera ku ambil langkah cepat untuk menuju kamar mas Sandy.


"Permisi mas," Aku masuk dengan tergesa. ku lihat mas Sandy tengah berdiri menghadap ke jendela.


"Mas Sandy emangnya gak pegel berdiri terus mas?!" tanyaku sembari meletakkan puding itu diatas meja.


"Kamu sering jalan-jalan gak teh? Gimana keadaan diluar sekarang?!" Suara mas Sandy yang terdengar ironis itu membuatku merasa tak tega melihatnya terus menerus berada di rumah. Aku mendekat dan berdiri dibelakangnya.


"Diluar dingin mas,terlalu banyak hal yang tak enak dilihat! makanya saya gak suka jalan-jalan!" jawabku berusaha membesarkan hatinya.


Mas Sandy menoleh pelan, dengan tatapan itu lagi. tatapan yang akupun tak tahu makna nya.


kami saling beradu pandang cukup lama. Jujur ada perasaan tak nyaman jika sudah seperti ini,dan entah kenapa aku sulit untuk menghindarinya.


"Apa semenyeramkan itu teh?!" tanyanya dengan suara agak berat.


"Mas Sandy harus percaya, tak ada hal yang lebih baik dan lebih nyaman selain berada di dalam rumah!" jawabku yakin.


"Senyaman apa teh?!" kali ini Mas Sandy mendekat dan langsung membuatku kaget.


"Apa senyaman ini?" tanyanya selangkah lagi mendekatiku.


Dan seketika itu pula aku menjauh.


"Saya bawa Handphone -nya mas! mas Sandy mau pinjem?!" Sahutku dengan senyum yang ku atur setenang mungkin.


Pemuda itu menatap kaku ponsel yang ku acungkan tepat didepan wajahnya.


• • • • •

__ADS_1


__ADS_2