
Aku terpaku cukup lama,mengamati sekitaran bahu jalan yang terlihat sepi itu. lalu mencoba mengumpulkan kembali kepingan memori silam di kepalaku.
Malam itu, Aku baru saja pulang dari asrama menuju ke rumah untuk mengambil beberapa barang pribadiku.
Aku meneguk kembali kaleng Bir di tanganku, aku tersenyum remeh. jika saja dokter Hasan tahu, aku minum sembari mengendarai mobil. dia pasti akan mengamuk. tapi, aku tak punya pilihan lain. Minum beberapa Bir toh tak akan membuatku mabuk. kepalaku sudah cukup penat belajar seharian.
Dengan tubuh Lelah,dan juga sedikit lapar. mataku mengedarkan pandangan mencari kedai makanan cepat saji. siapa tahu ada menu makanan yang bisa menggugah selera makanku.
Nihil,
Tak ada satupun kedai yang menurutku enak untuk selera perutku yang sedikit pemilih. Apalagi jika dilihat banyak sekali pelanggan di tiap-tiap kedai. dan aku enggan jika harus mengantre makanan disana bersama orang-orang yang tak ku kenal.
Aku menghela nafas berat.
Ku palingkan wajahku ke bahu jalan sebelah kiri. hanya ada beberapa kedai yang nampak ramai. ku lajukan mobilku lebih cepat, melewati jalanan yang sedikit sepi dan gelap. padahal baru pukul 7 malam. suasana semakin terasa mencekam karena kondisi lampu jalan didepanku mati.
Ku buang jauh-jauh pikiran horor yang tiba-tiba muncul dibenakku. Jangan sampai aku berhalusinasi atau bahkan lebih parahnya aku melihat penampakan.
"Astaga!"
Aku memekik pelan, saat melihat sosok wanita yang tengah terduduk di salah satu bangku dipinggir jalan yang sedang ku lewati. tadinya aku ingin segera kabur dan melajukan mobilku secepatnya. tapi, entah kenapa hatiku malah tergerak dan memperhatikannya dengan seksama.
"Sepertinya itu bukan hantu," Aku bergumam seraya menghentikan laju mobilku.
Ku amati lebih dalam,dan betapa kagetnya aku saat tahu ternyata wanita itu tengah hamil tua. dia terdengar mengaduh dan meringis kesakitan.
"Apa dia akan melahirkan?" pikirku.
Mungkin malam itu, sisi kemanusiaanku sedang muncul. sehingga dengan mudahnya aku merasa iba dan ingin menolongnya. terlebih lagi kondisi disana sangat sepi. kasihan jika tak ada yang menolong. beberapa kali mobil melintasi tempat itu tapi mereka sama sekali tak berhenti.
Aku membuka pintu mobil dan segera berlari ke arahnya. ku beranikan diri bertanya meski dengan kepala sedikit pusing.
"Bu? apa ibu mau melahirkan?" tanyaku Ragu.
__ADS_1
"Iya pak! tolong saya!" wanita itu melenguh lemas,sepertinya dia kehabisan tenaga.
"Apa Ibu mau pergi ke rumah sakit? atau mau pulang?"
"Saya mau menemui suami saya di terminal pak. tapi sepertinya, bayi saya akan keluar sekarang!" rintihnya.
Aku terhenyak menatap sekelilingku. tak ada satu orang pun yang bisa ku mintai tolong.
"Disana ada klinik bersalin pak. bapak bisa tolong antar saya kesana saja!" wanita memegangi perutnya.
Gila! ini benar-benar Gila.
Aku yang selama ini tak pernah berinteraksi dengan sembarangan orang, malah harus membantu wanita melahirkan. tentu saja aku panik dan bingung.
"Ya sudah. ibu naik mobil saya saja." saranku.
Di tengah kebuntuanku,akhirnya ku papah dia masuk ke dalam mobil. tak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Tahan bu," Aku mencoba menahan rasa mual dan pusing yang mulai menderaku.
Aku masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju salah satu klinik yang di maksudkannya. selama perjalanan yang hanya berdurasi 15 menitan,aku sama sekali tak bicara atau bertanya apapun padanya. yang aku pikirkan hanyalah membawanya segera menuju klinik sebelum dia melahirkan di dalam mobilku.
Setibanya di depan klinik aku segera membantu wanita itu keluar dari dalam mobil. pertama kali ku lihat wajahnya sekilas. wanita itu cantik dan terlihat masih muda,mungkin saja usianya sedikit lebih tua dariku.
"Suster!" Aku memanggil seorang suster yang kemudian datang dengan sebuah kursi roda. baru saja aku hendak memapahnya tiba-tiba saja rasa mual diperutku mendesak hingga terasa pahit ditenggorokan. Aku berlari menjauh dari klinik mencari tempat gelap untuk memuntuhkan isi perutku.
Aku menghela nafas lesu.
Ini pasti karena aku telat makan. hingga membuat tubuhku bereaksi seperti ini. terlebih lagi aku minum. batinku.
Setelah beberapa saat,aku kembali menuju mobilku. namun aku penasaran dengan wanita yang ku tolong tadi. Dan akhirnya aku melangkahkan kaki menuju ke dalam klinik.
Di usiaku yang baru menginjak usia 19 tahunan. baru pertama kali rasanya aku masuk ke dalam klinik bersalin.
"Nyari siapa mas,istrinya? ibunya di ruangan sebelah sana," suster tadi mendekatiku.
__ADS_1
Aku menatapnya kaget. Istri? yang benar saja. Apa aku terlihat seperti seorang pria yang sudah menikah.
"Saya cuma mau lihat sebentar" jawabku enteng. percuma juga ku jelaskan jika kami tak saling mengenal.
"Boleh Silahkan."
Aku mengintip dari balik pintu. ku lihat wanita itu sedang mengerang kesakitan. penampilannya seperti wanita biasa. tak ada yang istimewa. hanya saja, dia cantik. begitu yang terbersit dibenakku saat melihatnya pertama kali.
•••
"Jadi benar, dia perempuan itu.." Desahku setelah menemukan jawaban atas hal yang mengganjal dibenakku saat bertemu dengannya.
Aku merogoh saku jas ku dan segera menghubungi pak Ilham.
"Halo pak, maaf mengganggu. apa pak Ilham masih di pabrik?" tanyaku tak enak karena sudah mengganggunya.
"Saya sudah di rumah pak. Apa ada hal penting? tumben sekali bapak menelpon diluar jam kantor?" jawabnya sedikit kaget.
"Oh. saya pikir masih di kantor. Saya mau minta tolong. apa Pak Ilham ingat wanita yang kita lihat tadi siang. yang membawa beberapa barang produksi?"
"Oh iya, saya ingat. kenapa pak?"
Aku terdiam cukup lama untuk berpikir. bagaimana seharusnya aku bicara ya? apa ku jelaskan saja jika aku penasaran. AH! itu akan sangat terlihat bodoh.
"Halo, pak Sandy?" suara pak Ilham terdengar nyaring karena aku tak kunjung menyahuti pertanyaannya.
"Bisakah pak Ilham memberikan saya data pribadi wanita tadi? dan apapun yang bapak ketahui tentang dia." Pintaku.
"Untuk apa ya pak? tolong jangan di pecat pak! dia kerjanya bagus. dia juga rajin, meski sering terlambat." seloroh pak Ilham yang sepertinya memiliki pemikiran bertolak belakang denganku.
"Tenang saja pak. saya tak akan memecatnya. saya harap, besok sudah bisa di kirim ya pak!" tegasku lagi. lalu kemudian menutup teleponnya dengan segera.
Aku tak ingin pak Ilham bertanya panjang lebar tentang permintaanku yang pasti aneh menurutnya itu.
Ku alihkan kembali pandanganku pada bangku pinggir jalan itu. Entah apa yang terjadi. hingga aku merasa ingin mengenalnya.
__ADS_1
• • • • • •