PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•23


__ADS_3

Kami berdua menatap lama ke arah mas Sandy yang masih bergeming.


"Kalian sepertinya harus bicara!" tukas Bu Ayu mencoba memberi ruang,lalu beranjak pergi meninggalkan kami berdua.


Aku pun masih mematung,tak tahu harus berkata apa untuk saat ini.


Mas Sandy melirik amplop coklat yang ku genggam. Aku meremas amplop itu dan berusaha menyembunyikannya.


Mas Sandy berjalan pincang kearahku, wajahnya mengernyit menahan sakit karna sebelah kakinya pastilah belum kuat betul jika di pakai berjalan.


"Mas-, " Aku memekik kecil saat melihatnya terseok-seok. buru-buru ku dekati mas Sandy dan mencoba memapahnya.


"Mas Sandy kenapa gak pake Kruk nya?" tanyaku


Pemuda itu tak memperdulikan ucapan ku yang jelas-jelas berada di dekatnya.


"Saya mau ke dalam!" pintanya menunjuk arah ruang kerja.


Ku papah mas Sandy menuju ruang kerja hingga berdiri didepan meja kerjanya. Mas Sandy menatap dokumen yang habis ku tandatangani bersama bu Ayu tadi. kertas yang berisikan kontrak kerja ku selama satu bulan.


Aku menatapnya bingung, apa yang mau dilakukan pemuda ini sebenarnya.


"Suruh tante Ayu bikin kontrak kerja yang baru. tulis nominal 10 juta," Tukasnya menunjuk paragraf pada daftar gajiku yang hanya 4,5 juta/bulan.


"Maksudnya gimana Mas? kontrak kerja buat siapa?" tanyaku tak paham.


Mas Sandy menatapku lama, tatapan yang sama seperti waktu dia hendak memelukku. Aku mengantisipasinya dengan melangkah mundur.


"Kenapa? takut?!" terkanya


"Mas Sandy jangan nakut-nakutin saya!" selorohku memberanikan diri.


Pemuda jangkung itu tersenyum remeh.


"Saya gak bakalan lepasin kamu teh!" Desisnya nyaris tak terdengar.


"Kenapa mas?!" tanyaku memastikan.


"Saya minta teh Alis temui tante Ayu sekarang! minta padanya kontrak kerja yang baru seperti yang saya bilang barusan!" pintanya menarik kertas itu dan memberikan nya padaku.

__ADS_1


"Tapi mas,-" sela ku sebelum dia menatapku lagi seperti barusan.


"Gak usah ngebantah!" Tukasnya serius.


Aku menatap kertas itu agak lama, lalu pergi meninggalkan mas Sandy sendirian diruang kerjanya.


"Ck! apa lagi sih maunya mas Sandy! bikin pusing aja!" Aku merutuk kesal.


Aku berjalan Ragu menuju meja makan, kulihat bu Ayu tengah menikmati teh nya dengan sebuah majalah ditangannya.


"Permisi bu!"


Bu Ayu menoleh pelan dan menatapku aneh.


"Kamu masih disini Lis?" tanyanya seakan tak suka dengan kehadiranku.


"Iya bu, barusan mas Sandy meminta saya untuk datang ke ibu dan minta surat kontrak kerja yang baru." Aku menyerahkan kertas yg kupegang.


"Maksudnya?!" seloroh bu Ayu yang masih belum mau mengambil kertas yang ku serahkan.


"Saya kurang tahu bu, tapi mas Sandy bilang tolong ganti nominal gajinya jadi,- 10 juta bu!" tukasku ragu.


"Saya gak salah denger?" imbuhnya lagi.


"Maaf bu, tapi saya cuma disuruh!" aku menyahutinya sembari tertunduk.


"Apa-apaan anak itu! bikin emosi aja!" dengusnya menarik kertas itu lalu bangkit dan berjalan menuju ruang kerja mas Sandy. Aku yang kebingungan akhirnya mengikuti kemana bu Ayu pergi.


"San, apa maksud kamu?!" Bu Ayu menyimpan kertas itu secara kasar dimeja kerjanya.


Aku yang berdiri diluar pintu tak berani melangkahkan kaki masuk lebih dalam dan hanya mematung menyaksikan perdebatan tante dan keponakannya itu.


"Buat apa surat kontrak yang baru?!"


Desaknya menatap sinis keponakannya itu.


"Seperti yang tante tahu, dokter Hasan bilang saya harus melakukan terapi untuk kesembuhan kaki saya. jadi saya perlu kontrak kerja baru untuk merekrut perawat yang mau mengurus saya! memangnya tante mau ngurusin saya setiap hari?" sindirnya.


"Tapi 10 juta itu terlalu besar San!" Desisnya melirik kearah ku.

__ADS_1


Mas Sandy tersenyum getir.


"Buat saya 10 juta tak ada nilainya. jika dibandingkan dengan tugas perawat yang setiap hari bertugas mengurusi saya! saya kan sudah bilang, jangan anggap sepele tenaga orang! berani-beraninya tante memotong jumlah uang yang saya berikan untuk Alis?" protesnya dengan nada sedikit meninggi.


Aku menengadah kaget,benarkah apa yang di katakan Mas Sandy barusan?


"Sandy,cukup!" bentak Bu Ayu yang sepertinya merasa tersudutkan.


"Seharusnya tante malu pada Alis. dia orang lain tapi mau merawat saya dengan tulus. sementara tante, adik kandung papaku sendiri,seakan tak peduli dan hanya menginginkan uang keponakan nya saja!" sindirnya lagi.


"Bicara yang sopan kamu!" dengusnya mendekat pada mas Sandy.


Aku yang tak enak melihat pertengkaran itu mencoba kabur dengan perlahan mundur.


"Teh, masuk! gak usah takut!" perintah mas Sandy.


Tubuhku bergeming. berat rasanya melangkahkan kaki untuk masuk kedalam ruangan yang pasti sangat terasa panas itu.


"Tapi mas,-!"


"MASUK!!!" Tukasnya lagi.


Aku yang kaget mendengar perintahnya, seketika berjalan cepat dan berdiri dibelakang bu Ayu.


"Kamu mau membahas masalah kita didepan orang lain,San?!" desis Bu Ayu.


Aku tertunduk bingung,kedua tanganku rasanya dingin,jantungku berdegup kencang. ingin rasanya aku lari dari tempat itu sekarang juga.


"Teh Alis bukan orang lain, dia mantan perawat saya! dan akan tetap menjadi perawat saya hingga saya sembuh! Tante gak boleh melakukan apapun pada Alis termasuk memecatnya!"


Aku Memekakan mataku lebar. Apa yang barusan di katakan oleh mas Sandy ini? Apa dia tidak sedang bercanda? kenapa dia membawa serta namaku dipusaran masalahnya bersama bu Ayu. Aku benar-benar tak suka dengan tindakannya yang semaunya itu.


"Baik, kalo itu yang kamu mau! tante akan wujudkan keinginan kamu!" Bu Ayu berjalan menuju salah satu rak dan mengambil selembar kertas. kemudian dia membawanya ke hadapan mas Sandy seraya menuliskan sesuatu pada kertas itu.


Aku yang menatap keduanya bingung hanya mendapat balasan berupa tatapan 'manis' dari Mas Sandy yang entah kenapa membuatku tak nyaman.


"Tanda tangan!" perintah bu Ayu mengulurkan ballpoint ke arahku.


Aku menatap benda itu ragu,haruskah ku terima permintaannya itu. sementara Aku mencoba melepaskan diri dari mas Sandy.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2