
"Selamat pagi?" aku masuk ke ruangan praktek dokter Hasan. kulihat pria tua itu tengah memeriksa beberapa berkas kerjanya.
"Hey, san. Silahkan duduk!" jawabnya cuek.
"Begitukah tanggapan dokter,setelah beberapa bulan tak bertemu?" godaku sembari duduk dan menunggunya menyelesaikan tugasnya.
Dokter Hasan merapikan berkasnya. lalu menatap ragu padaku. seakan tak percaya jika yang ada dihadapannya ini adalah seorang pemuda tampan.
"Apa ini benar dirimu? bukan roh yang tiba-tiba kemari untuk menemuiku?" sindirnya.
"Ayolah, jangan terlalu sinis. masih bagus saya mau bertemu dengan dokter Sepagi ini. hebat 'kan?" aku mengulum senyum.
"Jadi,kenapa Sepagi ini kamu kemari? apa ingatanmu bermasalah? atau alat vitalmu yang bermasalah." senyum sinisnya membuatku menyesal kenapa orangtuaku menjadikannya sebagai dokter keluarga.
"Hey.. tolong! dokter pikir, aku pria seperti itu? enak saja. aku masih menjaga hal yang satu itu, hanya untuk istriku saja. tolong jangan samakan aku dengan putra-,.. Ah sudahlah. saya kemari ingin memeriksakan kesehatan. bukan untuk berdebat!" cerocosku.
Dokter Hasan tersenyum remeh lalu bangkit dari duduknya.
"Berbaringlah. wajahmu sepertinya agak pucat." tukasnya kemudian.
"Benarkah?" aku sedikit kaget mendengar ucapannya.
"Sepertinya hubungan percintaanmu sedang tidak baik. makanya terlihat lesu." sindirnya lagi.
Dokter Hasan tentu hafal betul jika aku selalu gonta ganti wanita. tapi dia juga tahu jika aku sudah berpacaran dengan Vina cukup lama. dan selama itu, aku sudah tak 'nakal'lagi. atau mungkin dia tahu soal hubunganku dengannya yang memang kurang baik?
"Apa sekarang dokter juga cenayang?"desisku sembari berbaring di ranjang pasien.
"Tolong jangan berisik!" dokter Hasan menatap sinis padaku.
"Wah! makin tua malah semakin galak ya!" godaku.
Entahlah, hanya dokter Hasan yang bisa menerima sikap buruk dan kekanak-kanakanku. sama halnya seperti bi Marni. beliau sudah menemaniku sejak kecil. sehingga aku bisa dengan leluasa bermanja-manja pada keduanya tanpa merasa sungkan.
"Tekanan darahmu rendah sekali san. Apa bi Marni tidak memberimu makan dengan baik?" tanyanya sembari mengecek suhu tubuhku.
"Saya makan biasa saja dok. hanya saja beberapa hari ini saya sulit tidur. apalagi pekerjaan di kantor sedikit mengganggu akhir-akhir ini." jelasku.
__ADS_1
"Oh iya, soal berita itu. Apa benar, kecelakaan itu melibatkan perusahaan?"
Aku kembali duduk setelah dokter Hasan selesai memeriksaku.
"Iya begitulah. mobil yang menabrak pengendara motor itu membawa barang produksi kami. kerugian yang cukup besar." aku menghela nafas lesu.
"Pantas saja tekanan darahmu rendah. saya pikir kamu begini karena perempuan."ledeknya.
"Sejak kapan saya bisa sakit karena perempuan dok. mustahil" aku tersenyum remeh. seandainya dokter Hasan tahu apa yang dilakukan anak tirinya terhadap hubunganku dengan Vina. pasti dia juga sangat kecewa dan marah pada Ivan. tapi aku tak ingin memberitahukannya pada dokter Hasan. terlebih lagi hubungan ayah dan anak ini memang tidak terlalu baik. aku tak ingin memperburuk keadaannya.
"Bagaimana tanggapan Ayu soal kejadian ini? dia pasti menolak untuk memberi ganti rugi kan?" tebalnya yang sepertinya sudah sangat tahu bagaimana tabiat tanteku itu.
"Ya begitulah. tapi, untungnya sekarang saya bisa bertanggung jawab penuh atas hal apapun yang terjadi diperusahaan. tante Ayu takkan bisa berbuat apa-apa." jawabku yakin.
"Baguskan. setidaknya, kamu masih memiliki hati nurani. meski menjaga nama baik perusahaan lebih penting. tapi berbuat baik juga sangatlah penting." tuturnya.
Ya, tentu saja dokter Hasan bisa menyimpulkan demikian. karena selama tante Ayu mengurus perusahaan. memang terjadi banyak perubahan yang cukup berpengaruh besar pada perusahaan. sikapnya yang terlalu keras dalam membuat keputusan. membuat para investor mundur. juga para pekerja yang sering dia pecat sesuka hati. membuat citra perusahaan menjadi buruk selama beberapa tahun kebelakang.
Namun setelah, dewan direksi mengangkatku sebagai direkrut utama seperti yang telah alm. papa ku wasiatkan. Tante Ayu sudah tak bisa berbuat banyak, perintah dan kekuasaannya seakan menjadi tumpul diperusahaan. mesikpun dia menjabat sebagai wakil direktur utama sekarang.
"Saya rasa, sikap dermawanmu diturunkan oleh ibumu san. ibumu memiliki hati yang sangat lembut dan baik." dokter Hasan menatap lirih padaku. mungkin dia merasa iba karena ternyata masih ada sisi baik yang di tinggalkan kedua orangtuaku padaku.
"Jangan menatap saya begitu dok. saya merasa sangat buruk." aku tersenyum sembari membuang muka. mencoba menyembunyikan kesedihan yang tiba-tiba terasa menyesakkan dadaku.
"Maaf,. Ini suplemen dan juga obat tidur untukmu." dokter Hasan memberikan dua buah toples obat padaku.
"Obat tidur?" ku tatap heran toples-toples kecil itu.
"Ya, saya pikir kamu pasti sulit tidur. tapi ingat! minumlah saat kamu benar-benar sangat membutuhkannya. jangan terlalu sering menggunakannya!" tatapannya kembali sinis seolah aku akan meminum semua obat itu sekaligus.
"Dokter tenang saja! saya masih waras dan tak akan menyakiti diri sendiri dengan cara mati karena overdosis" sergahku menjawab tatapan sinisnya.
Dokter Hasan terkekeh.
"Apa dokter mau ku traktir minum kopi?" godaku.
"Pasien saya masih banyak san. kamu jangan bercanda,dengan mengajak saya minum kopi Sepagi ini."
__ADS_1
"Oke baiklah. Niat baik memang tak selalu harus mendapat tanggapan yang baik." aku menurunkan nada bicaraku seakan sangat kecewa.
"Akhir pekan saja. kamu bisa mentraktir saya hingga saldomu habis san." godanya kemudian.
"Baiklah. saya akan membuat dokter mabuk lain kali." aku terkekeh penuh kemenangan.
"Ah! saya jadi ingat. kurangi minum,jaga kondisi lambungmu." ujarnya sembari bangkit dan mengantarku keluar.
"Dokter sangat bawel." aku melambaikan tangan meninggalkan ruangan prakteknya.
Sebetulnya, aku tak membutuhkan obat-obatan ini. hanya saja, aku sedikit rindu pada dokter Hasan. sosok yang setidaknya bisa sedikit mengobati rinduku pada papa.
•••
Sebelum menuju kantor, aku mampir di sebuah kedai makanan untuk sarapan. memesan beberapa roti panggang sepertinya bukan ide buruk.
"Silahkan pak," seorang pelayan menyuguhkanku secangkir cokelat panas dan juga dua lembar roti panggang.
Setelah olahraga pagi juga mengobrol dengan dokter Hasan. rasanya pikiranku jadi sedikit lebih tenang dan juga segar kembali. sepertinya suasana hatiku mulai membaik. semoga bisa bertahan selama beberapa minggu kedepan.
Ku lemparkan pandanganku ke arah jalanan yang mulai cukup ramai. terlihat anak-anak yang sepertinya hendak berangkat ke sekolah berjalan memenuhi trotoar.
Tak ku sangka suasana pagi ternyata seramai ini. sudah lama sekali aku tak menikmati hiruk pikuk jalanan dan hanya fokus pada duniaku sendiri.
Dan entah darimana datangnya. setiap aku melamun dan melihat ke arah jalanan. pasti selalu ada dia yang ku lihat.
Alis,...
Perempuan itu memang tak bisa sekali saja tak mengusik lamunanku. dan anehnya, aku malah menyukai kehadirannya yang selalu tiba-tiba itu.
Ku simpan kembali coklat panas yang hendak ku reguk. dan malah asyik menatapnya yang terlihat berjalan lurus tanpa mempedulikan sekelilingnya.
Sepertinya dia akan berangkat kerja. seandainya aku bisa menawarkan diri dan mengantarnya hingga ke tempat kerja. tentu akan semakin membuat hariku bertambah lebih baik.
"Ah! bodoh sekali san..." rutukku yang pada akhirnya hanya bisa diam mematung hingga dia menghilang di ujung jalan.
• • • • •
__ADS_1