PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•127


__ADS_3

Aku keluar dari kamar mandi setelah melepas penat dengan berendam sedikit lebih lama.


Ku lihat mas Sandy masih sibuk dengan layar laptopnya. padahal seharian tadi dia sudah bekerja sangat sibuk. bahkan ini sudah jam 6 petang.


Aku berjalan mendekatinya,


"Mas, istirahat dulu sebentar! saya udah siapkan air hangat untuk mas Sandy mandi." ujarku.


Pria itu menengadah pelan, wajahnya kusut dan kelelahan.


"Sebentar lagi ya sayang," ucapnya lesu.


Aku mengusap lembut kepalanya.


"Kalau begini terus, nanti mas Sandy sakit!" Ku tutup laptop didepannya dan menarik tubuhnya agar segera bangkit.


"Ayo mandi! apa perlu saya mandikan?" godaku.


"Benarkah?" sahutnya sumringah.


AH! mudah sekali merayunya, batinku terkekeh.


"Kalau saya mandiin. bisa-bisa, mas Sandy Gak mau berhenti mandi" gumamku melayangkan tatapan sinis.


Mas Sandy tersenyum seraya mengecup keningku.


"Oke! saya mandi sekarang!" jawabnya patuh dan segera menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Aku beranjak menuju meja riasku. menatap pantulan wajahku dicermin. Tadi siang, aku begitu panik dan gugup dan sekarang aku sudah kembali ke rumah ini. menjadi nyonya Hadiwijaya tanpa merasa ketakutan. inikah dunia yang paling aman untukku? berada di dalam tembok dingin ini? batinku bicara


TOKK..


TOKKK..


"Masuk!" sahutku


"Maaf bu, ini pakaian yang pak Sandy minta." Atun mengintip ragu dari balik pintu.


"Masuk aja bi, Gak perlu ngintip gitu" aku tersenyum tipis.


Bi Atun masuk ke dalam kamar dan membawa pakaian itu ke hadapanku.


"Taro di atas tempat tidur aja bi,"


Wanita itu menyimpannya dengan hati-hati. lalu tatapannya beralih menatapku.


"Bu Alis mau pergi ke pesta ya," selorohnya tiba-tiba. mungkin dia bertanya karena melihat pakaian yang dibawanya barusan.


"Saya juga gak yakin bu, harus pergi atau enggak. saya gugup" gumamku dingin.


"Kan ada bapak. pak Sandy pasti sangat menjaga dan melindungi ibu!" sahutnya.


"Tetap saja bi. meskipun mas Sandy ada disamping saya,tetap tak akan bisa menahan pandangan buruk orang lain terhadap saya"


"Mungkin ibu terlalu gugup, makanya sampe berpikir begitu. Oh iya, apa perlu bibi siapkan makan malam sekarang?"


"Nanti saja bi, lagipula ibu Ayu belum pulang. bibi tolong antar makan malam ke kamar Andi aja ya bi. sekalian temani Andi makan!" pintaku.


"Iya bu, baik. kalau begitu saya permisi!" pamitnya.


Aku menoleh pelan menatap pakaian yang tergeletak di atas tempat tidurku. apakah aku pantas memakainya, bahkan gaun itu terlihat sangat newah dan anggun. Bisakah aku pergi dan menikmati makan malamku dengan tenang?


DRRRTT...


Ponselku bergetar, ku tatap sesaat sebelum akhirnya ku ambil benda itu.


"Rahma?" sahutku setelah menerima panggilannya.


"Alis, kamu masih dirumah? bukannya kalian mau pergi makan malam?"

__ADS_1


"Hm, aku masih di rumah. kami bahkan belum bersiap" gumamku lesu.


"Suara kamu kayanya lesu banget. kenapa?!"


"Aku takut ,-" Aku tertegun


"Gak usah takut, kamu tenang aja! aku juga bakalan kesana kok. sama bu Nita juga Shinta."


"Kamu serius?!" tukasku kaget


"Seriuslah! makanya, kamu buruan dandan yang cantik" Rahma mencoba menggodaku.


"Kalau gitu. aku tutup dulu teleponnya" pungkasku mengakhiri obrolan kami.


Ku lirik lagi pakaian itu, Bisakah aku menghadapi malam ini?


"Kenapa masih belum ganti baju sayang?" mas Sandy keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang setengah basah.


Aku menoleh kaget.


"Apa kita benar-benar harus pergi mas?" tanyaku ragu.


Mas Sandy mendekat, kedua tangannya mengusap lembut pundakku. mengarahkan tubuhku menghadap ke cermin. Kami berdua menatap pantulan wajahku disana.


"Kenapa? apa kamu ragu? apa kamu Takut? kamu gak percaya sama saya?"


Aku menggeleng lemah. tentu bukan itu yang ku Takutkan,melainkan tanggapan orang-orang diluar sana terhadapku. aku sangat gugup hingga tak bisa bersikap tenang.


"Kamu harus yakin! kamu itu istri Sandy Hadiwijaya! kamu satu-satunya wanita yang saya pilih diantara puluhan wanita di luar sana. jangan takut, oke!" mas Sandy mengecup kepalaku lembut.


Aku mengulum senyuman.


Di satu sisi aku tak ingin mengecewakannya. namun disisi lain Akupun masih sanggup menghadapi semua rekan bisnisnya.


TOK..


TOKK...


"Tamu bapak sudah datang" tukas bi Atun. Aku menoleh pada mas Sandy. tamu mana lagi yang datang.


"Suruh mereka masuk kesini bi!" perintahnya.


"Siapa mas?"


"Karyawan Ema. saya meminta mereka datang kemari untuk merias kamu." jelasnya.


Aku termangu. Mas Sandy benar-benar sudah menyiapkan segalanya. dan tak mungkin aku bisa mundur atau menghindar lagi sekarang.


Tak berapa lama, dua orang wanita cantik masuk ke dalam kamar dan mulai


mempersiapkan alat-alat make up -nya


•••


Aku baru saja selesai menata rambut, lalu kemudian mengenakan gaunku.


"Pemilihan gaunnya sangat pas sekali, sehingga cocok dikulit anda bu!" pujinya.


"Selera bu Ema memang bagus," sanjungku.


"Yang pilih gaun ini, pak Sandy bu" selorohnya.


Aku terhenyak. kupikir Ema lah yang memilihkan gaun ini untukku,ternyata mas Sandy. dia benar-benar lelaki yang sangat mengejutkan.


"Ayo bu, pak Sandy pasti sudah tak sabar menunggu Dibawah!" ajaknya.


"Tunggu,bisakah saya memakai sepatu yang lebih rendah saja?"aku menyeringai menatap sepatu yang baru saja mereka siapkan.


"Oh boleh bu. kebetulan kami membawa banyak sepatu di mobil."

__ADS_1


"Kalau begitu, sekalian saja kita turun!" ajakku kemudian.


Kami bertiga keluar dari kamar, dan kebetulan Andi dan Bi Atun pun keluar dari kamarnya.


"Mamaaaa!" serunya.


Aku menoleh pelan.


Andi mendekat dan menatapku dengan takjub. matanya menilik sekujur tubuhku dari ujung kaki ke ujung kepala. bahkan Andi sempat menyentuh gaun yang ku pegang dengan hati-hati. seperti tengah meyakinkan.


"Wahhh, mama kaya putri raja!" pujinya takjub.


Aku menyeringai malu.


"Benarkah?" sahutku tersipu.


"Mama mau kemana? Andi boleh ikut Gak?" pintanya


"Sayang, mama mau nemenin om papa buat kerja. Andi di rumah aja dulu ya, sama bi Atun. mama janji lain kali kita pergi sama-sama!" bujukku.


"Kita main game Lagi Yuk!" ajak bi Atun.


"Andi jangan nakal ya!" ku kecup keningnya lembut. Andi mengangguk dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa namun aku tahu dia memilih untuk patuh padaku.


"Anak pinter!" sanjungku.


Aku segera menuruni anak tangga, karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. itu tandanya kami harus bergegas.


Mas Sandy yang tampak duduk tenang diruang tengah lalu bangkit dan menoleh ke arahku. tatapan matanya begitu dalam hingga membuatku tersipu.


"Pak Sandy sepertinya terpesona dengan penampilan ibu." bisik karyawan Bu Ema itu padaku.


"Kamu benar-benar terlihat luar biasa, saya suka penampilan kamu malam ini" pujinya


"Saya belum pakai sepatu mas," Aku tersenyum kecut.


Mas Sandy menilik ke arah kakiku yang masih menggunakan sandal rumahan.


"Bahkan sandal kamupun terlihat sangat cantik sekarang" godanya.


Kedua karyawan dibelakangku terkekeh pelan. Aku menilik sinis mas Sandy. Bisa-bisa dia membuatku mati kutu didepan orang lain.


"Kemarilah, biar saya pasangkan sepatunya." Mas Sandy menengadahkan tangannya menyambutku untuk duduk.


Salah satu karyawan bergegas mengambilkan sepatu itu.


Duniaku seperti sedang diputar balik. terkadang aku merasa takut bersanding dengannya,tapi terkadang akupun sangat bahagia saat dia bersikap manis seperti ini padaku.


Mas Sandy dengan tulus berlutut dihadapanku bahkan dihadapan orang lain untuk kedua kalinya. tak ada rasa gengsi atau malu yang ku lihat di wajahnya. melainkan kebahagiaan yang terpancar dari senyuman manisnya.


"Sempurna!" tukasnya.


"Terima kasih!" gumamku menatapnya haru.


"Kalau begitu,kami permisi pak!" kedua karyawan itu pamit dengan segera.


Aku dan mas Sandy berjalan keluar rumah.


"Apa kamu sudah pamit pada Andi?" tanya mas Sandy.


"Hm, dia sepertinya sedikit kecewa karna tak bisa ikut pergi"


"Sepulang makan malam, kita belikan dia hadiah sebagai gantinya." janji mas Sandy.


"Tak perlu seperti itu mas, semua barang yang ada di kamarnya sudah lebih dari cukup." ujarku bermaksud menolak halus niat baiknya.


"Biarpun Andi bukan anak saya. tapi saya menyayanginya melebihi apapun,jadi biarkan saya memberikan apa yang sepantasnya dia dapatkan selama ini," Mas Sandy menatapku serius.


Aku tersenyum lega. kata-kata yang akhirnya bisa ku dengar dengan jelas ditelingaku.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2