PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•175


__ADS_3

"Iya bu Ayu benar. Vina adalah wanita yang cantik, pintar dan elegan sangat cocok dengan desain produk kita. tapi sayangnya itu hanya sebuah iklan." tandasku cukup tenang membuat tatapan bu Ayu menjadi tajam padaku.


"Saya tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa mas Sandy akan bekerja sama. selama itu berurusan dengan pekerjaan saya tak ambil pusing. tapi, jika ibu berfikir saya akan cemburu, rasanya ibu tak perlu repot-repot bertindak sejauh ini. saya sadar diri kok bu." seulas senyuman mengakhiri ucapanku yang sebenarnya takut sekali untuk ku utarakan.


Bu Ayu tampak mengatur nafasnya pelan. mungkin baginya aku hanya wanita polos yang tak akan punya keberanian besar untuk bicara banyak padanya. tapi selama ini, bu Ayu juga tak tahu bahwa aku belajar banyak darinya. menjadi wanita yang berdiri dengan kaki sendiri untuk menjalani hidup, Sejujurnya kami berdua memiliki banyak kesamaan. hanya saja aku tak seberani dirinya dalam mengambil keputusan.


"Saya hanya memberi kesempatan pada Vina,karena dia ingin memperbaiki hubungan pertemanannya dengan Sandy. itu saja, kamu jangan terlalu jauh berfikir" Bu Ayu bangkit sambil merapikan pakaiannya.


"Tolong sampaikan pada Vina, dia bisa datang langsung pada saya secara pribadi." sahutku dengan tenang.


"Baiklah. kapan-kapan saya sampaikan!" gumam bu Ayu menyembunyikan wajah kesalnya.


"Terima kasih sebelumnya," aku tersenyum mengiringi kepergiannya bahkan tanpa berpamitan dulu padaku.


Aku menghela nafas lesu seraya menjatuhkan tubuhku di kursi. kenapa aku harus bersikap begitu angkuh barusan. apa ini tak berlebihan? bagaimana jika bu Ayu, semakin membenciku? batinku


"Ya Allah!" aku terperanjat saat melihat panggilan teleponku masih menyala.


Mas Sandy pasti sudah mendengar semuanya. aku menutup mulutku panik.


BODOH! bagaimana sekarang?!! batinku cemas.


Ku tarik pelan ponselku dan ku dekatkan pada telingaku.


"M-aass,.." gumamku memanggilnya ragu.


"Kita harus bicara Nanti," sahutnya dingin.


TUTT..


TUUTT..!


Ku tatap kalut benda mati itu, sialnya aku hari ini. kenapa aku bisa begitu ceroboh hingga lupa mematikan teleponnya. mas Sandy pasti akan sangat marah padaku. apalagi aku bicara begitu banyak pada Bu Ayu. Aku mengacak rambutku frustasi.


•••


Pukul 2 siang mas Sandy sudah kembali ke kantor. Saat itu aku dan Nita tengah berdiskusi tentang pekerjaan di mejaku.


"Harusnya yang ini jumlahnya lebih ya? ini juga?"


"Iya bu, mungkin penjumlahannya salah? atau ada yang belum masuk? biar saya cek ulang!"


"Eh pak Sandy sudah datang! mau saya buatkan kopi pak?" tukas Nita cepat.


Aku bangkit dan menatapnya takut.

__ADS_1


"Bisakah kamu tinggalkan kami berdua, Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan istri saya" pintanya pada Nita.


Nita melirik heran padaku.


"Baik pak. kalau begitu saya permisi!" Nita segera pamit dan meninggalkan kami berdua di ruangan itu.


Aku menggigit kecil bibirku gugup. Degup jantungku jadi semakin tak beraturan melihat tatapan matanya yang tak beralih dariku sedikitpun.


"Mas Sandy mau duduk dulu!" aku mendekati meja kerjanya dan merapikan beberapa berkas yang bertumpuk di atasnya.


Mas Sandy mendekat perlahan, sembari memperhatikanku yang memang tengah gugup sekali sekarang.


Jangan sampai dia salah sangka atau malah berfikir bahwa aku juga sengaja menandatangani kontrak kerja itu agar mas Sandy dan Vina bisa bertemu.


Mas Sandy menyentuh pundakku pelan.


"Sudah," perintanya memintaku berhenti dari aktivitas yang ku lakukan.


Aku berbalik cepat,


"Mas, mas Sandy tolong jangan salah paham dengan obrolan saya dan bu Ayu tadi. saya bersumpah kalo itu mengalir begitu aja mas. saya gak berniat sedikitpun untuk, --"


"CUKUP-"


Mas Sandy menarikku ke dalam dekapannya,dia mengusap lembut rambutku. juga helaan nafasnya terdengar lega.


Aku menatapnya sendu.


"Mas Sandy gak berpikir kalo saya juga sengaja melakukannya 'kan? awalnya juga saya ingin bilang, soal kontrak kerja itu. tapi mas Sandy sibuk, saya takut mengganggu." Aku tertunduk kalut.


"Meskipun saya menolak, rasanya kamu akan terus memaksa saya untuk menyetujui kontrak kerja itu kan?!" godanya seolah tahu isi hatiku.


"Mas Sandy sepertinya sudah tahu akan seperti apa jadinya semua ini."gumamku lesu.


"Saya sangat memahami kamu. saya tahu kamu orang yang baik hati. kamu tak ingin melihat orang lain tersinggung ataupun terluka oleh sikap kamu. apalagi kamu tahu jika Vina adalah masalalu saya." mas Sandy mencubit kecil pipiku.


Ku peluk erat tubuhnya, akhirnya aku benar-benar menemukan laki-laki yang sangat memahamiku bahkan lebih dari diriku sendiri.


Kamu adalah orangnya mas.


"Terus gimana kalo bu Ayu marah sama saya mas?" gumamku pelan.


"Kamu tenang saja, dia tak akan bisa melakukan apa-apa sama kamu. selama saya masih hidup." tegasnya yakin.


"Mas Sandy yakin?" ku tatap ragu dirinya

__ADS_1


"Yang saya Takutkan justru sikap kamu nanti setelah kontrak kerja kita berjalan dengan MEGA.Models" timpalnya.


"Memangnya kenapa? bukankah ini hanya sebuah kerjasama. kenapa juga saya harus bersikap berlebihan." elakku cepat.


"Semoga saja kamu tak mengamuk di depan para staf dan karyawan kantor lain nantinya." godanya seraya mendekap tubuhku lebih kuat.


"Aaahhh! Lepasin mas!" rontaku.


"Kasih saya ciuman dulu, baru saya lepas!" Mas Sandy mendekatkan bibirnya ke arahku.


Aku menutup mulut dengan kedua tanganku. ku perhatikan sekitar sebelum akhirnya mendaratkan ciuman singkat di bibirnya.


CUP!


"AH! kenapa semakin hari, kamu semakin mengemaskan Alis Anjani!" geramnya mengeratkan gigi. membuatku terkekeh pelan.


"Ini di kantor," Aku berbisik seraya menarik tubuhku dari dekapannya dan kembali duduk di kursi kerjaku.


"Berani-beraninya kamu kabur?" Mas Sandy mengerutkan alisnya dengan tatapan tajam.


Aku menutup wajahku dengan selembar dokumen untuk menghindari tatapan matanya.


•••


Beberapa Hari setelah rapat kerja yang dilakukan oleh pihak ASTRA dan MEGA.models. Akhirnya tiba saatnya, dimana pihak MEGA.Models melakukan sesi pemotretan di area produksi bersama beberapa Staf ahli. Saat itu Nita bertindak meninjau semua kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu.


"Beberapa foto akan dipilih dan di kirim langsung pada pak Sandy Nanti sore. jika sudah ada putusan, foto mana yang akan di gunakan. maka pihak dari MEGA.Models akan melakukan pemotretan sesi ke- 3." jelas Nita.


"Pemotretan sesi ke-3? masih ada lagi?" tanya mas Sandy.


Aku yang tengah fokus bekerja, melirik sesaat ke arah mejanya.


"Iya pak. yang terakhir katanya foto yang sangat penting. bapak juga disarankan hadir saat pemotretan." jelas Nita yang seketika membuat mas Sandy tampak terkejut.


"Saya sibuk. kamu wakilkan saja" sergahnya cepat.


"Gak bisa pak. karena,katanya bapak jadi salah satu modelnya." seloroh Nita.


Kali ini aku yang dibuat kaget dengan penjelasan Nita. Haruskah seperti itu? kenapa aku tak mendengar soal hal itu dalam Perjanjian kontrak? apa aku melewatkan satu hal? batinku penuh tanya.


Atau ini salah satu rencana bu Ayu?


"Katakan pada pihak MEGA.Models,cari orang lain saja! saya tidak tertarik" tolak mas Sandy tegas.


Mendengar jawabannya, sama sekali tak membuatku lega. meski itu terdengar serius.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2