
Dulu ku pikir, aku tak akan pernah mampu menggantikan posisi Vina di hati mas Sandy.
Perpisahan mereka terjadi karena kesalahpahaman. dan aku juga yakin, jika mas Sandy masih memiliki perasaan untuk Vina meskipun itu sangat kecil.
"Aku pikir, kamu memberitahu Sandy bahwa aku yang menyebabkan luka ditanganmu itu. tapi ternyata aku salah, kamu melindungiku dari kemarahan Sandy. Kamu ingin kami berdua berbaikan. aku tak percaya itu! di dunia ini, mana ada seorang istri yang mau memberikan kesempatan pada mantan pacar suaminya untuk berbaikan lagi. Tapi kamu berbeda...
Kamu membuat aku sadar Alis,bahwa kamu lebih baik daripada aku. makanya Sandy memilih kamu. kamu wanita yang baik." tukasnya memuji.
"Vina,..." aku masih bergumam lirih dan tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Padahal tante Ayu sangat mendukungku. tapi, aku tak yakin kami akan berhasil membuat kalian berpisah." Vina tersenyum simpul. seakan tak percaya dengan niat buruk yang ada dipikirannya.
"Soal tante Ayu,aku bahkan belum melihatnya sejak kejadian semalam." tukasku pada akhirnya.
"Dia tak akan kemari. kamu tak perlu berharap banyak padanya. dia satu-satunya keluarga sandy yang sangat iri pada kebahagiaan keponakannya sendiri." Vina tampak sedikit berbisik.
Aku tersenyum kecut.
"Setelah kontrak kerja sama dengan PT. ASTRA Berakhir. aku akan kembali ke luar negeri. jika terus disini, aku pasti akan cemburu dengan kebahagiaan kalian." sindirnya.
Kali ini aku tersenyum lebar.
"Aku yakin kamu akan jadi model yang sangat sukses nantinya." tukasku yakin.
"Tentu saja. aku akan membuktikan kata-kata mu itu." sahutnya penuh percaya diri.
"Vina, aku mau kasih tahu kamu sesuatu " aku menatapnya serius.
"Kasih tahu apa?"
"Sebenarnya, aku juga sedang mengandung Anak pertama kami." jelasku.
Vina terpaku cukup lama. ekspresi wajahnya tampak bingung. lalu kemudian tersenyum lebar.
"Benarkah? Wahhh... Selamat ya? hebat juga ternyata Sandy ini" serunya antusias seraya memegang kedua tanganku.
Pintu ruanganku tiba-tiba terbuka dengan cepat, sosok mas Sandy langsung muncul.
Kami berdua menoleh kaget,
"Mas,.." sahutku terkejut.
"Ngapain kamu disini? Lepasin tangannya! masih berani kamu ganggu istri saya?!" mas Sandy mendekati kami.
"Mas, Kamu salah paham!" sanggahku cepat.
"Kamu lihat sendiri kan alis? betapa dia sangat takut sesuatu terjadi sama kamu. tapi tetap saja, dia gak bisa jagain kamu dengan baik. buktinya kamu malah berbaring disini!" sindir Vina.
__ADS_1
"Mas, Vina gak ngapa-ngapain kok mas. kamu jangan marah dulu" ku tarik tangannya cepat.
"Kamu jangan percaya sama wajah polosnya sayang. dia pasti di perintah tante buat bikin kamu tambah sakit." mas Sandy menatapnya curiga.
"Mas, Vina kesini cuma mau liat keadaan aku. dia gak ngomong apa-apa kok. Udahlah mas!" Jelasku.
"Kamu tenang aja San. aku kesini cuma buat liat kondisi Alis. biar bagaimana pun aku juga perempuan. aku bisa ngerasain Gimana rasanya ada diposisi seperti dia sekarang. kamu harus jaga dia baik-baik. jangan sampai kejadian buruk ini terulang lagi. apalagi sekarang dia sedang hamil," titahnya tulus.
Mas Sandy menoleh bingung padaku.
"Iya mas, saya udah cerita semuanya sama Vina. dia sepertinya bahagia dengan kabar baik ini." jelasku.
"Lebih baik kamu cepat pergi. bukannya kamu gak suka rumah sakit" tandas mas Sandy cuek.
Aku menoleh pelan padanya. Bahkam mas Sandy masih ingat jika Vina tak suka suasana rumah sakit.
"Ternyata kamu memang tak berubah San. tetap memiliki gengsi yang besar untuk mengakui bahwa kamu sebenarnya peduli. tapi tak apa-apa sih. asalkan kamu jangan begitu lagi sama istri kamu. kalo sampe kamu begitu, aku yang akan marahin kamu!" Ancamnya.
Aku mengulum senyum. entah kenapa, aku merasa lega mendengar ucapan gadis itu. tak ada rasa cemburu sama sekali di hatiku. apa mungkin Vina sudah benar-benar merelakan mas Sandy???
"Ya sudah, ini juga sudah waktunya makan siang. aku masih ada janji. Cepat sembuh ya Alis. Bye!" pamitnya begitu saja.
Mas Sandy menghela nafas panjang.
Aku menengadah lalu mendekap tubuhnya erat.
"Saya senang sekali hari ini. Rasanya, sekarang kamu sudah benar-benar seutuhnya milik saya mas." gumamku.
Aku terkekeh kecil.
"Iya. Mas Sandy hanya milik saya. dan selamanya akan tetap menjadi milik saya!" tegasku.
Kurasakan kedua tangannya mendekap hangat tubuhku.
Kebahagian besar seorang istri adalah ketika dia merasakan bahwa tak ada wanita lain yang akan menjadi pelabuhan kedua dihati suaminya.
Dan pada akhirnya, Cinta lama itu menjadi sebuah kenangan masa lalu bagi mas Sandy dan juga Vina.
•••
Tiga hari sudah aku menikmati kehidupan di rumah sakit. luka lebam di tubuhku perlahan mulai menghilang. beberapa bekas luka pun sudah terlihat mengering.
Dokter Hasan bilang, kondisiku sudah sangat pulih. dan aku bisa kembali kapanpun.
"Jadi, kapan kita pulang mas?" tanyaku pada mas Sandy yang duduk disampingku.
"Hm, mungkin besok!" sahutnya sembari fokus pada piring sarapanku yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
"Kenapa gak nanti siang aja mas?" bujukku lagi.
Mas Sandy menatapku serius. tentu dia tak ingin aku bertanya lagi. dan aku sudah paham maksud dari tatapannya.
Aku tertunduk lesu.
"Hana sedang membersihkan apartemen kita sayang,.. jika sudah selesai kita baru bisa pulang." terangnya.
"Apartemen? kita gak pulang ke rumah? kenapa?" Aku menatapnya bingung.
"Kamu pikir,saya akan tenang jika membiarkan kamu tinggal bersama tante? apalagi kamu sedang hamil. saya gak mau ambil resiko."
"Tapi kan Mas, jarak apartemen ke sekolah Andi cukup jauh. saya juga gak mau tinggal di apartemen sendirian kalo kalian pergi."
"Saya akan suruh Bi Atun Ikut. kamu tak perlu takut. saya sudah mempersiapkan semuanya demi keselamatan kalian berdua. saya juga tak ingin kamu stres, dan itu akan sangat berpengaruh pada perkembangan Janin kamu." mas Sandy menatapku lekat.
Aku termangu. terharu rasanya mendengar kata-kata yang dia ucapkan barusan. dulu, bahkan saat aku hamil besar. aku tak pernah mendapatkan perlakuan istimewa dari suamiku. bahkan terkesan di abaikan. bukankah kasih sayang seorang suami sangat penting bagi mental istrinya yang tengah mengandung. Dia harus tahu, apa yang istrinya rasakan, apa yang istrinya keluhkan dan apa yang istrinya inginkan.
Dulu aku merasa, betapa bodohnya aku karena harus mengandung tanpa adanya dukungan dari suamiku sendiri. tapi lihat sekarang, sepertinya Tuhan telah merencanakan hal yang lebih indah dari apa yang aku bayangkan.
"Hey, jangan nangis dong!" mas Sandy menyeka lembut airmataku.
"Makasih banyak mas." gumamku lirih.
"Gak perlu berterima kasih. itu semua sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai suami kamu. Gak perlu merasa jika semuanya berlebihan. kamu pantas mendapatkan semua itu. kamu istri saya Alis. dan lagi kamu sedang mengandung buah cinta kita."
Aku menyeruak kedalam pelukannya. Aku tak sanggup berucap lagi. Perasaan di atas kata Bahagia rasanya sudah tak ada lagi. aku benar-benar sangat bersyukur.
"Kamu manja banget akhir-akhir ini" godanya seraya membubuhkan kecupan hangat di keningku.
"Mumpung Andi belum pulang sekolah." aku mengulum senyuman.
"Benar juga. sudah tiga hari saya tidur di sofa terus. Rasanya juga sudah kangen. " keluhnya nakal.
Ku eratkan pelukanku.
"Mas Sandy bahkan mendiamkan saya lebih dari 5 hari. selama itu saya harus menahan kangen." dengusku ketus.
Mas Sandy menyimpan piringnya dan menarik daguku pelan.
CUP!
Kecupan lembut itu akhirnya bisa kurasakan lagi. tapi,Sialnya kami masih berada di rumah sakit.
"Sebentar lagi dokter Hasan kemari mas" bisikku seraya membalas ciumannya.
"Satu menit lagi,..!" pintanya seraya menahan tanganku yang hendak mendorong tubuhnya.
__ADS_1
Kurasa, dia benar-benar sangat menginginkannya sekarang. dan aku hanya mampu tertawa kecil melihat tingkah polosnya.
• • • • • • • •