
Sejauh mana manusia bisa bertahan tanpa cinta?
Segala sesuatu yang terjadi dibuka bumi ini bukankah atas kehendak cinta?
Lalu kenapa kita begitu angkuh?
Tak peduli akan perasaan itu?
Jujur Aku sama sekali tak ingin mencintai ataupun dicintai oleh seseorang. Rasa takut dan trauma mendalam saat disakiti sudah cukup bagiku.
Tapi, kenapa?
Dengan mudahnya aku mengalah?
dengan mudahnya aku jatuh cinta?
Orang bilang,"Cinta bisa membuat orang pintar menjadi bodoh. juga sebaliknya."
Apa mungkin aku sedang terkena Mantra itu???
Seolah lupa dengan rasa sakit dan airmata yang dulu pernah singgah.
Seolah abai dengan penderitaan yang akan ku terima kelak,jika aku harus mencintainya.
Aku jelas sadar.
Jika Bu Rahayu tak 'kan dengan mudah menerimaku sebagai kekasih mas Sandy.
Dan aku yakin,akan ada banyak jalan terjal didepan sana menanti kami.
Tapi,aku tak ingin menyerah pada keadaan. Aku ingin mencoba sekali saja menjadi rumput liar. mengabaikan setiap kerikil dan duri-duri tajam.
Apa ini sungguh cinta?
Aku takut ini bukan cinta,
Lalu kenapa aku bisa rindu?
Sejatinya tak akan ada Rindu bila kita hanya menganggap dia orang biasa.
•••
Aku duduk bersebelahan dengannya sekarang. sesekali aku melirik padanya.
Dan Kenapa sekarang jantungku terasa berdebar tak karuan.
"Sudah malam. Apa tak sebaiknya mas Sandy pulang!" selorohku bingung.
"Kamu ngusir saya teh? setelah saya nolongin kamu di halte tadi?" protesnya tak terima.
"Ya emangnya,mas Sandy mau apalagi?" tanyaku menatapnya sinis.
__ADS_1
"Sebenarnya sejak tadi sore,saya belum makan malam. dan sekarang saya lapar!" Mas Sandy mengusap perutnya lesu.
Aku menatapnya tak yakin.
"Mas Sandy serius?" selidikku.
"Kalau soal perut,saya Gak bisa bohong teh!" tuturnya sembari menatapku penuh harap.
"Ya udah. mas Sandy tunggu disini. biar saya buatkan makanan!" pamitku.
Aku berjalan menuju dapur. Semoga saja masih ada makanan yang 'Layak' untuk aku hidangkan pada mas Sandy. Aku membuka lemari es. hanya ada beberapa sayuran, telur dan mie rebus. sayangnya aku belum sempat belanja kemarin. Karna begitu sibuk bekerja.
"Gak ada makanan ya?" Tukasnya sembari berdiri di ambang pintu dapur.
Aku menoleh dan tersenyum kecut padanya.
"Mas Sandy mau Mie instan?" tanyaku ragu. Aku yakin orang sepertinya tak akan tahu rasanya Mie rebus dengan campuran telur dan cabai ditengah cuaca dingin begini.
"Baiklah. buatkan saya dua bungkus!" pintanya seraya menarik kursi dan duduk didepan meja makan.
Aku mengernyit kaget.
Ku pikir dia akan menolaknya dan mengatakan,jika makan Mie Instan tidaklah sehat. Apalagi jika dokter Hasan tahu soal ini,dia pasti akan mengomel padaku.
"Kenapa teh Alis tak pergi berbelanja? membeli bahan makanan yang banyak untuk kalian berdua?" tanyanya.
"Mas Sandy pikir, kami punya banyak uang?" gumamku pelan.
"Kenapa? teh Alis kemanakan gaji yang saya berikan? apa itu masih kurang? kenapa teh Alis gak bilang?!" cerocosnya
"Uang yang mas Sandy berikan belum saya sentuh. lagipula,kami terbiasa hidup pas-pasan. saya tidak mau memanjakan Andi dengan uang. Dan lagi kebutuhan Andi kedepannya akan semakin besar,jadi saya harus menyimpan uang saya baik-baik. saya tak punya tempat bergantung mas. selain bertumpu pada kedua kaki saya sendiri" jelasku meyakinkannya.
Mas Sandy menatapku lekat. entah dia paham atau tidak dengan penjelasanku barusan.
"Selama ini, kamu pasti sangat kesulitan teh!" tukasnya lirih.
Wajah mas Sandy seketika berubah sendu. dia seakan menyesali suatu hal dan menyembunyikannya dariku.
"Saya pikir setelah ini,saya tak akan kesulitan lagi." Aku menatapnya yakin.
Ku pastikan dia merasa bahwa kehadirannya sangat berharga sekarang.
Kami saling menatap cukup lama. hal yang mungkin akan sering kami lakukan sekarang. Mas Sandy membalas tatapanku dengan senyuman yang sangat menawan. membuatku betah untuk berlama-lama memandanginya.
Aku kembali fokus mencuci sayuran yang akan ku masak. sembari menunggu telur yang tengah ku rebus.
Saat tengah asyik memotong sayuran, Mas Sandy mendekat.
"Perlu bantuan?" tanyanya dengan suara agak berat.
"Gak perlu mas. Mas Sandy duduk aja! sebentar lagi juga,Mie rebusnya siap!" Elak ku sembari fokus memperhatikan Mie yang ku rebus barusan.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Mas Sandy melingkarkan kedua tanganya dipinggangku. Aku terperanjat,namun akhirnya bisa menguasai diri. Pemuda itu lalu dengan nyamannya menopangkan kepalanya dibahu kiriku. Sungguh hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. dia akan bersikap seberani ini sekarang.
"Saya sangat mengantuk tapi juga sangat lapar!" gumamnya lesu.
"Mas Sandy jangan tidur dulu. sebentar lagi Mie rebusnya matang!" tukasku tersenyum tipis seraya mematikan kompor.
"Ternyata senyaman ini memeluk kamu teh. bahkan saya tak mau melepaskan kamu sekarang!" bisiknya lagi.
"Mas Sandy jika begini terus. bagaimana saya bisa masak!" protesku.
Pemuda itu mengurai pelukannya. lalu mengecup pucuk kepalaku yang hanya sebatas lehernya itu dengan santai.
Tubuhku mematung seketika.
Kecupan tiba-tiba itu terasa melebihi segalanya. Dan tak pernah kudapatkan dari siapapun. bahkan almarhum suamiku.
Ada bulir airmata yang terasa hangat menyembul dipelupuk mataku.
"Kenapa? apa itu kurang?" godanya berbisik di telingaku.
Aku menutup wajahku seketika.
"Hey? don't be shy!" Mas Sandy menarik pelan kedua tanganku.
"Kenapa kamu nangis teh?" tanyanya kaget. seketika wajahnya berubah panik.
Baru kali ini aku bisa merasakan dicintai seseorang. bahkan oleh pria yang usianya lebih muda dariku. pria yang tak ku sangka akan sebegitu serius memperlakukanku dengan baik. ada sedikit rasa haru yang merebak didadaku.
"Mas Sandy jangan terlalu manis sama saya!" larangku menatapnya tak suka.
"Kenapa? teh Alis gak suka? saya minta maaf soal itu!" wajahnya kini menjadi cemas.
"Bukan itu. saya hanya terlalu takut mas-," Aku menatapnya khawatir.
"Takut jika saya mempermainkan teh Alis? takut jika saya menyakiti teh Alis dan menghilang? demi Tuhan saya rela mati jika harus melakukannya!" mas Sandy bersumpah seraya mengangkat sebelah tangannya.
"Mas!" aku menarik tangannya cepat.
Mendengar sumpahnya tentang kematian. membuatku merasa sangat Takut. benar-benar takut yang sulit ku jelaskan.
"Kalau begitu. saya bisa melakukannya sesering mungkin sekarang?!" mas Sandy mencium keningku secepat kilat, kemudian berlari dan duduk didepan meja makan.
"Mas sandiiiiii....!" Teriakku kesal.
•••
Pukul 9 malam setelah makan malam, kami memilih menonton TV. tak ada acara TV yang spesial,namun kami sangat menikmatinya.
Namun aku sangat mengantuk sekarang. bahkan secara tak sadar aku membiarkan mas Sandy terus bercerita dan mengobrol. padahal aku tak begitu menanggapinya.
Mataku sudah tak mampu bertahan.ku rasakan sebelah tangan mas Sandy merangkulku erat,membuat kepalaku bersandar nyaman di dadanya.
__ADS_1
Dan ku arungi malam ini dengan mimpi yang sangat indah untuk pertama kalinya.
• • • • • •