
"Tumben sekali non, pergi sendirian" tukas pak muh saat mobil kami sudah meninggalkan rumah.
"Saya ada janji makan siang dengan Rahma pak, Gak enak kalo harus nolak." ucapku tersenyum tipis.
"Saya dengar Den Andi sakit ya? apa sudah sembuh?"
"Iya pak kemarin dia demam. alhamdulillah sekarang sudah baikan. makanya mas Sandy memilih menjaganya di rumah. beruntungnya saya punya suami seperti mas Sandy." celotehku.
"Bapak juga beruntung punya istri seperti non Alis. yang bisa merubah sifat bapak jadi lebih lembut seperti sekarang," timpalnya.
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban pak Muh itu. dia jelas tahu orang seperti apa mas Sandy ini, dan jika dia mengatakan demikian itu artinya memang ada perubahan yang signifikan pada diri mas Sandy ke arah yang lebih baik.
Mobil kami berhenti dipertigaan saat lampu merah mulai menyala. suasana macet jelas terasa apalagi ini sudah memasuki jam makan siang.
Ku edarkan pandanganku ke sisi trotoar, terlihat banyak lalu lalang manusia yang tak ku kenal. apa karena aku terlalu sibuk bekerja hingga tak punya kesempatan untuk mengenal banyak orang ya? Aku menghela nafas berat.
Kemudian mataku terpaku pada dua sosok orang yang tampak duduk nyaman di kursi belakang mobil mereka.
"Itu kan dokter Hasan dengan pak Ivan!" celetuk pak Muh yang seperti menyadari keberadaan mereka juga.
"Benarkah?" sahutku Pura-pura tak tahu.
"Mereka mau kemana ya? tumben sekali satu mobil?" gumam pak Muh.
Aku memperhatikan keduanya dengan serius,Pak Ivan terlihat membuang muka dan fokus menatap jalanan. sementara dokter Hasan tampak bicara padanya.
"Memangnya mereka jarang bersama?" tanyaku
"Jarang non, apalagi dulu pak Ivan tak mau mengakui dokter Hasan sebagai ayah sambungnya. tapi sepertinya, hubungan mereka mulai membaik sekarang." tukasnya mengamati.
Membaik? apanya yang membaik. jelas pak Ivan begitu cuek pada dokter Hasan. dia seperti tak menaruh hormat sedikitpun pada ayahnya.
Dan entah kenapa, saat kami sedang memperhatikan keduanya. tiba-tiba tatapan mata pak Ivan mengarah padaku. aku yang kaget sontak membuang muka ke arah berlawanan.
"Jalan pak!" perintahku cepat.
Beruntunglah lampu hijau sudah menyala, hingga mobil kami pun segera melaju. sementara mobil yang di tumpangi pak Ivan dan dokter Hasan bergerak ke arah yang berlawanan.
Aku menghela nafas dalam, beruntunglah aku bisa menghindar dari tatapan matanya yang menakutkan.
•••
"Alis..?" teriak Rahma dan Sinta yang tengah Asik duduk disalah satu meja di dalam sebuah Restoran.
Aku tersenyum girang, segera menghampiri keduanya dengan antusias.
"Maaf ya lama, jalanan macet" sahutku beralasan.
"Ah,.. tenang aja. kita juga baru nyampe kok. mau langsung pesan makanan?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Boleh,.." jawabku kemudian menarik salah satu kursi dan duduk dengan nyaman.
Kami memanggil seorang pelayan dan memesan beberapa menu makan siang.
"Kamu ternyata gak banyak berubah ya!" Sinta memperhatikan penampilanku cukup lama.
"Memang harus berubah kaya apa?" Aku tersenyum.
"Iya deh, aneh banget. aku malah suka Alis yang kaya gini. sederhana tapi tetep cantik!" puji Rahma setengah berbisik.
"Terima kasih pujiannya. tapi aku gak bawa receh." aku terkekeh menggodanya.
Sinta menoleh ke arah parkiran.
"Kamu sama supir?" tanyanya lagi
"Iya. mas Sandy mengizinkan aku pergi asal di temani supir." jelasku
"Sekarang kan Alis udah jadi nyonya besar. Jadi kemana-mana harus dikawal." Rahma menatapku takjub.
"Jangan berlebihan deh." desisku tak enak hati. apalagi ku lihat Sinta tampak. kurang suka dengan lelucon Rahma.
"Oh iya, Andi Gak ikut ya?" Rahma tampak baru menyadarinya.
"Andi lagi demam. jadi mas Sandy menungguinya di rumah."
"Wah, kamu beruntung banget deh Alis. punya suami Udah kaya,tampan dan juga perhatian kaya pak Sandy. jangan di sia-siakan." desis Rahma
Aku menyeringai menatapnya ragu.
Tak berapa lama makanan yang kami pesan pun datang. beberapa di antaranya adalah menu favorit kami ketika sedang bekerja dulu.
"Mie ayam, bakso, duh..." Rahma berdecak antusias saat melihat menu makanan yang menggiurkan itu.
"Kita makan di resto, masa pesan nya kaya gitu lagi?" sindir Sinta yang memesan menu makanan berbeda.
Rahma menilik piring yang ada di hadapan Sinta.
"Itu Spaghetti? apa bedanya sama ini? " Rahma mengaduk mie ayamnya.
"Lagian makan yang begitu mana kenyang. porsinya aja cuma dikit" cibirnya.
Aku mengulum senyum memperhatikan tingkah konyol mereka. meski mereka ini sering berdebat tapi mereka tak terpisahkan. Rahma butuh sosok Sinta yang pemberani dan lantang. sementara Sinta juga perlu sosok Rahma yang penyabar. bukankah persahabatan harus seperti itu? saling melengkapi.
"Jadi Gimana?" selorohku di tengah perdebatan mereka soal makanan.
Rahma dan Sinta menoleh kearahku bersamaan.
"APANYA?!" sahut keduanya kompak.
__ADS_1
"Soal foto yang kamu kirim kemarin. Gimana sekarang kondisi di kantor?"
Rahma menatap Sinta, mungkin dia berharap Sinta Yang akan menjelaskan semuanya padaku.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyaku lagi.
"Ya gitu deh, tadi pagi bu Ayu mengadakan rapat dengan staf kantor juga perwakilan dari pak Broto." gumam Sinta.
"Lalu?" aku menatapnya gusar.
"Bu Ayu meminta maaf atas sikap pak Sandy. dan berharap pihak pak Broto tidak mengambil hati dan mau bekerja sama kembali dengan PT. ASTRA." timpal Rahma.
Aku terpaku cukup lama.
"Sebenarnya aku gak suka sama pak Broto. dia itu hidung belang, gatel lagi. tapi kalo sampe pak Broto melepaskan diri dari PT. ASTRA maka dia akan sewenang-wenang dalam membuat berita terhadap perusahaan kita. menciptakan citra buruk bagi perusahaan. dan itu jelas merugikan" dengus Rahma.
"Ya benar. apalagi Pak Broto merupakan pimpinan salah satu media terbesar. semua berita bisa dia dapatkan, dan bisa membuat publik percaya seratus persen padanya." gumam Sinta.
"Seburuk itu kah?" tandasku cemas.
Sinta menghela nafas lalu mengeluarkan ponselnya.
"lihatlah..! ini semua berita yang baru di turunkan oleh media cetak di bawah naungan pak Broto. setelah kejadian kemarin. bahkan hampir semua tajuk beritanya mengarah pada kita. soal sistem informasi yang buruk, para karyawan yang tidak kompeten, dan masih banyak lagi."
"Pak Broto itu, ibarat tetangga yang bibirnya lancip. hobinya jelek-jelekin orang. padahal dia sendiri jauh lebih buruk dari orang yang dia gunjing," seloroh Rahma gemas.
"Sekali tersinggung, maka habis sudah kesabarannya." timpal Sinta seolah menakut-nakutiku.
"Tapi, bukannya sudah ada pengganti pak Broto ya? perusahaan media dari luar?" selorohku
"Perusahaan media luar banyak. hanya saja, peraturan yang mereka buat terlalu ketat untuk perusahaan dalam negeri. mereka memang bisa menaruh saham besar, tapi tentu saja tak seindah kelihatannya!" Wajah Sinta berubah ragu.
"Jadi maksudnya, bekerja sama dengan pak Broto lebih baik daripada kita membuka hubungan kerja baru dengan pihak lain?" tanyaku.
"Aku benci bilang iya. tapi mau gimana lagi, kenyataannya memang begitu." Rahma mendengus lesu.
Ku tatap kedua temanku itu. bertemu mereka nyatanya tak membuatku tenang. dan malah semakin gelisah.
"Kasihan pak Sandy. seandainya bu Ayu tak terlalu ikut campur dalam urusan perusahaan. tentu dia bisa memutuskan semua pilihan dengan mudah. hanya saja, semua bergantung juga pada keputusan bu Ayu." gumam Rahma.
"Tentu saja bu Ayu banyak andil dalam mengelola perusahaan. dia juga memegang hampir 30 persen saham perusahaan." jelas Sinta.
"Apa itu sangat buruk?" tanyaku yang memang tak paham apa-apa.
"Gini ya, aku jelasin. Pemegang saham terbesar itu adalah pak Sandy. dia punya 40 persen saham diperusahaan. sisanya bu ayu yang memegang 30 persen. lalu diikuti oleh PT. DolpinMotors milik Bu Helga, dan juga PT. Surya Media milik pak Broto. masing-masing 15 persen. gitu...!" jelasnya panjang lebar.
Aku menatap tajam pada Sinta. mendengarnya bercerita malah membuatku semakin pusing saja.
• • • • • • • •
__ADS_1