PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•102


__ADS_3

Mungkin dulu aku menganggap Ivan adalah sahabat terbaik. dan ku rasa tak akan ada teman yang seperti dirinya. Namun sekarang, aku seperti melihat hal-hal lain yang tak ku tahu tentang dia.


Ah! malas rasanya jika aku harus bertemu secara intens dengannya lagi. apalagi jika berhubungan dengan pekerjaan.


TOK..


TOKK..


"Masuk!" sahutku dingin. ku lirik sosok yang berdiri ragu di ambang pintu itu.


Ivan berjalan pelan dan berdiri didepan meja kerjaku. mengalihkan pandangannya padaku yang masih bersandar malas menatapnya.


"Duduk,"


"Terima kasih," Ivan duduk dengan santai meski dia tahu aku tak menyukai sikapnya itu.


"Apa ada hal penting?" tanyaku lagi.


"Ayolah! tak perlu kaku begini. bukankah kita ini masih berteman?" sindirnya.


"Entahlah. aku merasa, kita berdua sudah jarang bertemu dan tidak bisa di katakan sebagai teman akrab lagi." Ku tatap penuh kehati-hatian wajahnya.


"Seharusnya aku yang marah waktu itu. kalian berdua berpacaran lalu lebih sering menghabiskan waktu berdua. mana bisa aku menjadi bagian dari kalian lagi? aku cukup tahu diri" jawabnya memberi alasan mengapa selama ini kami jadi jarang bertemu.


"Tahu diri saja tak cukup! terkadang, orang yang tahu diripun lupa siapa dirinya"


Ivan menatap lama padaku. mungkin benar dia tak mengerti apa yang ku ucapkan. atau mungkin dia takut apa yang dilakukan dibelakangku dengan Vina ketahuan?


"Terserah padamu San. yang jelas aku bekerja disini hanya untuk mencoba peruntunganku di perusahaan. jika ayah tiriku saja bisa bekerja pada keluarga Hadiwijaya. kenapa aku tidak?" selorohnya enteng.


"Kamu harus banyak belajar dari dokter Hasan. dia bekerja sepenuh hati. bukan untuk kepentingan pribadi saja" jawabku


"Sepenuh hati? tentu saja. Dokter Hasan selalu bekerja sepenuh hati" Ivan tersenyum remeh. entah apa yang dipikirkannya hingga kalimatnya itu terdengar seperti sebuah ledekan untuk ayah tirinya.


"Sebaiknya kamu keluar sekarang. Aku ada kunjungan ke pabrik!" usirku malas.


"Lainkali, sepertinya aku harus ikut berkunjung?" godanya seakan tak tahu diri.


"Tak perlu berlebihan! aku bekerja, bukan untuk bermain dan mencari wanita." jawabku sinis.

__ADS_1


Ivan bangkit dengan senyumnya yang terlihat sangat santai. sama sekali tak ada gurat kecewa atau marah. entahlah. ekspresinya selalu penuh tipuan menurutku. pemuda itu pergi meninggalkan ruangan kerjaku.


Aku menghela nafas dalam. apa dia benar-benar serius untuk bekerja di perusahaanku? atau hanya sekedar untuk mengujiku saja?


Meninggalkan suasana kantor yang mulai tak nyaman. aku pergi berkunjung ke pabrik bersama 5 orang staf yang biasa pergi bersamaku.


"Rasa-rasanya pak Sandy sekarang jadi lebih sering ke pabrik ya?" tukas galih yang duduk di kursi belakang. Aku yang duduk disisi depan hanya tersenyum.


"Iya loh pak. apalagi semenjak kecelakaan itu? apa ini bagian dari prosedur?" tanya Anwar.


"Gak ada prosedur atau apapun. saya cuma ingin mengembangkan sektor pabrik saja. apalagi pabrik ini kan terbilang masih sangat baru. jika banyak hal luput dari penglihatan saya. nantinya malah perusahaan rugi besar" jawabku beralasan. mereka manggut-manggut tanda paham akan alasanku. karena dulu sering terjadi penggelapan dana, bahkan kerugian besar karena kurangnya perhatian dari perusahaan pada kinerja karyawan di pabrik.


Pak Muh yang memegang kemudi hanya tersenyum. mungkin dia menangkap hal lain dari jawabanku. Akupun Sejujurnya tak begitu suka berkunjung. hanya saja, akhir-akhir ini aku senang melakukannya.


"Pak, tadi pak Ivan bilang. kapan-kapan dia juga ingin ikut berkunjung ke pabrik." seloroh Anwar.


"Hm, saya sudah tahu hal itu." jawabku datar. aku tak ingin menunjukkan sikap tak profesionalku pada para staf terlebih lagi soal Ivan.


Tak berselang lama, kami akhirnya tiba di pabrik dan langsung disambut oleh pak Yanto dan juga staf lain.


Selama disana, kami melakukan rapat evaluasi. memeriksa barang produksi hingga ngobrol santai dengan para karyawan.


Beberapa karyawan yang memang memiliki reputasi bagus dan baik di pabrik. biasanya akan naik jabatan dan dipindah tugaskan ke kantor. hal yang sudah biasa terjadi selama bertahun-tahun. wajar jika mereka mengenalkanku banyak karyawan teladan tahun ini.


Kami berjabat tangan, gadis itu cukup cantik. hanya saja tatapan matanya sungguh sangat tak ku suka. terlalu agresif dan jelas terlihat bahwa dia sangat mengandalkan penampilannya daripada etos kerjanya kurasa.


"Sinta pak. wah! ternyata memang benar, bos kita sangat rupawan" pujinya tampak yakin.


Aku tersenyum dan segera melepas jabatan tangannya.


"Terima kasih. banyak juga potensi karyawan yang bagus disini ya" tukasku sembari menyasar seluruh pekerja di tempat produksi itu. mencari sosok yang sejak tadi tak ku lihat.


"Pak Sandy nyari seseorang?" tanya pak Yanto kemudian.


"Oh, enggak! saya hanya melihat-lihat rasanya ada yang kurang" aku menukas sembari berfikir. Niatnya jika wanita itu ada, maka aku ingin menunjuknya bersama Sinta ini untuk sama-sama bekerja di kantor pusat saja. dengan begitu dia akan mendapatkan pekerjaan yang baik juga gaji yang besar. pikirku sekilas.


"Nah itu Rahma. dia juga salah satu karyawan terbaik disini!" pak yanto menunjuk ke arah gadis yang baru datang dengan membawa beberapa berkas kerja ditangannya. nampaknya dia sangat sibuk dan ulet. jauh berbeda dengan Sinta.


"Dia juga teman baik saya pak! kami bertiga memang terkenal sangat totalitas dalam bekerja. iya kan pak Yanto?" seloroh Sinta.

__ADS_1


"Kalian bertiga? satu lagi?!" tanyaku. seingatku Gadis bernama Rahma ini sering ku lihat bersama Alis. apa mungkin mereka bertiga bersahabat.


Pak yanto dan Sinta saling melempar pandangan.


"Maksud pak Sandy, neng Alis ya?" tanya pak Yanto akhirnya.


Aku mengangguk cepat dan menatapnya lekat. menunggu jawaban tentunya.


"Alis kebetulan Hari ini tidak masuk. yang saya dengar, dia juga ingin mengundurkan diri dari pabrik!" jelasnya ragu.


"Apa?" Aku memekik kaget hingga Anwar dan galih pun menoleh padaku.


"Iya pak. mungkin dia ada masalah pribadi makanya memilih mengundurkan diri." jawab pak Yanto .


"Dimana pak Ilham? apa dia sudah tahu soal ini? lalu bagaimana dengan uang ganti rugi yang perusahaan janjikan? sudahkah dia menerimanya dengan baik?" cerocosku cemas.


"Oh tentu pak. kebetulan saya dan Alis bertetangga. saya tahu betul, jika dia sudah mendapatkan uang ganti rugi itu dengan baik." ujarnya.


Aku menghela nafas lesu. Ah! bisa-bisa nya aku kehilangan sosok perempuan itu sekarang. bahkan aku belum sempat bertegur sapa dengannya selama ini.


Dan aku yakin ini akan menjadi sulit kedepannya. Aku menatap seisi gedung dengan tatapan kacau. bahkan ku abaikan orang-orang yang menatap aneh diriku.


"Apa perlu kita temui pak Ilham pak? sepertinya bapak sedikit gusar?" tanya Anwar.


"Kita bicara di dalam saja!" ajak pak Yanto yang takut jika para pekerja menguping obrolan kami.


"Sinta, kamu urus berkas hasil produksi ya! jika sudah selesai. bawa ke meja saya!" perintah pak yanto kemudian.


•••


"Iya begitulah pak! Alis memang sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya kemarin sore." jelas pak Ilham yang ku temui di Ruangannya.


"Lalu bagaimana dengan uang ganti rugi itu? apa dia sempat menolak? atau menurutnya kurang? saya takut, jika dia berfikir kita tidak betul-betul mengurus masalah ini?" tanyaku.


Kecemasan yang ku perlihatkan tentu saja bukan semata-mata karena soal kecelakaan itu saja. tapi karena dia keluar dari pabrik secara tiba-tiba. dan kenapa aku bisa secemas ini memikirkannya.


"Dia wanita yang baik. Alis tak pernah mengatakan hal apapun. baginya, kecelakaan suaminya itu sudah takdir. Sejujurnya diapun menolak jika putranya disekolahkan di tempat yang pak Sandy minta. hanya saja, waktu itu saya sedikit memaksa. saya bilang tak perlu khawatir dengan biaya sekolah. karena perusahaan yang tanggung!" jelas pak Ilham lagi.


Ku tatap pria seumuran dengan papaku itu cukup lama. entah kenapa, aku tetap saja cemas akan kondisinya dan putranya. terlebih lagi, apa yang menyebabkan dia keluar dari pabrik setelah kecelakaan itu terjadi.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2