PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•157


__ADS_3

Wajar bila seorang wanita takut kehilangan Prianya.


Wajar bila seorang istri takut kehilangan Suaminya.


Meski sebesar apapun rasa percayanya, meski sekuat apapun rasa cintanya. ketakutan itu pastilah selalu ada.


Aku tahu masa lalu mas Sandy dan Vina begitu singkat, tapi aku juga tahu semua berakhir dengan tak baik dan tanpa penjelasan.


Itu juga lah yang membuatku khawatir,


Jika waktu akan memberi ruang untuk mereka bisa bertemu dan bicara.


Kegusaranku memang tak beralasan, tapi tetap saja itu sangat mengganggu. aku tak bisa mencegah pertemuan mereka suatu saat nanti. lalu aku harus bagaimana???


Semua beban pikiran yang ada di kepalaku, menjelma menjadi sebuah mimpi buruk di malam hari.


Mengurai pelukan mas Sandy yang tampak terlelap, aku menyelinap pelan menuju kamar mandi. Selesai mandi, aku kembali mendekati tempat tidur, ku lihat mas Sandy masih terpejam. semalam dia pasti sangat kelelahan. ada rasa tak tega jika melihatnya seperti ini.


"Sepertinya mas Sandy butuh istirahat" gumamku seraya bangkit untuk membereskan kamar. Aku kembali menuju Sofa. majalah yang sempat ku baca masih tergeletak disana.


Apa semalam, saat menggendongku ke tempat tidur mas Sandy melihat majalah ini ya? batinku bertanya.


AH! Sudahlah Alis,..


Pikiran burukku yang tak jelas itu hanya akan merusak suasana hatiku saja. bahkan ini terlalu pagi untuk bersikap curiga begitu.


Ku rapikan semua benda yang ada di atas meja. lalu beralih membereskan Sofa dan yang lainnya. aku memang tak pernah membiarkan bi Atun atau Susi membersihkan kamar pribadiku. selagi aku bisa mengurusnya sendiri.


•••


Aku beranjak menuju kamar Andi untuk membangunkannya agar segera bersiap ke sekolah. lalu kemudian turun ke dapur untuk membantu bi Atun memasak sarapan.


"Eh, non Alis kok turun ke bawah sih?" bi Atun terlihat cemas.


"Memangnya kenapa bi?"


"Kaki non Alis, emangnya udah baikan?"


"Udah kok bi. malah saya harus lebih banyak bergerak biar otot kaki saya semakin kuat." jelasku mencoba menenangkannya.


Ku dekati bi Atun dan mulai membantunya menyiapkan bahan makanan untuk dimasak. pekerjaan yang sudah biasa aku lakukan akhir-akhir ini. menjadi nyonya Hadiwijaya ternyata tak begitu rumit. atau mungkin aku memang tak bisa apa-apa, hingga mas Sandy memintaku tinggal di rumah saja. huhhft! akhir-akhir ini isi kepalaku selalu saja bergumam tentang hal buruk.


"Wah, si non hebat Yah! sayur nya udah jadi aja!" sahut bi Atun yang melihatku tengah sibuk menuang sayur ke dalam mangkuk.


"Kan udah terbiasa bi." tukasku enteng.


"Sini non, biar bibi aja yang simpan di atas meja makan." pintanya seakan masih khawatir jika aku kesulitan membawanya.

__ADS_1


Kemudian aku menyiapkan bahan masakan lain. untuk urusan seperti ini aku memang tak perlu meragukan kemampuanku sendiri.


"Selamat pagi, den Andi. ayo duduk!" suara bi Atun terdengar nyaring dari ruang makan.


Aku segera mendekati keduanya dan ikut duduk dengan Andi.


"Om papa mana ma?!" Andi menoleh kursi mas Sandy yang masih kosong.


"Om papa semalam pulang larut. Jadi dia masih tidur karena Kecapean!" jelasku.


"Oh. Kasian om papa ya ma! kerja terus tiap hari." gumam Andi lirih.


"Om papa kerja buat kita semua sayang. makanya kamu harus berbakti sama orang tua dengan belajar yang rajin. dengan begitu om papa akan semakin semangat kerjanya." ku usap lembut pundaknya.


"Iya ma. Andi pasti akan rajin belajar." sahutnya antusias.


"Ya sudah, Andi sarapan dulu ya. sini mama ambilkan!" ku ambil piringnya dan mulai menyiapkan beberapa menu makanan di piringnya.


Tengah Asik berbincang tak berapa lama bu ayu datang ke meja makan. seketika kami bertiga kaget.


"Eh, ibu. mau sarapan juga, silahkan!" tukas bi Atun menarikkan kursi untuknya.


Aku menatapnya kaku. apalagi Andi juga terlihat mematung seketika. dia pasti masih sangat trauma dengan sikap bu Ayu beberapa waktu kebelakang.


"Apa saya tak boleh sarapan disini?" gumamnya dingin.


"Tolong bawakan saya teh" perintahnya pada bu Atun.


"Ibu mau makan berat atau..."


"Tak perlu, saya ambil sendiri." tukasnya melarangku mengambilkan piring untuknya.


"Andi, ayo di makan nak!" desisku pada Andi yang masih terus menatap bu Ayu.


"Ini bu, teh nya! silahkan!" bi Atun datang dengan segera.


"Kalau perlu apa-apa ibu sama non bisa panggil saya di dapur!" pamitnya.


"Terima kasih bi," aku menukas seraya melihat ke arah bu ayu hati-hati.


Tumben sekali pagi ini, bu Ayu mau duduk satu meja denganku. apa karena tak ada mas Sandy ya?


Atau mungkin dia mau membahas sesuatu? pikirku.


"Saya tak ingin basa-basi, langsung saja! saya ingin, kamu membujuk Sandy agar mempertahankan kerjasama dengan pak Broto. bisa kan?!" selorohnya tiba-tiba.


Aku memegang sendok di tanganku cukup lama sebelum membalas permintaannya.

__ADS_1


"Saya rasa itu bukan hal yang sulit. kamu bisa menakhlukan dua laki-laki sekaligus. tandanya kamu bisa melakukan apa yang saya minta barusan dengan mudah." timpalnya lagi.


"Maksud ibu apa?" aku menatapnya bingung.


"Sudahlah, kamu tak perlu bersandiwara di depan saya. itu sangat menjijikkan."


"Saya benar-benar tak paham bu," selidikku.


Bu Ayu tersenyum simpul. lalu menatap lama pada cangkirnya.


"Saya tak sengaja melihat kamu mengobrol dengan pak Broto diparkiran Resto waktu itu. saya pikir, itu rencana yang buruk jika kamu berniat menemuinya di tempat umum." sindirnya seolah-olah aku memang sengaja ingin bertemu pak Broto waktu itu.


"Sepertinya ibu salah paham. saya bertemu dengannya secara tak sengaja."


"Ya itu terserah kamu,mau itu sengaja atau tidak saya tak peduli. tapi yang saya lihat kalian terlihat begitu akrab."


Aku terdiam cukup lama. apa benar bu Ayu tak sengaja melihat kami. atau memang pak Broto yang memberitahunya soal pertemuan itu. mereka berdua pasti berniat ingin menghancurkan mas Sandy melalui diriku.


Aku juga masih merasa aneh dengan berita yang terbit waktu itu saat aku dan Rahma makan siang di Resto. bagaimana bisa mereka tak mendapatkan foto kami saat di parkiran.


"Apa mungkin, media yang membuat berita tentang saya juga ulah pak Broto?" tanyaku


Bu Ayu menatapku tak suka.


"Dasar bodoh! kamu pikir selama ini kamu berhadapan dengan siapa? seenaknya bicara dengan orang seperti dia di tempat umum. kamu ingin membuat Sandy malu? kalau bukan saya yang memintanya untuk tak menerbitkan berita kalian berdua. sudah habis reputasi suami kamu itu." tandasnya


Aku terhenyak mendengar penjelasannya. jadi memang pak Broto berniat membuat berita tentang pertemuanku dengannya waktu itu. hanya saja bu Ayu yang melarangnya.


jika benar begitu, betapa cerobohnya aku selama ini. batinku penuh sesal


"Jadi, sebelum Pak Broto bertindak sesuka hatinya. lebih baik kamu bujuk suamimu agar tak membatalkan kontrak kerja dengannya."


"Saya benar-benar tak tahu pak Broto akan selicik itu. saya minta maaf!" aku tertunduk kalut.


"Ma,.." Andi bergumam takut.


"Sudahlah jangan bersikap seolah-olah saya ini jahat di hadapan anak kamu. permintaan saya sangat mudah. kamu tak perlu banyak berpikir." tegasnya.


Aku mengangkat kepalaku bingung. terdesak oleh permintaan yang aku sendiri tak tahu apakah aku akan sanggup atau tidak.


"Permintaan apa maksud tante?!"


Kami berdua tersentak kaget.


Aku menoleh cepat ke arah belakang. ku lihat mas Sandy masih mengenakan piyama tidurnya dan berdiri tak jauh dari tempat kami.


"Mas Sandy," gumamku pelan.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2