
"Wah, jagoan om papa sakit ya?" Mas Sandy masuk ke dalam kamar dan segera mendekati Andi.
"Hm," Andi mengangguk lesu.
"Om papa sudah telepon dokter. nanti Andi minum obatnya ya, biar cepat sembuh!" perintahnya seraya mengusap lembut wajah Andi.
"Om papa mau ke kantor?" tanya Andi.
"Iya, om papa harus ke kantor. karena ada banyak pekerjaan. tapi om papa janji, akan segera pulang untuk menemani Andi di rumah!" sahutnya.
"Apa Andi mau sesuatu?" tanya mas Sandy kemudian.
Andi menggeleng lemah.
"Kenapa?"
"Andi mau sembuh. biar bisa peluk om papa." tukasnya.
Mas Sandy tampak tersenyum.
"Andi mau om papa peluk? sini sayang!" bujuknya.
"Andi masih sakit, nanti kalau peluk.Om papa, akan Tertular!" tuturnya polos.
"Enggak dong. om papa kan kuat! Gak akan tertular sakit, sini!" mas Sandy merangkul Andi dengan lembut.
Putraku dengan manjanya menyeruak ke dalam dekapan mas Sandy.
Sungguh pemandangan yang sangat indah bagiku. selama ini, Andi selalu sendirian. hanya ada aku sebagai seorang ibu yang bahkan belum mampu menjadi yang terbaik untuknya. dan sekarang, Andi punya mas Sandy yang begitu tulus menyayanginya.
"Andi sayang, sudah Yah! Kasian om papa nanti terlambat! Andi juga mau di kompres kan, biar demamnya cepat turun!" selorohku mendekat dan menyiapkan handuk kecil yang sudah ku basahi air hangat. lalu ku letakkan di atas dahinya.
"Andi istirahat ya, jangan lupa makan yang banyak!" perintah mas Sandy.
"Sebentar lagi dokter Hasan datang, Jika terjadi sesuatu, kamu telepon saya!" pinta mas Sandy.
"Biar saya antarkan mas Sandy ke depan!"
"Andi tunggu sebentar ya,mama antar om papa ke depan!"
•••
"Mas Sandy hati-hati!" tukas ku setelah mas Sandy pamit dan mengecup keningku. sungguh tindakan yang terasa asing dan tak biasa bagiku.
"Kamu baik-baik di rumah. saya akan segera pulang!" sahutnya sembari masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati! selamat bekerja" ku lambaikan tanganku selepas mobilnya melaju meninggalkan rumah.
Sebelum kembali ke kamar Andi. aku pergi ke dapur untuk membuat bubur.
Beruntunglah aku sudah terbiasa dengan rumah ini, apalagi di wilayah dapur. seperti sudah menjadi area teritori ku. tanpa perlu meminta bantuan siapapun untuk mencari bahan makanan yang ku perlukan.
"Loh, non Alis mau masak lagi?" Bi atun datang dengan membawa pakaian kotor.
__ADS_1
"Iya bi, Andi demam. saya mau buatkan bubur saja!" tukas ku.
"Den Andi sakit? ya allah, pantas kemarin sore makannya sedikit" jelas bi Atun.
"Kalau begitu biar saya yang buatkan!" Bi Atun mendekat.
"Gak usah bi, Lagian bikin nya cuma sedikit kok. Oh iya bi, dimana bi Susi?"
"Lagi di paviliun belakang non, beresin bunga-bunga yang mati. kemaren pak Muh belanja tanaman banyak. jadi sekalian di tanam." jelasnya.
"Oh. ya udah, nanti nasi gorengnya kalian berdua makan aja ya. kalo gak habis boleh di bagi sama pak Muh juga" perintahku.
"Iya non. terima kasih."
"Sama-sama! ya sudah, bibi lebih baik lanjutin nyuci nya." saranku.
Wanita paruh baya itu segera pamit dan pergi menuju Binatu.
Sementara aku Asik meracik bubur sehat untuk Andi. Tinggal di rumah sebesar ini yang seringkali ditinggalkan oleh pemiliknya, kadang membuatku sedikit takut. bahkan untuk memanggil asisten rumah aja, aku harus melewati beberapa ruangan. sangat melelahkan!
Pantas saja, mas Sandy dan bu Ayu jarang berkomunikasi mungkin itu juga menjadi salah satu penyebabnya.
Beruntunglah aku tak pernah mendengar cerita-cerita horor yang biasa terjadi di rumah besar. Tapi memang sangat tak nyaman jika kita sendirian di dapur dalam keadaan ruang makan dan ruang tengah sepi. rasanya seperti ada yang sedang memperhatikanku dari arah belakang.
Selesai mengaduk buburnya hingga dingin, aku pun segera menuangkannya ke dalam mangkuk dan bermaksud untuk membawanya ke atas.
"Ah! dokter" Pekik ku kaget saat tahu dokter Hasan tengah berdiri di ambang pintu dapur.
"Gak apa-apa dok. saya cuma melamun saja barusan." selorohku yang memang masih sangat kaget
"Bagaimana kabarmu alis? apakah ada yang berbeda?" tanyanya seraya menyalamiku.
"Semuanya baik-baik saja dok. kita bicara di kamar Andi aja!' ajak ku kemudian.
"Baiklah!" Sahutnya seraya mengikuti ku dari belakang.
"Rumah begitu sepi. apa mereka semua pergi ke kantor?" tanyanya.
"Mas Sandy barusan berangkat! kalau bu Ayu,semalam menginap di hotel setelah acara makan malam." gumamku lesu.
"Apa sikapnya masih buruk padamu?" selidiknya.
Aku hanya tersenyum, tak menjawab.
"Silahkan masuk dok," aku segera membuka pintu.
"Terima kasih!" dokter Hasan segera membuka peralatan dari dalam tasnya
"Halo Andi, bagaimana kabarnya?" sapa dokter Hasan.
Andi hanya menatap lesu pada dokter Hasan, dengan cekatan dokter Hasan segera memeriksa kondisi tubuhnya.
"Bagaimana dok?!" aku menatapnya cemas.
__ADS_1
"Demamnya tinggi sekali" dokter Hasan memeriksa kondisi mata dan juga mulut Andi.
"Dia mengalami infeksi virus. ini biasa terjadi pada anak-anak! Saya akan beri obat penurun panas dan juga antibiotik." jelasnya.
"Terima kasih dok. Oh iya, bukankah dulu juga Andi pernah demam seperti ini dan dokter sendiri yang mengobati Andi waktu itu!" tukas ku sedikit mengingat.
"Iya kamu benar."
"Biasanya saya hanya membeli obat dari warung saja,dok." sahutku tersenyum kecut.
Aku tak mungkin berbohong, memang seperti itulah kondisi kami dulu. tak begitu banyak mengandalkan pengobatan medis yang memang menghabiskan banyak uang.
"Kamu beruntung. Sandy begitu perhatian pada kalian berdua." tukasnya.
"Dokter benar. dia begitu baik pada saya! terkadang saya juga malu, harus seperti apa saya membalas kebaikan mas Sandy nantinya." gumamku.
"Saya rasa Sandy tak memerlukan apapun. dia hanya butuh sosok pendamping yang mau menerima segala kekurangannya." dokter Hasan menatapku lekat.
"Bukankah sebaliknya? mas Sandy yang harus berusaha keras menerima semua kekurangan saya dok," aku tersenyum simpul.
"Kamu wanita yang baik. Sandy memilih wanita yang tepat" Tukasnya serius.
"Ini obatnya. usahakan sarapan dan juga minum air putih yang banyak." perintahnya.
"Tuh! Andi denger ya, harus banyak minum air putih!" aku menatap Andi yang masih terbaring lesu.
"Permisi, saya buatkan teh buat pak dokter!" suara bi Atun terdengar dari balik pintu yang terbuka.
"Sini bi, terima kasih ya! minum dulu dok," aku memberikan cangkir berisi teh hangat itu.
"Terima kasih. apa dia asisten rumah yang baru?" tanyanya
"Iya dok. mas Sandy meminta dua orang asisten pada sekretarisnya. padahal satu saja cukup. Sisanya bisa saya kerjakan sendiri." selorohku
"Kamu memang tak berubah. mandiri dan pekerja keras." celetuknya memujiku
"Habisnya saya tak enak jika hanya tinggal di rumah besar ini tanpa berbuat apa-apa dok," sergahku.
"Kamu nikmati saja Alis. sudah saatnya kamu dan juga Andi mendapatkan hidup yang layak. kalian berhak bahagia"
Aku tersenyum.
Perkataan dokter Hasan ada benarnya juga. mungkin sekarang ini saatnya aku menikmati hidupku yang tenang. memiliki suami yang baik dan juga mencintaiku. serta kehidupan yang mewah dan tak kekurangan.
"Oh iya, apa saat makan malam kamu bertemu dengan putra saya?" selorohnya tiba-tiba.
"Anak dokter? siapa?" aku mengerutkan dahiku penuh tanya. Aku bahkan baru tahu jika dokter Hasan punya anak yang tinggal disini. yang ku tahu, anak dokter Hasan tinggal di luar negeri. begitu kata bi Marni dulu.
"Bukankah anak dokter di luar negeri?" aku balik bertanya.
Dokter Hasan menatapku ragu, mungkin menurutnya aku berbohong. padahal jelas aku tak tahu, siapa anak yang Dia maksudkan itu.
• • • • • •
__ADS_1