
Aku dan mas Sandy duduk di salah satu ruangan yang memang di sediakan untuk para tamu. sembari menunggu kedatangan Pak Munir.
"Mas, apa mas Sandy sudah memberitau dokter Hasan jika persidangannya di gelar hari ini?"
"Sudah. mungkin dia datang sedikit terlambat." jawabnya singkat.
"Mas, kenapa saya gugup ya?" gumamku memegang erat tangannya.
Diruangan itu memang bukan hanya kami seorang yang tengah menunggu. ada banyak orang yang mungkin tengah menunggu keluarga atau kerabat mereka sebelum persidangan.
"Apa kita kembali ke mobil saja?" tanya mas Sandy
"Gak usah mas. pasti wartawannya masih disana." sahutku sembari melirik sekilas pada orang-orang yang tidak begitu ku kenal.
"Lalu saya harus bagaimu?" bisik mas Sandy.
"Saya ingin ke toilet, tapi saya takut pergi sendirian." keluhku bingung.
Mas Sandy tersenyum tipis.
"Ya sudah, ayo saya antar!" ajaknya.
"Tapi mas.. Masa mas Sandy yang nganter!" desisku tak nyaman.
Tentu saja aku tak enak hati. bagaimana bisa mas Sandy mengantarku ke toilet umum di tengah banyaknya orang.
"Kenapa? kamu malu? daripada kamu tahan-tahan?" ajak mas Sandy sedikit memaksa.
Aku menatapnya lekat, dengan malu-malu aku mengikuti mas Sandy yang terus membujukku.
Kami berdua berjalan pelan menuju salah satu toilet umum. beberapa ibu-ibu melihat ke arahku.
"Mas, udah. disini aja" bisikku kemudian.
"Saya antar kamu sampai ke depan pintu. saya takut kamu kenapa-napa!" jelasnya bersikukuh.
Tampak di depan Pintu toilet ada banyak orang yang sedang mengantri.
"Permisi bu, boleh istri saya masuk duluan?" celetuk mas Sandy.
"Gak bisa dong! saya udah dari tadi. ngantri aja di belakang!" sulutnya sinis.
"Mas, udah Gak apa-apa!" bisikku tak enak hati.
Sementara mas Sandy tak menggubrisku dan tetap mencari orang yang mau bertukar posisi.
"IBU-IBU... ISTRI SAYA SEDANG HAMIL, DAN DIA BUTUH TOILET SEGERA! TOLONG IZINKAN DIA MASUK LEBIH DULU. YANG MAU BERTUKAR POSISI SAYA BERI UANG 500 RIBU???" Tukasnya dengan suara lantang.
Aku terbelalak mendengar pengumuman nya barusan.
"Oh, istrinya sedang hamil. ya sudah tuker sama saya aja neng!'' seorang ibu paruh baya mengalah untukku.
"Boleh bu?" tanyaku ragu.
"Iya boleh. Silahkan!" Tukasnya.
"Terima kasih bu. boleh saya minta nomor rekening ibu? biar uangnya saya transfer?!" pinta mas Sandy.
__ADS_1
"Oh, gak usah. Gak apa-apa kok. saya ikhlas!" tolaknya yakin.
Aku dan mas Sandy saling menatap takjub. ternyata masih ada orang yang berhati baik. bahkan beberapa orang yang tak mau mengalah padaku menatap kami dengan malu-malu.
"Terima kasih banyak bu" sahutku sembari menyalami tangannya.
"Iya. sama-sama. kebetulan sidang anak saya masih satu jam lagi" jawabnya dengan wajah sedikit sendu.
Aku pikir dia pasti bermasalah dengan kondisi anaknya.
"Anak ibu, kenapa ada disini?" tanya mas Sandy.
"Anak saya dituduh melakukan pengeroyokan. padahal dia sudah bersumpah jika dia tak terlibat." jelas si ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Mas..." ku pegang erat tangannya. mas Sandy pasti mengerti maksudku.
"Apa anak ibu, mendapat bantuan hukum? jika tidak, saya bersedia membantu. kebetulan kami punya pengacara yang mungkin bisa membantu ibu dan anak ibu." jelas Mas Sandy.
"Ibu kalau boleh tahu. nama ibu siapa?"
ku usap lembut pundaknya.
"Ibu Sari. Anak ibu berusia 19 tahun. tapi dia sudah tak bersekolah. dan lebih memilih berjualan untuk membantu ibu" jelasnya lagi.
"Bu Sari tenang saja. kami akan membantu ibu sebaik mungkin. nanti ibu bisa bicara dengan pengacara saya!" Janji mas Sandy.
"Bu, saya permisi ke Toilet duluan ya bu!" aku menyeringai malu-malu. dan segera menuju toilet saat pintunya terbuka.
"Hati-hati sayang!" tukas mas Sandy cemas. Aku mengangguk pelan.
Akhirnya aku bisa menyelesaikan urusanku di toilet. ku rapikan pakaianku dengan cepat.
PING!
PING!
"Saya akan kesana sekarang*?"
Tulis Pak Ivan singkat.
Aku terdiam cukup lama. perlu kah Pak Ivan datang kemari? apa itu tak akan mengganggu Bu Ayu?
PING!
"Alis jawablah....!" desaknya lagi.
Ku remat ponselku bingung.
"Sepertinya Pak Ivan tak perlu kemari. biar saya dan mas Sandy saja yang menghadiri persidangan." jawabku
"Kenapa? saya tak akan membuat kacau. kamu tenang saja!" jawabnya seolah tahu kekhawatiranku.
"Terserah Pak Ivan saja" tulisku malas. percuma juga aku mencegah keinginannya. Toh, dia juga pasti akan kemari.
Aku segera keluar dari dalam toilet, dan ku lihat Bu Sari tengah mengusap air matanya. tampak mas Sandy mencoba menghiburnya.
"Bu sari tenang saja. setelah kasus Anak ibu selesai. dia boleh melamar kerja di perusahaan saya." jelas mas Sandy.
__ADS_1
Aku menatap keduanya haru. mereka pasti sudah bercerita tentang banyak hal. hingga terlihat begitu akrab.
"Terima kasih pak. Terima kasih banyak" Bu Sari memegang erat tangannya.
"Kamu sudah selesai sayang?" mas Sandy menoleh padaku.
"Sudah mas. terima kasih banyak bu. berkat ibu saya bisa ke toilet lebih dulu"
"Iya sama-sama Neng. ibu juga berterima kasih. berkat suami si neng yang baik hati ini,anak ibu bisa mendapatkan keadilan" Tukasnya haru.
Aku menatap mas Sandy penuh tanya.
"Sepertinya Pak Munir bisa membantu. lagi pula saya butuh karyawan baru di kantor." jelasnya.
Aku tersenyum lega mendengar jawabannya. setidaknya mas Sandy bisa sedikit membantu mereka.
•••
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang. saatnya untuk kami pergi ke ruangan sidang. setelah sebelumnya Mas Sandy dan pak Munir bertemu dan bicara banyak hal. termasuk membicarakan masalah Ibu Sari dan anaknya.
"Kalau begitu, lebih baik kita cepat ke ruang sidang saja. untuk mempersingkat waktu!" ajak Pak Munir.
Kami bergegas dan segera duduk di kursi tamu. para wartawan sudah tampak memenuhi ruang sidang. aku menelisik setiap sudut, dan ternyata dugaanku benar. Pak Ivan sudah ada disana bersama dokter Hasan.
"Kita duduk disana saja!" ajak pak Munir menunjuk salah satu kursi dekat dengan dokter Hasan.
Pak Ivan tampak melambaikan tangan padaku dengan wajahnya yang tampak santai.
"Apa kamu yang memberitahunya?" bisik mas Sandy.
"Bukan,mas." sanggahku cepat.
Aku segera duduk disamping mas Sandy dengan hati-hati, sembari fokus melirik sekitar. Sementara Mas Sandy, dokter Hasan juga pak Munir tampak serius berbincang mengenai persidangan hari ini. Dan tak berapa lama,Hakim persidangan mendatangi ruangan dengan beberapa orang jaksa.
Ruangan tampak sedikit riuh hingga akhirnya Pak Broto di bawa ke persidangan sebagai terdakwa.
Baru kali ini aku menyaksikan proses pengadilan secara langsung. ternyata mampu membuat kepalaku berdenyut nyeri.
Melihat bagaimana wajah Pak Broto tampak sangat pucat dan gugup. dia bahkan tak sanggup menjawab pertanyaan dari jaksa penuntut.
"Jadi benar, Anda bekerja sama dengan Ibu Rahayu Hadiwijaya untuk memanipulasi keuangan Perusahaan?!"
Pak Broto melirik sinis pada Mas Sandy juga padaku. jelas dia begitu marah.
"Ada beberapa bukti lain yang menunjukkan bahwa anda juga melakukan pelecehan dan penyekapan pada Bu Alis Hadiwijaya?!"
Pak Broto hanya tertunduk kalut.
"Kami mohon anda bisa bekerja sama dengan menjawab semua pertanyaan dari jaksa penuntut umum!"
"I...iya. semua itu benar" tukasnya dingin.
"Apa benar anda juga bekerja sama dengan Bu Rahayu Hadiwijaya untuk menyembunyikan soal kasus kematian Rendra Hadiwijaya dan juga istrinya dari publik,untuk terlepas dari jerat hukum?!"
"Seharusnya kalian bawa juga Ayu kemari. dia lebih banyak melakukan kejahatan daripada saya!" sindir Pak Broto.
Aku menoleh pada Mas Sandy, sejak tadi wajahnya tampak begitu cemas dan tegang. sesekali ku usap lembut tangannya. Baru lah ku dengar helaan nafasnya yang terdengar lesu.
__ADS_1
• • • • • •