
Tumben sekali pak Ivan mengirim pesan seperti ini padaku. apa dia tahu kabar ini dari Rahma? AH! gadis itu memang tak bisa menyimpan rahasia. gerutuku sesaat.
"Iya, tapi tidak terlalu parah." balasku sopan.
"Lain kali, kamu harus hati-hati!" balasnya lagi.
Aku mengernyit heran.
Jika aku membalas pesannya lagi, tentu ini akan semakin panjang. Tapi, kalau aku biarkan saja, nanti dia berpikir aku tak sopan padanya.
Aku mendengus kesal.
"Iya, terima kasih pak" tulisku singkat.
Ku tinggalkan ponselku dan beralih fokus pada pekerjaan yang sedang ku lakukan.
Sepertinya otot kakiku sudah mulai lentur kembali. Buktinya aku sudah tak merasakan sakit yang berlebihan saat ku coba bergerak. dokter Hasan memang hebat. gumamku dalam hati.
Ku tatap lama sebelah kakiku itu,.
"Sebenarnya kenapa kamu bisa terjatuh teh? apa kamu menggunakan tangga atau kursi?!"
Aku ingat betul bagaimana ekspresi cemas mas Sandy ketika bertanya padaku penyebab mengapa aku bisa terjatuh.
Tentu saja aku berbohong padanya, aku bilang aku terlalu buru-buru dan tak berhati-hati. makanya aku terjatuh. tak mungkin juga aku bilang padanya jika aku mendengar suara mas Rizal memanggilku.
Ku tuangkan air ke dalam pot tanaman yang sejak tadi ku pegang. rasanya untuk hal itu, aku tak perlu berterus terang. karena bisa saja aku memang hanya berhalusinasi saat itu.
Satu-satunya hal yang ingin aku ketahui adalah soal kematian mas Rizal, dan alasan kenapa orang yang memberikan santunan itu mengatasnamakan orang lain??? pasti ada sesuatu yang memang disembunyikan olehnya.
Helaan nafasku terasa begitu berat, saat kepalaku mulai memikirkan hal-hal itu lagi.
•••
Sore ini, ku lihat mobil yang menjemput Andi dari sekolah baru saja tiba. ku lambaikan tanganku pada Andi yang baru saja turun.
"Mamaa...!" teriaknya dari bawah.
Aku hanya tersenyum seraya melambaikan tangan.
"Mama Gak usah turun! Andi aja yang ke atas!" ucapnya cepat. dia tahu jika aku turun ke bawah, itu akan memakan waktu yang cukup lama.
Ku buka pintu kamarku lebar-lebar. tak berapa lama Andi berlari kecil ke arahku.
"Assalamualaikum...!" serunya seraya mendekap tubuhku.
"Walaikumsalam, Gimana disekolah?" sahutku sembari mengelus lembut kedua pipinya.
"Andi banyak PR ma, karna sebentar lagi kegiatan Studytour. jadi semua tugas harus selesai sebelum berangkat nanti." keluhnya.
"Hmm,kalo gitu mulai sekarang Andi harus tambah giat belajarnya. biar nanti pas berangkat. Andi Gak punya utang PR lagi."
__ADS_1
"Mama udah sembuh?" Andi menunduk menatap kakiku.
"Lumayan, tapi masih sedikit sakit."
"Mama istirahat aja. kalo mau sesuatu biar Andi Bantuin. Andi mau ngerjain PR di kamar mama aja ya?" pintanya
"Boleh, tapi Andi ganti baju dulu ya!" ku angkat tas sekolahnya.
"Siap!" sahutnya cepat sembari berlari menuju kamarnya. hanya karena kehadiran putra kecilku itu, aku merasa bahwa aku tak sendirian. dan aku kuat menghadapi segalanya.
Menemani Andi mengerjakan semua tugas sekolahnya ternyata lumayan melelahkan. biasanya mas Sandy yang selalu bisa memecahkan setiap soal yang diberikan oleh gurunya. sedangkan aku, lumayan cukup kesulitan untuk menjawab soal-soalnya.
"Telepon om papa aja ma, biar Andi yang nanyain PR-nya?!" rengeknya.
"Jangan sayang, om papa lagi kerja! kita gak boleh ganggu!" sergahku tak menggubris keinginannya.
TOK...
TOKKK...
"Non, ada neng Rahma sama neng Sinta di bawah."seloroh bi atun
"Oh, mereka udah datang. suruh tunggu bi, saya siap-siap dulu!" pintaku.
"Iya baik ,non."
"Terus PR-nya gimana ma?"
Kami berdua keluar dari kamar dan turun menuju ruang tamu. Andi tampak hati-hati sembari memegangi tanganku. aku tersenyum mendapat perlakuan istimewa dari putraku, Hal yang membuat semua ibu pasti akan merasa terharu dan bahagia karenanya.
"Pelan-pelan ma," tukas Andi.
"Iya sayang, makasih!"
"Ya ampun lis,.. ternyata serius ya kaki kamu sakit?!" Seloroh Rahma yang kemudian menghampiriku.
"Ya begitulah.." sahutku pelan.
"Halo Andi apa kabar, makin cakep aja!" Andi mendekat dan menyalaminya dengan sopan.
"Makasih kak Rahma. kakak juga cantik" sanjungnya.
"Pelan-pelan!" Rahma mendampingiku hingga aku duduk di kursi. berbeda dengan Sinta yang hanya duduk dan melihat situasi rumah. entah dia merasa tak nyaman atau takjub dengan rumah suasana mas Sandy.
"Kalian tinggal berdua saja di rumah sebesar ini?" celetuk Sinta.
"Ketemu orang sakit, bukannya tanya kabar malah bahas hal yang lain" sindir Rahma.
"Enggak apa-apa. kalian pasti baru pertama kali kesini ya? bu Ayu juga tinggal disini. ada dua orang ART juga tukang kebun, dan supir. kalau satpam dia pulang pergi." jelasku.
"Aku Bener-bener Gak nyangka, kalo pak Sandy punya rumah sebesar ini." gumam Sinta.
__ADS_1
"Pasti kamu pengen juga ya" goda Rahma menahan tawa.
"Aku gak munafik ya,.. setiap perempuan pasti ingin hidup layak setelah menikah. terutama memiliki rumah mewah seperti ini." jelasnya.
"Aku doakan kalian punya Rejeki banyak dan bisa membangun rumah sebesar ini." sahutku.
"Nah, itu baru bener! punya rumah mewah, kalo bukan atas nama kita, tetep aja rugi. kecuali Alis sih,.. Pak Sandy pasti bakal kasih semua rumah mewah yang Alis mau." timpal Rahma.
Gadis itu memang senang memujiku di depan Sinta. entah karena apa, tapi dia memang selalu seperti itu. membuatku kadang tak sampai hati pada Sinta.
"Rumah pak Ivan juga tak kalah besar dan mewah." gumam Sinta.
"Memangnya kamu yakin, bisa mendapatkan pak Ivan?" sindirnya.
"Siapa tahu, kalo belum di coba" sahutnya merasa tertantang.
"Eh, sudah-sudah! kalian ini,selalu aja ributin hal-hal kaya gitu." Lerai ku pada akhirnya.
"Andi kenapa sayang? PR-nya susah ya?" tanya Rahma yang melihat Andi termenung.
Andi mengangguk lesu.
"Sini biar kakak bantu!" Rahma mendekat dan mulai mengajari Andi.
Sementara aku dan Sinta mengobrol tentang banyak hal.
"Oh iya, Gimana soal kondisi kantor. setelah mas Sandy dan pak Broto ribut waktu itu?" tanyaku pada akhir obrolan kami.
Rahma menoleh padaku, lalu beralih pada Sinta.
"Soal itu, kemarin pak Sandy sempat bersitegang dengan bu Ayu. karena bu Ayu memilih mempertahankan kerjasama dengan pak Broto. sementara pak Sandy tahu sendiri kemauannya seperti apa." jelas Sinta.
"Lalu bagaimana keputusannya?" aku menatap keduanya penasaran.
"Mereka belum menemukan kesepakatan. sepertinya Mereka berdua dan para pemegang saham akan melakukan meeting minggu depan, membahas masalah ini." timpal Rahma.
"Begitu ya." gumamku cemas.
"Kamu tenang aja lis, pak Sandy pasti akan menang kok. dia pintar dalam meyakinkan para investor. dan bu Ayu hanya akan gigit jari." tukas Rahma.
Aku tersenyum simpul. sebetulnya bukan soal itu yang aku cemaskan. Tapi soal hubungan mas Sandy dan bu Ayu nanti, yang pastinya akan semakin jauh. karena masalah ini.
"Menurutku biarpun pak Broto sedikkt menyebalkan. kerjasama dengannya tentu terbilang lebih baik dan lebih menguntungkan. itu dari segi bisnis, kecuali kalo pak Sandy memang berniat mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan." selanya seakan memintaku untuk menjadi penengah diantara masalah ini.
"Justru pak Sandy lebih baik memberi hukuman yang tegas pada pak Broto. biar tahu rasa." tandas Rahma.
Aku menatap keduanya bingung.
Bicara dengan mereka ternyata hanya membuat hatiku tak tenang saja.
"Ini minumnya non, silahkan!" bi Atun datang membawa minuman dan juga beberapa cemilan. membuat mereka melupakan sejenak obrolan kami.
__ADS_1
• • • • • • •