
"Yang jelas umur saya lebih tua dari mas Sandy," pungkasku. berharap jawaban itu bisa menjawab rasa ingin tahunya yang terkadang membuatku tak nyaman.
"Tua? berapa tahun tepatnya?! umur saya sekarang kan 29 tahun. selisih berapa tahun?" tanyanya lagi.
Aku terdiam,tak berani menoleh. tapi juga aku kesal dengan pertanyaannya itu. bertanya soal umur pada wanita bukan kah hal tak Sopan. dan jujur saja itu membuatku terlihat sangat buruk. Atau mungkin itu hanya pikiranku sendiri.
"Berapa? 5 tahun? atau 10 tahun?" selanya setengah menggoda.
Aku menoleh kesal,Mas Sandy segera memalingkan muka. aku tahu dia tengah mencoba menyembunyikan tawa.
"Gak setua itu kok! cuma beda 2 tahun. saya baru 31 Mas!" jawabku ketus.
"Nah,gitu dong. apa salahnya sih ngejawab,lama banget!" sahutnya enteng. Aku berjalan kearah keranjang cucian dan merapikannya.
"Lagian,mas Sandy kenapa tanya soal umur sih? kaya mau bikin KTP aja," sindirku tanpa menoleh kearahnya
"Hm,meskipun selisih umur kita cuma 2 tahun. tapi tetap kamu lebih tua kan? jadi mulai sekarang saya panggil kamu Teteh Lis aja Gimana? bagus gak?! Teteh artinya kakak perempuan kan?" celotehnya menjelaskan
Aku terdiam cukup lama. mendengarnya menyebutku seperti itu,rasanya terdengar aneh di telinga dan tak biasa.
"Mas Sandy jangan aneh-aneh deh!" Timpalku membawa cucian di tanganku ke dalam kamar mandi untuk kemudian aku cuci nanti. Aku mencuci tangan dan kembali ke meja tepat dimana Mas Sandy makan. Ku ambil satu buah apel dan mengupasnya.
"Jadi,mulai sekarang teh Lis panggil saya Sandy aja. gak usah ada embel-embel 'Mas' nya. kesan nya saya udah tua banget. padahal yang lebih tua kan Teh Alis." Jelasnya seolah memberi penawaran lewat ejekan nya itu.
"Jangan mas,biar bagaimana pun saya gak biasa. lagian mau tua atau masih muda. mas sandy kan tetap majikan saya. jadi ya gak apa-apa dong saya panggil mas. daripada saya panggil 'Tuan'?" Aku terkekeh kecil.
Mas Sandy terpaku melihat tawaku, membuatku seketika berhenti tertawa. Aku takut jika tawaku malah menyinggungnya.
"Maaf mas,saya gak bermaksud ketawain mas Sandy kok!" Ralatku
"Enak yah ternyata,kalo bisa ngobrol dan becanda selancar ini. kemaren-kemaren pasti teh Alis kesel banget sama sikap saya. Iya kan?!"
__ADS_1
"Namanya sama majikan,gak boleh ada perasaan kesel mas. Lagian,kita kerja kan di bayar. jadi,buat apa kesel."
"Gak usah bohong deh,saya hafal betul sama teman-teman yang pernah dekat dengan saya. Dan rata-rata mereka memang jengkel dengan sikap keras kepala saya." Kali ini mas Sandy mengakhiri kalimatnya dengan senyuman menggantung,seakan merindukan sosok teman yang dia sebutkan barusan.
Aku jadi teringat,semenjak Mas Sandy kecelakaan Aku tak pernah sekalipun melihat teman atau relasi kantornya. bukannya mas sandy ngurus kantor juga. tapi kenapa karyawannya gak mau nengok ya? Masa iya mas Sandy gak punya temen, mustahil banget rasanya. pikirku.
"Ngelamun lagi! lama-lama itu jari bisa ikutan ke iris teh.." Ledeknya.
Aku bergegas memberikan potongan apel itu padanya. padahal mas sandy belum selesai makan.
"Supnya enak banget! Ini kayanya bakal jadi salah satu sup favorit saya selain di resto tempat biasa saya makan!" Pujinya.
"Alhamdulilah kalo mas sandy suka sama sup nya." Aku mengelus dada lega.
"Sekali lagi makasih ya teh," pungkasnya membuatku salah tingkah.
Aku mengangguk dan memilih pergi meninggalkan mas Sandy dan membiarkannya menghabiskan makanannya sendirian.
Tapi Ada sedikit rasa lega di hati, setidaknya semakin hari Tuhan semakin memudahkan pekerjaanku. untuk saat ini, itulah hal yang terpenting. pekerjaanku menjadi lancar, dan aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan putraku Andi.
•••
Hari ini adalah hari minggu,hari dimana semua orang memenuhi tempat rekreasi,pusat perbelanjaan dan juga taman bermain. namun tidak denganku,aku baru saja selesai membereskan perabotan rumah yang terlihat mulai berdebu. aku meminta Andi untuk turut serta membantu. ku lihat dia nampak asyik merapikan rak sepatu yang terletak di teras rumah kami.
"Ma,abis beres-beres kita jadi kan main ke pasar?" tanya Andi tiba-tiba
"Ke pasar? emang mau ngapain ke pasar?" tanyaku heran
Andi menoleh kearahku setengah kecewa. mungkin kecewa karna aku melupakan satu janji dengannya
"Kan mama udah janji mau beliin Andi sepatu minggu ini. sepatu Andi udah bolong ma!" jelasnya setengah merengek.
__ADS_1
"Oh iya,mama lupa. ya udah,kalo mama udah beres kita ke pasar ya! Andi pilih sendiri sepatu yang Andi mau." Tukasku menyemangati nya.
"Yess! makasih maaa" sahutnya antusias.
Hampir satu jam aku membongkar kamar dan ruang tamu. ku bersihkan semua debu-debu yang bersarang cukup lama disetiap sudut kamarku.
"Akhirnya beres juga!" Aku duduk dengan secangkir teh hangat ditanganku. menatap hasil kerjaku yang menurutku sangat memuaskan ini.
"Ma, Andi udah siap!" Andi keluar dari kamar dengan mengenakan kaos putih dengan dipadu celana jeans.
"Wah, ganteng banget anak mama. coba sini, biar mama sisirin rambutnya?" Andi mendekat dan duduk di sampingku.
"Ma,mama marah gak kalo Andi minta sepatu lagi?" tanyanya menatap kearahku.
"Marah? enggak. mama enggak marah. kok Andi tanya begitu? kenapa?" aku balik bertanya.
Aku sangat paham Andi anak yang seperti apa, dia memiliki hati yang lembut dan begitu perasa. dia tahu jika aku kesulitan dalam mencari uang. dia menyadari itu,karna aku harus pulang setiap sore dengan keadaan lelah setiap hari.
"Nanti, kalo Andi Udah kerja. Andi gantiin uang mama ya!" Tukasnya membuatku kaget dan terenyuh.
Aku mendekap Andi,ku kecup kepalanya dalam. Andi adalah hartaku Satu-satunya,aku tak ingin membuatnya menangis apalagi meratapi nasibnya karna hanya anak dari seorang ibu tunggal.
"Iya sayang,mama doakan biar suatu saat Andi dapat kerjaan bagus. gajinya besar. jadi Andi bisa beliin makanan enak buat mama!" Tukas ku mengulas sebuah senyuman pahit.
Beberapa saat kemudian, aku dan Andi sudah bersiap didepan teras untuk berangkat membeli sepatu yang Andi minta,belum lama ku langkahkan kaki tiba-tiba ponselmu berdering. aku segera mengangkatnya, siapa tahu itu telepon penting. dan benar saja, bu Ayu menelponku. aku menatap ponselku penuh tanya,
"Halo bu, selamat siang. ada apa ya bu?" tanyaku kaget.
"Maaf mengganggu hari minggu nya, boleh saya minta tolong. hari ini kamu ke rumah ya? saya mau pergi ke luar kota soalnya." pinta bu Ayu. permintaan yang sangat sulit untuk aku setujui untuk saat ini.
"Hari ini kerumah? tapi bu,saya lagi ada Janji dengan anak saya!" elakku menolak. aku menatap Andi yang tengah menunggu,wajahnya bahkan sudah terlihat lebih dulu kecewa sebelum aku menjelaskan semuanya.
__ADS_1
••••••