PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•11


__ADS_3

~


"Kamu ngerti gak sih? anak kita butuh perhatian! butuh biaya! kamu malah kaya gini!!!" Aku berteriak kalap saat kudapati suamiku pulang dengan bau minuman dari mulut nya.


"Kamu gak usah bawel! Nih, aku bawa uang banyak!" pria itu melempar sejumlah uang ke atas meja.


Aku menatap nanar uang yang berserakan itu,dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak ini? apa yang dia kerjakan diluar sana? batinku.


"Kamu judi ya? darimana kamu dapat uang ini? aku gak mau kamu nafkahi pake uang haram!" Desisku menatapnya jijik.


"Dasar istri gak tau diri! bukannya bersyukur malah banyak omong!" Suamiku melempar jaketnya yang berbau alkohol itu kearahku. kemudian tubuhnya menghilang dibalik pintu.


Aku termangu,aku tak ingin menangis. bosan rasanya ku akhiri pertengkaran ini dengan tangisan,lagi dan lagi...


Tiba-tiba Andi datang dan memelukku, disitulah tangisku pecah! aku tak kuat lagi. aku ingin segera mengakhiri semuanya.


~


"Andiii.... " Aku merintih menahan sesak didada. Aku terbangun dengan wajah dibanjiri keringat. Aku bermimpi.


Mimpi yang sangat mengerikan bagiku. kulihat jam sudah menujukkan pukul 5 pagi. Aku membuka selimut lalu beranjak menuju kamar Mandi.


•••


Pagi ini aku berangkat dengan perasaan lega, apalagi setelah melihat Andi memakai sepatu pemberian mas Sandy yang ternyata sangat pas dikakinya. Lega karna akhirnya aku tak perlu lagi merasa bersalah karna harus selalu mengecewakan Andi tiap kali dia memintaku membelikan sepatu dan aku selalu saja tak punya waktu untuk itu.


Kali ini aku harus berterima kasih pada mas Sandy. berkatnya Andi bisa pergi ke sekolah dengan penuh semangat. apalagi dia terus saja membahas soal sepatu itu. aku tersenyum tipis disela lamunanku.


"Hey lis, apa kabar?" tukas seseorang mengagetkanku. Aku menatapnya lama, menatap wanita cantik yang ada dihadapanku ini. dia duduk tepat berhadapan denganku. kebetulan angkutan umum yang kami tumpangi cukup lengang.


"Sinta? kamu naik angkot juga?" Sahutku setelah tahu betul dia adalah Sinta. temanku sewaktu aku bekerja di pabrik dulu.


"Kamu mau kemana?" tanya Sinta penasaran.

__ADS_1


"Aku mau kerja. Kamu sendiri?!" tanyaku


"Aku juga mau kerja,biasanya pacarku yang jemput sih! tapi tadi,katanya ada meeting dadakan. jadi gak bisa jemput." jawabnya antusias.


Aku tersenyum tipis,mendengar bagaimana dia bercerita tentang pacarnya yang mungkin seorang petinggi perusahaan itu.


"Oh iya,turut berduka yah atas meninggalnya suami kamu. aku baru denger loh dari temen kita si Abdul." Sinta mengusap tanganku lembut.


"Iya, terima kasih."


"Maaf,kalo boleh tahu. katanya suami kamu meninggal karna kecelakaan? dia masih suka mabuk ya?" tanyanya sembari berbisik.


Aku menoleh kearah depan,berharap penumpang lain tak mendengar ucapannya itu.


"Begitulah,"jawabku singkat dengan senyum yang sedikit ku paksakan. Sinta tentu menyadari ekspresi ku yang terlihat tak ingin membahas soal itu.


"Terus,apa kamu udah punya ayah baru buat Andi?!" tanyanya lagi.


Aku lagi-lagi hanya bisa tersenyum. terkadang rasa ingin tahunya membuatku sedikit jengkel dan berharap aku segera tiba di tempat kerja. agar bisa menghindari setiap pertanyaannya.


"Bener juga sih,takutnya malah dapet yang lebih parah. iya gak?" celetuknya membuatku seketika melayangkan tatapan tak suka.


"Ya maksudnya, pasti ada rasa trauma kan!" ralatnya lagi. sepertinya merasa tak enak hati melihat sikapku barusan.


"Eh sin,Aku duluan yah!" pamitku bergegas. Sinta yang tampak kaget karna melihatku terburu-buru turun dari mobil membuatnya gelagapan.


"Eh, eh.. Alis. Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya? aku telepon!" Tukasnya setengah berteriak. Aku hanya tersenyum tanpa Mengiyakan. malas rasanya jika harus mendengar setiap ucapannya yang selalu membuatku sakit telinga. Aku bukanlah wanita sempurna yang bisa menerima setiap omongan orang begitu saja. aku juga bisa merasa jengah dan emosi jika terus menerus dihadapkan pada orang-orang seperti Sinta ini.


Aku menghela nafas berat melewati halaman rumah,bahkan aku tak sadar pak Wahyu menegur ku berulang kali.


"Wah, si neng ngelamun terus. sampe saya sapa aja gak nengok!" Tukasnya mengagetkan ku.


"Hah?! pak Wahyu tanya saya?" Sahutku dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Ya sudah, gak usah di bahas. silahkan masuk neng Alis. selamat bekerja!" Tukasnya dengan senyum dipaksakan.


Aku menyeringai malu dan bergegas menuju dapur. tapi anehnya tak ku lihat bi Marni di dapur. atau mungkin dia sedang dikamar mas Sandy? aku melihat jam dinding.


"Masih jam 7 kurang. kemana yah bi Marni?" Aku bergumam seraya melangkah maju menuju ruang makan.


Terlihat sepi,tapi makanan dimeja terlihat sudah siap. ada banyak menu makanan dan tak seperti biasanya. apakah ada tamu yang menginap? pikirku.


Aku beranjak menuju ruang tamu,ada lorong yang cukup panjang yang harus ku lewati untuk sampai disana. dikedua sisi terdapat kamar utama dan tiga kamar tamu. namun langkahku terhenti sejenak,ku dengar dua orang yang tengah berbincang pelan dari dalam kamar Yang pintunya sedikit terbuka. Aku berdiri dibalik tembok ruangan, terdengar suara pria tertawa diikuti suara wanita yang terdengar sangat mesra. layaknya seorang wanita yang tengah menggoda pasangannya.


Aku tak berani mengintip,mendengar suaranya saja membuat jantungku berdegup kencang. Apa aku tak salah dengar? perlahan tapi pasti ku dengarkan dengan seksama suara itu. dan ternyata benar, itu suara bu Ayu. Tapi dengan siapa? kepalaku berfikir dengan pendengaran yang berfokus pada suara berisik di dalam kamar.


"Lis!!!" Seseorang menepuk kuat pundakku. membuat aku melonjak kaget dan sontak menutup mulut. Aku melotot menatap Bi Marni,Bisa-bisanya dia mengagetkanku seperti itu.


"Ayo sini!" bisiknya menarik tanganku dengan kasar. kami berlari menuju dapur. aku terengah-engah menahan rasa terkejutku. Sementara bi Marni sibuk memperhatikan sekitar ruangan.


"Kamu lagi ngapain?" desaknya.


"Nyari bi Marni lah,tapi kok. Ada bu Ayu disana?" tanyaku penasaran.


"Ssssttt! jangan berisik, barusan kamu liat apa? atau dengar apa?" selidiknya.


"Gak denger apa-apa sih bi, cuma kaget aja pintunya kebuka. terus ada suara laki-laki. siapa sih bi?" Aku bicara seolah memang aku tak melihat apa-apa.


"Untunglah kamu gak lihat apa-apa. bibi juga gak tahu. ini baru kali pertama Bu Ayu pulang sama Pria. mungkin pacarnya. tapi kata Bu Ayu sih rekan kerjanya di kantor." jelas Bi Marni yang seperti menaruh rasa curiga terhadap pria tadi.


"Rekan kerja? mungkin juga sih bi." Jawabku yang sebenarnya juga merasa tak yakin.


"Biiiii... Bibi,tolong bawain saya kopi?!" panggilnya kemudian.


Aku dan Bi Marni saling melemparkan pandangan.


"Kamu bisa gak, bantuin bibi. kebetulan bibi belum ambil cucian di belakang!" pintanya.

__ADS_1


Aku menyeringai bingung namun tak bisa menolak. Segera ku buatkan secangkir kopi dan mengantarkannya menuju meja makan.


• • • • •


__ADS_2