
Mungkin karena penghianatan yang dilakukan oleh vina kemarin membuatku tak suka dengan jawabannya.
Aku menjadi asing dengan dirinya. dia tak seperti Vina yang ku kenal.
"Kamu pikir, orang yang keluarganya meninggal gara-gara kecelakaan itu juga gak rugi besar? bahkan kurasa,uang sebanyak apapun tak akan bisa mengganti nyawa seseorang." ujarku
"Kenapa kamu jadi marah gini sih sayang? aku kan cuma ngasih saran aja. ya udah kalau kamu maunya begitu! it's okay... " Vina mengusap lembut pundakku.
"Bukankah kamu juga sibuk hari ini?" aku menukas sembari melipat kedua tanganku dibahu.
Vina menanggapi dengan tatapan tak suka.
"Kamu gak seneng aku kesini? ternyata emang bener,kamu udah banyak berubah san. kamu gak kaya dulu lagi" sewotnya
"Aku masih orang yang sama, tenang saja. justru yang jadi pertanyaan adalah sikap kamu." aku coba memancingnya.
"Sikap aku? yang mana? kamu curiga sama aku?" tanyanya
"kenapa kamu pikir aku curiga? curiga soal apa?" selidikku.
Vina terhenyak. aku tahu gadis itu tak pandai berbohong. dan dia akan mudah gugup jika sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Ya, apa saja. aku kan sering bekerja diluar kota. bertemu orang baru. siapa tahu kamu pikir aku berbuat macam-macam" jelasnya.
"Aku tak akan berpikir macam-macam. lagipula mereka semua rekan bisnis kamu. kecuali jika aku kenal dia,lalu kalian bertemu dibelakangku dan tanpa sepengetahuanku. jelas aku akan sangat marah." sindirku.
"Enggak lah sayang. aku tak akan berbuat curang dibelakang kamu." jawabnya yakin dengan senyum yang menurutku sedikit dipaksakan.
Bisa-bisanya dia bersikap setenang itu setelah membohongiku. apa menurutnya yang dilakukan itu benar? apa dia pikir aku tak akan terluka jika seandainya aku tahu, bahwa dia dan Ivan pernah makan malam bersama?
"Sepertinya kita harus Dinner deh. udah lama banget kan kita gak menghabiskan waktu berdua." bisiknya.
Aku masih menatapnya dan enggan untuk menanggapi.
"Diam artinya setuju."
CUP!
Vina mengecup pipiku singkat sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruanganku.
"Aku tunggu kamu nanti malam ya sayang!" gadis itu menghilang dibalik pintu.
Selemah ini kah aku jika berhadapan dengan wanita? bahkan untuk bersikap tegas dan bertanya soal Ivan saja aku tak bisa? malah membiarkannya pergi tanpa rasa bersalah.
•••
Aku duduk dibalik kemudi,menatap lama pada gerbang rumah Vina. Sebanarnya aku sedikit malas untuk pergi makan di luar. tapi jika ku pikir lagi,masalah ku akan semakin rumit jika ku diamkan.
"Kamu gak mau masuk dulu? ketemu papa?" tukasnya sembari melenggang mendekati mobilku.
__ADS_1
"Kapan-kapan saja!" jawabku singkat.
Wajah gadis itu terlihat lesu, aku tahu dia pasti kecewa mendengar jawabanku
"Haruskah kamu bilang begitu" gumamnya sinis seraya masuk ke dalam mobil.
Ku pacukan kendaraanku menuju salah satu resto tempat kami biasa makan malam.
Tak ada obrolan penting selama perjalanan menuju tempat tujuan kami.
Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. dan ku rasa ini awal dimana hubungan kami mulai terasa hambar.
Setibanya di Resto, aku segera keluar dan membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih," jawabnya seraya keluar mengikutiku masuk dan duduk di salah satu meja yang sudah kami pesan sebelumnya. kebetulan aku memesan meja paling pojok dan dekat dengan jendela. hingga bisa melihat pemandangan diluar Resto.
"Kamu mau makan apa?" tanya Vina langsung membuka menu.
"Terserah kamu aja. kamu kan biasa yang sering pilih menu"
Vina menilik isi menu dan memanggil pelayan untuk menyiapkan beberapa menu istimewa.
"Udah lama banget yah,kita gak Dinner bertiga." tukasku sembari menopang kedua tanganku di atas meja, melemparkan pandangan keluar jendela.
"Maksud kamu?"
"Kenapa kita gak coba telepon Ivan? ajak dia makan malam bersama" tandasku.
"Kenapa harus ada dia? ini kan acara kita berdua, aku pengen ngobrol banyak sama kamu tanpa ada orang lain" sahutnya
"Aku pikir jika ada Ivan semuanya akan jelas." sindirku.
"Kamu kenapa sih? Ivan terus? kamu nyindir aku atau gimana? kita udah lama Gak ngobrol bareng loh? kenapa kamu malah bahas orang lain?" semprotnya mulai tak suka dengan obrolan kami.
Aku menatap sinis padanya.
"Kalau kamu gak suka aku bahas Ivan. oke. aku tak akan bahas lagi." jawabku mengalah. Kulihat wajahnya ketus karena kesal.
Tak berapa lama dua orang pelayan datang membawa menu makanan yang sangat banyak untuk kami.
"Terima kasih" Vina menarik beberapa menu makanan didekatnya.
Namun dari semua menu, ada satu makanan yang menurutku aneh jika dia sengaja memesannya.
"Kamu pesan lasagna? " ku tunjuk salah satu makanan itu.
"Bukannya ini makanan kesukaan kamu? aku sengaja pesankan?" jawabnya polos.
Aku terpaku cukup lama, jawabannya membuatku hanya bisa tersenyum remeh. makanan itu adalah menu kesukaan Ivan ketika kami masih sering makan bersama. Apakah dia lupa atau memang tidak tahu soal menu makanan favorit Ivan itu. entahlah..
__ADS_1
Kami menikmati makan malam tanpa obrolan. hanya sesekali Vina bertanya dan ku jawab seadanya.
"Gimana soal kasus kecelakaan itu? kamu udah selesaikan?" tanyanya lagi.
"Iya, tentu saja. aku tak ingin menunda-nunda masalah" jawabku.
Tak berapa lama ponsel Vina berdering, dengan sigap gadis itu menutup teleponnya.
"Siapa?" aku menatapnya intens
"Dari kantor" jawabnya sembari melahap menu makanan didepannya.
"Kenapa gak di jawab aja. siapa tahu penting." saranku.
"Kita jarang makan bersama. aku tak mau ada yang mengganggu." sahutnya
"Gimana kalo habis ini,kita nonton? kebetulan ada film bagus" ajaknya
"Sayangnya,Aku masih banyak kerjaan!" tolakku.
"Ternyata aku sudah bukan prioritas kamu lagi ya" lirihnya kecewa.
Ku tatap wajahnya yang masih tampak tak bergairah itu. Akupun tak mengerti mengapa aku sulit sekali membuka hatiku untuknya lagi. apalagi setelah malam itu. mungkin saja mereka tak benar-benar berselingkuh. tapi jika mereka diam-diam bertemu dibelakangku. lalu apa namanya? jika selama ini Vina menganggap Ivan hanya teman, kenapa mereka tak terbuka padaku.
"Selama ini kita sibuk bekerja. bahkan kamu pun lebih mementingkan karir model kamu kan? apa salahnya jika aku sekarang jadi sibuk dengan pekerjaan juga?"
"Tapi seharusnya kamu bisa meluangkan sedikit waktu buat aku. atau kamu sudah mulai bosan dan menemukan wanita lain diluar sana?!"
Aku tersenyum remeh. ku biarkan dia meracau selama beberapa menit. hingga dia mulai bicara terus terang jika selama ini aku tak memperhatikannya, aku tak ada disaat dia membutuhkanku. aku sadari itu, aku memang tak bisa memberikan waktu yang banyak untuknya. tak bisa memperhatikannya selama 24 jam penuh. tidak seperti awal-awal saat kami menjalin hubungan.
Selama ini ternyata aku yang salah.
aku yang mengekangnya,aku yang membuatnya tak bebas dan hanya terikat oleh hubungan yang sama sekali tidak membuatnya nyaman.
Dan rasanya aku sudah lelah, aku tak bisa lagi memperbaiki hubungan kami.
"Aku selesai!" selorohnya seraya melempar serbet ditangannya. lalu berjalan meninggalkan meja makan.
Aku terkesiap.
Apa sejak tadi aku melamun dan tak memperhatikannya? BODOH! batinku.
"Vina, tunggu!" teriakku sembari bangkit untuk mengejarnya.
"Pak, ini bill- nya!" seorang pelayan menghadangku.
Dengan tergesa ku ambil beberapa lembar uang cash. lalu segera keluar dari dalam Resto.
• • • • •
__ADS_1