PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•131


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, mataku juga sudah sangat mengantuk. tapi film nya baru akan berakhir dalam 15 menit lagi.


Ayolah Alis,jangan ketiduran!


Aku mengucek mataku pelan.


"Kenapa? apa kamu mengantuk?" bisik mas Sandy.


Aku hanya tersenyum seraya menggeleng pelan. Mas Sandy lalu mengusap lembut pipiku.


"Film yang sangat luar biasa! pandai sekali anda memilih cerita," Terdengar suara pak Broto dari sebelah kiri mas Sandy mencoba mengajak suami mengobrol.


Aku melirik sekilas lalu kembali lagi menonton filmnya.


"Tentu saja,ini film yang sangat bagus. seorang Pisioner juga Entrepreneur jenius yang gigih bekerja!" Jelas mas Sandy


"Iya. anda benar pak Sandy. dia juga Punya selera yang tinggi!" selorohnya seraya melirik padaku sekilas.


"Benar. Orang-orang seperti Steve Jobs ini pastinya takkan memilih cara yang curang untuk mendapatkan uang." mas Sandy balik menyindirnya.


Seperti yang sudah Nita katakan. jika pak Broto memang orang yang suka mengadu domba dengan membuat berita-berita jelek demi mendapatkan keuntungan.


Mendengar jawaban mas Sandy pak Broto tampak tersenyum kecut.


-THE END-


Akhirnya, selesai juga. batinku.


Semua orang terdengar antusias membahas film yang mereka tonton. lain halnya dengan Rahma dan Sinta yang terlihat kusut dan mengantuk. mereka tentu saja sama denganku, yang bosan dengan acara seperti ini.


"Apa kita sudah bisa pulang?" bisikku pada mas Sandy.


"Iya sayang. kita pulang!" tukasnya menggandengku keluar dari ruangan itu.


"Terima kasih pak Sandy atas jamuan makan malam yang spesial ini!" bu Helga mendekat dan menjabat tangannya


"Terima kasih juga, ibu sudah hadir. dan mempercayakan saham perusahaan pada kami." tukasnya penuh rasa hormat.


"Tentu saja. bagi saya, sulit bekerja sama dengan pengusaha baik hati tulus dan cerdas di jaman sekarang. apalagi masih muda." kekehnya.


"Terima kasih pujiannya."


"Anda benar-benar beruntung bisa berdampingan dengan Pak Sandy yang pasti sangat mencintai anda!" Bu Helga menatapku lekat.


"Ibu benar, saya sangat beruntung" aku tersenyum manis. seraya menjabat tangannya.


"Saya masih harus mengecek pekerjaan di kantor. jadi saya pamit lebih dulu. terima kasih semuanya!" wanita itu meninggalkan hotel dengan buru-buru.


Di ikuti beberapa orang yang juga berpamitan.


"Terima kasih untuk jamuan makan malamnya!" tukas Pak Ivan dari arah belakang dengan suara dingin.

__ADS_1


"Tentu saja." mereka saling menatap tapi tak saling berjabat. sepertinya sikap itu hanya sebagai keterpaksaan didepan umum saja,agar hubungan buruk mereka tak tercium oleh media.


Pak Ivan berjalan pelan menuju mobilnya, namun sebelum dia masuk pria itu terdiam lalu menoleh ke arah kami berdua.


"Satu lagi, jaga istrimu dengan baik! jangan sampai pria hidung belang seperti dia mengganggunya!" pak Ivan melemparkan pandangan pada pak Broto yang masih berjalan jauh di belakang.


Mas Sandy menoleh pada pria tua dibelakangnya.


"Jangan khawatir!" sahut mas Sandy tak kalah dingin.


Aku meremat jari jemariku gugup. Sementara Rahma, dan Sinta yang berada di belakangku saling berisik.


"Mereka kenapa ya?" bisik Rahma yang jelas terdengar olehku.


Tak berapa lama,pak Ivan pun pulang seorang diri tanpa di temani bu Ayu yang masih mengobrol dengan pak Broto dan dua orang lainnya.


"Terima kasih jamuan makan malam nya." pamit dua orang itu pada kami berdua.


"Sama-sama. hati-hati dijalan!" Mas Sandy masih bersikap ramah hingga saat tante Ayu menghampiri kami. sikapnya berubah acuh kembali.


"Bu, apa ibu mau pulang bersama kami?" ajakku sopan.


Aku tak ingin menjadi Orang yang tak tahu terima kasih. apalagi sikapnya begitu dingin padaku setelah kami menikah.


"Saya akan menginap disini. saya sudah pesan kamar!" jawabnya


"Baguslah." gumam mas Sandy. Aku melirik sinis pada suamiku. tak seharusnya dia ketus pada tantenya sendiri. apalagi didepan karyawannya.


"Wah,.. apa saya ketinggalan sesuatu?" Pak Broto mendekat.


"Iya. Hahhhaa. terima kasih untuk liputannya. saya senang sekali malam ini. media saya akan menjadi yang terdepan setelah beritanya keluar untuk pertama kali besok," Pria tua itu terbahak penuh kepuasan.


"Dasar aki-aki," dengus Rahma nyaris tak terdengar.


"Silahkan, selamat beristirahat!" Mas Sandy mempersilahkan sekaligus mengusirnya.


"Baiklah. terima kasih untuk makan malamnya. Bu Ayu, yang cantik jelita. saya pamit!" Pak Broto tampak mencium tangannya dengan manis.


AH! pemandangan yang sangat menjijikkan bagiku. mungkin bagi semua orang disana. Bu Ayu dengan cepat menarik tangannya tak nyaman.


"Sampai jumpa!" desis bu Ayu segera.


Semua orang telah pergi. tinggal kami berdua, Nita, Rahma dan Sinta juga bu Ayu yang masih berdiri di Lobby hotel.


"Nita, kamu ikut saya sebentar! saya ada sedikit pekerjaan untuk kamu!" pinta bu Ayu. Nita mengangguk cepat dan segera mengikutinya dari belakang.


Bu Ayu meninggalkan kami bahkan tanpa berpamitan.


"Bagaimana dengan kalian? apa kalian akan pulang atau...?" tanya mas Sandy menatap Rahma dan Sinta.


"Kami pulang aja pake taksi pak!" sahut Rahma.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya pesankan!"


"Gak perlu pak. Terimakasih atas niat baiknya," sergah Rahma.


"Kamu jangan gitu deh. kalian pasti sangat capek! biar mas Sandy pesankan ya!" bujukku.


"Alis benar. Lagian udah malem gini, nyari taksi sendiri susah tahu!" desis Sinta.


"Oke, sudah. tunggu sebentar lagi taksinya pasti datang!" mas Sandy menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jas.


"Jadi gak enak. makasih banyak ya pak, Alis. kalian selamat beristirahat!" tukas Rahma.


"Iya, kalian juga. jangan keluyuran. kami pulang duluan ya!" pamitku pada keduanya.


"Hufht!" Aku menghela nafas dalam saat duduk di kursi mobil. rasanya lelah sekali tadi. padahal jelas aku hanya duduk dan menonton.


Mas Sandy menatapku lekat.


"Maafkan saya,kamu pasti capek kan?" wajahnya tampak penuh sesal.


Aku menoleh pelan,


"Hm, sangat. saya mengantuk" gumamku.


"Istirahat lah, kalau sudah sampai saya bangunkan!" tukasnya.


Aku bersandar dibahu lebarnya,sesaat kemudian mataku mulai terpejam. terdengar deru mobil kami yang mulai melaju pelan membelah jalanan kota yang terasa hening dan dingin.


•••


Malam ini mungkin akan menjadi malam yang cukup melelahkan bagiku. meski aku tak banyak mengeluarkan tenaga.


Tapi,Malam ini juga menjadi malam yang indah bagiku. apalagi saat Mas Sandy mengenalkanku pada semua Relasi bisnisnya. Aku tak menyangka aku sudah sejauh ini.


Namun, cerita indah selalu saja punya cela yang tak selalu sempurna bukan? Tatapan menjijikan pria tua itu, juga tuduhannya padaku sangat keji dan mengerikan.


Jika saja Pak Ivan tak datang,.....


Aku membuka mataku pelan, entah pukul berapa sekarang. Namun satu yang ku sadari,aku sudah ada di tempat tidur rupanya. sepulas itukah aku tidur? hingga tak tahu jika mas Sandy menggendongku ke kamar. batinku.


Aku berbalik badan,bermaksud untuk mencari mas Sandy dan memeluknya. Namun ternyata mas Sandy tak ada disana. dia tak ada disampingku. Kemana perginya?


Dengan rasa kantuk yang masih mendera, aku coba mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan.


"Jam berapa ini," gumamku menatap jam di atas Nakas.


"Jam 3 pagi? kemana perginya mas Sandy," gumamku lalu bangkit dari tempat tidur dengan malasnya. bahkan aku belum mengganti pakaianku.


"Mas," Ku panggil namanya pelan.


Terasa semilir angin berhembus dari arah balkon. tampak pintu balkon sedikit terbuka. aku melangkah pelan menuju balkon untuk mencari tahu apa yang dia lakukan diluar sana Sepagi ini.

__ADS_1


"Mas, kamu lagi apa?" sapaku saat melihatnya tengah berdiri menatap langit dengan secangkir kopi ditangannya.


• • • • • •


__ADS_2