
Sore ini aku duduk di atas tempat tidur sembari memakan Beberapa cemilan yang mas Sandy belikan untuk kami tadi.
Sementara Andi duduk di sampingku sambil membaca buku, dan mas Sandy sendiri tengah melakukan obrolan Via telepon dengan karyawannya di balkon.
"Andi mau? sini mama suapin?" tanyaku padanya. Andi tersenyum seraya membuka mulutnya lebar-lebar.
"Aaaaaaaa...!" Aku terkekeh saat melihat mulutnya penuh dengan kue.
"Makannya Pelan-pelan!"
Mas Sandy kembali dari balkon dan duduk di dekat Andi.
"Om papa senang sekali lihat Andi giat belajar seperti ini," sanjungnya.
"Iya dong, kan Andi mau jadi Bos kaya om papa!" sahutnya polos.
"Kamu boleh jadi apa saja, asal harus tetap jujur dan jadi anak yang baik" tukasnya sembari mengusap lembut kepala Andi.
"Mas Sandy mau juga?" aku memberinya potongan kecil kue yang ku makan. Matanya menatapku penuh cinta.
"Boleh," mas Sandy dengan segera membuka mulutnya.
"Tadi,siapa yang menelepon mas?"
"Orang kantor." tukasnya enteng. seolah enggan membicarakan masalah pekerjaan didepanku.
"Ada masalah di kantor?" selorohku.
Wanita tetap lah wanita, tingkat Kepo- nya bisa lebih tinggi saat melihat hal yang janggal di matanya.
"Sedikit,.." jawabnya singkat.
"Maaf sudah merepotkan mas Sandy" lagi-lagi aku merasa tak enak hati.
Pasti mas Sandy meninggalkan banyak pekerjaan karena harus menjemputku tadi. gumamku dalam hati.
"Lainkali, kamu tak boleh bepergian tanpa saya!" desisnya tegas.
"Jadi, om papa ikut juga dong ke Studytour nanti? soalnya mama juga ikut?" celetuk Andi kemudian.
Mas Sandy menoleh ke arahnya, lalu melihat padaku penuh tanya.
"Acara sekolah apa? kapan? saya baru dengar?" selidiknya.
Aku tersenyum kecut. tadinya, Akupun tak berniat memberitahukan dulu soal acara studytour Andi padanya. tapi jika sudah begini, apa boleh buat.
"Ada kegiatan Studytour ke salah satu desa wisata. kegiatannya masih 3 mingguan lagi." jelasku.
"Kenapa kamu baru bilang teh?"
"Saya fikir, setelah mas Sandy gak terlalu sibuk. baru saya akan bilang. lagipula, saya takut malah mengganggu pekerjaan mas Sandy."
Mas Sandy menghela nafas.
__ADS_1
"Jika tahu begini,dari awal saya akan mempersiapkan cuti kerja dan memberitahu Nita untuk meng-handle semua pekerjaan saya." sahutnya
Aku menatapnya tak percaya.
"Jadi? mas Sandy mau ikut?" selorohku
"Tentu saja! mana bisa saya membiarkan kalian berdua pergi bersenang-senang tanpa saya" desisnya merasa tak adil.
"Asiiiiikkkk!" Andi berseru antusias ketika mendengar mas Sandy akan ikut dengan kami.
"Lain kali, jika ada hal semacam ini. kamu harus memberitahu saya dari awal. agar saya bisa menyiapkan segalanya dengan baik." pintanya.
"Iya mas." aku mengangguk patuh.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. saya harus membereskan beberapa laporan kerja saya," pamitnya meninggalkan kami berdua dan beranjak menuju ruang kerjanya.
Ku tatap Andi yang nampak serius mengerjakan tugasnya. mulai hari ini sepertinya aku akan merasa sedikit bosan karena harus terus berbaring di tempat tidur. karena mas Sandy pasti akan sangat bawel jika dia tahu, aku melakukan sesuatu yang di larangnya.
•••
Seminggu sudah aku menjaga kakiku agar tidak terlalu sering menyentuh lantai. sesekali turun dari ranjang jika ingin ke toilet dan duduk di Sofa.
dan itu membuat seluruh tubuhku terasa pegal dan juga sakit.
Bahkan selama mas Sandy pergi ke kantor, dia akan melakukan Videocall sepanjang hari untuk memastikanku agar tak melakukan kegiatan yang menurutnya akan berbahaya. Aneh rasanya saat kita diperlakukan secara 'berlebihan' begini. meski bagiku ini hanya luka yang tak memerlukan penanganan khusus, tapi bagi mas Sandy ini hal yang serius. terkadang aku merasa lucu dengan sikap overprotektif yang dilakukannya.
Hari ini, mas Sandy meminta dokter Hasan untuk ke rumah. sehingga aku sudah bersiap di kamar mandi Sepagi ini.
"Non, udah mandinya?" teriak bi Atun.
"Iya bi, sebentar!" sahutku.
"Baik non. saya ada didepan pintu. kalau non perlu sesuatu," jelasnya.
Aku segera keluar dengan baju yang sudah rapi. ku tatap Atun tak enak hati.
"Maaf ya bi. gara-gara saya sakit, mas Sandy jadi berlebihan begini. padahal saya udah sembuh kok bi." Aku menggerak-gerakan kakiku perlahan.
"Hati-hati non. Gak apa-apa! dinikmati saja non, langka loh punya suami seperti pak Sandy. saya aja ngiri" kekehnya.
"Tapi tetap aja bi. rasanya berlebihan buat orang seperti saya." aku berjalan pelan menuju Sofa. masih dengan bantuan Kruk yang selalu ku apit erat di tangan sebelah kiriku.
"Kalau begitu, bibi ambilkan cemilan ya non."
"Eh gak usah bi. bibi siapkan aja teh buat dokter Hasan. sebentar lagi pasti dokter kesini! suruh langsung masuk aja ya bi" pintaku.
"Iya, baik non."
Aku mengambil sisir dan kaca yang sudah bi Atun siapkan di atas meja. satu-satunya hal pribadi yang aku sukai setelah jadi istrinya mas Sandy adalah, aku tak perlu menggunakan make up di rumah. dan mas Sandy tak masalah dengan hal itu. sehabis mandi, biasanya aku hanya akan menyisir rambutku saja dan menggunakan pelembab wajah. hal yang memang biasa aku lakukan sejak dulu jika sedang tak ingin berdandan.
PING!
"*Sayang, apa dokter Hasan sudah datang? bagaimana kondisi kaki kamu?"
__ADS_1
"Kalau boleh saya ingin Videocall*?"
tulisnya lagi.
Aku tersenyum tipis.
"Belum mas, sepertinya masih di jalan. kalo udah sampe, nanti saya kabari lagi" balasku
"Oke. baiklah. segera hubungi saya!" pintanya
Sedang fokus berkirim pesan. aku melihat seseorang berdiri di luar pintu. kebetulan aku meminta bi Atun untuk tak menutup pintu kamar selagi dokter Hasan belum datang.
"Bu Ayu,.." Gumamku kaget.
Segera ku simpan ponselku dan mengabaikan pesan masuk dari mas Sandy.
"Boleh saya masuk!" tegasnya masih dengan nada yang sinis.
"Boleh bu, silahkan!" Aku bangkit hendak menyambutnya.
"Tak perlu bangun. duduk saja lagipula saya tak lama" tukasnya sembari masuk ke dalam kamar.
"Maaf bu, kalau saya kurang sopan" sahutku tak nyaman.
Bu Ayu menilik ke arah kakiku yang masih berbalut perban. beberapa hari ini aku memang tak di izinkan turun ke bawah. sehingga kami jarang bertemu.
"Saya rasa, kaki kamu sudah membaik. jadi tak perlu berpura-pura lagi" terka nya.
"Kaki saya memang sudah membaik bu. tapi mas Sandy melarang saya, sampai dokter Hasan datang untuk memeriksa." jelasku.
"Sandy memang selalu berlebihan. kamu tak perlu selalu menurutinya!"
"Lagipula, Dia sudah melakukan banyak hal untuk kamu dan anak kamu. tak pantas rasanya jika kamu hanya menumpang makan dan tidur saja di rumah sebesar ini." timpalnya lagi.
"Iya bu, saya tahu. setelah perban di kaki saya di buka, saya akan turun ke bawah membantu bi Atun. saya menuruti kemauan mas Sandy bukan karena saya ingin di istimewakan di rumah ini. saya hanya tak ingin melihat kalian selalu berdebat karena saya." aku tertunduk ragu.
"Percaya diri sekali kamu! tapi, Baguslah kalau kamu tahu apa yang harus kamu lakukan setelah kakimu sembuh." Bu Ayu kemudian keluar meninggalkan kamarku begitu saja.
Ku tatap kepergiannya sembari menatap kalut perban yang masih melilit dikakiku. Kenapa aku harus terluka seperti ini? seandainya aku bisa lebih berhati-hati. tentulah bu Ayu tak akan berpikir macam-macam terhadapku.
TOK..
TOK...
Aku mendongak cepat ke arah pintu.
"Selamat pagi," sapa dokter Hasan begitu lembut.
"Dokter," sahutku kaget.
Wajah dokter Hasan berubah cemas saat aku menjawab seruannya. dia pasti berpapasan dengan Bu Ayu barusan.
"Apa Ayu baru saja dari kamarmu?" selidiknya.
__ADS_1
Aku tersenyum simpul.
• • • • •