
Aku berdiri didepan pintu kedai setelah sebelumnya aku memutuskan untuk kembali memgambil barangku yang tertinggal didalam.
Aku membuka pintu yang terkunci itu dengan hati-hati. nyaliku langsung ciut saat melihat ruangan yang sepi dan sedikit temaram dibagian dapur.
Seharusnya tadi aku meminta tolong pada security saja untuk mengambilnya. Aku melangkah pelan memberanikan diri masuk dan berjalan menuju meja kasir.
"Itu dia," Aku menunjuk Kantong plastik yang tertinggal itu.
"Sayang banget kalo di ambil besok." gumamku mencium aroma segar dari buah-buahan itu.
Aku melangkah maju menuju pintu keluar. namun sebuah bayangan muncul dari arah luar yang seketika itu juga membuatku kaget.
"Awwhh!" jeritku panik.
BRUG!
Kantong plastik yang ku pegang terjatuh ke lantai. Aku melotot tajam menatap Pria menyebalkan itu yang tiba-tiba berdiri didepan pintu.
"Pak Ivan," Aku melengos lemas.
"Kamu ngapain? jam segini baru pulang?" selidiknya sembari mendekat dan memgambil kantong plastikku yang terjatuh. matanya menatap tajam pada diriku.
"Tadi, ada yang ketinggalan. jadi saya balik lagi. pak Ivan ngapain balik lagi kesini?" selorohku.
"Ini kedai saya. terserah saya mau datang kapanpun. kamu yakin, kamu cuma ketinggalan barang?!" sindirnya seakan menganggap bahwa aku ini mencuri sesuatu dari dalam kedai.
"Pak Ivan bisa geledah! kalau memang bapak berfikir saya mengambil sesuatu dari dalam kedai?" aku membuka kedua lenganku mempersilahkan.
Dan bodohnya aku yang baru menyadari jika sikapku itu malah membuatnya tertentang.
"Baiklah! saya coba periksa!" Pak Ivan mendekat seakan hendak meraba saku jaketku. Sontak aku mundur dan menyilangkan kedua tanganku didepan dada.
"Kenapa?!" tanyanya sinis
"Pak Ivan Jangan macam-macam!" desisku garang.
Pemuda itu tersenyum remeh padaku.
"Yang minta diperiksa kan kamu! kenapa jadi saya yang salah? Kamu pikir saya tertarik?" tukasnya.
__ADS_1
Aku menatap tajam dirinya, dia tak beda jauh dengan mas Sandy sama-sama menyebalkan. batinku.
"Saya gak ngambil apapun! saya bersumpah!" Aku mengeluarkan isi saku jaketku yang hanya sebuah Earphone.
"Oke baiklah, lagipula saya tak keberatan jika kamu mengambil sesuatu dari kedai saya!" selanya yakin.
"Maaf pak! tapi saya bukan orang seperti itu." sergahku kemudian berjalan hendak meninggalkannya.
"Hey,..tunggu!" Pak Ivan menarik lenganku cepat.
Aku menoleh heran. ku tatap tangannya yang mencengkram kuat lenganku.
"Lepas!" desisku tak suka.
"Oke." Tukasnya seraya melepaskan tanganku. "Saya cuma mau tanya satu hal sama kamu? Ada hubungan apa antara kamu dengan Sandy?!" imbuhnya lagi.
"Itu bukan urusan bapak!" Aku berpaling menghindari tatapannya.
"Ayolah! jangan bikin saya penasaran? saya tahu kalian pasti memiliki hubungan dekat?" Tukasnya yakin.
"Kenapa? apa pak Ivan merasa terganggu? saya rasa,kita punya jalan hidup masing-masing pak! bapak Gak perlu repot-repot ngurusin hidup saya!" sulutku kesal.
Pak Ivan lagi-lagi hanya tersenyum tipis.
"Bahkan tantenya saja akan melarang kamu untuk mendekatinya. dan saya rasa hubungan kalian Gak akan berhasil!" gumamnya seakan menekanku.
"Pak Ivan sepertinya tahu banyak soal Bu Ayu? apa kalian juga ada hubungan spesial?!" Aku balik menekannya.
Pemuda itu menatapku tajam. dia pasti tak akan menyangka jika aku akan bicara demikian. aku meyakini bahwa hanya akulah yang tahu soal hubungan gelapnya dengan bu Ayu.
"Kamu Gak usah membodohi saya!' tuturnya dengan ekspresi setenang mungkin.
"Hati-hati pak. tidak semua hubungan gelap akan berhasil." Aku tersenyum enteng. Lalu berjalan menuju pintu.
Pak Ivan berlari kecil untuk menjegal langkahku. dia menyilangkan sebelah tangannya didepan pintu. tatapannya penuh kekesalan.
"Apa maksud ucapan kamu barusan?!" desaknya
"Jangan halangi saya! saya mau pulang!" Tukasku ketus.
__ADS_1
"Jawab saya Alis! Apa yang kamu tahu soal hubungan saya dan Ayu?"
"Saya hanya menebak!" jawabku singkat. Dan entah kenapa, pak Ivan seakan marah dan menarik tubuhku ke sisi pintu. dia menekan tubuhku hingga aku sulit bergerak.
"Kamu mau main-main dengan saya!" desisnya kesal.
"Lepas!" erangku mulai panik.
"Ayo teriak! semakin kamu bersuara. semakin kuat saya menahanmu!" ancamnya.
Aku menatapnya tajam. Ku hentakan kakiku dengan kuat untuk menginjak kakinya.
Seketika Pak Ivan mengerang memegangi sebelah kakinya. Itu cukup untuk membuatku meloloskan diri dari manusia gila sepertinya. Aku kabur dari dalam kedai dan berlari ke jalanan.
Suara petir bergemuruh dan hujan mulai turun rintik-rintik. tak ada yang dipikirkan selain ingin segera sampai di rumah. Aku berlari mencari halte yang lebih jauh dari kedai. aku tak ingin pak Ivan mengejarku lagi.
Ku lihat sebuah Halte yang kosong. segera aku duduk dan bersembunyi. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Hanya ada kendaraan pribadi yang melintas. tak ada satupun angkutan umum yang lewat. Aku mulai didera rasa khawatir. ini sudah hampir malam. dan aku masih disini. Aku tak bisa menerobos hujan yang semakin deras mengguyur jalanan.
Ku ingat kembali bagaimana wajah Pak Ivan saat menarik tubuhku. dia pria Gila. aku benar-benar ketakutan, takut jika dia akan mengejarku. aku menoleh ke arah belakang. berharap sosok itu tak jadi mengejarku. Aku meringkuk menahan diri agar tak menangis.
Ternyata begini rasanya hidup sendirian
bahkan saat ketakutan pun, aku tak punya siapa-siapa untuk berlindung.
Bisakah ayah dan ibu melihatku surga sana?
"Aku sedang ketakutan bu," gumamku kalut. dan bulir airmata lah yang akhirnya menjadi temanku satu-satunya
Angin semakin kencang bertiup. padahal waktu masih menunjukkan pukul 6 petang. tapi langit begitu gelap dan menakutkan. tak ada satupun kendaraan sekarang. sepi dan sunyi, hanya suara petir yang menggelegar terdengar membelah langit.
"Andi," Desahku lirih. Semakin aku mengingatnya, semakin deras pula airmata yang keluar. Aku harus jadi wanita tegar, aku harus jadi wanita kuat? kenapa aku malah menangis? kenapa aku malah disini? Aku mengeratkan kepalan tangannku. ternyata aku tak mampu. ternyata aku lemah. ternyata aku tak bisa setegar yang aku mau.
Tiba-tiba Sebuah Mantel hangat menyelimuti tubuhku. Aku terperanjat kaget.
Perlahan Aku menengadah takut,Ku tatap semu wajahnya di tengah kegelapan.
"Akhirnya saya menemukan kamu teh. saya sangat khawatir!" teriaknya ditengah gemuruhnya suara hujan.
Aku terisak,sedih bercampur lega.
__ADS_1
Dan tanpa ku sadari Aku menyeruak ke dalam pelukannya. menangis sejadi-jadinya. dan dia hanya mengusap lembut pundakku berkali-kali tanpa berucap sedikitpun.
• • • • •