
Aku kembali ke rumah dengan wajah lesu dan juga pikiran berantakan.
Memikirkan kisah cintaku yang entah akan berakhir seperti apa dengan vina. juga memikirkan perempuan itu, bagaimana kondisinya sekarang. padahal aku baru saja meninggalkannya di rumah sakit. tapi hatiku sudah merasa gelisah sekarang.
"Baru pulang kamu?" suara Tante Ayu mengagetkanku.
Aku melirik tanpa berniat untuk menjawab pertanyaannya. Malas jika harus meladeninya malam ini.
Aku berjalan pelan menuju lemari es, mengambil beberapa kaleng bir.
"Coba kurangi kebiasaan burukku itu san," gumamnya dengan suara pelan.
"Tante gak perlu ngatur saya!" sahutku dingin. sambil melangkah menuju anak tangga.
"Soal Manager kantor, tante akan merekomendasikan seseorang! Nanti tante pertemukan kalian." jelasnya terdengar ragu. dia tahu aku tak akan mudah setuju begitu saja dengan calon manapun yang dia bawa ke Perusahaan.
Aku sama sekali tak ingin membahas masalah pekerjaan dengannya sekarang. dan memilih masuk ke kamarku, melewati tengah malam ini dengan minum beberapa kaleng bir.
Aku terbaring di Sofa, kaleng terakhir yang ku minum sudah ku buang ke lantai. mataku terpejam, namun kepalaku malah berdenyut nyeri. sekilas ingatanku menerawang jauh pada sosok perempuan itu. melihat kembali bagaimana dia menangis tersedu-sedu.
Ingin sekali aku memeluknya saat itu juga. segila itukah perasaanku? bahkan pada wanita yang belum jelas ku kenal asal usulnya. lalu bagaimana dengan Vina? tidakkah aku merindukannya sekarang?
"Huuufth!" Aku menepuk keningku kalut.
Sepertinya aku akan menjadi gila jika memikirkan kedua masalah itu sekarang
•••
Seberkas cahaya yang menerobos tanpa permisi melewati tirai jendela kamar, memaksaku untuk segera bangun.
Aku menghela nafas lesu. aku masih mengantuk. tapi pekerjaan dikantor tak bisa menungguku bermalas-malasan ditempat tidur. dengan rasa malas, ku paksaan tubuhku untuk bangkit dan beranjak menuju kamar mandi.
Selesai berpakaian, aku turun menuju meja makan. beruntunglah Tante Ayu tak ada disana. jadi aku bisa sarapan dengan tenang.
"Kopi nya mas," Bi Marni menyuguhkan secangkir kopi dan juga sarapan pagiku.
Wanita ini, satu-satunya wanita yang ku percaya setelah dokter Hasan. Selain piawai mengurus rumah, dia juga pandai menjaga segala macam bentuk rahasia di rumah ini. semua pertengkaranku dengan tante ayu. semua kelakuan burukku selama di rumah tak pernah dia ceritakan ke luar. dan itu yang membuatku sangat mempercayainya.
__ADS_1
Sejak kecil, bi Marni yang menemaniku. saat dia sakit pun dia tak pernah absen untuk melayaniku. pengabdiannya kepada keluarga besar Hadiwijaya sudah sangat di akui. bahkan kedua orangtuaku hanya mempercayakan semua urusan rumah padanya.
Termasuk mengurus semua pekerja yang keluar masuk dirumah ini.
"Kemana dia?" tanyaku sembari melirik kursi yang biasa diduduki tante Ayu.
"Tadi pagi sekali,ibu sudah berangkat mas." jawab bi Marni.
"Akhir-akhir ini saya lihat, ibu jarang di rumah mas. kalian ribut lagi?" bi Marni menatapku penuh tanya.
"Bibi kaya Gak tahu aja Gimana kami, kalau udah duduk satu meja." tuturku sembari menyeruput kopi.
"Mas Sandy jangan terlalu keras sama ibu, Kasian loh mas." Wanita paruh baya itu sering sekali menasehatiku tentang sikapku yang dinilainya kurang baik pada tante Ayu. tapi sayangnya, aku sudah terlanjur kecewa atas sikapnya pada mama dahulu.
"Bi, tolong ambilkan tas kerja saya di kamar!" pintaku tanpa menggubris Nasehatnya.
Selesai sarapan pagi, aku bergegas menuju kantor. pagi ini aku ada meeting dengan para staf kantor pukul 9.
Terkadang, semua urusan dan masalah pribadi kita bisa teralihkan karena adanya kesibukan. jika tadi malam, aku bisa melamun hingga menangis memikirkan tentang kisah cintaku. maka pagi ini semua harus aku lupakan, demi menjaga kewarasanku saat berada di tempat kerja.
"Jangan bodoh" aku berdecih geli memikirkan tindakan yang seharusnya ku lakukan untuk membujuk Vina.
Memang tak mudah untuk melupakan kebersamaan kami selama beberapa tahun ke belakang. jika di pikir-pikir aku bisa saja mendapatkan seribu Vina diluar sana. tapi bukan itu intinya.
Rasa nyaman yang aku dapatkan saat bersamanya, membuatku takut akan kehilangan hal itu jika aku menjalin hubungan dengan wanita lain. tapi rasa sakit karena penghianatannya pula lah yang mendorongku untuk bersikap tegar dan bersiap menerima kenyataan sepahit apapun.
Setibanya di kantor, aku segera masuk ke ruang rapat. beberapa staf tampak menatap aneh padaku. tidak seperti biasanya.
"Selamat pagi. ada apa ini? kenapa wajah kalian tegang semua." aku tersenyum heran.
Nita mendekat padaku,
"Sepertinya bapak, belum baca berita hari ini." Nita menyodorkan sebuah koran baru terbitan pagi ini.
Ku lirik pelan headline yang tampak jelas berada di urutan paling depan itu.
"TRUK PENGANGKUT BARANG PRODUKSI MILIK PT. ASTRA H.W. TERGULING DISIMPANG JALAN.
__ADS_1
PERUSAHAN RUGI BESAR!"
"Kecelakaan?" aku bergumam tak paham. tapi sepertinya aku mulai menyadari satu hal. saat ku Telisik lebih jelas gambar yang tertera di koran itu.
"Iya pak, semalam saat hujan deras. mobil truk pengangkut barang produksi kita menabrak pengendara motor. kabarnya pengendara motor tersebut dan juga supir kita tewas di tempat." jelas Nita
Aku terhenyak. jadi kecelakaan semalam itu terjadi karena mobil perusahaan yang menabrak pria malang itu. pria yang di tangisi oleh Alis. batinku.
"Meeting, kita tunda. saya harus ke pabrik sekarang!" pamitku pada semua staf kantor.
Aku bergegas memacu kendaraanku menuju pabrik. aku ingin mengetahui kejelasan dari semua peristiwa yang terjadi semalam. perasaanku menjadi semakin tak tenang saat aku tahu ternyata mobil kami lah yang menabrak pria itu. rasa bersalah tiba-tiba saja mendera batinku. Aku sudah membuatnya menangis dan menderita. bagaimana jika pria itu adalah orang yang sangat penting baginya. Aku terus saja meremas kemudiku resah.
•••
Setibanya dipabrik aku langsung menemui pak Ilham di kantornya. belum sempat aku mengetuk pintu,ternyata tante Ayu sudah lebih dulu ada disana.
"Jangan beri pernyataan yang menyudutkan pihak kita. Perusahaan sudah rugi besar. saya tak mau jika harus memberi santunan atau ganti rugi." jelasnya pada pak Ilham yang nampak tak setuju dengan perintah tanteku itu.
"Pak Ilham tak perlu menuruti apa kata tante saya." aku masuk tanpa mengetuk pintu dahulu, sehingga membuat keduanya terkejut.
"Pak Sandy," pak Ilham bangkit dari duduknya.
"Jika ada wartawan datang kemari, jelaskan saja kronologisnya secara detail. bilang pada mereka, kita juga akan bertanggung jawab sepenuhnya pada korban atas kecelakaan ini." tandasku.
"Sandy! kamu sadar apa yang kamu ucapkan? semua barang produksi kita hancur terguling, kamu tahu berapa besar kerugian perusahaan karena kecelakaan ini?" sergahnya.
"Apa menurut tante, mereka yang mati juga tak memiliki kerugian?" tanyaku sembari duduk di salah satu kursi.
"Apa maksud kamu?" selidiknya.
"Kerugian yang di alami perusahaan, tak sebanding dengan nyawa yang dipertaruhkan karena kecelakaan itu." aku menatapnya tajam. Membuat tante Ayu marah atas sikap keras kepalaku.
"Pak Sandy ada benarnya bu. kebetulan korban yang meninggal itu, adalah salah satu keluarga dari karyawan dipabrik ini. jika kita lalai akan tanggung jawab terhadap korban. saya takut, pihak keluarga akan menuntut pada perusahaan. dan pasti akan berbuntut panjang jika kita abaikan." imbuh pak Ilham hati-hati.
Tante Ayu terdiam cukup lama, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan pak Ilham tanpa permisi.
• • • • • •
__ADS_1