PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•120


__ADS_3

Aku duduk dengan wajah yang masih bersemu merah karena ulahnya tadi.


Mas Sandy membuka pintu mobil dan duduk disebelahku, sebelah tangannya memegang kemudi.


Dia menatapku lagi.


"Jalan mas! ini udah siang" desisku mulai merasa malu saat dia terus menerus menatapku.


Mas Sandy mengulum senyum. entah apa yang dia pikirkan tentangku. apa mungkin karena ciumanku tadi yang jujur saja Akupun tak mengerti mengapa bisa melakukan hal seliar itu barusan.


Ya Tuhan! Aku benar-benar malu jika mengingat bagaimana aku menciumnya hingga membuat bibirnya memerah tadi.


"Kalau kita terlambat, semuanya salah kamu teh." Ledeknya sekali lagi coba menggodaku dan tentu saja membuatku merasa ingin menghilang dari hadapannya sekarang juga.


"Lebih baik mas Sandy perhatian saja jalannya" protesku seraya memalingkan wajah menghindari kontak matanya.


"Kenapa harus malu? tadi itu,.. saya sangat suka" bisiknya.


"Mas sandiiii" Aku menoleh kasar padanya. pria itu hanya terkekeh penuh kemenangan setelah berhasil membuat wajahku bersemu merah.


"Ya baiklah. saya gak akan bahas itu lagi." mas Sandy melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai cukup ramai.


•••


"Kenapa kita berhenti disini mas?" tanyaku saat mas Sandy berhenti di halaman parkir sebuah salon kecantikan.


"Kita ganti pakaian kamu," tukasnya.


Aku menilik seluruh tubuhku. rasanya tak ada yang salah. dan pakaian yang ku pakai ini pantas-pantas saja. sopan dan rapi


"Tapi mas, kita udah terlambat. lagipula pakaian saya udah bener kok" selorohku saat dia membukakan pintu untukku


Mas Sandy menatapku lekat.


"Kamu pakai baju apapun akan terlihat cantik buat saya. bahkan saat memakai daster rumahan saja,saya tetap suka. tapi kita ini mau pergi ke kantor. dimana semua orang akan melihat kamu teh," jelasnya lembut.


Aku terdiam cukup lama, apa yang mas Sandy ucapkan ada benarnya juga. mana mungkin istri seorang pemilik perusahaan berpenampilan terlalu bersahaja seperti ini.


"Ayo!" ajaknya menengadahkan sebelah tangannya untuk menggandengku masuk ke dalam salon tersebut.


Dengan perasaan ragu, ku langkahkan kakiku masuk ke dalam tempat mewah itu. ini benar-benar salon yang sangat berbeda dari salon-salon yang pernah ku lihat. semua peralatan dan tempatnya sangat bersih dan nyaman. dua orang pelayan salon tampak menyambut kami dengan ramah.



"Wah, pak Sandy baru kelihatan lagi. kemana saja pak?" salah seorang wanita bertubuh sedikit gemuk keluar dari Ruangannya dan menyapa kami


"Kenalkan ini, Ema. pemilik salon ini. Ema, ini Alis istri saya!" tukas mas Sandy.


Ema menatapku sedikit lebih lama, bahkan tatapan matanya menyusuri hingga ke ujung kakiku. dan aku tahu apa yang ada dipikirannya.


"Hai, saya Ema." tukasnya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Halo bu, salam kenal" aku mengulurkan tanganku untuk berjabat.


"Pak Sandy sudah menikah? jadi benar soal gosip beberapa bulan lalu itu'" gumamnya menatap kaget mas Sandy.


Aku menoleh pada mas Sandy.


"Jangan terlalu banyak mendengar gosip. itu tak baik untuk kesehatan!" sindir mas Sandy yang kemudian menarik sebuah kursi untuk duduk.


Ema tersenyum simpul seraya menatap tak enak padaku.


"Jadi, Siapa yang mau saya tangani lebih dulu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Hari ini kami mau ke kantor. dan ini hari pertamanya, Jadi saya pikir kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?!"


"Hmm,baiklah. itu gampang!" Ema menarik lembut tanganku dan mempersilahkanku untuk duduk disalah satu kursi.


"Tolong kalian rapikan rambutnya. potong tipis saja!" perintah Ema pada dua karyawannya.


Dengan sabar ku biarkan dua orang itu mengobrak-abrik rambutku yang hanya ku ikat dengan pita biasa saja. entah apa yang akan mereka lakukan nantinya.


Sementara mas Sandy dan Ema tampak asyik mengobrol.


"Saya dengar pak Sandy kecelakaan, apa benar? lalu dimana yang terluka?" Ema menatap sekujur tubuh mas Sandy yang memang tak ada bekas luka.


Aku melihat gerak-geriknya dari pantulan cermin sekilas saja, karena mereka mengobrol tepat dibelakangku.


"Sebelah kaki dan tangan saya patah. sejujurnya saya berharap mati saja waktu itu. sayangnya,Tuhan masih ingin menguji saya." jelas mas Sandy.


Mendengar jawaban Ema aku pun tersenyum lega,ternyata dia sepemikiran denganku.


"Ya, kamu benat. hikmahnya adalah saya mendapatkan istri yang sangat baik hati dan penyabar." mas Sandy menatapku lewat pantulan cermin.


Ema pun ikut menatap ke arahku.


"Beruntung sekali kalau begitu. Apa dia teman sekampus pak Sandy? atau dia sekretaris pak Sandy di kantor? seperti cerita di film-film?" Ema setengah berbisik dengan wajah penasaran nya.


Aku termangu.


Pastilah akan ada banyak orang yang berbicara seperti Ema di luar sana. memandangku dengan sudut pandang yang berbeda. mempertanyakan asal usulku dengan detail. atau bahkan berprasangka buruk tentangku. dan aku harus siap untuk hal itu.


"Dia perawat pribadi saya!" jawab mas Sandy jujur.


"Ternyata memang seperti cerita Romansa." tukas Ema mengulum senyum.


"Apakah Seperti ini bu?" dua karyawan itu mengakhiri pekerjaan mereka dengan menyisir rapi rambutku.


"Ya, itu sudah cukup. sisanya biar saya yang kerjakan. kalian pergilah!" perintah Ema.


"Apa pak Sandy mau ikut ke ruang make up? " goda Ema.


"Saya disini saja." mas Sandy menatap sinis padanya. dan aku hanya tersenyum melihat sikapnya itu.

__ADS_1


Ema membawaku ke ruangan khusus untuk berias. terdapat beberapa gaun yang sengaja di gantung disana.


Juga sepatu-sepatu berhak tinggi yang ku taksir pasti harganya tidaklah murah.


"Wah.. warna gaunnya cantik sekali" tukasku seketika, saat melihat sebuah gaun berwarna Emas dengan detail mutiara disekeliling pinggangnya.


"Itu koleksi terbaru dari butik kami. harganya cukup mahal, saya rasa kamu bisa memintanya pada pak Sandy!" bisik Ema.


"Tidak perlu. saya jarang memakai gaun." tuturku seraya duduk di salah satu kursi yang sudah disiapkannya.


"Menjadi istri seorang pak Sandy, tentu kita harus banyak berubah. meski kita tak terbiasa, tapi lambat laun kita harus bisa membiasakan diri. itu namanya tidak egois." Nasihatnya dengan lembut.


Aku tersenyum tipis.


"Diluar sana banyak wanita yang ingin berada di posisimu sekarang. maka dari itu, kamu harus bisa menjadi benteng untuknya. Tapi jika kamu sesederhana ini, tanpa berniat merubah diri. saya rasa benteng itu akan mudah rubuh." sambungnya lagi.


Kali ini aku benar-benar tertampar dengan kalimatnya. meski terdengar menyakitkan tapi itu benar adanya. aku sendiri merasa, bahwa banyak wanita diluar sana yang lebih baik dariku.


"Ibu benar. saya juga merasa, bahwa saya belum pantas untuk bersanding dengan mas Sandy." jawabku jujur.


"Tak apa. semuanya perlu proses. saya yakin kamu orang yang kuat,buktinya kamu bisa meluluhkan hati seorang Sandy Hadiwijaya. dan saya yakin,kamu pun sudah tahu akan resikonya?!" Ema menatapku dalam seraya membubuhkan bedak dipipiku.


"Tapi terkadang saya tak yakin," aku menatap gamang pantulan wajahku dicermin.


Ema hanya tersenyum seraya merias wajahku dengan penuh kehati-hatian.


"Yakin atau tidak. yang jelas kamu harus melaluinya terlebih dahulu. Kamu baru akan tahu sekuat apa kamu mempertahankan hubungan kalian."


Kami mengobrol cukup dalam.


Sebenarnya aku tak tahu siapa wanita ini, kenapa dia begitu peduli padaku dengan memberi nasihat tentang hubunganku dan mas Sandy. tapi aku sangat bersyukur, setidaknya masih ada orang yang peduli padaku tanpa merendahkanku.


Setelah setengah jam lamanya aku merias wajah dan mengganti pakaianku. akhirnya selesai juga, ternyata menjadi cantik itu benar-benar melelahkan. bahkan leherku terasa pegal sekali sekarang.


"Lihatlah! kamu sangat cantik. Pak sandy memang pandai memilih wanita" bisiknya, membuatku tersipu malu.


Aku menatap pantulan wajahku di cermin. bahkan aku sendiri tak menyangka penampilanku akan sangat berubah seperti ini.


Aku dan Ema keluar dari ruangan Make Up. ku lihat mas Sandy begitu fokus dengan ponselnya. mungkin beberapa pekerjaan sudah menunggunya di kantor.


"Bagaimana? apa pak Sandy suka dengan penampilan barunya?" Tukas Ema.


Dengan cepat mas Sandy mendongak menatapku yang masih tertunduk malu karena tak percaya diri dengan penampilanku ini.


Mas Sandy menatapku cukup lama dan anehnya dia tak berucap sama sekali.


Apa dia tak menyukai penampilanku?



• • • • •

__ADS_1


__ADS_2