
•••
"Apa perlu saya carikan obat?" Nita menatapku cemas.
"Gak usah. saya udah baikan kok!" sergahku segera.
Aku melemparkan pandangan pada sekeliling,dan tampaknya semua orang tengah serius berbincang soal bisnis.
Setelah makan malam dan menikmati hidangan penutup tadi. mereka Asik membahas seputar usaha sambil mendengarkan alunan musik klasik.
Hal yang tentu saja sangat kontras dengan kehidupanku,dan itulah yang membuatku tak nyaman.
Sekilas Aku menangkap wajah pria mesum itu, dia tampak sangat serius berbincang dengan rekannya.
"Nita, sebetulnya siapa pak Broto itu?" bisikku pelan.
"Dia itu salah satu dewan pers yang sangat Bebal, banyak berita yang dibuatnya selalu menimbulkan kontroversi. dia juga menyukai berita-berita Skandal. Sejujurnya tak banyak orang yang menyukainya apalagi para pebisnis. Hanya saja pak Sandy mengundangnya mungkin sekedar untuk mempermalukannya di depan umum juga media yang meliput. saya rasa seperti itu!" jelas Nita.
"Benar-benar Pria tua yang menjijikkan!" desisku.
"Kenapa memangnya bu?' Nita menatapku penasaran.
"Oh. enggak kok! saya sarankan, sebaiknya kamu hati-hati padanya" bisikku memberi saran.
"Baiklah. terima kasih bu!" sahut Nita polos.
"Alissss!" Desis sebuah suara dari arah belakang.
Aku dan Nita menoleh pelan.
"Rahma, Sinta? kenapa kalian baru datang?" sahutku kaget sekaligus senang. akhirnya aku bisa menemukan dua orang teman diantara kumpulan orang asing ini.
"Ya ampun, Alis? kamu.. Cantik banget!" sanjung Rahma yang tak henti-hentinya menatapku takjub.
"Jangan berlebihan!" desisku malu.
"Ayolah! semua orang bisa melihat kamu sangat menawan malam ini. iya kan Sinta?" Rahma menyikut gadis itu kasar.
"Hm, sangat cantik!" pujinya enteng. namun mata gadis itu tampak fokus mencari sesuatu.
"Kenapa kalian terlambat sih?" protesku.
"Jalanan sangat macet! kami hampir aja nyerah!" keluh Rahma.
"Jalan menuju hotel ini memang selalu ramai setiap malam." jelas Nita
"Oh iya, Acara apalagi selanjutnya?" Rahma menatap Nita penasaran.
"Sepertinya Pak Sandy ingin mengajak para rekan bisnis untuk bersantai dengan menonton Film!" sahutnya.
"Hah? nonton film?" pekik ku heran.
Kenapa mas Sandy tidak langsung pulang saja setelah makan malam, dan malah ingin menonton Film.
"Wahhh! ini pasti bakalan seru!" sahut Sinta antusias.
"Kalian udah makan malam?" tanyaku cemas.
"Udah dong, kita tahu bakal telat. Jadi kita makan Bakso dipinggir jalan tadi." jelas Rahma yang seketika membuatku tergiur.
__ADS_1
"Bakso ya.. pasti sangat enak!" desahku lemas.
"Jangan bercanda! makanan disini tentu lebih enak?" goda Rahma.
"Tentu saja enak. tapi porsinya terlalu pelit!" bisikku sedih.
Rahma terkekeh dengan tingkahku, dia tentu tahu bagaimana biasanya aku makan. aku bisa menghabiskan dua porsi Bakso jika tengah kelaparan.
"Sabar! nanti, aku traktir Bakso. Okay?" sahutnya.
"Heh! dari tadi diem aja?" celetuk Rahma yang sadar jika temannya itu tak bersuara sejak tadi.
"Kamu pasti lagi nyari pak Ivan kan?" terka Nita terkekeh.
"Enggak kok." Ralatnya kemudian beralih menatap kami.
"Sejak tadi dia bingung, mau memakai baju seperti apa. ternyata itu sebabnya" Rahma melayangkan pandangan pada pak Ivan yang berdiri jauh di pojok ruangan.
"Kamu punya saingan berat. Pak Ivan kan selalu sama bu Ayu!" goda Nita.
"Bener banget. Sinta mana berani melawan Bu Ayu," Rahma mengulum senyum.
"Sehebat apapun, bu Ayu tetaplah wanita tua. gak bisa dibandingkan sama aku yang jelas-jelas masih gadis" Sinta mengibas rambut Curly-nya.
"Wah! kamu memang terbaik. selalu percaya diri. saya suka itu," sanjung Nita.
"Semangat!" seru Rahma memberi dukungan. Kami berempat akhirnya bisa mengobrol dengan nyaman dan menemukan obrolan kami yang menyenangkan.
Tengah Asik membahas makanan, tiba-tiba mas Sandy mendekat dan merangkul pinggangku pelan. hal yang belum terbiasa bagiku, hingga aku merasa kaget tentu saja.
"Apa kalian sudah selesai mengobrol? kita pindah ke ruangan sebelah!" ajaknya begitu mesra.
"Oh, sepertinya film nya sudah akan di mulai. Silahkan bu!" tukas Nita.
"Kita mau nonton film apa mas?" tanyaku penasaran.
Tentu saja aku begitu ingin tahu film seperti apa yang orang-orang ini sukai. apakah selera mereka soal film sama dengan kami. atau bahkan sangat jauh berbeda?
"Nanti kamu juga akan tahu," bisiknya manis.
Dua pelayan segera membuka pintu ruangan yang bertuliskan Theatre Room itu begitu kami datang.
"Selamat menikmati filmnya tuan!" sambut keduanya.
Ini benar-benar acara formal, bahkan untuk masuk ke teater saja mereka harus mempersilahkan kami terlebih dahulu. sungguh sangat berlebihan. pikirku.
Ruangan yang lumayan temaram karena hanya memilik cahaya dari pantulan proyektor, terlihat begitu luas. juga sangat sepi.
"Kemana penonton lainnya?" gumamku.
"Saya sudah Mereservasi tempat ini. jadi tak akan ada orang lain kecuali kita dan para relasi saya nantinya." jelas mas Sandy.
"Oh," gumamku sekilas.
"Apa kamu bosan?" tanyanya serius.
Aku menatap mas Sandy dan tersenyum.
"Kalau ada mas Sandy, mana bisa saya bosan mas!" godaku.
__ADS_1
"Silahkan bu,.. Iya, kursi bapak sebelah sini?"
Aku menoleh ke arah belakang. tampaknya Nita, Rahma dan juga Sinta tampak sibuk menyiapkan kursi untuk para pemilik saham agar mendapatkan tempat duduk dengan nyaman.
"Apa perlu saya memberi uang tip lebih pada mereka?" Tukas mas Sandy menatapku.
"Mereka pasti akan sangat senang, mendengarnya" gumamku santai.
"Ayo, duduklah! film nya akan segera dimulai!" pintanya.
Dan sialnya tempat dudukku sejajar dengan Pak Broto. beruntunglah dia terhalang satu kursi dari kami.
"Mas, Bisakah kita tukar tempat duduk. saya mau disitu?" pintaku menunjuk kursinya.
Mas Sandy menatapku heran,
"Baiklah," sahutnya tanpa rasa curiga.
"Terima kasih mas," Aku tersenyum lega. setidaknya sepanjang menonton film, aku tak akan ketakutan. batinku.
•••
-ONE LAST THING- (Steve Jobs)
Tulisan besar pada layar putih itu terlihat begitu jelas.
Ternyata ini adalah judul sebuah film dokumenter. Ya, tentu saja. mereka tak akan mungkin menonton film legendaris seperti Titanic, Romeo and Juliet atau sebagainya.
Taoi Mereka akan dengan senang hati menonton Film yang bertema seperti ini. Cerita tentang bagaimana jatuh bangunnya perjuangan seorang pebisnis hebat dalam membangun usahanya.
"Kamu tahu siapa steve Jobs?" bisik mas Sandy padaku.
"Pendiri perusahaan Apple 'kan?" Aku menerka ragu.
"Pintar!" Mas Sandy menyeringai senang.
Untuk tokoh-tokoh besar seperti mereka sudah pasti sangatlah terkenal. apalagi di kalangan pekerja keras sepertiku.
Meski menonton Film seperti ini sangat membosankan, aku mencoba menahan diri untuk tak acuh dan tetap fokus melihat bagaimana alur cerita itu berjalan.
Sesekali aku bertanya tentang apa yang tak ku pahami soal isi ceritanya.
"Kenapa tadi kamu lama sekali di toilet?" bisiknya tiba-tiba.
Aku terpaku.
Baru saja aku hendak melupakan kejadian menjijikan itu, juga soal pak Ivan...
"Saya sakit perut mas, mungkin karena makanannya terlalu enak." ujarku beralasan.
"Benarkah? apa disana kamu berpapasan dengan Ivan? apa kalian mengobrol? atau dia mengganggu kamu?!" selorohnya.
"Pak Ivan? -Saya gak liat mas, mungkin dia keluar toilet lebih dulu." Aku berkilah.
"Oh. saya pikir kamu bertemu dengannya!" desisnya pelan.
Aku menggigit bibirku kelu.
Maafkan saya mas, saya terpaksa berbohong lagi pada mas Sandy soal pak Ivan. tapi, jika saya menceritakan semuanya mas Sandy pasti akan sangat marah dan kesal. Aku bergumam lirih dalam hati.
__ADS_1
Sejujurnya aku merasa bersalah atas kebohonganku. tapi aku tak bisa berbuat banyak. ini semua aku lakukan untuk menjaga agar hubungan mas Sandy dan pak Ivan tak semakin memburuk.
• • • • • • •