PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•145


__ADS_3

Katanya kehidupan tanpa sebuah Rahasia adalah bohong.


Aku pernah mendengar kalimat itu, tapi entah dari siapa. yang jelas kini otakku selalu menerka-nerka akan rahasia yang disembunyikan oleh pak Broto.


Sore ini, aku tak melihat Bu Ayu kembali ke rumah. seperti biasa, dia pasti memilih menginap di hotel atau di kantor.


Kalau begini, bagaimana aku bisa memulai hubungan kami. Helaan nafasku yang terasa berat, membuat dadaku sedikit sesak.


Lagi-lagi aku memikirkan ucapan pak Broto tadi siang,"saya juga bisa menghancurkan karir suami kamu beserta seluruh perusahaannya. itu mudah bagi saya!"


Kalau pak Broto benar-benar ingin melakukannya,bukankah dia bisa melakukannya dari dulu?


Dan apa hubungannya kecelakaan Mas Rizal dulu dengan menghancurkan karir mas Sandy? apa sebenarnya yang ingin dia lakukan. otakku berpikir keras.


Aku mengusap wajahku kasar.


"Hmm,disini rupanya istriku bersembunyi" seloroh mas Sandy saat menemukan keberadaanku di balkon.


"Kenapa mas, mas Sandy perlu sesuatu?" sahutku menoleh pelan ke arahnya.


"Saya habis dari dapur. saya pikir kamu disana, ternyata malah Asik melamun disini." Mas Sandy menatapku lekat.


"Rasanya Semenjak pulang dari makan siang tadi, kamu jadi lebih banyak diam." sambungnya lagi


"Benarkah? mungkin hanya perasaan mas Sandy aja. saya gak apa-apa kok" sergahku cepat.


"Kamu yakin teh? apa Rahma dan Sinta Gak bicara macam-macam sama kamu? mereka pasti membicarakan saya dibelakang?" kedua mata mas Sandy menyipit penuh kecurigaan.


"Enggak lah mas. mereka mana berani"


"Terus kenapa kamu jadi aneh? kamu jadi diem dan gak banyak bicara. pasti ada hal yang sedang kamu pikirkan?"


Aku terpaku cukup lama. Sejujurnya aku tak pandai berbohong untuk hal semacam ini. Aku tak suka mendiamkan masalah, aku ingin bertanya banyak hal pada mas Sandy soal pak Broto.


Tapi...


Apakah mas Sandy akan bicara jujur? apakah dia tak akan menyembunyikan sesuatu dariku?


kemarin saja, dia memintaku untuk tenang dan tak perlu memikirkan soal perusahaan. padahal dia sendiri sedang kebingungan.


Sepertinya, aku memang harus menahan diri untuk tak bercerita banyak pada mas Sandy sementara waktu.


"Malah ngelamun!" mas Sandy mencubit hidungku.


"Mas, apa benar perusahaan asing yang mas Sandy bilang,punya seorang CEO cantik dan masih single?" tukasku tiba-tiba.


Mas Sandy menautkan kedua alisnya.


"Apa sejak tadi, kamu memikirkan hal itu?" tanyanya.


"Mas Sandy tinggal jawab aja?!" desakku.


"Sepertinya iya. kalau gak salah namanya Monica." jawabnya enteng.


"Oh," aku menyahuti jawabannya dengan nada sinis. bahkan mas Sandy mengingat dengan baik siapa namanya.


"Apa yang sudah Sinta dan Rahma katakan sama kamu tentang Monica?" selidiknya curiga.


"Pantas saja mereka tak ingin perusahaan bekerja sama dengan rekan bisnis mas Sandy yang baru itu." aku mengangguk-anggukkan kepalaku pelan


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Mereka bilang, takut Mas Sandy kepincut." desisku.


Mas Sandy menatapku lekat.


"Mereka atau kamu yang takut saya kepincut?" godanya.


Aku mengernyitkan dahiku


"Saya? takut? mas Sandy kan kerja, kenapa juga saya harus takut" sergahku


"Benarkah? kamu tak akan cemburu kalau saya bekerja sama dengan banyak wanita diluar sana?"


"Enggak lah mas, ngapain juga saya cemburu"


Mas Sandy mengulum senyum.


"Katanya cemburu itu tanda cinta." gumamnya seakan kecewa dengan jawabanku.


"Mas sandy gak perlu khawatir. meskipun saya bilang tak cemburu, bukan berarti saya gak cinta kan? lagipula saya yakin mas Sandy gak akan macam-macam dibelakang saya. diluar sana,sulit mencari istri yang pintar memasak sup iga kesukaan mas Sandy." aku terkekeh.


Mas Sandy menarik pelan tubuhku,lalu memelukku sangat erat hingga aku sulit bernafas.


"Awas aja kalo kamu tiba-tiba kabur dan meninggalkan saya teh!" dengusnya seraya mempererat pelukannya karena gemas.


"Aaaarrgh.. mas Sandy mau membunuh saya!" dengusku seraya meronta dan mencoba melepaskan diri darinya.


"Coba saja kalau bisaa!" ledeknya terkekeh, dia tahu persis bahwa aku tak akan mampu kabur dengan tubuh ku yang mungil ini.


Aku terdiam, lalu menengadah menatap sayu wajahnya.


"Mas," desahku lembut.


Yah, untuk menunjukkan ekspresi bahwa aku ingin dia segera menciumku sangatlah gampang. aku tinggal menatap bibirnya saja selama beberapa detik dan dia akan dengan sigap melakukannya.


"Ternyata semudah itu," aku terkekeh kecil. lalu berlari ke dalam kamar di ikuti oleh mas Sandy yang terdengar mengumpat sembari mengejarku.


Meskipun mas Sandy tak mengetahui masalah apa yang sebenarnya membuatku gelisah, bagiku asalkan saling percaya satu sama lain. hubungan kami akan tetap hangat seperti ini. bahkan hingga tua nanti.


•••


Menjelang malam hari aku mengajak Andi untuk turun dan makan malam. sementara mas Sandy sudah turun lebih dulu.


"Andi, ayo turun! kita makan malam" ajakku.


Andi yang tengah duduk termenung disisi jendela kamarnya menoleh pelan padaku.


"Kamu lagi ngapain?" aku mendekat. ikut melihat keluar jendela, suasana diluar lumayan gelap. lalu apa yang Andi lihat disana.


"Kamu ngeliatin apa sih?" tanyaku penasaran.


"Di luar sepi ya ma, Gak ada temen. Andi pengen main lagi kaya dulu. sama Reyhan, sama Teman-teman Andi yang lain. disini Andi bosen" keluhnya.


Ku usap lembut kedua pundaknya.


"Kan Andi punya banyak mainan, nak?"


Andi melemparkan pandangannya pada mainan yang tersusun rapi di sudut kamarnya.


"Mana bisa main bola sendiri ma, main game sendiri juga bosen" gumamnya.


Mendengar hal itu aku jadi tak enak hati. selama ini aku pikir Andi akan bahagia, bahkan dia pun menunjukkan rasa senangnya saat menerima semua mainan itu dari mas Sandy. tapi, mungkin karena Andi masih anak-anak sehingga dia mudah merasa bosan, lagipula bermain sendiri malah akan membuatnya menjadi sosok yang anti sosial.

__ADS_1


"Hmmm.. Gimana kalo sepulang sekolah besok, kita main ke rumah Reyhan?" ajakku.


Mendengar nama Reyhan, wajah Andi yang tadinya ketus berubah jadi antusias.


"Beneran ma? asyikkk!" Andi memeluk erat tubuhku.


"Ya udah, kalo gitu. kita makan dulu ya, om papa udah nungguin di bawah" bujukku.


Kami berdua turun dengan segera untuk menemui mas Sandy yang pasti sudah tak sabar menunggu.


"Selamat malam anak ganteng. wah, sepertinya Andi udah sembuh ya!" seloroh bi Atun yang melihat Andi begitu lincah dan ceria.


"Sembuh dong. kan mama mau ajak Andi ketemu sama Reyhan besok." celotehnya


"Serius? Pasti seru ya.." sahut bi Atun ikut bergembira.


Mas Sandy menatapku penuh tanya.


"Bicaranya nanti saja. sekarang Andi harus makan. oke!" perintah mas Sandy seraya menarik kursi agar Andi segera duduk.


"Selamat makan non, kalau perlu sesuatu panggil saja. bibi di dapur" pamitnya.


"Terima kasih bi," aku duduk di kursi yang tak jauh dari mas Sandy.


Kami menikmati makan malam bertiga seperti biasa, tanpa sosok Bu Ayu.


Aku melirik kursi makan yang Biasa bu Ayu duduki dengan sedikit khawatir, apalagi diluar terdengar suara hujan yang cukup deras.


"Kenapa?" tanya mas Sandy pelan.


"Bu Ayu belum pulang ya mas," gumamku lirih.


"Biarkan saja. paling sekarang, dia sedang bersenang-senang diluar sana." tukasnya enteng.


"Apa mas Gak merasa cemas? biar bagaimana pun,bu Ayu itu satu-satunya keluarga mas Sandy."


"Meskipun keluarga, kalau tidak cocok untuk apa di pertahankan" desisnya.


"Mas Sandy Jangan begitu."


"Kalau sudah bosan, dia juga akan kembali ke rumah dengan sendirinya. kamu tak perlu cemas teh."


Meskipun mas Sandy terlihat sangat tenang. tapi aku bisa melihat dengan jelas tatapan matanya yang menyimpan kekhawatiran. dia tak bisa berbohong soal itu.


"Oh iya, soal Andi. bolehkan setelah pulang sekolah kami izin pulang ke rumah lama? Andi ingin bertemu Reyhan. lagipula, saya sudah lama tak melihat bu Dewi." tukasku kemudian.


"Boleh. apa perlu saya antar?" tanyanya.


"Ga usah mas, saya naik kendaraan umum saja."


"Oke, besok saya pesankan taksi untuk kalian. jangan naik kendaraan umum! terlalu banyak orang jahat di luar sana, saya Gak mau kalian kenapa-napa" tegasnya.


"Terima kasih, om papa" sahut Andi dengan polosnya.


"Sama-sama sayang,"


Aku terharu mendengar jawabannya.


Diperhatikan sebaik ini oleh Orang yang kita cintai tentu adalah hal yang paling membahagiakan.


Mas Sandy membalas tatapanku dengan penuh kasih.

__ADS_1


"Kamu juga harus makan yang banyak." selorohnya.


• • • • • •


__ADS_2