PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•20


__ADS_3

Seharian di rumah membuatku memiliki banyak waktu untuk mengurus Andi dan juga merapikan rumahku yang jarang sekali ku perhatikan.


Andi nampak duduk tenang didepan TV setelah sebelumnya dia meminum obat. Sementara Aku asyik membersihkan perabotan dapur. tak banyak barang yang ku punya didapur ini,hanya beberapa alat masak sederhana pemberian ibu mertua ku.


Aku menatap salah satu Rantang nasi yang dulu sempat dia berikan,


"Rantang nasi ini baru ibu beli,kamu bawa untuk tempat makan suamimu jika dia pergi bekerja ya!"


Tapi Seingatku,sampai detik ini aku belum pernah menggunakannya untuk mengisi bekal suamiku bekerja. tentu saja karna dia tak pernah pergi bekerja. Bahkan dia tak pernah memintaku untuk menyiapkan bekal untuk nya,Karna dia tak suka makanan buatanku.


Aku mengepal tangan kuat, jika ku ingat semua perlakuannya padaku. Sungguh membuatku ingin merutuk jadinya.


Beruntunglah mertuaku tinggal ditempat yang jauh dari kota ini, sehingga tak tahu perbuatan anaknya. jika saja dia tahu bagaimana perangai putranya selama ini,pasti setiap saat penyakit jantungnya akan kambuh.


PRANK!


Aku tersentak saat gelas yang ku pegang jatuh ke lantai.


"Ya allah," Aku memekik kecil karna kaget. lalu aku berjongkok untuk memungut sisa pecahan gelasnya.


"Untung cuma gelasnya aja yang jatoh!" Aku bergumam sembari terfokus kearah lantai.


Tapi entah kenapa tiba-tiba saja ujung jari manisku terkena pecahan gelasnya, alhasil darah segar menyembul pelan dari bekas goresannya.


"Haduh,kok malah kena sih?" Aku mengernyit ngilu.


Segera ku bereskan sisa pecahan nya dan kembali membersihkan perabotan dapur yang sempat tertunda karna insiden kecil tadi.


"Ma, mama gak apa-apa?" teriak Andi dari arah ruang TV


"Mama,aman sayang. Cuma gelas pecah kok!" Sahutku segera agar tak membuatnya cemas.


•••


Setelah tugasku selesai Aku menemani Andi bermain,


"Andi bosen ma! masa mainnya di depan TV terus dari tadi?" protesnya


"Andi kan lagi sakit,jadi mainnya di dalam rumah dulu ya!" Bujukku.


"Tapi Andi udah baikkan kok ma,Nih badan Andi udah gak panas?!" Andi nampak memegang dahinya.


Aku tersenyum melihat tingkah nya yang menggemaskan. meskipun Andi sudah bersekolah di bangku kelas 4 SD. bagiku Andi tetaplah bayi kecilku yang mungil.


Tengah Asyik mengobrol ponsel ku lagi-lagi berdenting. tanda pesan singkat masuk. Ku pikir itu hanya pesan dari operator seluler maka ku abaikan saja.


"Memangnya Andi mau main kemana?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Andi Mau main ke pasar kaget ma,yang ada di lapang bola di dekat sekolah!" jelasnya antusias.


Memanglah beberapa hari ini sedang ada Pasar kaget yang biasa sering berkunjung ke setiap desa selama 2 minggu full,ada banyak wahana permainan anak-anak disana. serta berbagai macam penjual makanan dan juga produk-produk lain layaknya pasar sungguhan.


Aku menoleh pelan menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore.


"Ya udah,abis mama shalat Ashar kita pergi yah!" tukasku.


"Asyikkk, Andi mau ke pasar kaget!" sahutnya antusias.


Melihatnya begitu senang membuatku melupakan sekelumit kegelisahan dalam hatiku.


Aku bergegas menuju tempat tidur untuk mengambil handuk,sesaat ku lirik ponselku. karna penasaran ku intip sebentar.


"Ya allah, banyak banget pesan masuk!"


Ku tatap bingung isi pesan yang ternyata semua berasal dari satu orang yaitu 'Pasien besar' ku.


-07.15 WIB


#Teh,saya juga masih belum sembuh? kenapa malah libur kerja?"


-11.00 WIB


#Kata Bi Marni anaknya teh Alis sakit? sakit apa teh? kenapa anak nya gak dibawa kesini saja! biar teh alis juga bisa fokus urusin kerjaan disini?!"


#Teh Alis, Sengaja gak bales pesan saya?"


-14.04 WIB


#Kalo teh Alis sibuk gak apa-apa. tapi kalau udah senggang,tolong balas!!!"


Aku mengernyit bingung. Empat pesan masuk dengan jeda waktu hampir sekitar satu jam,juga beberapa kali missed call darinya. tumben sekali mas Sandy 'seheboh' ini padahal jika sedang bertatap muka langsung dia begitu cuek, mana pernah dia sebegitu penasaran dan bawelnya tentang diriku.


Apa karna dia takut Aku meninggalkan nya disaat kondisinya belum pulih betul? itu artinya semua ini hanya sekedar 'sikap manisnya' saja untuk mempertahankan kehadiranku sebagai perawatnya.


#Iya mas maaf! anak saya lagi sakit, besok saya udah masuk kerja kok. mas Sandy tenang aja!"


jawabku akhirnya membalas rentetan pesan panjang darinya itu.


Segera ku tinggalkan ponselku di meja rias lalu beranjak menuju kamar mandi.


•••


Pukul 4 sore Aku dan Andi turut serta mengajak Reyhan dan bu Dewi yang kebetulan juga mau membeli sesuatu.


"Untung ada kamu Lis,Ibu jadi gak sendirian kesini!" tukas bu Dewi antusias.

__ADS_1


"Memang nya Pak yanto belum pulang kerja bu?" tanyaku


"Belum Lis, hari ini ada lembur!" jawabnya nampak kecewa.


"Ma, Andi boleh naik itu ya?" Andi menarik lenganku dan menunjuk kearah timur,tempat dimana komedi putar berada.


"Ya udah,naik sama Reyhan ya?" perintaku sembari menatap Reyhan. namun sejurus kemudian bu Dewi menarik putranya itu.


"Aduh, Reyhan jangan macem-macem ya! ibu gak bawa uang lebih!" larangnya.


"Bu Dewi tenang aja, saya kebetulan pegang uang. biar saya yang bayar! anggap aja sebagai pemberian saya untuk Reyhan karna selama ini mau menamani Andi dirumah!" jelasku.


"kamu yakin Lis? jangan ah! kasian, kamu kerja capek!" Bu Dewi menatapku tak tega. aku tersenyum yakin.


"Serius bu, anggap aja ini sebagai ucapan terima kasih saya sama Reyhan!" Pintaku tulus.


"Boleh ya bu?" Reyhan menatap penuh harap pada sang ibu.


"Ya udah sana main, makasih ya Lis!" Bu Dewi akhirnya membiarkan putranya itu menaiki komedi putar dengan Andi.


Kami berdua lalu mencari tempat duduk sembari memperhatikan mereka berdua yang tengah asyik bermain.


"Oh iya Lis,ngomong-ngomong Gimana kerjaan kamu? lancar kan?" tanya Bu Dewi serius.


"Lancar kok bu,Alhamdulilah."


"Emangnya pasien kamu itu udah gak ngamuk-ngamuk lagi? dia udah sembuh?" sorot mata bu Dewi tampak sangat penasaran.


"Namanya Mas Sandy bu. Beliau baik kok bu. sekarang malah baik banget sama saya!"


Kali ini bu Dewi tampak menatap curiga, ekspresinya sangat mudah sekali berubah.


"Baik Gimana maksudnya?" Selorohnya.


Aku balik menatapnya heran,jawaban apalagi yang bu Dewi harapkan dengan bertanya begitu. jelas-jelas mas Sandy baik. kenapa bertanya 'Baik yang bagaimana? Memangnya ada baik yang lain? pikirku.


"Ya baik bu, Gak pernah marah atau minta yang aneh-aneh. soal makan pun dia tidak rewel." jawabku sedikit berbohong karna melihat gelagat bu Dewi yang membuatku tak nyaman jika ku ceritakan kebenaran nya.


"Oh syukurlah,semoga kamu betah ya Lis kerja disana!" Sahutnya kemudian.


"Iya bu, tapi seharusnya kontrak kerja saya habis bulan ini. kalau bu Ayu memperbaharui lagi,mungkin saya bisa bekerja lebih lama disana." jelasku.


"Oh iya,selama ini kan bu Ayu yang mengurus semua peraturan pegawai di rumah. eh, tapi bu Ayu baik juga kan sama kamu Lis?" selidiknya lagi kali ini tampak khawatir.


"Baik kok bu, bi Marni juga baik banget. terima kasih dulu bu Dewi kasih tahu ke saya soal kerjaan itu."


"Sama-sama Lis. Ibu juga seneng bisa bantu kamu nyari kerjaan yang pas. soalnya kamu tahu sendiri selama kamu kerja di pabrik, Andi sering nangis karna di tinggal kerja lembur." jelasnya membuka kembali cerita lama kami. seperti sebuah dongeng yang tak lekang oleh waktu. Kisah kami pun di ulang kembali lewat penuturan bu Dewi.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2