PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•178


__ADS_3

"Akhirnya ketemu juga!" Nita menghela nafas dalam. sepertinya dia mencariku sejak tadi.


"Ya udah, mending kamu temui dulu pak bos. soal Vina biar kita yang urus!" tukas Rahma.


Aku kembali ke ruanganku. ku lihat mas Sandy yang tampak bingung segera berlari ke arahku


"Kamu gak apa-apa kan? kamu marah?"selidiknya dengan wajah cemas.


"Saya gak marah kok mas. saya cuma capek aja." sahutku dingin.


Mas Sandy mendekapku erat.


"Saya minta maaf! tak seharusnya saya bertengkar seperti tadi didepan kamu." sesalnya.


"Mas Sandy jangan begitu lagi. semakin mas Sandy melawan. maka bu Ayu akan semakin membenci saya." desahku


"Oke. saya minta maaf." tukasnya lagi.


Dekapannya begitu erat, jelas terasa jika dia sangat takut aku terluka karena ucapan tantenya itu.


Menjelang sesi pemotretan, aku ditemani Nita akhirnya menemui Vina yang tampak sibuk mematap rambutnya bersama beberapa orang staf yang dibawanya.


"Halo, selamat pagi!" Tukas Nita.


Vina menoleh dan tersenyum pada kami. dia mengulurkan tangannya lebih dulu.


"Halo alis, apa kabar? kita ketemu lagi" selorohnya santai.


"Kabar baik." jawabku singkat.


"Bagaimana? apa semuanya sudah siap?" tanya Antonio.


"Sebentar lagi pak!" seorang staf dengan sigap merapikan gaun serta rambutnya.


"Kalau begitu, saya permisi sebentar! kita harus melihat lokasinya dulu!" pamitku yang segera menuju tempat pengambilan gambar.


Bertemu dalam kondisi sibuk tentu bukan waktu yang tepat. bahkan bertegur sapa pun hanya seperlunya saja. aku bisa memaklumi hal itu, karena Vina juga pasti memiliki kesibukan cukup padat, dan tak boleh membuang waktu.


Ku lihat beberapa karyawan membantu menyiapkan tempat. sebuah kursi dan meja dengan salah satu barang contoh produksi kami yang di simpan di atas meja.


"Apa menurut ibu,semuanya sudah bagus?!" bisik Nita.


"Mereka orang-orang ahli. kita percayakan saja semuanya." sahutku pelan.


Vina akhirnya datang dan segera berdiri di tempat yang sudah di siapkan. seorang fotografer tampak sibuk memberi arahan padanya. dan dengan cekatan Vina menunjukkan keahliannya di hadapan kami.


Aku bahkan begitu takjub melihat bagaimana proses pemotretannya. dia benar-benar wanita yang sangat cantik dan pintar.


"Oke bagus! yang ini sudah selesai. kita ganti pakaian dulu!" teriak Antonio.


Sesekali ku perintahkan Nita untuk merubah posisi barang-barang yang ada di atas meja. setidaknya barang itu harus terlihat jelas agar bisa menunjukan kwalitasnya.


Kali ini kami di buat sedikit terkejut karena Vina mengenakan pakaian dengan bahan Silk yang terbilang cukup seksi serta menunjukkan lekuk tubuh idealnya.


"Wah, jangan sampe di Billy atau Anwar liat nih!" decak Nita terperangah.

__ADS_1


"Beneran cantik," gumamku.


Vina berjalan cukup percaya diri lalu mengambil beberapa Pose menggoda. Barang produksi kami memanglah di gemari kaum laki-laki sehingga, memerlukan model yang tentu menarik perhatian mereka untuk melihatnya. dan memang Vina mampu melakukan hal itu. tak berapa lama Vina berhenti dan sedikit berbisik pada Antonio.


Sementara aku dan Nita tengah menyiapkan barang-barang lain yang baru datang.


"Buseett.. Cantik banget!" seru Rahma yang baru saja datang bersama billy.


"Nyebut Bil..! jangan sampe mata kamu kelilipan!" sindir Nita.


"Seksi sih. tapi aura cantiknya biasa aja. lebih cantik ibu bos!" celetuknya.


"Ehhh, dasar penjilat." ledek Rahma menyikutnya.


"Aku serius ya! cantiknya bu Bos itu beda. auranya kaya peri baik hati." lanjutnya.


Aku menyeringai geli mendengar sanjungannya untukku.


"Permisi, apakah pak Sandy ada? boleh tolong di panggilkan? kita perlu sedikit bantuannya!" seru Antonio.


Kami semua menoleh ke arahnya.


"Nita kamu tolong panggil mas Sandy. suruh dia segera kemari!" perintahku.


"Baik bu," Nita berlalu untuk menemui mas Sandy.


"Mau ngapain panggil pak bos?" selidik Rahma.


"Apalagi? ya, pasti foto barenglah!" tukas Billy enteng.


Aku hanya terdiam mendengarkan obrolan keduanya. karnena kedua tanganku sibuk menata barang-barang yang akan di gunakan. namun jelas hatiku juga sedikit khawatir. apa mungkin mas Sandy gak mau keluar dan menemui Vina ya? kenapa lama sekali? batinku.


"Pak bos kok lama banget sih?" gumam Rahma.


"Pak bos kabur kali." billy terkekeh.


Ku lihat Vina tampak begitu tak sabar menunggu. sesekali dia berdecak dan meminta staf merapikan pakaiannya berkali-kali.


Jika mas Sandy tak kemari bagaimana? batinku lagi-lagi menerka-nerka.


"Itu dia model kita," seloroh Antonio.


Aku menoleh cepat,ku lihat mas Sandy berjalan mendekati kami. ku pikir tadinya dia tak akan datang. entah aku harus bahagia atau malah kecewa dengan kehadiran suamiku di tempat ini.


"Pak bos beneran datang." bisik Billy.


"Pak, maaf mengganggu waktunya sedikit." Antonio mendekat.


Aku memperhatikan keduanya dari kejauhan. mereka tampak sedikit berbincang. di akhir obrolan, mas Sandy menatap ke arahku dengan tatapan khawatir. entah apa maksudnya.


Mas Sandy berjalan ke arahku diikuti Nita yang juga menatapku cemas.


"Kenapa? apa ada masalah?" tanyaku pada mas Sandy. namun dia sama sekali tak berucap.


"Bu, pak Sandy di minta untuk melakukan sesi pemotretan dengan Vina,apa ibu memberi izin?" seloroh Nita.

__ADS_1


Aku terdiam kaku. sementara Mas Sandy menatapku ragu-ragu.


"Tentu saja boleh! ini hanya pemotretan. Ayolah mas,cuma sebentar kok!" selorohku dengan senyum antusias.


Mas Sandy menatapku tak percaya. mungkin baginya, aku seolah mendorongnya ke dasar jurang.


Dengan sedikit paksaan, aku menarik mas Sandy untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Vina, tolong kamu bantu suami saya agar terlihat bagus di kamera!" selorohku pada gadis itu.


Aku berlari kecil menjauhi keduanya.


Ku lihat mas Sandy tampak tak nyaman saat Vina mulai menatapnya.


"Vin,simpan tangan kamu di bahunya!" perintah sang fotografer.


Dengan cekatan Vina menaruh tangannya di bahu mas Sandy dengan lembut. ku lihat wajah suamiku masih tampak kaku dan enggan tersenyum.


"Senyum mas!" tukasku seraya menunjukkan ekspresi senyuman lebar.


"Lis, kamu kurang ajar banget. masa suami sendiri di suruh foto mesra sama wanita lain," bisik Rahma.


"Aku mau semua ini Cepat selesai! makanya aku maksa mas Sandy" jelasku enteng.


Tak berapa lama, sang fotografer meminta pose yang cukup menantang. dengan Vina yang di minta memeluknya dari belakang,lalu berdiri dan bersandar di pelukan mas Sandy. tak hanya itu mas Sandy pun di minta untuk memeluk Vina dari belakang. dan yang terakhir Vina di haruskan duduk di pangkuannya.


AH! pemotretan macam apa ini?! kenapa lama-lama aku jadi gerah sendiri melihatnya. bukankah aku yang memaksa mas Sandy untuk mau melakukannya. tapi kenapa tiba-tiba aku tak nyaman melihat kedekatan mereka berdua.


Ku sabet air mineral yang di pegang Nita dan ku minum dengan cepat seperti orang yang tengah kehausan.


"Pelan-pelan bu!" tukas Nita kaget.


"Ayo senyum! tolong taruh tangannya di paha Vina. oke sedikit saja! oke, Tahan!" teriak sang fotografer memberi arahan.


Menyebalkan, kenapa lama sekali. ku lirik jam tanganku berulang kali. jangan-jangan mereka sengaja membuat durasi pemotretannya berjalan cukup lama. apalagi ku lihat Vina sangat menikmatinya.


"Lis, kita mending kabur aja deh. gak kuat liat kaya gini!" pamit Rahma dan billy.


"Bagus.. Coba sekali lagi ya!" teriak sang fotografer.


"Maaf sebentar! sepertinya sesi fotonya sudah cukup! lagipula kita sudah punya banyak foto yang bagus!" Tukasku di tengah-tengah kegiatan.


Semua orang tentu menoleh kaget padaku. kenapa juga tiba-tiba aku meminta mereka berhenti.


"Iya benar, semua foto yang di kirim kemarin juga lolos sempurna. lagipula sudah masuk jam makan siang. kalian pasti capek!" Nita tampak sigap membantuku. sepertinya sekretaris satu ini tak rela melihat Bos-nya berlama-lama di jamah wanita lain.


Vina tampak sedikit kecewa, dia menatap lama pada Antonio. namun Antonio tampaknya tak bisa berbuat banyak. mungkin bagi Antonio, semakin cepat tugasnya selesai, semakin cepat pula mereka untuk mengerjakan Project lainnya.


"Ya sudah kalau begitu, kita akhiri saja." sahut Antonio.


"Tapi, san..!" Vina menarik tangan mas Sandy yang hendak meninggalkannya.


Aku menatap keduanya tajam.


"Saya rasa ini sudah cukup!" tukas mas Sandy seraya menepis tangannya.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2