PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•48


__ADS_3

Aku Masih terpaku ditempat dudukku. Mas Sandy sepertinya memang sengaja melakukannya. Aku memeriksa apakah dia sungguh-sungguh tertidur.


"Mas," bisikku tak nyaman.


"Mas Sandy jangan tidur dong, nanti kalau Andi bangun gimana?" gerutuku mencoba mendorong pelan tubuhnya.


Dan akhirnya Mas Sandy membuka matanya pelan. dia menatapku lama.


"Mas Sandy ngapain sih?!" protesku tak suka dengan sikapnya itu.


"Semua karna teh Alis!" gumamnya ketus


"Kok saya?"


"Lain kali,jangan pasang wajah terlalu manis. bisa?!" pintanya


Aku mengernyit heran.


"Dasar Aneh!" desisku


"Diluar masih hujan, lagipula Andi sangat nyenyak. saya tak tega jika harus membangunkannya!"


"Memang itu kan mau nya mas Sandy? ngajak kita kesini biar kita terjebak disini dan gak bisa pulang!" sindirku.


"Yang menjebak kamu itu hujan teh, bukan saya. Kalo kamu nginep disini sih, itu Namanya bonus buat saya" mas Sandy bersandar disofa dengan mata menerawang ke atas langit-langit seraya tersenyum manis.


"Udah berapa banyak wanita yang mas Sandy ajak nginep disini?" tanyaku Menatapnya sinis.


"Nginep disini? wanita? bahkan dokter Hasan saja gak tahu kalo saya punya rumah disini. asal teh Alis tahu,Rumah ini baru satu tahun saya tempati. saya membelinya dengan uang saya sendiri. saya bawa semua barang-barang pribadi saya kesini. dan saya tak pernah mengijinkan sembarangan orang untuk masuk." jelasnya panjang lebar.


"Termasuk wanita yang bernama Vina? sebetulnya dia pacar mas Sandy kan?" selorohku memberanikan diri.


Kali ini mas Sandy terdiam, tatapan matanya berubah tak suka. dia bahkan seperti tak ingin mendengar nama itu disebut.


"Iya, dia pacar saya. tapi itu semua sudah berlalu. kami sudah putus sehari sebelum saya kecelakan." tandasnya lagi.


Aku menatapnya penuh sesal, tidak seharusnya aku mengungkit masalah pribadinya itu.


"Maaf." sela ku tak tega jika mendengar mas Sandy melanjutkan ceritanya.


"Gak apa-apa kalau teh Alis mau dengar cerita saya. saya akan ceritakan semuanya. tapi ada syaratnya!" Tukasnya licik.


"Gak usah mas. saya gak tertarik juga sama masa lalu mas Sandy. terima kasih!" aku bangkit dan kabur menuju toilet.


Aku berlari dan masuk ke kamar mandi. ku basuh wajahku dengan cepat. Kenapa sekarang aku sering merasa kepanasan ya? padahal diluar sedang hujan deras. batinku


"Apa mungkin aku mulai,-... Enggak Lis! gak usah ngaco!" gerutuku sendiri sembari menatap cermin.


PING!


Sebuah pesan suara tiba-tiba masuk dari ponselku,ku rogoh saku celanaku dengan segera.


Sebuah pesan dari grup sekolah Andi dan juga pesan dari Bu Dewi.


"Besok sekolah libur?" Desisku saat membaca pengumuman dari grup sekolah.

__ADS_1


#Alis kamu gak pulang? kalian dimana? ibu cemas. karna sejak siang kalian gak pulang? Reyhan bilang Andi berkelahi disekolah? bagaimana kondisi Andi sekarang? balas pesan ibu ya!


Rentetan pesan masuk itu membuatku bisa sedikit mengalihkan pikiranku terhadap kejadian tadi.


Aku mengatur nafas dalam. lalu membalas pesan Bu Dewi secara terperinci. Namun aku tak mengatakan jika kami berdua menginap dirumah baru mas Sandy. hal itu tentu akan menjadi pertanyaan besar nantinya.


Aku menatap ponselku gamang.


PING!


Sebuah pesan kembali masuk, kali ini berasal dari Mas Erwin. aku menautkan kedua alisku, tumben sekali mas Erwin mengirim pesan. biasanya dia akan langsung menelpon. itupun jika ada hal penting.


#Teh Alis dimana? kalian belum pulang? tadi saya mampir kerumah. saya membeli makanan untuk Andi. tapi di rumah sepi?


#Teh Alis baik-baik saja kan?


#Kemarin bu'de bilang,besok hari terakhir teh Alis bekerja. apa teh alis sudah mendapatkan lowongan pekerjaan? jika belum, kebetulan teman saya membutuhkan seorang pramusaji*. Gajinya lumayan besar. hanya saja lokasinya di pusat kota. tak usah khawatir, saya bisa mengantar teh Alis setiap hari. gratis.


Aku mematung bingung. panjang sekali isi pesan nya. apa yang harus ku balas.


Aku jadi teringat akan kertas formulir itu. aku bahkan belum mengisinya. tapi jujur aku teringat pada Aisyah. sepertinya dia sangat membutuhkan pekerjaan di kedai itu.


Aku menepuk kepalaku Pusing. ku tinggalkan saja pesan dari Mas Erwin tanpa membalasnya,lalu bergegas keluar dari kamar mandi.


Jika aku menerima tawaran bekerja dari mas Erwin,sama saja aku membesarkan harapan bu Dewi soal keinginannya menjodohkan kami berdua. dan aku sama sekali tak menyukai hal itu.


Terlebih lagi mas Erwin orang yang baik. aku tak bisa menyakitinya.


Aku bersandar disisi tembok. pekerjaan ku sebentar lagi selesai. dan aku harus meninggalkan keluarga Hadiwijaya, meninggalkan mas Sandy lagi. Apa setelah ini kami bisa bertemu? atau malah akan berakhir seperti ini saja. Jujur aku merasakan perasaan tak tenang dihatiku.


"Kamu ngapain teh?"


"Aahh!" Jeritku kaget.


"Mas Sandy ngapain sih? bikin saya jantungan aja!" Desisku mengusap dada.


"Lagipula ngapain kamu disini? saya lapar!" Tukasnya enteng.


"Mas! saya udah buatin makanan di meja. mas Sandy tinggal makan aja!" sahutku mengingatkan.


"Makanannya sudah dingin! saya mau yang masih panas!" selanya seraya berjalan menuju dapur. Ku ikuti langkahnya dengan perasaan dongkol.


Baru saja aku memuji sikap baik dan tulusnya. sekarang sikap Abnormal nya malah lebih dominan.


"Jadi saya perlu menghangatkan makanannya?" tanyaku lagi.


"Iya,tolong! microwave nya disana!" tukasnya menunjuk letak benda tersebut.


"Ck! Aku menatapnya sinis.


"Teh Alis gak penasaran dengan wanita yang saya temui disimpang jalan waktu itu?" tanyanya kemudian.


"Enggak mas. lagipula, itu bukan urusan saya!" sahutku malas.


"Seandainya teh Alis tahu. pasti kamu akan terkejut teh."

__ADS_1


Aku menoleh heran.


"Kenapa saya harus terkejut? apa saya mengenal wanita itu?" tanyaku


"Kamu pasti kenal. bahkan bisa dibilang kamu kenal baik. saya jatuh cinta sama dia,karna dia menangis." Celetuknya santai


Aku menajamkan pandanganku.


"Memangnya mas Sandy apakan wanita itu sampai dia nangis? pasti dia hamil, dan meminta pertanggungjawaban mas Sandy. iya kan?" Aku menerka-nerka.


"Bukan seperti itu teh. CK! kenapa kamu susah sekali saya ajak bicara serius?" protesnya kesal.


"Saya udah serius mas. emang saya terlihat sedang melucu? enggak kan!" selorohku ketus.


Sesungguhnya aku tak suka jika mas Sandy membahas tentang orang lain. terlebih lagi itu menyangkut wanita yang disukainya. membuat suasana hatiku buruk saja.


Mas Sandy bangkit dari kursinya dan mendekatiku yang sedang menyiapkan piring.


Mas Sandy lagi-lagi menatapku dalam diam. Aku bersumpah ingin kabur jika sudah melihatnya begitu.


"Seandainya teh Alis tahu, apa yang saya rasakan pada wanita itu. bahkan hingga sekarang, saya masih sangat mencintainya. walaupun itu hanya sebuah pertemuan sederhana." jelasnya sungguh-sungguh.


"Kenapa mas Sandy memaksa saya untuk tahu siapa orang nya?" aku menunduk kecewa.


Mas Sandy mendekat serta membuka kedua tangannya lalu bertumpu pada tembok untuk mengunci tubuhku.


"Karna jika kamu tahu siapa wanita itu. kamu tak akan menolak saya sekarang!" Desisnya dengan tatapan sulit ku artikan. Aku tak berani menatapnya, aku terlalu takut melihat sorot mata yang dalam dan tajam itu.


"Apa Kamu masih belum mengerti teh?" mas Sandy mengangkat pelan dagu ku hingga aku mendongak dan terpaksa menatapnya.


"Saya mencintai kamu!" sorot matanya berubah melembut dan lemah. bahkan kini terlihat berkaca-kaca.


Aku tak tahu harus berbuat apa.


aku sendiri masih meraba-raba tentang perasaanku ini.


Aku takut jika aku harus menerima cintanya, tapi aku juga takut jika aku kelak kehilangan dirinya.


Tiba-tiba Tubuhnya semakin mendekat, aku memejamkan mataku takut.


CUP!


sebuah kecupan yang terasa lembut Tiba-tiba menyentuh keningku.


Tubuhku terperanjat kaget,namun aku masih tak berani membuka mataku. kedua tanganku kini terasa membeku, tapi debar jantungku malah membuat aliran darahku terasa semakin panas. beruntunglah piring yang ku pegang tak lantas jatuh ke lantai.


Aku membuka mataku perlahan. ekspresi wajahku yang masih kaget tentu tak dapat ku sembunyikan. dan ku lihat Mas Sandy masih menatapku lekat. senyuman lega terlihat jelas diwajahnya.


"Saya sungguh-sungguh teh! tolong pikirkan baik-baik!" pintanya penuh harap.


"Mas! sepertinya Makanannya udah panas!" gumamku kaku.


Mas Sandy menoleh ke arah Microwave dan tersenyum remeh.


Dan akhirnya dia membiarkan tubuhku 'Lepas' darinya.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2