PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•165


__ADS_3

Beberapa hari ini selama aku ke kantor. aku mulai bisa beradaptasi dengan baik. meski sikap bu Ayu padaku tetap tak berubah. banyak desas-desus yang mengatakan, bu Ayu takut jika aku menggantikan posisinya sebagai wakil CEO. padahal mas Sandy hanya tak ingin aku bosan di rumah saja. dan Sejujurnya aku pun tak menginginkan posisi itu.


Aku mulai bisa berbincang dengan para investor dalam negeri saat menemani mas Sandy Rapat atau makan malam. hal yang dulu sangat takut untuk ku lakukan.


Mungkin hari demi hari rasa percaya diriku mulai muncul. apalagi mas Sandy selalu mendukung setiap hal yang ku lakukan.


"Kamu pasti capek?" tukasnya saat kami masuk ke dalam mobil untuk pulang.


Aku memijat tengkukku pelan.


"Lumayan,." sahutku pelan.


"Besok libur. kita tak usah ke kantor. lagipula, hari senin kita akan pergi bersama Andi untuk mengikuti kegiatan Studytour di sekolahnya." jelas mas Sandy.


"Hm, iya. saya juga belum belanja barang-barang yang diperlukan Andi nanti." keluhku penat.


"Mau belanja sekarang, atau besok? atau kita suruh bi Atun saja yang belanja?" tanyanya.


"Kalau sekarang, memangnya boleh? mas Sandy Gak keberatan?" aku menatapnya ragu.


"Enggak lah sayang, cuma belanja." sahutnya segera melajukan mobil kami menuju pusat perbelanjaan.


"Mas, apa saya boleh bertanya sesuatu?" aku menoleh pelan padanya.


"Tanyakan saja!"


"Kok selama saya di kantor. saya gak lihat pak Ivan?"


Mas Sandy menoleh sesaat, lalu kembali fokus pada kemudinya.


"Dia sudah berhenti. dokumen yang dia kirim ke rumah tempo hari, adalah surat pengunduran dirinya." tegasnya.


"Serius? kenapa? apa kalian ribut lagi?!" selidikku


"Kita sudah dewasa, kenapa harus selalu ribut. saya sudah menganggap semuanya berakhir. masalah kami, maupun persahabatan kami." tukasnya lagi.


Ku lirik mas Sandy iba. dia pasti sangat sulit untuk bisa menerima semua itu. pengkhianatan, permusuhan juga persahabatan yang putus begitu saja.


"Saya sibuk bekerja. jadi tak ada waktu untuk memikirkannya." timpalnya sebelum aku kembali bertanya.


"Tadinya, saya ingin kalian berdamai. tapi ternyata saya tak mampu membuat kalian duduk satu meja dan bicara banyak hal layaknya sahabat lama." gumamku penuh sesal.


Mas Sandy mengelus kepalaku lembut.


"Kamu punya hati yang baik. kamu ingin semua orang bisa kembali berteman dan memiliki hubungan yang rukun. tapi dia dunia ini banyak hal yang tak bisa di paksakan. termasuk soal pertemanan."


"Tapi mas, saya yakin kalian masih memiliki hati yang saling terhubung satu sama lain. karena katanya, menjalin hubungan yang baik dengan orang lain akan membuat peluang besar bagi kesuksesan kita." tandasku.


"Kamu benar, saya banyak bertemu orang dan menjalin hubungan bisnis. dan kamu bisa melihatnya sekarang." tuturnya tak mau kalah.


"Ih, maksudnya soal mas Sandy dan pak Ivan. bukan yang lain" elakku.

__ADS_1


"Sudahlah. kita hampir sampai. nanti kita bicara lagi." pintanya memberhentikan mobil kami di halaman parkir sebuah Super market


Kini mas Sandy mulai bisa terbuka denganku saat bercerita tentang pak Ivan. tak melulu cemburu atau kesal. Hanya perlu ada kesempatan,agar mereka bisa duduk satu meja dan mengobrol.


Aku pun sedang berusaha mencari tahu tentang kerjasama antara pak Broto dan mas Sandy. kalau memang Perusahaan di untungkan dengan kerjasama mereka, tentu Akupun akan membujuk mas Sandy agar mau menandatangani kontrak kerja itu lagi. Tapi sayangnya, aku belum punya dasar yang kuat untuk berdebat dengan suamiku sendiri. tahu jika mas Sandy cukup keras kemauannya. maka aku harus punya alasan kuat untuk membujuknya.


•••


"DESA WISATA TAMAN SARI" gumam mas Sandy saat membaca informasi dari pihak sekolah.


"Mas Sandy tahu tempatnya?" tanyaku.


Andi yang sedang duduk dengannya terlihat penasaran.


"Kayanya dulu saya pernah dengar tentang tempat ini." ucapnya enteng.


"Ayo cerita om papa. tempatnya Gimana? bagus gak? anda kolam renang?" celetuk Andi


"Hmm,om papa lupa. mungkin sekarang tempatnya sudah banyak yang berubah." jelasnya sedikit mengingat.


"Ada kolam ikan juga?" desaknya lagi.


"Ada. kolamnya besar. ikannya juga banyak!" sahut mas Sandy.


"Besok lagi aja ya ceritanya, sekarang udah malem. Andi tidur dulu. besok takut kesiangan." perintahku.


Andi merengut lesu.


"Emang boleh?" sahutnya antusias.


"Boleh dong."


"Horeeeee...!" teriaknya seraya melompat ke dalam pelukan mas Sandy.


Dan akhirnya kami bermalam bertiga, Andi ku biarkan tidur di tengah-tengah. kedua tangannya memegang erat tanganku juga tangan mas Sandy.


Ini kali pertama Andi tidur bersama kami,sepertinya dia sangat pulas. hingga tak bergerak sedikitpun.


•••


Matahari terbit terasa begitu cepat, entah karena aku kelelahan hingga sangat pulas.


Pukul 5 pagi kami semua sudah terbangun. ku lihat mas Sandy baru keluar dari kamar mandi sementara Andi masih duduk-duduk di tempat tidur.


"Kita sholat berjamaah ya!" ajak mas Sandy padaku.


"Sayang, kamu ambil wudhu dulu ya!" bujukku pada Andi.


"Sepertinya dia masih mengantuk." mas Sandy tersenyum kecil.


"Kita harus siap-siap! banyak barang yang perlu di kemas. semalam karena capek, saya sampe lupa berkemas" tukasku.

__ADS_1


"Gak apa-apa. nanti saya bantu!" sahutnya.


Selepas beribadah,aku segera menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan dan perbekalan. sementara mas Sandy dan Andi sibuk berkemas di kamar.


"Selamat pagi non," Sapa bi Atun yang sibuk mengemasi makanan ringan untuk Andi.


"Pagi bi. apa semuanya sudah di kemas?" tanyaku.


"Sudah non. sayuran yang mau non masak juga, sudah saya cuci bersih dan saya potong." jelasnya.


"Terima kasih bi." aku segera memasak sarapan untuk kami semua.


Semakin hari, tugasku sebagai seorang istri dan juga ibu semakin bertambah. aku harus pandai mengatur waktu dan tenaga. jangan sampai aku kelelahan hingga tak punya tenaga untuk menemani suami dan anakku.


"Pasti non Alis capek ya!" bi Atun memperhatikanku dengan seksama.


"Lumayan bi. tapi saya senang kok." aku tersenyum padanya.


"Semoga Kegiatannya menyenangkan ya non." tuturnya penuh doa.


"Amiin. Titip rumah juga ya bi. semua pakaian kotor sudah saya bawa ke bawah. setelah tiga hari, boleh bi Atun bersihkan kamarnya. hati-hati ya, mas Sandy Gak mau kalo sampe ada barang yang di pindahkan dari tempatnya,"


"Iya non, serahkan semuanya sama bibi."


"Ya sudah, bantu saya bawa makanannya ke meja makan!" pintaku.


Ku lihat mas Sandy dan Andi sudah turun dengan membawa tas ranselnya masing-masing. bahkan gaya mereka terlihat sangat kompak.


"Wah, kalian udah siap. ayo sarapan dulu!" ajakku.


Pagi ini seperti biasa, Bu Ayu tak mau bergabung bersama kami. entah sampai kapan dia akan bersikap begitu padaku. Meski mas Sandy memintaku untuk tak menghiraukannya, tapi tetap saja aku sebagai seorang pendatang baru di rumah ini, merasa seperti orang asing yang tak di izinkan bergabung dalam keluarganya.


"Mas Sandy gak lupa obat-obatannya kan?" tanyaku saat teringat barang penting itu.


"Kamu tenang saja,semuanya sudah ada dalam tas." sahutnya.


"Andi Gak sabar mau kesana. dan main sama Teman-teman!" tukasnya sembari melahap sarapannya.


"Apa Reyhan juga ikut?" tanya mas Sandy menatapku.


"Ikut. semua orang tua murid juga ikut mas. Ini kegiatan akhir tahun. saya rasa, semua orangtua ikut serta."


"Pasti akan sangat seru." tukasnya menatap Andi antusias.


"Apa ini pertama kalinya untuk kamu teh?" timpalnya lagi.


"Hm, saya tak pernah pergi kemanapun." jawabku singkat


"Mama sibuk kerja om papa. jadi gak ada waktu buat ajak Andi liburan" keluh Andi.


Mas Sandy menatapnya lirih. Elusan tangannya pada Andi menunjukan bahwa dia tersentuh dengan ucapan anakku. Dan inilah hal yang aku sukai darinya, mas Sandy selalu sepenuh hati saat dia menyayangi seseorang. dan aku bisa merasakannya.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2