PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•56


__ADS_3

"Kak tolong latte-nya untuk meja 24!" salah seorang barista mendorong nampan berisi dua cangkir latte di atas meja dihadapanku.


Aku tersenyum seraya mengambil nampan itu dan segera membawanya pada pelanggan.


Hari yang sangat melelahkan,bahkan tak ada waktu untuk memikirkan hal lain. selain mengantarkan pesanan hingga tiba dimeja pelanggan.


Tengah sibuk, bekerja tiba-tiba Pak Ivan keluar dari ruangan kerjanya. dia nampak terburu-buru sembari terus melirik jam tangannya.


"Bonus kalian sudah saya simpan di atas meja. tolong kamu urus!" perintah Pak Ivan pada Ikhsan.


Aku menatap aneh kepergiannya yang buru-buru itu. apa dia akan kembali ke kantor? mungkinkah disana dia bertemu mas Sandy? pikirku.


Pak Ivan tampak menoleh ke arahku sesaat. membuat Ikhsan dan Metta juga ikut menoleh padaku. Aku memalingkan wajah seraya berjalan menuju pentri.


Ikhsan berjalan mendekati kami semua, yang tengah berkumpul di pentri.


"Teman-teman terima kasih banyak untuk hari ini. kalian bekerja sangat keras. kita tutup pukul 4 sore. dan bonus kalian bisa kalian ambil nanti setelah pekerjaan selesai." jelasnya.


Semua pekerja bertepuk tangan dan bersorak membayangkan bonus yang akan mereka dapatkan dari Bos mereka.


•••


Aku berjalan santai menuju ruang ganti karyawan sembari melepaskan Apron ditubuhku. hari ini benar-benar sangat melelahkan. tapi juga sangat menyenangkan. bagaimana tidak, melihat para pelanggan tersenyum bahagia sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pelayan di kedai ini.


"HUH! capek nya," Aisyah bersandar malas di ambang pintu. Aku menoleh dan tersenyum padanya.


"Gak ada pekerjaan yang gak menguras tenaga Ais!" tukasku


"Iya sih, tapi hari ini tuh super super capek banget. apa mungkin Karna kedainya masih baru ya? atau aku yang kaget,Karna ini pekerjaan pertamaku?" gumamnya menerka-nerka.


"Daripada kamu ngedumel Gak jelas. lebih baik kita pulang sekarang!" ajakku seraya menyabet tas selempang yang ku simpan Rak pakaian.


"Eh, bentar dong kak! jangan ninggalin Ais!!!" gadis itu berlari seraya melepas apronnya dengan kasar lalu menarik tasnya segera.


Ku lihat beberapa pegawai lain tengah mengantre didepan ruangan pak Ivan. tampak Ikhsan tengah sibuk dengan seikat Amplop coklat ditangannya.

__ADS_1


"Jangan berebut ya! harus tertib!" serunya seraya bercanda pada pegawai lain. Aku dan Aisyah menunggu giliran kami dibelakang.


"Kak,aku penasaran deh sama sikap pak Ivan ke kakak? ada apa sih? kalian saling kenal kan?" bisiknya


"Enggak. kita Gak kenal kok!" elakku


"Yakin? tapi kelihatannya pak Ivan tuh merhatiin kak Alis terus loh!" jelasnya masih tak percaya.


"Mungkin karna saya lebih tua dari kalian. makanya dia ngeliatin saya terus." Selorohku beralasan.


"Masa sih? aku pikir kalian mantan pacar!" celetuknya.


Aku menoleh heran pada gadis itu. bisa-bisanya dia menyimpulkan hal semacam itu terhadapku dan pak Ivan. tapi memang pak Ivan ini sangat mengganggu,sikapnya yang terus-terusan menatapku malah membuat orang lain semakin curiga.


"Tapi jujur ya kak. pak Ivan itu baik banget loh! Dia membuka cabang kedai begini di beberapa tempat, hanya demi membantu kami para anak muda agar memiliki pekerjaan. dia juga selalu memberikan bonus pada semua pekerja!" terangnya.


"Kamu tahu darimana? kalian kan baru kerja sekarang sama pak Ivan?" tanyaku tak yakin.


"Tahulah kak. dikalangan anak muda, pak Ivan ini sangat terkenal. ayahnya seorang dokter ternama. dia juga dari kalangan elit. sikap dermawannya yang bikin dia terkenal." tuturnya


"Hey! kalian berdua? mau di ambil gak nih bonusnya? kalau enggak. biar aku bagi sama yang lain?" goda Ikhsan menatap kami berdua yang tengah asyik mengobrol.


"Heh! jangan macam-macam ya!" Aisyah berlari mendahuluiku dan segera menyabet amplop coklat ditangan Ikhsan. membuat semua pegawai tertawa melihat kekonyolannya.


Pekerjaan Hari ini berakhir dengan sangat baik meski kami terlihat kelelahan. tetapi seketika lelah kami tergantikan setelah melihat isi bonus yang diberikan Pak Ivan kepada semua karyawannya.


Aku bahkan Terkejut saat tahu jika pak Ivan membagi kami uang tunai sebesar 1 juta di hari pertama. Sebaik itukah dia? atau ini hanya taktiknya untuk mengikat para karyawan agar tak mudah kabur?


Aku berjalan lemas masuk ke dalam angkutan umum. setelah sebelumnya berpisah dengan Aisyah dan Ikhsan Karna mereka berbeda arah denganku.


Aku membuka ponselku ragu,berharap akan ada pesan terselip 'darinya'. namun sayangnya,semua itu hanya jadi harapan semu sekarang. tak ada pesan satupun 'darinya'. kenapa mas Sandy tak mengirim pesan padaku seharian ini? apakah dia sangat sibuk? atau mungkin dia sakit? Aku Merengut cemas membayangkan jika dia benar-benar sakit dan tak mau mengabariku. Apa perlu aku telepon dokter Hasan untuk memastikan? batinku bertanya-tanya.


Aku menggeleng pelan tanda tak menyetujui saran dari egoku barusan itu. bisa-bisa dokter Hasan berfikir jika aku berlebihan. jelas-jelas Aku sudah tak bekerja untuknya. kenapa juga aku harus khawatir.


"Arrggh!" Geramku pelan.

__ADS_1


Tanpa ku sadari beberapa penumpang didalam mobil itu memperhatikan tingkah anehku. Aku melempar senyuman kecut ke arah mereka Karna malu.


•••


Malam ini Aku baru saja selesai merapikan semua pakaianku. Seorang wanita yang sudah menjadi ibu, tak punya kamus lelah. Seperti apapun pekerjaan beratnya diluar sana,dia akan tetap menjadi ibu yang juga memiliki tanggung jawab yang tak kalah berat di dalam rumah.


Sesekali ku lirik Andi yang tengah asyik menggambar.


"Andi lagi ada PR?" tanyaku iseng


"Iya ma, PR-nya menggambar!" jelasnya sembari fokus pada gambarnya itu.


Aku beranjak menuju ruang tengah. duduk didepan TV yang menyala. tapi entah kenapa pikiran ku masih saja berkeliaran jauh. Meski begitu aku tetap mencoba fokus dan melupakan Kegelisahan hatiku tentang mas Sandy.


YA! mungkin kegelisahanku ini hanyalah perasaan sesaat yang jika ku pejamkan mata, maka akan menguap begitu saja.


Aku bukan tipe wanita yang bisa menentukan apa yang ku inginkan. Aku harus berpikir lagi dan lagi untuk memutuskan apa yang harus ku lakukan. terlebih lagi, aku ingat betul pesan Dari Bu Ayu yang memintaku untuk menjauhi keponakannya itu. Tapi, bagaimana dengan perasaan mas Sandy yang dia utarakan padaku kemarin-kemarin? haruskah ku abaikan begitu saja? tidakkah itu terlalu jahat?


"Ma," Andi berseru seraya keluar dari kamar.


Aku terperanjat sesaat,lalu menatapnya lekat.


"Udah selesai sayang PR-nya?" tanyaku kemudian.


Andi tersenyum menyembunyikan buku gambar itu dibalik tubuhnya.


"Udah," jawabnya


"Boleh mama lihat Andi gambar apa?" Aku mengulurkan tanganku penasaran.


Andi lalu mengeluarkan buku gambarnya perlahan. Dibentangkannya buku itu hingga terlihat hasil karya yang digambarnya.


Seketika jantungku berdenyut nyeri. Bahkan Andi pun seakan merasakan hal yang sama dengan apa yang sedang kurasakan sekarang. Rindu padanya.


__ADS_1


__ADS_2