
Aku seperti sedang bermimpi,..
Didekap erat olehnya sepanjang malam.
Tak henti-hentinya dia mengecup keningku,seraya berbisik penuh cinta.
Inikah mimpi terendah dalam hidupku?
akankah mimpi indah ini terus berlanjut?
Jujur aku sedikit takut, takut jika mimpi ini akan berakhir...
"Selamat pagi?" suara berat yang berasal dari pria yang memelukku membuatku mengerjap kaget.
Malu rasanya saat dia tahu, jika aku memandanginya sejak tadi.
"Mas Sandy sudah bangun" gumamku malu-malu. Aku mencoba menjauh darinya. Namun dengan sigap mas Sandy mengeratkan pelukannya.
"Mau kemana? ini masih pagi?" bisiknya
Aku memalingkan wajahku,
"Ini hari pertama kita menjadi suami istri, seharusnya kamu membiarkan saya bermanja-manja dengan kamu teh" rengeknya malas.
Aku menyeringai malu, benar-benar situasi yang membuatku panas dingin.
"Nanti Andi bangun mas," bisikku beralasan.
"Pintunya sudah saya kunci," Mas Sandy menatapku lekat. Dan sialnya! Wajah tampannya membuatku tak bisa melepaskan pandanganku darinya.
Aku menghela nafas dalam seraya melirik sinis padanya.
"Kenapa?" mas Sandy semakin mendekatkan wajahnya padaku. membuatku benar-benar tak dapat bergerak.
Aku mengerjap ngeri saat helaan nafasnya terdengar memburu dan menerpa wajahku. Aku memejamkan mataku pelan,
"Hatchiihh.....!!!"
Ku benamkan wajahku seketika saat aku bersin karena hidungku mulai terasa gatal sejak tadi.
Kebiasaanku setiap pagi yang tak bisa hilang tentu saja.
"Kamu sedang mempermainkan saya teh" dengusnya.
Aku menengadah menutup hidungku.
"Maaf," aku menyeringai penuh sesal.
"Saya hanya meminta satu ciuman, dan kamu malah bersin" protesnya dengan wajah ketus.
Aku bangkit dan duduk menghadap padanya yang masih berbaring disampingku. ku sibak rambutku dan memegangnya agar tak berantakan.
Tanpa banyak bicara, ku condongkan wajahku ke arahnya,
CUP!
ku kecup lembut bibirnya. Mas Sandy terhenyak dan hanya menatapku kaku.
"Saya mau mandi" bisikku segera bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
__ADS_1
Mas Sandy tampak mematung setelah apa yang ku lakukan padanya barusan. mungkinkah dia terkejut dengan sikap berani ku barusan? batinku.
"Saya akan balas nanti!" teriaknya terdengar sayup-sayup saat aku memasuki kamar mandi.
•••
Hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Aku menyiapkan sarapan. Namun yang berbeda adalah aku menyiapkan tiga buah piring di atas meja. pemandangan yang tentu saja baru bagiku,ada perasaan aneh, terkejut dan juga tak percaya jika sekarang kami sudah menjadi satu keluarga utuh.
"Eh, Andi udah bangun" tukasku saat melihat Andi tiba-tiba duduk di depan meja makan.
"Om papa mana ma?!" tanyanya melirik ke sekitar ruangan.
"Om papa masih tidur! Andi bisa bantu mama bangunkan?" tanyaku
"Siap ma!" Andi bangkit dengan antusias dan berlari menuju kamarku.
Aku mengulum senyum. betapa Andi sangat bahagia dengan kehadiran mas Sandy di rumah. dan itu yang membuatku tak bisa menahan air mata yang tiba-tiba menyembul hangat dipelupuk mataku.
"Ampun! ampun!" suara tawa Andi terdengar hingga ke dapur. apa yang sedang mereka berdua lakukan di kamar. pikirku.
Karena penasaran aku berjalan menuju kamar dan mengintip apa yang mereka lakukan.
"Sini! om gigit kamu ya!" Mas Sandy tampak memeluk erat Andi dan menciumnya gemas. Andi tertawa terbahak-bahak karena kegelian. pemandangan yang sangat langka dan tak ku sangka akan ku saksikan sendiri.
Baru kali ini aku melihat Andi begitu bahagia, seperti tak ada jarak antara mereka berdua. Andi begitu mengidamkan sosok mas Sandy sebagai ayahnya. dan sekarang semua itu sudah menjadi kenyataan.
"Mas, sarapannya sudah siap! kalian sebaiknya cuci muka dulu" Aku membuka pintu dan mendekat.
"Ayo kita mandi!" ajak mas Sandy pada Andi yang langsung di jawab dengan anggukan.
"Gendong" Andi mengangkat kedua tangannya manja.
"Andi,gak boleh gitu sayang! Andi kan udah besar!" Larangku.
"Mas,.. Andi berat loh!" tukasku.
"Kamu Gak perlu khawatir teh!" jawabnya yakin
"Ayo naik!" perintanya pada Andi.
"Asyikkk!" Andi segera berlari dan memeluk erat punggung mas Sandy.
"Pegang yang kuat Yah!"
"Tapi om papa, Anter Andi ke kamar dulu ya ambil handuk!" pintanya.
"Handuknya biar mama yang ambil, kalian duluan aja ke kamar mandi!"
"Ya udah! Ayo om papa! kita ke kamar mandi!!!" teriaknya penuh semangat.
Aku dan mas Sandy hanya terkekeh melihat tingkah lucunya.
••••
Siang ini kami baru saja selesai membereskan semua barang bawaanku dan Andi. setelah melakukan obrolan panjang, akhirnya mas Sandy mau menyetujui pendapatku untuk tinggal bersama tante Ayu.
Pada awalnya mas Sandy meminta kami untuk tinggal di apartemennya saja. karena takut jika tante Ayu bersikap kurang menyenangkan padaku.
Tapi, jika kami menghindarinya bukankah itu malah akan semakin memperkeruh suasana. dan lagi hubungan mas Sandy dengan Bu Ayu pasti akan menjadi semakin jauh.
__ADS_1
jujur aku tak ingin itu terjadi.
Lebih baik kami tinggal di rumah keluarga mas Sandy saja. dengan begitu aku bisa mendekatkan diri dengan bu Ayu. siapa tahu,lambat laun dia bisa menerima kehadiran kami berdua.
Ku tutup semua pintu dan jendela. lalu memastikan apa semua lampu sudah menyala. Meninggalkan rumah ini rasanya sangat berat. Aku melewati banyak cobaan di rumah ini, rumah yang memiliki banyak kenangan dan perjuanganku selama menjalani hidup.
Tapi apa boleh buat, aku kini sudah menjadi istri dari seorang Sandy Hadiwijaya. benar apa kata mas Sandy, jika aku terus tinggal di rumah ini sama saja aku menyakitinya. Dan pandangan orang-orang terhadap mas Sandy tentu akan berbeda. Aku harus bisa menjaga kehormatan suamiku dan sekarang itulah yang utama.
"Ma.. ayo masuk!" Andi yang sudah duduk di dalam mobil berteriak padaku.
Mas Sandy bersandar disisi mobil dan menatapku penuh makna. dia tahu jika aku masih sangat berat untuk pergi dari rumah ini.
"Seminggu sekali, kita akan kesini. rumah ini jangan kamu jual teh" tukasnya lagi.
Aku mengangguk saja dan segera berjalan mendekati mas Sandy.
"Kalian sudah mau berangkat?!" Bu dewi keluar dari dalam rumah dengan membawa bingkisan ditangannya.
Kami berdua menoleh kearahnya bersamaan.
"Bu dewi. iya bu! baru aja mau berangkat " tukasku
"Kamu yang betah disana ya, jangan lupa main kesini."
"Pasti bu. Alis sama Andi pasti main kesini nanti."
"Ibu bikin cemilan buat Andi. dimakan ya!" bu dewi menyerahkan bingkisan di tangannya.
"Ya ampun bu, Gak perlu repot-repot!" Aku menatapnya tak enak hati.
"Gak apa-apa. anggap aja oleh-oleh" bu dewi mengurai senyum haru.
"Pak Sandy, Titip Alis dan Andi ya. tolong jaga mereka baik-baik!" pintanya lirih.
Aku memeluknya erat. entah kenapa hatiku seperti masih berat untuk pergi dari kampung ini. meninggalkan rumah dan juga bu Dewi. meski aku tahu aku akan tinggal di tempat yang lebih baik.
"Maaf ya, kamu jadi ikutan sedih. ibu pasti bakalan kangen sama kalian." gumamnya.
"Alis minta maaf kalau selama ini Alis sudah nyusahin ibu. jaga diri baik-baik ya bu. nanti kami pasti akan berkunjung" janjiku.
"Terima kasih juga ibu sudah membantu menjaga Alis dan Andi selama ini." timpal mas Sandy.
"Kalian kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan. bilang sama ibu." Bu dewi menggenggam erat tanganku.
"Iya bu. kalau begitu kami pamit dulu!" sambung mas Sandy.
"Iya baiklah. hati-hati dijalan!" tukasnya seraya melambaikan tangan mengiringi kepergian kami.
Mobil yang kami tumpangi melaju cepat meninggalkan gang sempit yang biasa ku lalui setiap hari. kini tempat itu akan menjadi kenangan dimasa mendatang.
Membuka lembaran baru bersama mas Sandy tentu tak pernah terbersit sedikitpun dalam benakku. Menjadi istrinya bukanlah sesuatu yang mudah untuk aku jalani,Akan ada banyak cerita yang terjadi didepanku nantinya.
Tiba-tiba Mas Sandy memegang erat tanganku. sementara sebelah tangannya memegang kemudi. Aku tersenyum ke arahnya,dia menatapku begitu dalam seolah meyakinkanku bahwa dia akan selalu ada disampingku apapun yang terjadi.
"I love you.." gumamnya terdengar lembut di telinga.
Kalimat ajaib yang mampu membuat sekujur tubuhku meremang seketika. dan aku beruntung bisa mendengar kalimat indah itu dari mulut manisnya.
"I love you too, mas."
__ADS_1
• • • • • •
•••