
"Saya heran dengan pak Ivan, dia selalu saja muncul di tempat tak terduga!" gumamku menjelaskan kenapa aku memandangi kepergiannya.
"Memangnya kamu pernah ketemu dia secara tak sengaja teh?" selidiknya.
"Waktu itu saya cuma kepeleset,-" Aku terdiam tak berani meneruskan ceritaku.
"Kenapa? kamu kepeleset dimana teh? terus dia nolong kamu? dia ngomong apa aja? kenapa teh alis gak bilang ke saya? apa kaki teh alis luka?" selorohnya tanpa jeda.
Aku dan Andi menatapnya heran. kenapa dia terlihat begitu panik sekarang.
"Saya gak kenapa-kenapa kok mas. kejadiannya udah lumayan lama. waktu pak Ivan berkunjung ke rumah mas Sandy." jelasku
"Oh," Jawabnya menggantung. Entah apa yang dipikirkan mas Sandy,namun aku melihat gurat kecemasan dimatanya.
"Andi lapar!" rengeknya yang tampak tak sabar menunggu makanan pesanannya.
"Sabar ya sayang!" aku tersenyum penuh perhatian sembari mengusap wajahnya.
"Sebentar lagi makanannya datang!" tugas mas Sandy melihat seorang pelayan berjalan ke arah meja kami.
Menu makanan yang dipesan mas Sandy ternyata cukup banyak. dan aku tak tahu apa saja menu makanan yang dipesannya itu.
"Ini ikan yang Andi mau!" mas Sandy Menyimpan piring itu dihadapanku Andi.
Putraku sontak menatap piringnya antuasias. Andi memang tak pernah kekurangan makanan, hanya saja untuk sekelas makanan mewah. kami jarang dan hampir tak pernah memakannya. jadi wajar saja jika ekspresinya sangat berlebihan, membuat aku dan mas Sandy tertawa kecil saat melihatnya.
"Wah ini enak banget ma. tapi makanan ini kalah enak dengan masakan buatan mama!" serunya sembari menjejalkan penuh makanan ke mulutnya.
"Andi benar, makanan ini kalah enak dengan Sup yang teh Alis buat untuk saya waktu itu." sambungnya lagi.
"Kalian mau bicara terus atau mau makan?!" desisku mencoba mengakhiri celetukan-celetukan kedua 'Pria' ini.
Keduanya tertawa setelah melihat bagaimana aku menggerutu saat mereka tak henti-hentinya bercanda. sesekali mas Sandy mengeluarkan ponselnya dan memintaku untuk memotret dirinya dan Andi.
Makan siang yang entah akan terulang lagi atau bahkan menjadi momen manis terakhir bersama mas Sandy. Karna mulai besok, tanggung jawabku sebagai perawatnya sudah berakhir. Dan dalam kurun waktu 2 bulan ini,aku bisa merasakan warna-warni kehidupan yang baru dan jelas tak pernah ku tahu sebelumnya.
Meski pertemuan ini akan menyisakan kerinduan pada akhirnya.Tapi aku bahagia bisa mengenal orang sebaik dirinya.
Selesai Makan siang mas Sandy mengajak kami masuk ke sebuah toko pakaian. dia meminta Andi mengganti pakaiannya. juga membelikannnya tas dan sepatu baru. meski aku sudah menolaknya berulang kali, tapi tetap saja mas Sandy memaksa. Bahkan Dia juga sudah mentransfer uang gajiku seluruhnya.
Sepanjang hari menjelang sore,kami hanya berkeliling disekitar pusat perbelanjaan. sembari mengobrol hal-hal sepele. Andi terlihat sangat bahagia hari ini,senyum manis tak pernah lepas dari wajahnya.
•••
Mas Sandy menggendong Andi masuk ke dalam mobil dan menidurkannya di kursi belakang. kami bergegas pulang Karna waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Aku duduk dikursi depan setelah membantunya memasukan semua barang belanjaan kami ke dalam bagasi mobil.
"Dia pasti sangat kelelahan!" tukas mas Sandy seraya menatap Andi yang tampak pulas.
"Terima kasih banyak untuk hari ini mas. Andi pasti sangat senang!" aku berujar sembari menyandarkan kepala Karna kelelahan.
Mas Sandy menoleh pelan padaku, dia tersenyum lagi. begitu manis hingga membuatku tak sanggup untuk menatapnya lebih lama.
"Tidurlah, teh alis pasti capek!" perintahnya. Aku mengangguk dan memejamkan mataku dengan segera.
__ADS_1
Desiran angin bertiup sepoi masuk kedalam kaca jendela mobil yang terbuka.
Hingga Alunan musik balad terdengar sayup-sayup ditelingaku.
Ini adalah mimpi terbaik yang kumiliki selama Aku hidup.
Meski Cinta belum tertambat dihatiku,
Namun kebahagiaan yang dia berikan sudah terpatri dan nyata adanya.
Sekilas rintik hujan diluar sana mengusik nyenyaknya lelapku.
Tangannya terasa lembut mengusap pucuk kepalaku kemudian.
Dia memintaku untuk tidur saja, karna perjalanan kami masih jauh.
Beraninya aku menikmati perhatian dan cintanya, sementara aku belum mampu menjawab permintaan hatinya.
Ku harap dia bersabar,
Karna masih ada sejumput luka basah yang belum mengering dalam relung batinku.
Doaku ketika hujan usai,
Tetap jaga hatinya agar tetap bernaung pada pemilik-Nya.
•••
Kami tiba didepan rumah tepat pukul 6 petang. suasana disekitar rumahku sepi setelah kumandang azan magrib berhenti.
"Kamu sudah bangun teh!" suara lembut mas Sandy mampu membangkitkan kesadaranku dengan cepat.
Aku terperanjat dan segera duduk merapikan rambutku.
"Maaf mas!" sela ku kaget,
"Saya sangat suka melihat kamu tertidur seperti barusan teh. sayangnya saya tidak mengabadikannya diponsel saya!" sesalnya.
"Mas Sandy jangan macam-macam!" aku meliriknya sinis.
Pemuda itu mengurai senyuman dan segera keluar dari mobil. aku pun segera turun.
"Andi biar saya yang gendong! kamu bisa bawa semua barang dibagasi kan teh?!" tanyanya tak yakin.
"Mas Sandy meremehkan saya!" desisku segera membuka bagasi mobil.
Kami baru saja hendak masuk, dan ku lihat motor Mas Erwin pun baru datang dan parkir didepan halaman rumah bu Dewi. pemuda itu menatap lama ke arah kami. namun dia tak berniat membuka helmnya,sesaat kemudian dia mengangguk tanda sapaan dan pamit seraya masuk ke dalam rumah.
"Pria yang aneh!" sindir mas Sandy.
"Setidaknya dia punya sopan santun sebelum pergi mas." sahutku membelanya.
"Kamu belain dia teh? bahkan dia tak mau membuka helmnya dan malah menatap kita seperti itu!" jelasnya seakan tak nyaman.
"Ya udah lah biarin aja. lagian dia pantas ngeliat kita kaya gitu. kita pulang jam segini dengan barang sebanyak ini, apa Gak bikin orang lain penasaran." tukasku sembari membuka pintu.
__ADS_1
"Tetap saja itu tak sopan. biarpun saya belum masuk kantor. saya tetap atasannya dia!" selorohnya tak terima.
"Terus kenapa kalau atasan? mas Sandy mau pecat dia? dasar Gak punya perasaan!" desisku sembari meletakan semua barang bawaanku di atas meja.
"Yang Gak punya perasaan itu kamu teh. jelas-jelas saya masih disini,kamu malah santai liat-liatan sama dia." celetuknya.
Aku mengernyit bingung. sembari membuka pintu kamar dan membiarkan mas Sandy membawa Andi untuk tidur di dalam.
"Mas Sandy ini aneh! bicaranya gak jelas. saya sampe mikir loh mas!" aku menyimpan tas ku di kursi.
"Saya cemburu! apa itu cukup jelas!" celetuknya berdiri dibelakangku.
Aku melirik namun tak berani berbalik badan apalagi harus menatapnya.
"Saya harap teh Alis tak perlu menatap laki-laki lain seperti tadi. cukup lakukan itu pada saya!" pintanya memaksa.
Aku berbalik badan hendak mengumpat padanya. namun tubuh ini lebih dulu ditarik dan didekap olehnya.
"Mas Sandy!" Erangku mencoba melepaskan pelukannya.
"Bisa Gak teh Alis diem aja! seharian saya capek jalan kaki. dan malam ini saya pasti akan sulit tidur." keluhnya
"Mas Sandy harus minum obat." tukasku
"Obat apa yang bisa menghilangkan rasa rindu saya sama kamu teh." tanyanya semakin mempererat pelukannya.
"Mas Sandy," tukasku gamang.
"Jika teh alis belum bisa menjawab pertanyaan saya kemarin. Biarkan saya memeluk teh Alis seperti ini"
Tubuhku masih bergeming dengan perasaan yang tak karuan.
"Saya takut jika besok saya akan kesepian tanpa suara kamu teh." lirihnya lagi. dia semakin membenamkan kepalanya dipundakku.
terasa hangat ditubuhku,namun terasa sakit didadaku.
Aku membuka kedua tanganku, untuk membalas pelukannya. Namun mas Sandy mengulur pelukannya dan malah mencium keningku dengan lembut.
Lagi,...
Aku benar-benar tersihir dengan semua tingkah jahatnya ini.
Perlakuan manisnya membuatku semakin terluka dan takut..
Ku nikmati semua apa yang dia beri, meski aku harus segera bangun dari mimpi yang mungkin akan semakin menenggelamkanku hingga karam.
"Saya sangat mencintai kamu Alis. sangat!" gumamnya menatap dalam padaku. wajahnya sedikit menunduk seraya mengangkat daguku lebih tinggi. hembusan nafasnya terasa memburu dengan tatapan sayu yang meneduhkan. Namun aku segera berpaling,mencoba menghindari hal yang mungkin akan membuat hatiku semakin berdarah.
"Maaf," aku bergumam lirih.
Mas Sandy mendekapku lagi,debaran jantungnya terasa begitu kuat. bahkan aku mampu mendengarnya sekarang.
Pemuda itu menyunggingkan seulas senyuman saat aku menatapnya iba.
• • • • • •
__ADS_1